Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Hasrat Yang Tak Tertahankan
Brams memejamkan mata beberapa detik.
Napasnya terdengar semakin berat.
Sementara Ranum masih menatapnya dengan bingung.
"Brams..."
Suaranya lirih.
"Aku tidak tahu kenapa tubuhku seperti ini."
Brams mengepalkan kedua tangannya.
Ia tahu persis apa yang sedang terjadi.
Dan itu membuatnya semakin kesal.
"Bertahanlah sedikit lagi."
Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.
Namun ketika Ranum berusaha bangkit...
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Hm..."
Ranum hampir terjatuh.
Refleks.
Brams segera menangkap pinggang istrinya.
Tubuh mungil itu akhirnya jatuh ke atas kasur empuk.
Brams ikut terdorong ke depan.
Kedua tangannya menopang tubuh di sisi kanan dan kiri Ranum.
Kini wajah mereka hanya terpaut beberapa senti.
Tatapan Ranum mulai goyah.
Pipinya memerah.
Napas hangat mereka saling beradu.
"Brams..."
Ranum memanggil namanya pelan.
Tanpa sadar jemarinya mencengkeram kerah kemeja tidur Brams.
Pria itu menelan ludah.
Rahangnya mengeras.
Tatapan hitamnya turun sejenak ke bibir Ranum yang sedikit terbuka, lalu buru-buru kembali menatap kedua matanya.
"Aku sedang berusaha menahan diri."
Suara Brams terdengar serak.
"Jadi..."
"Jangan menatapku seperti itu."
Ranum menggeleng pelan.
"Aku... tidak melakukan apa-apa."
"Itulah masalahnya."
Jawaban Brams hampir terdengar seperti keluhan.
Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, berusaha mengembalikan kendali atas dirinya.
Di luar balkon...
Angin pagi terus berembus, menggoyangkan tirai putih.
Namun di dalam kamar itu...
Keheningan justru terasa semakin menyesakkan.
Dan untuk pertama kalinya...
Brams menyadari bahwa menahan diri ternyata jauh lebih sulit daripada menghadapi lawan bisnis mana pun.
Brams menatap Ranum beberapa saat.
Di dalam dirinya, logika dan naluri saling bertarung.
Ia sebenarnya bisa saja membantu Ranum.
Namun pikirannya terus kembali pada satu hal.
Ranum sempat pingsan kemarin.
Ia bahkan belum mengetahui penyebab pasti kondisi istrinya itu.
"Brams..."
Suara Ranum kembali memanggilnya.
Lirih.
Hampir putus asa.
"Tolong aku..."
Jemarinya menggenggam lengan Brams pelan.
Selimut yang menutupi tubuhnya kembali bergeser ketika ia berusaha mendekat.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Brams memejamkan mata.
Mengembuskan napas panjang.
Seolah sedang menyerah pada keadaan yang sejak tadi berusaha ia lawan.
"...Maaf."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya.
Lalu...
Brams merendahkan tubuhnya, sedangkan Ranum memejamkan matanya, ia menikmati keindahan pagi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tirai putih di balkon terus bergoyang diterpa angin pagi.
Mentari perlahan naik lebih tinggi.
Dan pagi itu berlalu dalam kehangatan yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
Satu jam kemudian.
Suara pintu kamar mandi terbuka.
Brams melangkah keluar dengan rambut yang masih basah.
Kemeja putih yang baru dikenakannya belum seluruhnya terkancing.
Ia berhenti sejenak.
Menatap ke arah ranjang.
Tatapannya sulit diartikan.
Kemudian ia berjalan menuju sofa.
Tubuhnya dijatuhkan begitu saja ke atas sandaran.
Satu tangan menutupi wajahnya.
Ia mengembuskan napas panjang.
Setelah hampir setengah jam ia hanya duduk mematung di sofa.
Tangannya mengusap wajahnya kasar.
"Efeknya benar-benar gila..." Gumamnya lirih.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar merasa kewalahan.
