Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengamati
Dokter Rahmat datang menjelang pukul sepuluh malam bersama dengan istrinya, Fifi. Tadi dia menjemput Fifi yang lembur dan menyempatkan mampir ke tempat kerja sampingannya.
"Malam dok, mbak Fifi," sapa perawat yang berjaga.
"Aman Sus?" tanya dokter Rahmat sambil melihat-lihat sekeliling panti jompo yang sudah sepi.
"Aman."
"Apa ada yang kemari? Anggota keluarga? Atau siapa?" tanya dokter Rahmat yang entah kenapa ingin menanyakan hal itu.
"Ada keluarganya Oma Ruli tadi. Membawakan kartu remi baru karena yang lama ada yang hilang. Kan Dok Rahmat tahu kalau Oma Ruli sukanya main bakulan. Terus ada anaknya Opa Umar bawain baju baru. Opa Umar senang anaknya datang karena sudah lama pergi ke luar negeri," lapor perawat itu.
"Oh yang anaknya pelayar ya?" tanya Fifi.
"Iya Mbak Fifi."
"Ada yang lain?"
Perawat itu tampak berpikir. "Oh ada bapak-bapak tadi, sepertinya lagi lihat-lihat sini. Mungkin mau cari tempat buat dia atau istrinya."
Alarm di otak dokter Rahmat menyala. "Apa kamu yakin?"
"Kenapa Dok?"
Dokter Rahmat tidak menjawab tapi dia segera berlari ke ruang monitor dimana semua CCTV dipantau di sana. Perawat itu menatap Fifi dengan tatapan bingung.
"Ada apa ini mbak Fifi?" tanyanya.
"Aku tidak tahu," jawab Fifi yang juga bingung.
Sesampainya di ruang monitor, dokter Rahmat meminta petugas di sana untuk memutar kembali semua rekaman CCTV dari jam enam sore. Petugas monitoring tampak bingung.
"Ada apa Dok?" tanya pria itu.
"Berikan saja rekamannya!" pinta dokter Rahmat tidak sabar.
Petugas itu lalu memutar rekaman dari jam enam sore hingga ke saat dokter Rahmat datang. Pria itu menatap dengan teliti satu persatu hingga matanya melihat sosok mencurigakan. Dokter Rahmat menahan nafas karena dia sangat hapal cara berjalannya.
"Apa anda menemukan yang anda cari?" tanya petugas itu.
"Iya ... aku sudah menemukannya," jawab dokter Rahmat. "Aku minta, kamu jangan tidur ya! Harus waspada!"
Petugas itu menatap bingung ke dokter Rahmat. "Apakah ada sesuatu? Dok, tembok pagar di belakang tinggi dan tidak mungkin ada yang bisa manjat."
"Bukan tembok tinggi yang jadi penghalang tapi pintu depan kamu karena sering terlalu open." Dokter Rahmat memegang pangkal hidungnya. "Semoga aman semuanya."
***
"Ada apa mas?" tanya Fifi ke suaminya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Ada ... entahlah. Feeling aku tidak enak, sayang." Dokter Rahmat lalu menghubungi AKP Dean Thomas. "Malam pak Dean. Maafkan saya mengganggu pak Dean."
"Tidak apa-apa Dok. Aku sedang kasih ASI ke Alfie," jawab AKP Dean Thomas.
"Eh? Pak Dean kan pria? Gimana kasih ASI?" tanya dokter Rahmat bodoh membuat Fifi tepuk jidat.
"Pakai dot, Dok! Ya Tuhan, ada apa denganmu?" seru AKP Dean Thomas kesal membuat dokter Rahmat terdiam. "Eh, kok jadi judul lagu Peter Pan?"
Fifi mendelik mendengar ucapan polisi yang kata suaminya tipe polisi lurus. Entah suaminya yang ikutan Lola atau polisinya memang sengklek.
"Begini pak Dean," lanjut dokter Rahmat dengan nada serius, "saya baru dari Harmoni Life bersama istri saya. Entah mengapa, saya kok punya feeling tidak enak."
"Apa yang anda temukan, dok?" tanya AKP Dean Thomas dengan nada ingin tahu.
"Ada dokter Westin disini tadi. Dia berjalan ke dalam panti seolah sudah biasa lalu dia memeriksa satu persatu kamar," jawab dokter Rahmat dengan nada tertahan.
