NovelToon NovelToon
Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Meyrna Pratiwi

Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.

Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.

Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.

Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

​"Akhirnya selesai juga," gumam Warren dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara kegirangan dan sedikit ketakutan. "Perceraianku sudah final minggu ini. Itulah alasan Cookie mengadakan pesta ini, dia ingin membantuku kembali bergaul."

​Ia melirik ke sekeliling seolah mencari seseorang, lalu menatap Katie tajam. "Kamu tidak menikah, kan?"

​"Tidak," jawab Katie singkat.

​Warren tersenyum puas. "Bagus. Biasanya, orang-orang yang belum menikah di zaman sekarang hanyalah para pecundang."

"Aku menyadarinya," gumam Katie, meski dalam hati ia merasa risih dengan kesombongan pria itu.

Warren menunjuk ke arah Mark dengan dagunya. "Dan segelintir orang yang bukan pecundang itu? Mereka semua sibuk menjilat pria lokal yang baru sukses itu."

Katie merasakan gelombang amarah yang membuatnya ingin segera menampar wajah Warren saat itu juga. "Uang!" dengus Warren dengan nada jijik. "Kalau kamu punya cukup uang, hal lain tidak ada yang penting."

"Memangnya kamu tidak punya cukup uang?" sahut Katie, suaranya sedikit meninggi karena geram.

Warren mengerjapkan mata, menatap Katie lekat-lekat seolah sedang menimbang apakah Katie baru saja menghinanya atau mencoba mengorek informasi pribadi.

"Jangan cemaskan kepala kecilmu soal itu," ujarnya akhirnya dengan nada meremehkan. "Meskipun hakim mewajibkan aku membayar tunjangan anak yang sangat besar pada istriku, aku masih punya cukup uang untuk membuatmu merasa senang."

Katie terdiam, menatap Warren dengan frustrasi yang memuncak. Ia bahkan tidak tahu harus membalas apa untuk meruntuhkan kesombongan pria itu. Rasa jijik mulai menjalar saat Warren melangkah lebih dekat, merangsek masuk ke ruang pribadinya hingga Katie bisa merasakan panas tubuh pria itu.

"Jangan khawatir," bisik Warren, salah mengartikan kegelisahan Katie sebagai bentuk rasa malu yang manis. "Tidak ada yang bisa melihat kita di sini. Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa—"

"Aku butuh udara segar," potong Katie cepat, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan gugup, mencari celah untuk meloloskan diri dari pria itu.

Ia menunduk hendak mencium bibir Katie, tetapi Katie tersentak ke samping. Bibir Warren justru mendarat di bahu dekat pangkal leher Katie, dan Katie bisa merasakan mulut panas pria itu menempel rakus pada kulitnya seperti lintah.

Rasa panik yang luar biasa menyergap Katie. Ia ingin segera pergi dari sana, sekarang juga, tidak peduli apa pun pendapat orang. Sentuhan Warren adalah sebuah pelanggaran baginya. Katie mendorong dada pria itu sekuat tenaga, tetapi tidak berhasil. Warren mungkin seorang yang egois, tetapi ia memiliki fisik yang kuat.

"Oh, lady, kamu benar-benar wanita yang panas," suara berat Warren menambah ketakutan Katie. "Ayo kita tinggalkan keramaian ini dan pergi ke tempatku."

"Tidak, terima kasih," Katie mencoba menjauh sedikit darinya. Namun tangan Warren terangkat dan menyentuh payudaranya.

"Jangan!" semprot Katie.

"Kamu tidak perlu berpura-pura malu padaku," gumam Warren. "Aku akan membuatmu merasa senang".

"Jauhkan tanganmu dari dia selagi kamu masih bisa menggunakannya!"

Katie bersandar di dinding bangunan dengan lega saat mendengar suara kasar Mark. Warren tersentak dan memelototi Mark. "Sialan, kau tidak memonopoli semua wanita cantik! Kembali saja ke pengacara wanitamu itu".

"Pergi!" Mark memerintah sambil mencengkeram kerah baju Warren dan menariknya menjauh dari Katie.

"Tidak apa-apa, Mark," ucap Katie, berusaha meredam amarah Mark. Otot rahang Mark menegang, bibirnya terkatup rapat, dan ia tampak sangat berbahaya. Warren akhirnya melangkah mundur beberapa kali dengan terburu-buru.

"Cookie tidak akan pernah memaafkanku jika aku memukuli salah satu tamunya," ucap Warren pada Katie sambil tetap menatap Mark dengan waspada.

"Benar," setuju Katie, berharap pria itu segera pergi.

"Aku akan meneleponmu," kata Warren saat akhirnya pergi meninggalkan mereka.

