Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG RAHASIA DIBALIK TIRAI BELUDRU
"Kamu terlambat sepuluh menit," ucap Bimo, berdiri untuk menyambut Kirana. Ia tidak menjabat tangan Kirana secara formal; ia langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya, menghirup aroma melati dari leher Kirana dengan sedikit posesif.
"Aris meminum kopinya lebih lambat dari biasanya pagi ini," jawab Kirana, membiarkan dirinya bersandar di dada Bimo selama beberapa detik sebelum melepaskan diri dengan profesional. "Bagaimana dengan progres pemindahan asetnya?"
Bimo kembali ke balik mejanya, membuka sebuah laptop hitam yang terputus dari jaringan internet publik perusahaan. Ia memutar layar laptop itu ke arah Kirana.
"Ini mahakarya kita, Kirana," Bimo menunjuk barisan angka dan diagram kepemilikan struktur korporasi. "Menggunakan posisi hukummu sebagai Financial Trustee, aku telah mengeksekusi klausul 'Cross-Default Protection' yang kemarin ditandatangani Aris tanpa dia baca secara saksama. Aku telah mengalihkan hak milik atas sebidang tanah seluas empat hektare di kawasan penyangga Sentul—aset pribadi terbesar Aris yang belum dijaminkan ke bank—ke dalam portofolio PT Kirani Nusantara Utama."
Kirana menatap nama perusahaan itu di layar. PT Kirani Nusantara Utama—sebuah perusahaan cangkang yang didirikan oleh Bimo atas nama Kirana, di mana Kirana memegang 99% saham secara mutlak, sementara 1% sisanya dipegang oleh Bimo sebagai jaminan legalitas.
"Apakah Aris tidak akan menerima notifikasi dari Badan Pertanahan atau notaris rekanan kita?" tanya Kirana jeli.
Bimo terkekeh kecil, sebuah tawa yang sarat akan kelicikan hukum yang matang. "Notaris rekanan kita adalah sepupuku sendiri, yang sudah tahu bahwa seluruh transaksi ini dilindungi oleh surat kuasa mutlak (Power of Attorney) yang diberikan Aris kepadaku bulan lalu. Mengenai notifikasi digital ke ponsel Aris? Aku telah mengubah nomor kontak darurat dan surel resmi di profil korporasi Aris menjadi nomor cadanganku. Aris terlalu sibuk memeriksa laporan progres pembangunan dari Sarah di Bali untuk menyadari bahwa sertifikat tanah aslinya yang disimpan di safety deposit box kantor kini sudah berganti nama kepemilikan."
Kirana mengusap dagunya, matanya berbinar dingin melihat angka-angka bernilai puluhan miliar rupiah itu kini telah berpindah tangan ke bawah kendalinya. "Bagaimana dengan saham mayoritasnya di PT Utama Karya Propertindo?"
"Itu bagian yang paling menarik," Bimo membuka berkas fisik bersampul biru tua. "Proyek Uluwatu membutuhkan likuiditas instan. Konsorsium Sarah tidak mau mencairkan dana termin kedua sebelum Aris menyetor modal pendamping sebesar 20 miliar rupiah. Aris tidak punya uang tunai sebanyak itu karena sebagian besar modalnya macet di proyek reklamasi Jakarta."
Bimo menatap Kirana dengan senyum penuh kemenangan. "Jadi, apa yang dilakukan suami cerdasmu? Dia datang kepadaku dua hari lalu, meminta saran bagaimana cara mendapatkan uang 20 miliar tanpa harus meminjam ke bank yang prosesnya memakan waktu satu bulan."
"Dan kamu menyarankannya untuk menjual saham?" tebak Kirana.
"Bukan menjual secara langsung kepada publik, karena itu akan menurunkan harga saham korporasi," Bimo membetulkan posisi kacamatanya. "Aku menyarankannya untuk melakukan 'Share Pledge'—menggadaikan 35% saham mayoritasnya kepada seorang investor privat lokal yang bergerak di bidang shadow banking dengan klausul penebusan dalam waktu 90 hari. Jika dalam 90 hari dia tidak bisa melunasi pinjaman 20 miliar beserta bunganya, saham itu otomatis hangus dan berpindah tangan secara mutlak kepada si pemberi pinjaman."
"Siapa pemberi pinjaman itu, Bimo?" Kirana menahan napasnya.
Bimo mendorong sebuah dokumen kontrak pinjaman yang sudah ditandatangani Aris di atas materai. Di kolom pihak pertama, selaku pemberi pinjaman, tertera sebuah nama firma modal ventura asing yang berbasis di Singapura: Aegis Capital Ltd.
"Aegis Capital Ltd adalah perusahaan bentukan yang kubuat lewat kolega hukumku di Singapura tiga tahun lalu untuk urusan klien luar negeri," Bimo berbisik, wajahnya kini berada sangat dekat dengan Kirana. "Dan tebak siapa pemilik modal utama di balik akun nominator Aegis Capital? Uang 20 miliar itu adalah uang hasil penjualan seluruh perhiasan lamamu, pencairan reksa dana pribadimu yang kita lakukan secara rahasia, ditambah dengan dana taktis yang kupinjam dari jaringan hukumku. Saham itu... 35% saham pengendali Aris, kini secara de facto dipegang olehmu, Kirana."
Kirana menatap dokumen itu dengan tubuh yang bergetar halus—bukan karena takut, melainkan karena rasa puas yang luar biasa. Dengan 35% saham yang digadaikan ini, ditambah dengan 20% saham warisan keluarga yang memang sudah atas namanya sejak awal pernikahan, Kirana kini secara hukum memegang 55% saham pengendali di PT Utama Karya Propertindo.
Secara legalitas formal, Kirana adalah pemilik baru dari perusahaan yang dibangun Aris dengan kesombongannya. Aris kini hanyalah seorang direktur utama pajangan yang bekerja di bawah belas kasihan istrinya sendiri, tanpa pria itu menyadarinya sedikit pun.
"Kamu luar biasa, Bimo," ucap Kirana, menatap Bimo dengan binar kekaguman yang tulus. Pada detik ini, Kirana menyadari bahwa ia tidak salah memilih pion. Bimo bukan sekadar alat; pria ini adalah eksekutor berdarah dingin yang memiliki tingkat presisi yang sama dengannya.
Bimo menggenggam tangan Kirana, menarik wanita itu mendekat ke arah kursinya. "Aku melakukan semua ini untukmu, Kirana. Aku ingin setelah bajingan itu jatuh, kita bisa membangun kembali segalanya dari awal. Bersamaku."
Kirana menatap mata Bimo yang penuh dengan harapan masa depan. Ia membiarkan Bimo mencium bibirnya, menyambut kehangatan pria itu sebagai pelarian dari rasa dingin yang menyelimuti hidupnya. Namun di dalam sudut hatinya yang paling gelap, sepotong nurani Kirana berbisik: Apakah aku benar-benar mencintai Bimo, ataukah aku hanya mencintai fakta bahwa Bimo adalah senjata terbaikku untuk menghancurkan Aris? Pertanyaan itu langsung ia kubur dalam-dalam. Untuk saat ini, moralitas adalah kemewahan yang tidak bisa ia penuhi.