Bukan karena pekerjaannya.
Bukan pula karena lawan bisnisnya.
Melainkan karena perempuan yang kini masih tertidur pulas di atas ranjang.
Tatapannya kembali mengarah kepada Ranum.
Wajah perempuan itu tampak tenang.
Namun napasnya masih terdengar sedikit berat.
Brams mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
"Dia pasti akan jatuh sakit." Gumamnya.
Beberapa detik kemudian, ia terkekeh hambar.
"Bagus juga."
"Semoga setelah melihat menantu kesayangannya sakit karena ulahnya sendiri..."
"...Kakek kapok membuat rencana-rencana aneh seperti ini."
Ia berdiri.
Mengambil kunci mobil dan dompetnya.
Lalu meninggalkan suite tanpa membangunkan Ranum.
Satu jam kemudian.
Pintu suite kembali terbuka.
Brams masuk sambil membawa beberapa kotak makanan hangat.
Ia menatanya satu per satu di atas meja makan kecil.
Ruangan masih sunyi.
Tatapannya beralih ke arah ranjang.
Ranum masih tertidur.
Namun sesekali wajahnya tampak meringis pelan.
Brams hanya memperhatikannya dari sofa.
Beberapa menit kemudian...
Ranum membuka mata.
Dengan perlahan ia mencoba duduk.
Kakinya diturunkan dari atas ranjang.
Namun baru saja hendak berdiri...
Bruk.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai.
Kedua kakinya gemetar.
Pinggangnya terasa nyeri hingga membuat wajahnya meringis.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga.
Isak kecil memenuhi ruangan.
Brams menutup mata sejenak.
Lagi-lagu pria itu menghela napas panjang.
Ia akhirnya bangkit.
Tanpa sepatah kata pun, ia menghampiri Ranum.
"Merepotkan." Suara Brams terdengar datar.
Ia membantu Ranum berdiri dengan hati-hati.
Lalu mengangkat tubuhnya, dan menuju kamar mandi.
Brams membuka keran air hangat hingga bak mandi perlahan terisi.
Uap tipis mulai memenuhi ruangan.
Ranum menundukkan kepala.
"Maaf..." Ucapnya lirih.
Brams tidak menjawab.
Tatapannya hanya tertuju pada permukaan air yang semakin penuh.
Ranum menggenggam pelan ujung kemeja putih Brams.
Seolah mencari keberanian.
Namun kalimat yang memenuhi kepalanya tidak sanggup ia ucapkan.
Brams bagaimana kalau aku hamil...?
Pertanyaan itu terus berputar di benaknya.
Air mata kembali menggenang.
Tanpa sadar, dahinya bersandar pelan pada dada Brams.
Pria itu terdiam beberapa saat.
Lalu dengan hati-hati ia membimbing Ranum masuk ke dalam air hangat.
"Berendamlah."
"Air hangat akan membuat tubuhmu lebih nyaman."
Setelah memastikan Ranum duduk dengan aman, Brams akhirnya bersuara lagi.
"Kalau setelah ini kondisimu belum membaik..."
"...kita ke rumah sakit."
Ranum segera menggeleng.
"Aku tidak mau." Jawabannya cepat.
Brams menatapnya sekilas.
"Baik."
"Terserah kau."
Ia berbalik meninggalkan kamar mandi.
Pintu ditutup perlahan.
Sedangkan Ranum, ia kini memeluk kedua lututnya di dalam air hangat.
Tatapannya kosong.
Sesekali matanya jatuh pada beberapa bekas kemerahan di kulitnya. Begitu banyak, jejak merah yang di tinggalkan Brams padanya.
Ia segera memalingkan wajah. Menghela napas panjang. Sentuhan Brams dan semuanya masih ia bisa rasaka.
Ranum menggelengkan kepalanya. Ia mengusap tanda merah di dadanya. Tapi noda merah itu tidak pernah hilang.
