Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Perang Dingin
Malam semakin larut saat mobil Aeros akhirnya berhenti di depan gerbang rumah Sael. Sepanjang perjalanan, tangan kiri Aeros tidak pernah melepas genggamannya pada tangan Sael, sesekali ia mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya.
"Makasih ya buat malam ini, Kak. Pastanya, terus... semuanya," ucap Sael, menatap Aeros dengan senyum yang tidak luntur sejak di kafe.
Aeros ikut tersenyum, membawa tangan Sael ke bibirnya dan mengecupnya sekilas. "Sama-sama. Tidur yang nyenyak. Besok aku antar kerja, nggak ada penolakan."
Sael tertawa kecil, mengangguk sebelum membuka pintu mobil. Namun, begitu pagar rumah digeser, pemandangan di teras langsung membuat Sael menepuk jidatnya.
Di sana, duduk di kursi rotan dengan posisi kaki menyilang bergaya ala bos besar, Kael memakai kacamata hitam—padahal ini sudah hampir tengah malam—dan memegang sebuah cangkir kosong yang ia putar-putar dengan gaya sok keren.
"Ekhem! Bagus ya, jam segini baru balik," sahut Kael dengan nada yang dibuat-buat.
Aeros yang ikut turun dari mobil untuk mengantar Sael sampai teras langsung terkekeh. "Gayamu, Kael. Buka dulu itu kacamata, emang kelihatan?"
Kael menurunkan kacamatanya ke ujung hidung, mengerling jahil ke arah Aeros dan Sael bergantian. Matanya langsung tertuju pada tangan mereka yang sempat bertautan, lalu beralih ke wajah Sael yang tampak jauh lebih cerah dan merona.
"Wah, wah, wah. Dari wajahnya sih, kayaknya misi makcomblang ku berhasil," cetus Kael, bangga. Ia berdiri dan melipat tangannya di dada. "Gimana, Sael? Minimal bilang makasih gitu ke kembaranmu yang genius ini."
Sael memutar bola matanya, meski tidak bisa menahan tawa. "Serah kamu deh."
Aeros hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Kael. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk bahu cowok itu agak keras hingga Kael hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Iya, makasih ya. Nanti komisinya aku transfer," kelakar Aeros yang langsung disambut binar cerah di mata Kael.
"Nah, ini baru namanya calon ipar idaman! Nggak kayak yang ini," balas Kael sambil menunjuk Sael dengan dagunya. Sael hanya membalasnya dengan melotot jenaka, lalu mencibir pelan.
Suasana hangat itu mendadak sedikit mereda saat Aeros melihat jam tangan di pergelangan kirinya. Jarum pendek sudah hampir menyentuh angka dua belas.
"Ya udah, aku pamit balik dulu ya. Udah kemalaman," pamit Aeros. Pandangannya kembali melembut, menatap mata Sael. "Masuk gih, langsung istirahat."
"Kak Aeros juga langsung istirahat," ujar Sael lirih.
"Siap, Tuan Putri." Aeros tersenyum manis, lalu beralih menatap Kael dengan nada yang kembali santai. "Kael, jagain kembaranmu. Jangan dijailin terus, kasihan udah ngantuk."
"Aman," sahut Kael.
Begitu mobil Aeros telah masuk ke pekarangan rumahnya, Kael langsung menyenggol lengan Sael dengan sikunya, memasang senyum paling menjengkelkan sedunia. "Heh, ceritain sekarang. Kok bisa pulang-pulang lipstickmu agak berantakan gitu? Ngapain aja hayo?"
"Kael! Berisik ah!" Sael langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah super merah, meninggalkan Kael yang tertawa puas di teras karena sukses menggoda kembarannya.
Sael langsung mengunci diri di kamar. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.
Perlahan, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri. Ucapan Kael tadi sukses membuat wajahnya kembali memanas. Sael segera melangkah menuju meja rias dan menyalakan lampu. Di depan cermin, ia tertegun. 𝘒𝘢𝘦𝘭 𝘴𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯, batinnya bersungut-sungut.
Ternyata kembarannya itu tidak sepenuhnya mengada-ada—warna lipstik di sudut bibirnya memang sedikit berantakan, bayangan ciuman di kafe kembali memenuhi kepalanya.
*****
Keesokan paginya, tepat pukul 07.15, Sael sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia sengaja turun lebih awal untuk menghindari godaan Kael. Namun, prediksinya meleset total. Di meja makan, Kael sudah duduk manis dengan sepotong roti bakar di tangan, lengkap dengan tatapan menyelidik yang menyebalkan.
"Ehem. Yang semalam habis 𝘯𝘨𝘦-𝘥𝘢𝘵𝘦, auranya beda ya. Silau banget kayak lampu 𝘯𝘦𝘰𝘯," sindir Kael saat melihat Sael menuangkan air putih ke gelasnya.
"Kael, masih pagi ya. Jangan mulai," ancam Sael, walau ia tidak bisa menyembunyikan senyuman di sudut bibirnya.
"Dih, galak. Padahal semalam pas diantar pulang, lembut banget kayak sutra," kekeh Kael. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menurunkan volume suaranya. "Tapi serius, Sael. Kak Aeros itu cowok baik."
Sael terdiam sejenak, menatap Kael, ia menghela napas lembut lalu mengangguk.
