"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah mendapat telepon dari Medi, Erdio bergegas menuju ke tempat Medi berada. Dia kemudian masuk ke rumah dengan sedikit berlari. Tampak Medi yang sedang mengerang kesakitan duduk di kursi.
Rembesan darah terlihat di kaki Medi yang mana membuat mata Erdio membelalak. Namun hati Erdio bersorak. Dia sangat senang sekali melihat darah itu yang berarti bahwa dugaan Medi keguguran adalah sesuatu yang benar adanya.
Erdio dengan sigap mengangkat tubuh Medi dan membawanya ke mobil. Dia bahkan menenangkan Medi dan begitu perhatian pada wanita itu.
"Ternyata Mas Erdio masih peduli ke aku. Keputusan ku bener buat nggak ikut sama Ibu," ucap Medi dalam hatinya. Meski dia merasakan sakit yang luar biasa, namun hatinya merasa senang dan tenang dengan perlakuan lembut penuh perhatian dari Erdio.
Mobil melaju cepat ke arah rumah sakit. Erdio menghentikan mobilnya tepat di depan pintu unit gawat darurat. Sesampainya di dalam rumah sakit, Medi langsung mendapat tindakan.
"Dengan sangat menyesal, kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan, Pak."
Perkataan dokter terdengar jelas di telinga Erdio, dalam hati pria itu bersorak tapi ia tak mengekspresikannya secara gamblang.
Erdio benar-benar sangat pandai berkamuflase, dia secara alami menampilkan wajah sedih penuh rasa kehilangan.
"Baik Dok, saya mengerti."
Hanya itu yang Erdio katakan. Ia kemudian menuju ke bagian administrasi dan segera menyelesaikan tindakan terakhirnya untuk Medi.
Beberapa waktu berlalu, proses tindakan Medi selesai sudah. Erdio dengan wajah tenang dan juga bibir yang tersenyum tipis mendatangi Medi yang terbaring lemas.
"Jadi, semuanya udah selesai kan? Aku nggak perlu lagi nunggu sampai kamu melahirkan karena anak itu nggak akan pernah lahir. Semuanya selesai di sini Med. Aku, kamu, kini nggak ada yang mengikat. Mari kita jalani kehidupan masing-masing. Tenang aja biaya rumah sakit udah aku bayar lunas, dan kau juga ngirim uang di rekening mu. Setelah ini kamu bisa jalani hidup mu dengan tenang, dan aku pun juga demikian. Selamat tinggal."
Mata Medi membulat sempurna. Perutnya begitu nyeri sekarang karena terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Erdio.
Betapa Medi tidak terkejut, Erdio pergi dan mengatakan hal mengerikan itu dengan wajah riang dan senyuman yang lebar. Pria itu terlihat sangat senang hingga membuat tubuh Medi merinding.
"Mas!" panggil Medi. Meski ada rasa takut yang menghampiri, namun Medi tetap memberanikan dirinya memanggil Erdio. Ia jelas tak ingin ditinggalkan begitu saja seperti ini.
"Ada apa? Kan aku bilang kalau semua ini udah selesai. Anak yang kamu gunakan buat ngikat aku, udah nggak ada lagi. Biaya rumah sakit dan sejumlah uang udah aku transfer ke rekening kamu, anggap itu biaya selama kamu balik dar rumah sakit. Setelah itu, ya ayo kita hidup masing-masing. Asal kamu tahu ya Med, aku sama sekali nggak menyukaimu. Nggak pernah sekalipun malah. Semua yang terjadi diantara kita, ya cuma sekedar seneng-seneng aja, nggak lebih dari itu."
Degh!
Terkejut, Medi terkejut bukan main mendengar apa yang baru saja dikatakan dengan gamblang oleh Erdio. Hatinya sekarang menjadi sakit sekali. Sakit bekas keguguran, tak lebih sakit dari hatnya.
"Mita, pasti karena wanita itu kan Mas?" pekik Medi. Dia masih tidak bisa melepaskan Erdio pergi. Tidak, Medi benar-benar tak ingin ditinggalkan oleh Erdio.
Medi menyadari sepenuhnya bahwa ia sungguh mencintai Erdio. Meski dirinya tak tahu sejak kapan itu. Tapi fakta bahwa dia memberikan tubuhnya, bukanlah hanya sekedar kesenangan semata.
"Semua ini pasti karena Mita kan, Mas? Kenapa Mas, kenapa kamu nggak lepasin dia aja dan hidup bersamaku!" ucap Medi lagi.
"Karena apa? Seriusan kamu nanya kayak gini? Oke, aku jawab. Karena aku mencintainya. Dia yang kucintai, dan bukannya kamu."
Degh!
Dengan lantang bahkan dengan sebuah seringai, Erdio meninggalkan tempat Medi. Dia sama sekali tidak peduli dengan Medi yang menangis tergugu.
Saat ini yang dipikirkan Erdio adalah menemui Mita dan mengatakan kebenaran yang baru saja diterimanya. Dia ingin menyampaikan kepada Mita bahwa kini tak ada lagi alasan bagi mereka untuk berpisah.
"Tunggu aku Mit, tunggu aku datang. Kita akan terus bersama hingga tua."
TBC