Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
...~•Happy Reading•~...
Setelah menyimpan buah di kulkas, Rafael berjalan cepat ke halaman untuk mengambil makanan yang dipesan Laras. "Pesanan Ibu Laras." Pengantar berkata kepada Rafael untuk memastikan.
"Iya. Terima kasih." Rafael merespon, sambil mengulurkan tangan lewati pagar. Namun matanya sesekali tertuju pada sebuah mobil mewah yang parkir di dekat rumah. Dia yakin ada orang dalam mobil, sebab lampu ponsel menyala di bagian sopir.
Dia berbicara santai dengan pengantar makanan, seakan dia tidak tertarik pada mobil itu. Ketika pengantar makanan pergi, Rafael melangkah pelan masuk ke rumah.
Sebelum tiba di depan pintu, dia mendengar bunyi pintu mobil ditutup. Rafael tidak langsung menengok, tapi makin memperlambat jalan. "Selamat malam, Pak." Terdengar suara pria menyapa.
Rafael menengok. "Anda menyapa saya?" Dia bertanya sambil menunjuk dadanya.
"Iya, Pak. Maaf, saya mengganggu." Ucapnya lagi. Rafael menaksir usia pria yang menyapa, sekitar 40 sampai 50 tahun dan berpenampilan parlente sesuai dengan mobilnya.
"Tidak apa, Pak. Selamat malam. Ada yang bisa dibantu?" Rafael coba bersikap ramah, sebab mereka orang baru di kota itu, jadi butuh teman.
"Saya bisa bertemu Ibu Laras?" Pertanyaan pria itu membuat Rafael memicingkan mata dan menatap lurus ke matanya. Dia jadi mengamati pria yang mengenal Laras.
Melihat wajah Rafael berubah kaku, pria itu makin mendekati pagar. "Maaf, Pak. Saya Hotlif, Kepala Kantor Cabang..." Hotlif memperkenalkan diri dan menyebut nama perusahaan, juga maksud kedatangannya.
Rafael jadi melihat keranjang buah di tangannya. "Pak Hotlif, terima kasih kedatangannya. Tapi istri saya belum bisa menerima tamu." Ucap Rafael sambil sedikit menggerakan tangan yang sedang pegang kantong makanan.
"Baik, Pak. Nanti saya hubungi Ibu Laras. Boleh saya titip ini buat Ibu Laras?" Hotlif mengerti gerakan Rafael sebagai isyarat, mereka mau makan malam.
"Terima kasih, Pak. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa terima. Nanti bapak berikan di kantor saja." Rafael mengangkat tangan, menolak.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi." Hotlif menyerah dan balik ke mobil sambil menjinjing keranjang buah.
Rafael masih berdiri di halaman sambil melihat ke arah mobil Hotlif. Rasa penasaran mengalahkan rasa laparnya. Jadi ketika Holtif masuk mobil dan meletakan keranjang buah di kursi, dia jadi tahu Hotlif datang sendiri.
Karena Hotlif tidak langsung menjalankan mobil, Rafael masuk ke dalam rumah tapi masih melihat dari balik jendela Hotlif sedang menelpon. 'Mengapa kepala kantor datang malam-malam?' Rafael bertanya dalam hati sambil menuju ruang makan. Dia bersyukur, lampu dalam rumah temaran, jadi tidak terlihat dari luar rumah. Hanya lampu kamar yang menyala lebih terang.
Setelah meletakan makanan dan menata meja, Rafael masuk ke kamar. Dia merasa lega melihat Laras keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah berganti baju. "Sudah mandi?"
"Iya. Abis kelamaan nunggu." Laras protes, dengan wajah kesal. "Bagus. Aroma terapinya." Rafael coba bercanda.
"Untung sudah makan buah. Jalan ke depan macet, ya?" Laras masih protes karena menurutnya, Rafael terlalu lama mengambil pesanannya.
"Tidak macet. Cuma terjadi sedikit percakapan dengan orang baru di kota baru." Ucap Rafael berkabut, hingga Laras melihatnya dengan mata membulat, sebab tidak mengerti. "Ayo, kita makan di meja makan." Ajak Rafael.
"Gak di sini saja?" Laras menunjuk tempat tidur.
"Kita sudah menguji tempat tidur berfungsi dengan baik. Sekarang mari kita uji fungsi meja makan." Rafael tetap mengajak Laras keluar dari kamar.
Laras terpaksa ikut keluar menuju ruang makan. "Mengapa kita duduk seperti ini? Mengapa tidak berdampingan?" Laras bertanya saat melihat perangkat makan yang ditata Rafael bersebrangan.
