Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Analisa kamu salah, Eve," kata Nuraa.
Evelyn mengerutkan kedua alisnya, mencoba memahami perkataan Nuraa.
"Aku lagi malas mikir Raa, langsung ke intinya aja," balas Evelyn.
"Kamu kan pernah bilang—kamu gak percaya soal Vivi yang hamil anak Kevin, dan kamu tau, ternyata si Vivi tuh gak hamil, Eve."
"Kevin bilang kalo alat tespek yang Vivi pake waktu itu, rusak," cerita Nuraa, bersemangat.
"Tadi Kevin nyamperin aku ke butik, ngejelasin soal itu, katanya semua ini salah paham."
"Setelah dengar semuanya, apa kamu mau balikan lagi sama si Kevin?" tanya Evelyn.
"Ya gak lah Eve, bego banget kalo sampe aku balikan, tujuan si Vivi sebenarnya tuh gak pengen aku bahagia, kan?"
"Sebenernya dendam apa yang Vivi punya buat aku, sampe sekarang aku masih gak paham, Eve."
"Apalagi aku sekarang tau, kalo Vivi punya rasa sama kakak angkatnya sendiri, setelah tau kak Aska bareng aku, pasti dia gak bakalan tenang, mungkin ini bagian dari rencananya juga," kata Nuraa.
"Kamu sekarang udah pintar ya," balas Evelyn.
Nuraa tersenyum lebar di puji oleh Evelyn.
"Sahabat kamu itu memang penuh dengan kejutan," ucap Evelyn.
"Ralat, mantan sahabat yang benar, Eve," imbuh Nuraa.
"Gak nyampe 10 menit, kan... aku mau balik ke butik dulu, bahaya kalo kak Aska datang dan aku gak ada."
"Ciyeee ada kemajuan ya, kak Aska gak ngebosenin kan? Aku tau dia kaku banget," kata Evelyn.
"Kaku apaan." Nuraa menengadahkan wajahnya dan tersenyum sendiri, mengingat moment manis saat di kantornya tadi.
"Udah ah, aku mau cabut, byee." Nuraa berjalan sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati di bucinin kak Aska," teriak Evelyn.
Nuraa tersenyum riang mendengar ucapan Evelyn.
——————
Siang harinya...
"Siang Sinta, apa bu Nuraa ada di dalam ruangannya?" tanya Aska.
Kini Aska sudah berada di butik Nuraa, menjemput Nuraa untuk makan siang bersama.
"Bu Nuraa ada di ruangannya, mari saya antar."
"Gak usah, biar saya ke sana sendiri, terimakasih," balas Aska.
"Huussttt Ran, sini."
Selepas kepergian Aska, Sinta memanggil teman kerjanya yang bernama Rani.
"Apa?" tanya Rani.
"Menurut aku, bu Nuraa lebih cocok sama pak Aska, visual mereka tuh kaya pasangan bucin di drama china gak sih," celoteh Sinta.
"Iya bener, wajar sih kalo bu Nuraa dapetin spek yang kaya pak Aska, bu Nuraa nya aja cantiknya gak ketulungan kaya gitu, kan."
"Kita bisa gak ya dapet pasangan spek kaya pak Aska gitu," kata Sinta lagi.
"Bisa, tapi kita harus operasi plastik dulu, lelaki jaman sekarang lebih mentingin visual dari pada hati," balas Rani.
"Masa sih? tapi kenapa pak Kevin selingkuhin bu Nuraa, sama sahabatnya lagi," imbuh Sinta.
"Berarti pak Kevin emang brengsek, semoga aja pak Aska gak ya," balas Rani.
"Udah ah, kenapa kita jadi ngomongin masalah percintaan orang lain sih, kita berdua yang paling kasian tau, sampe sekarang belum punya pasangan, huhuhuhu," kata Rani lagi.
Keduanya pun kembali bekerja.
Sebelum masuk ke ruangan Nuraa, Aska mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk!" seru Nuraa dari dalam ruangannya.
"Kamu lagi sibuk?" tanya Aska, melihat Nuraa yang fokus dengan tumpukan kertas di atas meja kerjanya.
Mendengar suara Aska, Nuraa sigap berdiri.
"Eh kak Aska, aku pikir Sinta yang datang, duduk dulu," jawab Nuraa.
