"Karena sudah terlanjur. Bagaimana jika menambah bumbu di atas omong kosong itu?"
Asha menatap Abiyan, mencoba mengulik maksud dari lawan bicaranya. Kedua mata Asha bertemu dengan milik Abiyan, ada sirat semangat yang tergambar di sana.
"Menikahlah denganku, Ash!"
Asha seorang wanita yang hidup sebatang kara menginginkan pernikahan yang bahagia demi mewujudkan mimpinya membangun keluarganya sendiri. Namun, tiga hari sebelum pernikahannya Asha diberi pilihan untuk mengganti mempelai prianya.
Abiyan dengan sukarela menawarkan diri untuk menggantikan posisi Zaky. Akankah Asha menerima ide gila itu? Ataukah ia tetap memilih Zaky dan melajutkan pernikahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha Aiyyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
"Bagaimana sikapnya bisa berbanding terbalik begini?" Asha menatap Abiyan dengan tangannya yang masih bersedekap si depan dada.
"Apa? Siapa?" Wajah Abiyan mengerut.
"Sudahlah! Ayo kita pulang, Ian!"
Asha duduk dengan tenang menatap lurus pada kaca di depannya, sedangkan Abiyan mengesah pelan.
"Zaky tidak melakukan sesuatu padamu, kan? Misalnya menyeretmu ke ruangannya atau... ."
"Untuk bagian ke ruangannya ... itu benar." Asha menyela kalimat Abiyan. "Tapi ... dia tidak menyeretku. Meski begitu, aku tetap tidak nyaman."
"Haruskah aku meminta ayah menyiapkan posisi kosong di perusahaan?"
Asha membelalak. "Jangan melakukan hal yang tidak kamu senangi, Ian. Aku tahu kamu berkeras menolak masuk perusahaan."
"Tapi ... "
Lagi-lagi Asha memotong kalimat yang belum Abiyan rampungkan. "Buktikan! Kamu bisa menafkahi aku tanpa harus masuk ke perusahaan. Sepertinya tempo hari kamu sangat berkeras menentang perihal masuk ke perusahaan."
Abiyan tersenyum kecut. Ia ingat perkataannya sendiri tapi membiarkan Asha satu atap kantor dengan Zaky rasanya Abiyan benar-benar tidak rela.
Ah, gawat. Ada apa denganku?
Abiyan menghela napas kasar. Tanpa berbicara lagi, ia kemudikan mobilnya membelah jalanan yang mulai ramai. Huh, ramai. Tentu saja ramai, ini adalah jam pulang kerja.
Begitu sampai di rumah, ponsel Asha berdering. Rhea menelepon, dan Asha menyeringai. Seolah tahu jika panggilan telepon itu akan datang padanya.
Abiyan mengintip nama penelepon itu lalu menyebik. "Wanita tidak tahu malu." Pria itu lalu melenggang meninggalkan kamar. Setelah berpesan jika Asha butuh bantuan, dia akan berada di balkon.
Asha tersenyum, Abiyan benar-benar memerankan suami siaga dengan sangat baik.
"Ya." Asha menyapa singkat, begitu ia menekan tombol terima di ponselnya.
"Kita harus bertemu. Datang ke sini! Aku akan mengirim alamatnya." Panggilan telepon diputus sepihak.
Asha lagi-lagi menyeringai. "Masih sama saja—bossy. Tidak masalah. Aku akan berpura-pura mengikuti kemauanmu seperti biasa." Seringainya semakin lebar.
Asha berganti pakaian, dan memoles wajahnya dengan make up natural. Menyemprotkan parfum dan memindai penampilannya di cermin sebagai langkah terakhir.
Asha berjalan ke arah balkon. Di sana Abiyan berdiri menatap lurus. Tubuhnya condong ke depan dengan lengannya yang ia jadikan tumpuan di atas pagar besi—pembatas balkon.
"Ian." Asha memanggil.
Abiyan menoleh begitu mendengar Asha menyebut namanya. "Ya?" Abiyan memindai penampilan Asha. Wanita itu sudah memakai pakaian yang tadi pagi Abiyan ambil dari penthousenya begitu Asha berangkat kerja. "Kamu mau pergi?"
Asha mengangguk. "Terima kasih, aku tahu kamu yang mengambil pakaianku dan menatanya di wardrobe. Bahkan, um– itu... ," ucap Asha tergagap.
"Apa?" Abiyan tidak sabar menunggu.
"I–itu, um—pakaian dalamku," cicit Asha dengan suara nyaris tak terdengar. Asha meremas tali sling bagnya lalu berkata lantang. "Terima kasih dan maaf merepotkanmu."
Asha berbalik. Namun belum sempat kakinya melangkah, Abiyan menahannya. "Aku akan mengantarmu."
Asha menolak Abiyan, namun pria itu berkeras. Dan Asha terpaksa berkata jujur jika ia akan bertemu Rhea. Begitu Asha mengatakannya, pria itu akhirnya tidak lagi memaksa akan mengantar Asha. Hanya memastikan jika Asha benar-benar tidak butuh diantar.
Asha hanya akan bertemu dengan Rhea, tapi Abiyan mewanti-wanti Asha dengan banyak hal. Termasuk jika Asha mendapat kesulitan, Abiyan meminta Asha untuk segera menghubunginya jika itu terjadi.
