Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Perlahan Menjadi Rumah
Keesokan harinya…
Langit masih gelap ketika suara alarm berbunyi dari ponsel Zidan. Ia berusaha membuka kedua matanya secara perlahan, dan beberapa detik ia hanya diam sambil menatap langit-langit kamar.
Lalu tiba-tiba....... ia teringat akan sesuatu.
“ Subuh… ” gumamnya pelan.
Zidan langsung duduk, dengan kondisi rambutnya yang masih berantakan dan matanya yang belum sepenuhnya terbuka lebar.
Biasanya… jam segini ia masih tidur lelap.
Namun kali ini berbeda !
Ia sudah berjanji pada Faris.
Dengan langkah malas, Zidan akhirnya keluar dari kamarnya.
Dan benar saja…
Faris sudah bersiap-siap di ruang tengah sambil memakai peci.
Begitu melihat Zidan keluar kamar, Faris langsung mengangkat alisnya heran.
“ Tumben cepat bangunnya Mas ”
Zidan mengusap wajahnya secara kasar.
“ Jangan banyak ngomong. ”
Faris malah tertawa kecil.
“ Katanya mau berubah ! ”
Zidan mendelik pelan.
“ Tetep nyebelin ya lo Ris ”
Meski begitu…
untuk pertama kalinya suasana di antara mereka terasa jauh lebih ringan dibanding suasana-suasana pada sebelumnya.
Tak lama kemudian, mereka berjalan bersama menuju masjid di dekat rumahnya. Udara subuh terasa dingin. Jalanan masih sepi.
Zidan memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie sambil berjalan pelan mengikuti di samping Faris.
“ Ris… "
“ Hmm ? Gue mau nanya ke lo nih bentar Ris ”
“ Dulu kakak lo alias Alya emang selalu kayak gitu ya ? ”
Faris menoleh sebentar.
“ Kayak gimana maksudnya Mas ?”
“ Selalu tenang ? ”
Faris tersenyum kecil.
“ Dari dulu. ”
Zidan terdiam mendengar jawaban itu.
Faris melanjutkan,
“ Kak Alya emang tipe orang yang selalu berusaha nyimpan semuanya sendiri Mas. Bahkan kalau sedih pun dia lebih banyak diam. Jadi dia selalu kelihatan gitu dengan apapun masalah yang sedang ia hadapi ”
Langkah Zidan perlahan melambat.
Entah kenapa…...dadanya terasa sesak lagi saat mengingat wajah Alya malam itu.
Faris meliriknya sekilas.
“ Makanya kalau Mas bikin dia kecewa… ”
Ia berhenti sebentar.
“…lukanya sama biasanya lebih dalam dari yang kelihatannya Mas ! ”
Zidan tidak menjawab. Doa hanya diam membisu.
Namun kata-kata itu terus terngiang di kepalanya sampai mereka tiba di masjid.
Satu jam kemudian,
Sepulang dari masjid, suasana rumah masih dalam keadaan sunyi.
Umi belum bangun sepenuhnya, sedangkan Abi sedang membaca Al-Qur’an di ruang tengah.
Saat Zidan masuk, Abi sedikit terkejut melihatnya.
“ MasyaAllah Nak Zidan.… habis sholat dari masjid ya Nak ?”
Zidan terlihat sedikit canggung.
“ Iya, Bi… tadi saya sholat sama Faris ke Masjid ”
Abi tersenyum hangat.
“ Alhamdulillah Nak ”
Jawaban sederhana itu… justru membuat hati Zidan terasa aneh. Ia tidak terbiasa dipuji karena hal kecil seperti ini.
Di saat yang sama, Alya baru keluar dari kamarnya.
Langkahnya perlahan terhenti ketika melihat Zidan memakai peci sambil duduk di ruang tengah bersama Abi dan Faris.
Alya sedikit terdiam.
Pemandangan itu terasa asing… tapi juga terasa hangat.
Zidan yang menyadari kehadiran Alya langsung menoleh kearah yang berlawanan.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua masalah itu terjadi…
Alya melihat sesuatu yang berbeda di mata Zidan.
Bukan karena kesombongan, dan bukan juga sikap santai seperti dulu.
Tapi ketulusan kecil… yang sedang berusaha tumbuh secara perlahan.
Alya menunduk pelan, dan Tanpa sadar…
sudut bibirnya terangkat dan tersenyum tipis.
Dan itu… sudah cukup membuat pagi Zidan terasa jauh lebih tenang dari biasanya.