Nuraa merapihkan meja kerjanya sebelum ikut duduk bersama Aska.
"Kalo kamu sibuk, kita pesan makanan dan makan siang di sini saja," ujar Aska.
"Gak kok, ini udah kelar, ayo kita pergi," ajak Nuraa.
Aska berdiri, keduanya keluar bersama-sama dari dalam ruang kerja Nuraa.
Tiba-tiba saja Aska menggenggam tangan Nuraa, keduanya berjalan sambil bergandengan tangan.
Nuraa tampak malu-malu saat melewati beberapa karyawannya di butik
"Kita mau makan siang di mana, Kak?" tanya Nuraa, saat sudah berada di dalam mobil.
Aska menatap sejenak ke arah Nuraa, perlahan mendekat, Nuraa menahan napasnya saat wajah Aska hanya berjarak 1 inci dengan wajahnya.
Nuraa terpaku, menatapi wajah Aska, sementara itu, tanpa mengalihkan pandangannya dengan Nuraa, tangan Aska bergerak memasangkan seatbelt untuk Nuraa.
"Kalo masih panggil (Kak) saya hukum kamu." Aska menyentil hidung Nuraa dengan jari telunjuknya.
Nuraa terbatuk setelah Aska kembali duduk di kursinya, sementara Aska tersenyum melihat tingkah Nuraa.
"Ya ampun... kenapa dada ini berdebar terus sih kalo di dekat kak Aska, kayanya aku harus ke dokter." Bathin Nuraa, sembari menekan dadanya.
"Kamu mau makan siang di mana?" tanya Aska.
"Gak tau, terserah kak Aska aja," jawab Nuraa.
Aska tiba-tiba menghentikan mobilnya, untung saja Nuraa sudah memakai sabuk pengaman.
"Kenapa berhenti tiba-tiba, Kak." Nuraa menekan dadanya yang berdebar karena terkejut.
Aska mendorong tubuh Nuraa agar bersandar di kursi.
"Kamu mau saya hukum ya? Coba di ulang lagi," lirih Aska.
Aska menempelkan hidung mancungnya dengan hidung Nuraa, Nuraa menatap Aska tanpa berkedip.
Nuraa menutup kedua matanya, saat bibir Aska yang kenyal dan juga lembut, mencium bibir Nuraa dengan sangat lembut.
Lagi-lagi Nuraa merasa seolah-olah waktu berhenti, suara-suara bising kendaraan pun seakan menghilang, yang terdengar di telinganya hanya suara detak jantungnya dan juga Aska.
Aska menghentikan sejenak ciumannya, berganti menatap lembut wajah Nuraa yang masih menutup kedua matanya.
Nuraa perlahan membuka kedua matanya, keduanya saling menatap dalam diam.
Aska kembali mencium Nuraa, melumat bibir tersebut dengan penuh kelembutan, kini Nuraa pun membalas lumatan Aska dengan kelembutan yang sama.
"Apa kita gak bisa memajukan tanggal pernikahan?" Tanya Aska, sambil mengusap lembut bibir Nuraa yang basah karena ulahnya.
"2 minggu cukup untuk mempersiapkan semuanya, kita bisa pake WO untuk mengurus segalanya."
"Dan di tanggal ulang tahun kamu, kita pergi berbulan madu, ke negara yang kamu suka," kata Aska.
"Saya gak bisa nunggu kamu terlalu lama lagi Raa, rasanya saya gak sabar, sudah cukup saya tersiksa selama beberapa tahun ini, kamu gak kasian sama saya?"
"Saya takut semua ini cuma mimpi, dan ketika saya bangun, kamu kembali bersama Kevin," kata Aska lagi.
"Baiklah," jawab Nuraa lirih.
Detik itu juga Aska langsung memeluk erat Nuraa.
"Saya akan berusaha membuat kamu jatuh cinta, Raa," bisik Aska.
"Setelah makan siang, kita langsung ke butik khusus gaun pengantin," bisik Aska lagi.
Nuraa tersenyum, menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Aska, entah kenapa menghirup aroma tubuh Aska, rasanya sangat tenang.
Mobil Aska kembali berjalan.
Sesekali keduanya saling menatap dan tersenyum satu sama lain.
"Mungkin kita memang di takdirkan berjodoh kak Aska," bathin Nuraa.
Bersambung...