"Apakah benar-benar dokter Westin, Dok?" tanya AKP Dean Thomas meyakinkan.
"Benar Pak. Saya hapal cara dia berjalan meskipun saat tadi datang, memakai baju, topi yang direndahkan agar tidak memperlihatkan wajahnya, bewarna hitam. Cara orang berjalan itu seperti ciri khas tersendiri kecuali jika dia memang seorang aktor atau agen rahasia."
"Anda benar Dok. Cara orang berjalan memiliki ciri khas tersendiri yang unik untuk setiap individu, seringkali dianggap sebagai "sidik jari" kedua karena polanya yang berbeda-beda. Gaya jalan ini dipengaruhi oleh kombinasi struktur fisik, kebiasaan, serta kondisi psikologis seseorang. Itu yang kami pelajari di akademi," ucap AKP Dean Thomas. "Coba saya dan bang Jarot patroli malam. Kebetulan aku tidak ngantuk. Dan anda Dokter, pulanglah bersama istri anda!"
***
Dua jam kemudian, AKP Dean Thomas bersama Kompol Jarot, sudah duduk manis di dalam mobil ayah Alfie itu. Rafika sudah membuatkan bekal jika dua pria itu kelaparan meskipun hanya Indomie goreng dengan berbagai kondimen. Tidak lupa dua Tumbler berisi kopi hitam, serta ada satu pak air mineral botol. Mobil AKP Dean Thomas itu terparkir di seberang rumah panti jompo itu.
"Jujur aku gabut, mas Dean. Tidak bisa tidur! Nggak tahu kenapa. Udah dzikir, udah nonton Drakor ... masih tidak bisa tidur," ucap Kompol Jarot.
"Lho, bang Jarot nonton Drakor?" kekeh AKP Dean Thomas.
"Meh piye? Nonton silat ya bosan." Kompol Jarot mengambil Tumbler yang dipinjamkan Rafika dan membuka tutupnya. "Bau kopi itu paling nikmat."
"Benar. Sama bau Indomie goreng. Entah kenapa ... Khas banget!" kekeh AKP Dean Thomas sambil membuka kotak makannya. "Lha yang cepat buatnya karena dadakan."
Kompol Jarot tertawa kecil. "Tidak apa-apa. Asal jangan sering-sering."
"Tul!" AKP Dean Thomas makan Indomie gorengnya sambil menggeser iPadnya yang dia pasang di atas dashboard. "Dokter forensik kita siapa sih?"
"Dokter Arlo bukan?" tanya Kompol Jarot.
"Dok Arlo ya?" AKP Dean Thomas mencari nama pria itu. "Dokter Arlo Gunawan?"
"Gundul tapi menawan," jawab Kompol Jarot.
"Eh? Masa dia gundul?" AKP Dean Thomas melongo. "Eh, dia beneran gundul ih! Macam Kojak!"
"Memang dia gundul. Dia baru setahun di ME ( medical Examiner ). Kata Hani, dia suka merinding kalau sama dia," ucap Kompol Jarot.
"Apa karena dia gundul?" AKP Dean Thomas masih mempelajari data dokter Arlo Gunawan. "Dia sering pindah-pindah ya?"
"Red flag nggak sih kalau dia tidak bisa lama tinggal?" tanya Kompol Jarot.
"Bisa jadi ...." AKP Dean Thomas terbelalak. "Bang, dia satu angkatan dengan dokter Westin di FK!"
Kompol Jarot auto semangat dan meletakkan tumblernya. "Satu kampus?"
"Satu kampus!" jawab AKP Dean Thomas. "Ini bukan kebetulan kan? Karena aku tidak percaya suatu kebetulan!"
Belum sempat mereka berdiskusi, sebuah mobil berhenti di depan panti jompo itu. AKP Dean Thomas dan Kompol Jarot sama-sama menahan nafas karena tegang.
***
Note
Kojak adalah tokoh detektif polisi fiksi ikonik berkepala botak yang hobi mengisap permen lolipop, diperankan oleh Telly Savalas dalam serial drama kriminal Amerika populer tahun 1970-an. Tokoh Letnan Theo Kojak terkenal dengan gaya tegas, berani, dan berlatar belakang Yunani-Amerika, yang sering ditayangkan di TVRI pada masanya.
***
Yuhuuu up Sore yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....