Asha menertawakan sikap Abiyan yang terlintas di kepalanya begitu ia berada di dalam taksi yang ia duduki saat ini. Seperti melihat drama VIP yang tentunya hanya Asha sendiri yang dapat menikmatinya.
"Dasar, Ian. Aku bukannya akan pergi berperang," gumamnya pelan.
Mobil taksi berhenti di depan sebuah kafe. Asha melangkah masuk, dari matanya Asha menangkap ramainya pengunjung di kafe tersebut. Membuatnya bertanya-tanya apa yang akan Rhea katakan di tempat seramai ini.
Asha berusaha mengabaikannya, memilih mencari sosok Rhea yang mengajaknya bertemu.
Di tengah, Rhea memilih meja yang terletak di pusat ruangan. Entah mengapa Asha merasa janggal. Sebelumnya Rhea selalu memilih tempat di pinggir maupun pojokan yang tentu tidak akan menjadi pusat perhatian. Tapi kali ini ... Asha berusaha tidak peduli dan menghampiri wanita yang dulu sempat menjadi orang terdekatnya.
Asha mengabaikan segala perasaan aneh yang muncul di dadanya. Kakinya terus melangkah hingga membawanya berdiri tepat di samping meja Rhea.
Wanita itu mendongak menatap Asha dengan pandangan penuh amarah yang berkilat. Cukup mengerikan dan Asha pasti akan melakukan segala cara termasuk menuruti semua keinginan Rhea jika itu dulu. Tapi, sekarang ... tidak lagi. Asha sempat bergidik melihat ekspresi seperti itu tapi hanya sebatas itu saja.
"Ada apa Rhea?"
"Masih bertanya?" Rhea mendengus, melipat tangan di dadanya. "Mengapa menjual apartemen tiba-tiba?"
Ya, ini respon yang ia mau. Tapi ... bukankah sangat terlambat jika Rhea baru mengonfirmasi itu sekarang? Dan, siapa yang peduli? Tidak masalah jika Rhea akan membahas itu sekarang. Toh, keseruan yang Asha pikirkan akan bertambah. Jadi tidak masalah.
Asha pura-pura memasang wajah memelas. "Ah, itu ... maafkan aku soal itu. Sebenarnya aku punya beberapa hutang saat di Paris. Dan aku menjadikan surat kepemilikan apartemen itu sebagai jaminan. Aku pikir aku akan menceritakan hal ini padamu lebih awal, tapi begitu aku kembali aku terlalu sibuk mempersiapkan pernikahanku dan melupakannya. Aku minta maaf soal itu." Asha menunduk, menunjukkan ekspresi penyesalan yang dalam.
"Sangat disayangkan, tapi tetap saja ... aku marah. Aku jadi harus pergi dari sana tanpa persiapan."
"Maaf Rhea. Aku tidak tahu jika ternyata mereka segera mengosongkan apartemen begitu aku kembali. Maaf Rhea. Aku yang akan mentraktir sebagai permintaan maaf."
"Kamu pikir itu cukup untuk mengganti kekesalanku yang diperlakukan tidak adil. Sebagai sahabat apa kamu benar-benar tidak punya hati nurani? Kamu memiliki kehidupan yang nyaman sejak dulu, sekarang saja kamu bahkan bisa masuk ke perusahaan tanpa berusaha," teriak Rhea.
Asha terhenyak. Semua pengunjung menatap ke arah mereka, semua pasang mata itu seolah menunggu pertunjukan selanjutnya.
Ah, jadi ini alasan dia memilih meja di pusat ruangan. Aku benar-benar tidak tahu, jika ternyata kamu orang yang seperti ini Rhea.
"Mengapa kamu berkata seperti itu, Rhea?" tanya Asha, ia mulai memainkan peran.
Ya, peran. Asha berpura-pura merasa terintimidasi dan memasang wajah memelas. Melakukan hal yang sama dengan apa Rhea lakukan. Bersandiwara.
"Mengapa masih belum mengerti juga? Aku merasa dipermalukan saat orang-orang itu mengusirku dan apartemen. Lalu soal pekerjaan mengapa kamu mengandalkan jalur belakang? Sedangkan orang lain mati-matian berusaha mendapatkan pekerjaan di perusahaan. kita?"
Kasak-kusuk mulai terdengar, bersamaan dengan Rhea yang menarik sedikit ujung bibirnya. Tidak ada yang tahu, hanya Asha yang paham dengan sandiwara itu. Dan sudah menjadi keputusannya untuk mengikuti permainan Rhea.
Asha memasang wajah memelas. "Aku sudah minta maaf soal apartemen. Sudah aku katakan jika di Paris aku memiliki banyak hutang. Kamu tahu sendiri aku yatim piatu, tidak ada seorang pun yang memberiku solusi. Dan yang bisa aku andalkan satu-satunya hanya apartemen itu. Soal pekerjaan, aku akui jika Tuan Andara yang merekomendasikan aku. Tapi aku juga melakukan tes selayaknya pegawai baru," kata Asha tak kalah mendramatisir penjelasannya.
Lebih dari cukup, respon orang-orang mulai berbalik. Ternyata menjual kemalangannya akan mendapat umpan balik yang lebih cepat dari yang Asha bayangkan.
Rhea mengepalkan tangannya. "Lalu soal kamu yang menikahai priaku?"
Asha tersenyum. "Ah, Abiyan. Aku menjalin hubungan dengannya begitu hubungan kalian berakhir. Jadi jangan menyebutnya priamu."
"ASHA... ."