Katie mengembuskan napas panjang dengan tubuh gemetar, lalu secara naluriah bergerak mendekat ke arah Mark Barrington. Lengan Mark mendekapnya dengan nyaman, dan Katie menekan pipinya ke dada pria itu.

Kelembutan dasi Mark membelai pipinya yang memerah, dan aroma maskulin tubuh Mark yang hangat tercium oleh Katie, menggantikan aroma parfum Warren yang sangat menyengat. Perasaan aman mulai mengendurkan otot-ototnya yang tegang dan menenangkan sarafnya yang kacau.

"Terima kasih, Mark," gumamnya. "Aku tidak bisa meyakinkannya bahwa aku tidak ingin memainkan permainan apa pun yang dia rencanakan. Aku mulai merasa putus asa tentang peluangku untuk menemukan seorang suami".

Mark meremas bahu Katie dengan menenangkan dan mendaratkan kecupan di atas kepalanya. "Ini masih hari-hari awal dari kampanyemu, dan lagi pula, aku sangat ragu kamu akan cocok dengan Warren White."

"Bukan hanya dia, meskipun dia memang juara dalam hal menyebalkan," sahut Katie. Katie dengan enggan melangkah mundur. Menurutnya, bukan ide bagus untuk menjadikan Mark sebagai sandaran emosional, karena itu tidak adil baginya dan berbahaya bagi ketenangan pikiran Katie sendiri.

"Itu karena semuanya," katanya perlahan. "Tidak ada satu pun orang yang kutemui malam ini yang bisa aku pertimbangkan untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya."

"Tidak ada satu pun?" tanya Mark, menolak menganalisis perasaan lega yang muncul di hatinya.

"Tidak ada satu pun," ulang Katie dengan sedih. "Pria malang di meja penyegar tadi menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk menceritakan tentang istrinya yang menceraikannya tahun lalu, dan dia tidak mengerti alasannya. Aku bisa saja memberinya beberapa petunjuk, tapi aku tidak punya keberanian atau keinginan untuk itu. Semua pria lainnya tampaknya sudah bersama seseorang".

"Ingatlah bahwa alasan pesta ini adalah untuk memperkenalkan Warren kepada wanita-wanita yang memenuhi syarat. Jika itu tujuanmu, apakah kamu akan mengundang pria lajang lainnya?" tanya Mark.

Katie mengernyit. "Mungkin tidak. Warren pasti akan terlihat buruk jika dibandingkan," ujar Katie Wilson, mulai merasa sedikit lebih baik. "Malahan, aku berani bertaruh Cookie sengaja mengundang spesimen pria paling menyedihkan yang bisa dia temukan".

Mark Barrington menyeringai ke arahnya. "Terima kasih".

"Kamu tahu maksudku. Lagipula, kamu itu hanya pertimbangan tambahan".

"Mudah-mudahan, lain kali aku tidak akan menjadi pertimbangan sama sekali". Mark melirik ke sekeliling dengan kesal. "Ini jelas bukan tempat yang cocok untukku".

Mark menyadari tempat ini juga tidak cocok untuk Katie, namun ia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya cocok untuk wanita itu?.

Bayangan Katie berada di kamar tidurnya membuat tekanan darah Mark meningkat drastis. Ia membayangkan Katie mengenakan gaun tidur sutra tipis yang nyaris transparan, dengan potongan rendah yang memperlihatkan dadanya. Jantungnya berdegup kencang saat pikirannya dengan patuh memberikan bayangan samar puting payudara Katie yang mengintip dari balik renda.

Ia memperjelas fantasinya; gaun tidur itu seharusnya berpotongan ketat untuk memamerkan kaki Katie yang panjang dan ramping.

Sial! Kenapa kami membuang waktu dengan merasa bosan di pesta bodoh ini ketika kami bisa kembali ke tempatku dan melakukan apa yang sebenarnya ingin kulakukan? pikir Mark.

Namun, apa yang diinginkan Katie?. Mungkin bukan itu. Tetapi ia tidak akan tahu sampai ia mencobanya.

Kebutuhannya akan wanita itu terus tumbuh setiap kali ia menyentuhnya, atau setiap kali ia menangkap pandangan Katie dan wanita itu tersenyum seolah mereka berbagi lelucon yang tidak diketahui orang lain. Bahkan jika Katie membatasi hubungan mereka hanya pada ciuman, Mark yakin wanita itu mungkin akan menikmatinya, dan pemikiran itu memberinya harapan.

Katie salah mengartikan ekspresi melamun Mark. "Apakah kamu sakit kepala?".

"Ya," sahut Mark, segera menggunakan alasan itu. "Ayo kita pergi dari sini".

"Aku setuju. Bagaimana cara kita meloloskan diri?".

Bersambung ....

1
afri yani
pasti masih ori. segel tertutup rapat.🤭
MyR: ntar lagi segel terbuka...ups🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!