"Aku tahu, Kael," jawab Sael lirih, tatapannya melembut. "Makanya... aku bersyukur banget dia mau nunggu selama ini."
Kael tersenyum tipis, Ia menepuk kepala Sael pelan. "Ya udah, gih berangkat. Tuh, pangeran kulkasmu udah nangkring di depan pager. Jangan bikin dia nunggu lagi, kasihan tujuh tahun udah lumayan karatan."
"Kael!" Sael tertawa sambil menepis tangan kembarannya, lalu buru-buru menyambar tas kerjanya dan melangkah keluar rumah setelah berpamitan pada Mama yang sedang sibuk di dapur.
Di depan gerbang, SUV hitam Aeros sudah terparkir rapi. Pria itu berdiri bersandar di pintu kemudi, kali ini mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang digulung hingga siku. Begitu melihat Sael keluar, senyum Aeros langsung merekah hangat.
"Pagi, Sayang," sapa Aeros santai, membuka pintu penumpang untuk Sael.
Pipi Sael otomatis menghangat mendengar panggilan itu di pagi buta. "Pagi, Kak. Kebiasaan deh, mulai lagi gombalnya."
"Itu bukan gombal, itu fakta," sahut Aeros sambil mengecup puncak kepala Sael sekilas sebelum menutup pintu mobil dan beralih ke kursi kemudi.
Begitu Aeros masuk, ia tidak langsung melajukan mobilnya. Matanya menatap intens ke arah wajah Sael, khususnya ke area bibir gadis itu, membuat Sael mendadak teringat kejadian semalam dan perkataan usil Kael.
"K-Kenapa, Kak? Lipstik aku aneh ya?" tanya Sael gugup, reflek mengambil cermin kecil dari tasnya.
Aeros terkekeh renyah, tangan kirinya bergerak mencubit pelan dagu Sael agar menghadap ke arahnya. "Nggak, justru rapi banget pagi ini. Bagus deh."
"Maksudnya?" Sael mengerutkan kening, bingung dengan perkataan Aeros.
Aeros memajukan wajahnya sedikit, berbisik dengan nada jenaka yang rendah, "Soalnya kalau masih berantakan kayak semalam gara-gara aku, bisa-bisa Kael langsung introgasi aku."
"Kak Aeros!" Sael memukul lengan Aeros dengan bantal leher di mobil, sementara Aeros hanya tertawa lepas sambil mulai melajukan mobilnya membelah jalanan pagi.
Perjalanan pagi yang menyenangkan itu terasa berlalu terlalu cepat begitu mobil Aeros sampai di depan kantor tempat Sael bekerja. Namun, atmosfer manis itu sedikit bergeser saat ego Aeros mendadak 'tergelitik'.
Dari balik kaca mobil, Aeros bisa melihat Arka baru saja turun dari mobilnya sendiri. Pria itu tampak acak-acakan, lingkaran hitam di bawah matanya tercetak jelas—seolah baru saja melewati malam yang panjang tanpa tidur.
Begitu Arka menoleh dan menyadari SUV hitam Aeros terparkir di lobi, langkah kakinya langsung berhenti.
Aeros mengulas senyum tipis yang penuh arti. "Sael," panggilnya lembut.
"Iya, Kak?" Sael yang baru saja hendak membuka sabuk pengaman menoleh.
Tanpa aba-aba, Aeros mendekatkan tubuhnya, mencondongkan wajahnya ke depan Sael. Sael menahan napas, mengira Aeros akan menciumnya seperti semalam. Namun, Aeros hanya menarik ulur napasnya tepat di depan wajah Sael, lalu tangan kanannya bergerak merapikan kerah blazer Sael dengan sangat lambat dan penuh perhatian.
"Semangat kerjanya hari ini. Jangan capek-capek," ucap Aeros pelan, namun matanya melirik tajam ke arah luar jendela—tepat ke arah Arka yang sedang mengepalkan tangan menyaksikan adegan tersebut dari kejauhan.
Sael yang tidak menyadari taktik Aeros hanya mengangguk dengan wajah merona. "Iya, Kak. Kak Aeros juga semangat di kafenya."
Sebelum Sael turun, Aeros dengan sengaja mengecup kening Sael agak lama, memberikan pemandangan yang sempurna untuk Arka di luar sana.
Begitu Sael keluar dari mobil dan berjalan menuju lobi, Arka langsung mempercepat langkahnya agar bisa berjalan bersisian dengan Sael.
"Pagi, Sael. Diantar... pacar lagi?" tanya Arka, suaranya terdengar parau dan dipaksakan santai.
"Eh, pagi, Arka! Iya nih," jawab Sael riang tanpa beban. "Kamu kok kelihatan lemas banget? Begadang ya semalam nyelesaiin berkas?"
Arka tersenyum miris, menatap lurus ke depan. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴, 𝘚𝘢𝘦𝘭, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶, batinnya menjerit pedih. "Iya, ada beberapa berkas yang agak rumit."
apakah yang ketujuh ini mereka akan.. 🤔
kenapa aku malah jadi ngitungin😄
kael menganggu aja🤣
pengen liat visualnya
ada ngga thor😍😍
apakah bakal ada cowok baru lagi...
mungkin cowok yang di luar negeri itu, yang aeros singgung di bab 1🤔🤔
semua love language dia ambil
titip pacar saya😍
jadi ikut digelitik kupu-kupu😄