"Lebih asyik berdampingan di tempat tidur. Kalau di meja makan, lebih asyik begini, bertatapan." Ucap Rafael sambil tersenyum membuat Laras melemparnya dengan tissu dipilin.
"Nah, ini juga salah satu keasyikannya, sebelum lempar paha ayam." Rafael sengaja bercanda, sebelum membicarakan yang serius.
Dia menyadari, cintanya tidak menggebu seperti layaknya pasangan pengatin baru. Tapi setelah menyetujui menikah dan tidur bersama Laras, ada tanggung jawab ekstra sebagai suami.
Setelah berdoa, mereka makan dalam diam, sebab sama-sama sangat lapar. "Mau minum soft drink atau air mineral?" Tanya Rafael melihat Laras hampir selesai makan.
"Punya soft drink?" Laras berhenti mengunya.
"Ada di kulkas. Disediakan beberapa jenis dan sudah dingin..." Rafael menyebut nama produk.
"Sepertinya, kebanyakan masuk angin. Soft drink aja, deh..." Laras menyebut soft drink yang mau diminum.
"Ok." Rafael mengambil minuman untuk mereka berdua. "Sambil menunggu makanan jalan ke usus, kita BS."
"Apa itu BS?" Laras jadi berhenti minum.
"Bincang Santai. Itu istilah yang dipakai karyawan di kantor Papa." Ucap Rafael menahan senyum melihat Laras mendelik. "Aku kira Bayar Sendiri."
"Aku rubah istilahnya sesuai sikon. BSTS, Bincang Serius Tapi Santai."
"Terserah istilahnya. Mau bincang apa?" Laras jadi serius menanggapi permintaan Rafael yang tiba-tiba serius.
"Tadi Kepala Cabang ke sini, tapi aku bilang kau belum bisa terima tamu..."
"Rafaaa... Mengapa kau gak panggil aku? Pantesan, kau lama di luar. Pak Hotlif bilang apa?" Tanya Laras beruntun dengan wajah kesal. Rafael menyimak, tanpa interupsi.
"Sebelum aku jawab pertanyaanmu, kau jawab dulu. Apa tugasmu selama ditempatkan di kantor cabang?"
"Sebelumnya, aku hanya mengucapkan selamat atas kenaikan jabatan, tanpa bertanya tugasmu. Tapi setelah menjadi suami, aku perlu tahu. Supaya aku bisa menempatkan diri di bagian mana." Rafael makin serius.
Laras terdiam sambil menatap Rafael yang diam menunggu. "Begini, ada sedikit masalah di kantor cabang. Selain pendapatan terus turun, mereka sering tidak menang tender. Aku mau memastikan penyebab mereka membeli produk grade B."
"Sepertinya mereka kalah bersaing di pasar, sebab konsumen sekarang sudah cerdas. Mereka lebih memilih produk grade A."
"Aku ingin dengar langsung dari mereka mengapa membeli produk kualitas itu dan sekalian survey pasar...." Laras melanjutkan penjelasannya.
"Ok. Kau tahu tugasmu itu tidak mudah dan sangat berbahaya?"
"Maksudmu?" Laras terkejut.
"Kau seperti mau mengaudit kinerja para pejabat di sini untuk menemukan penyebabnya."
"Tapi aku hanya mau membagi cara yang sesuai keinginan perusahaan, agar mereka bisa kembali pada performa awal...." Laras menjelaskan.
"Anggap saja begitu, sesuai yang kau pikirkan tanpa trik atau intrik dengan pejabat di sini."
Rafael memajukan badannya. "Ini saranku, selama bertugas, jangan terima pejabat atau karyawan wanita atau pria di rumah ini. Bertemu dengan mereka hanya di kantor atau tempat terbuka."
"Itu pertama. Kedua, jangan terima pemberian apa pun dari siapa pun. Ingat itu, kalau kau mau tugasmu berjalan dengan baik."
"Itukah yang membuat kau tidak mengijinkan Kepala Cabang masuk?" Laras langsung mengaitkan.
"Salah satunya. Apa beliau tahu, kau sudah menikah?"
"Entah. Dataku sudah diperbaharui atau belum. Karna kita baru menikah."
"Ingat yang terjadi di kantor pusat. Kau berkonflik, dengan Tolly dan saling sikut. Di sini, lebih kompleks."
"Kalau menganggap isi kepalaku berguna, ajak bicara." Rafael menawarkan diri, sebab dia mulai khawatir.
...~•••~...
...~•○♡○•~...