Lalu... kalimat Brams beberapa saat lalu kembali terngiang, ketika pria itu melihat dirinya memohon-mohon. Brams berbisik di telinganya, sebelum memulai ak si panas mereka.
"Jangan takut. Kita tidak melakukan dosa. Kita adalah suami istri."
Ranum memejamkan matanya.
"Kakek... Aku tahu kakek hanya sedang berikhtiar, tapi..."
"Maafkan Ranum."
"Aku bahkan masih berniat pergi sebelum kontrak kami berakhir."
Air matanya kembali menetes.
Lalu tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri.
"Semoga..."
"Aku tetap mendapatkan haid bulan ini." Bisiknya lirih.
Ranum tersenyum tipis.
Namun senyum itu terasa rapuh.
"Semoga benar begitu..." Gumamnya.
Beberapa menit berlalu.
Ranum keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan.
Brams sudah menunggu di luar.
Ia langsung menggendong dan mendudukkannya di kursi makan.
"Makan." Titahnya singkat.
Ranum yang memang lapar mulai menyantap makanan yang telah disiapkan.
Brams memperhatikannya hingga piring itu hampir kosong.
Barulah ia mengambil sebuah paper bag dari atas sofa.
"Kakek memberikan ini untukmu."
Ranum menerimanya. Matanya membulat saat melihat isinya.
Jadi kakek ke sini, untuk semua ini. Pikir Ranum. Bibirnya tersenyum.
Beberapa potong pakaian.
Sepasang sepatu.
Dan sebuah tas elegan.
"Kakek terlalu baik padaku..." Gumamnya.
Tak lama kemudian, ia mengenakan pakaian itu.
Saat keluar dari kamar, Brams memperhatikannya beberapa detik.
"Ayo." Ajaknya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di lobi hotel.
"Kakek!"
Ranum tersenyum saat melihat Barra duduk di ruang tunggu.
Ia segera menghampiri pria tua itu.
"Terima kasih atas hadiahnya."
Ranum memutar pelan tubuhnya.
"Semuanya pas."
Barra tampak kebingungan.
"Hadiah?"
Tatapannya beralih kepada Brams.
Brams justru memalingkan wajah. Ia tidak menyangka pak tua itu masih belum pergi dari hotel ini.
Sedangkan Barra tersenyum kecil, seolah mulai memahami siapa pemberi hadiah yang sebenarnya.
Sebelum Ranum sempat berbicara lagi, Brams sudah menghampirinya.
Dengan mudah ia mengangkat tubuh Ranum.
"Brams!"
Ranum memekik pelan.
"Aku belum berpamitan."
"Tidak apa-apa."
Barra melambaikan tangan sambil tertawa kecil.
"Pergilah."
Wajah Ranum langsung memerah karena menjadi pusat perhatian orang-orang di lobi.
Brams membawanya hingga ke mobil.
Ia membukakan pintu.
"Masuk."
Ranum menatapnya bingung.
"Kau kenapa?"
"Masuk, Ranum."
Nada suaranya tak memberi ruang untuk dibantah.
Ranum akhirnya menurut.
"Terima kasih..." Ucapnya pelan setelah duduk.
Brams tidak menjawab.
Mesin mobil menyala.
Mobil melesat meninggalkan hotel.
Kecepatannya semakin tinggi.
Ranum spontan menggenggam pegangan di atas pintu.
"Brams... pelankan. Bahaya!"
"Kalau kau marah, katakan saja."
"Tidak perlu menyetir secepat ini."
Namun Brams tetap diam.
Tatapannya lurus ke depan.
Ranum menelan ludah.
Dalam hati ia teringat ucapan Nico.
"Kehidupan Brams dulu... sangat parah."
Kini ia mulai memahami sedikit demi sedikit maksud kalimat itu.
Tiba-tiba...
BRAKK!!!
"Brams!" Ranum menjerit.
"Pegangan!" Teriak Bramss
"Ckiiiittt!!!"
Bersambung...
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu