NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Pukul tujuh pagi Udara masih dingin, langit masih abu-abu muda, dan aroma roti yang baru matang dari Pearl's Bloom mengalir keluar ke trotoar seperti undangan yang tidak memerlukan kata-kata. Para lansia yang jalan pagi, pekerja yang terburu-buru menuju stasiun, ibu muda dengan kereta bayi mereka semua menemukan alasan masing-masing untuk berhenti sebentar di depan pintu kecil itu.

Tapi sejak dua minggu lalu, ada satu sosok yang selalu hadir sebelum yang lain.

Lorcan duduk di kursi sudut dekat jendela, mengenakan kemeja kasual tanpa dasi penampilan yang terasa seperti versi dirinya yang berbeda, seseorang yang sedang belajar bagaimana caranya tidak selalu tampil sempurna. Di hadapannya, secangkir kopi hitam dan sepotong roti gandum. Ia tidak bicara banyak. Tidak mencoba mendominasi ruangan. Hanya duduk, membaca, sesekali menatap layar kerjanya, dan sesekali mencuri pandang ke arah Pearl yang sibuk di balik konter.

Pearl mencoba bersikap profesional.

Ia tidak selalu berhasil sepenuhnya.

Kehadiran Lorcan tidak lagi membuatnya takut, tapi ada sesuatu yang canggung di antaranya, seperti dua orang yang pernah saling melukai dan sekarang sedang mencari tahu bagaimana caranya berada di ruangan yang sama tanpa membawa semua itu masuk bersama mereka.

"Pesanan Anda," ucap Pearl, meletakkan sepiring biskuit jahe kecil tambahan di tepi mejanya.

Lorcan mendongak. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, singkat, hangat. "Terima kasih. Tapi aku bilang panggil namaku saja. Di sini aku hanya pelanggan."

Pearl menyilangkan tangannya di depan apron. "Pelanggan biasa tidak membeli setengah persediaan kami setiap sore untuk dikirim ke panti asuhan di distrik sebelah."

Lorcan terkekeh pelan.

Pearl hampir lupa betapa jarangnya ia pernah mendengar suara itu, tawa yang tidak kering, tidak sinis. "Aku hanya ingin rotimu dinikmati lebih banyak orang. Kebetulan ada anggaran yang belum terpakai."

"Kamu sangat gigih," gumam Pearl, tapi ada segaris senyum tipis yang tidak sepenuhnya bisa ia tahan.

"Aku punya banyak hal yang perlu ditebus," jawab Lorcan, kali ini tanpa bercanda. Matanya menatap Pearl langsung. "Dan banyak waktu yang dulu aku buang untuk hal-hal yang salah."

Pearl tidak menjawab itu.

Ia kembali ke belakang konter.

**

Beberapa hari kemudian, hujan turun deras.

Toko sedang sepi, Greta sudah pulang lebih awal karena ada urusan keluarga dan Pearl sedang membereskan loyang-loyang di dapur saat lonceng pintu berbunyi. Ia mengira pelanggan terakhir yang terlambat masuk.

Yang masuk adalah Lorcan, dengan bahu kemejanya basah oleh hujan yang ia tidak sempat atau tidak mau hindari.

Pearl menghela napas. Ia mengambil handuk bersih dari rak belakang dan membawanya keluar tanpa berkata apa-apa dulu.

"Supirku sedang mengurus kepindahan barang," kata Lorcan sebelum Pearl sempat bertanya, menerima handuk itu. "Aku memutuskan untuk tinggal di Berlin untuk sementara waktu. Sudah menunjuk wakil direktur untuk menangani operasional di Vienna."

Pearl menatapnya.

"Untuk sementara waktu,"* ulangnya. *"Atau permanen?"

Lorcan tidak langsung menjawab.

"Bergantung pada banyak hal."

Pearl menarik kursi dan duduk di mejanya sendiri, meja kayu kecil di pojok dekat jendela yang biasanya ia gunakan untuk menghitung stok atau menulis pesanan. Ia menunjuk kursi di seberangnya.

Lorcan duduk.

Di antara mereka, meja kayu yang berbau tepung dan hujan yang terus mengetuk kaca jendela.

"Apa kamu tidak lelah, Lorcan?" tanya Pearl tiba-tiba, suaranya pelan tapi serius. "Aku bukan lagi perempuan yang bisa kamu bentuk sesuai keinginan. Aku punya hidupku sendiri sekarang. Aku tidak akan pernah kembali menjadi seperti dulu."

"Aku tidak menginginkan kamu menjadi seperti dulu," jawab Lorcan. "Aku tidak menginginkan pengganti siapa pun. Aku menginginkan ini--" tangannya menyentuh pinggiran meja di antara mereka, tidak menyentuh tangannya, hanya menunjuk ruang di antara mereka. "Percakapan seperti ini. Tanpa kontrak. Tanpa ancaman. Hanya ini."

Pearl menatap mejanya.

Lalu, dengan gerakan yang ia sendiri tidak benar-benar rencanakan, ia meletakkan tangannya di atas meja, tidak menawarkan, tidak menarik, hanya ada di sana.

Lorcan tidak bergerak untuk mengambilnya.

Tapi ia melihatnya.

"Luka itu masih ada," bisik Pearl. "Bekasnya masih ada. Kadang malam-malam masih buruk."

Lorcan berdiri dari kursinya.

Ia berjalan memutari meja dan berlutut di depan kursi Pearl. Bukan dramatis, bukan berlebihan. Hanya seseorang yang memilih untuk merendahkan dirinya ke tingkat yang sama karena ia sudah belajar bahwa mendominasi dari atas tidak pernah membawa ke mana pun yang berarti.

"Aku tidak meminta kamu melupakan luka itu," katanya pelan, menatap Pearl langsung. "Aku hanya meminta izin untuk duduk di sampingnya bersamamu. Selapis demi selapis. Selama yang dibutuhkan."

Pearl menatap pria yang berlutut di depannya.

Pria yang dulu mengurungnya dalam kegelapan. Pria yang dulu membuat setiap detak jantungnya terasa seperti ancaman. Pria yang sudah belajar cara berdiri berbeda dari sebelumnya, tidak sempurna, tidak bersih, tapi nyata.

Dengan tangan yang tidak sepenuhnya bisa diam, Pearl menangkup sisi wajah Lorcan.

"Mungkin kita bisa mencoba satu langkah," ucapnya lirih. "Bukan suami istri. Bukan kontrak. Hanya dua orang yang mencoba memahami satu sama lain."

Lorcan menutup matanya sebentar, seperti seseorang yang baru saja menerima sesuatu yang sudah lama ia tidak yakin akan datang.

"Itu lebih dari cukup," bisiknya.

**

Bulan-bulan berikutnya bergerak dengan cara yang tidak tergesa-gesa.

Lorcan benar-benar menepati setiap kata yang ia ucapkan malam di toko roti itu. Ia tidak mencoba mengatur apa pun. Ia justru menjadi orang yang paling sering duduk di pojok toko, membaca, sambil sesekali membantu Pearl mengangkat kotak-kotak berat tanpa diminta dan tanpa membuat sesuatu dari itu.

Ia menghabiskan waktu dengan ibu Pearl duduk di taman bersama, mendengarkan cerita tentang Pearl kecil yang tidak pernah ia ketahui, menerima setiap detail itu dengan perhatian yang tidak pernah ia tunjukkan di masa lalu.

Pearl memperhatikan semua itu.

Tidak berkomentar. Tapi memperhatikan.

**

Suatu sore di akhir musim gugur, mereka berjalan di sepanjang tepi sungai yang membelah kota, dengan cahaya jembatan tua yang mulai menyala di atas air yang tenang.

"Ada sesuatu yang ingin aku berikan," kata Lorcan.

Pearl meliriknya. "Kalau itu cincin lagi--"

"Bukan." Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, sebuah kunci sederhana dengan tali kulit tipis. "Ini kunci apartemen, dua blok dari tokomu. Aku membelinya atas namamu."

Pearl menatap kunci itu.

"Bukan sebagai hadiah," lanjut Lorcan sebelum ia sempat berbicara. "Bukan sebagai apa pun yang pernah ada di antara kita dulu. Hanya sebagai tempat, tempat yang benar-benar milikmu, tanpa nama siapa pun yang melekat di atasnya selain namamu sendiri. Tempat di mana kamu bisa melihat matahari terbit tanpa merasa terkurung."

Pearl mengambil kunci itu dengan jari-jarinya.

Dingin. Berat dengan caranya sendiri.

"Kamu benar-benar berubah,"* katanya pelan.

"Masih jauh dari cukup," jawab Lorcan. "Tapi aku tidak berhenti."

Pearl menatap kunci di tangannya, lalu menatap sungai yang bergerak pelan di depan mereka. Cahaya jembatan memantul di air yang gelap.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Tapi ia menyandarkan bahunya sedikit ke arah Lorcan, sangat pelan, sangat hati-hati, seperti seseorang yang sedang mencoba sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan dan belum yakin apakah tubuhnya masih ingat caranya.

Lorcan tidak bergerak.

Ia hanya membiarkan itu ada.

Di tepi sungai yang dingin, di bawah cahaya kota yang mulai menyala satu per satu, dua orang yang pernah saling menghancurkan berdiri berdampingan dalam diam yang tidak lagi terasa seperti ancaman.

Luka itu masih ada.

Bekasnya akan selalu ada.

Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, Pearl berdiri di sampingnya tanpa merasa perlu untuk berlari.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!