NovelToon NovelToon
Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:178.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Ammi Pooja

Cinta Anarya kepada Daneesa menciptakan masalah berkepanjangan hingga berujung pada menderitanya buah hati mereka. Kehamilan Daneesa menjadi boomerang bagi keluarga besar Bramantyo. Pasalnya, mereka tak setuju dengan hubungan Anarya dengan Daneesa.

Kematian Daneesa menjadi awal penderitaan batin yang harus ditanggung oleh Anarya dari masa ke masa. Setumpuk penyesalan tak mampu mengubah apapun dan tak mampu mengembalikan apa yang telah sirna.

Nesa Putri Anarya, itulah nama buah hati mereka yang juga harus merasakan getirnya perlakuan keluarga Bramantyo yang merasa telah tercoreng dengan kehadiran Nesa kecil.

Pernikahan Anarya dengan Lasmi justru menjadikan kehidupan gadis kecil itu semakin dalam kehinaan. Seorang anak yang tak pernah tahu apa kesalahannya, namun dianggap pantas untuk menerima buah dosa dari kedua orang tuanya.

Kisah yang penuh liku-liku kehidupan sehingga memiliki ending cerita yang tak tertebak seperti rahasia kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 Takdir

Bagai disengat listrik ekspresi Lasmi berubah. Keangkuhan yang baru saja ia tampakkan langsung sirna berganti raut penuh kekhawatiran. Ia menggigit bibir bawah, otaknya berputar hendak mencari cara beralasan.

"Sebenarnya aku sudah tersadar saat Daneela bicara denganku, namun karena kamu datang aku merasa malas menghadapimu, jadi aku mencoba untuk tetap memejamkan mata." Anarya tersenyum hambar, ada kecewa dan rasa sakit dalam sorot sayu netranya.

Lasmi makin terkejut. Itu artinya semua perkataan yang ia katakan jelas di dengar oleh Anarya. Oksigen di sekitar Lasmi berasa menipis hingga dadanya makin terhimpit oleh berbagai rasa yang sulit ia urai.

"Mas, bisa aku jelaskan."

"Cukup, Lasmi. Sekarang aku sudah semakin yakin bahwa selama ini aku salah menikahi wanita ular sepertimu." Tangan Anarya mengisyaratkan kepada Lasmi untuk diam.

"Ibumu turut andil dalam setiap rencanaku, ingat itu, Mas."

"Ya, aku tahu itu. Dan sekarang aku yang akan menentukan pilihanku, bukan Mama atau kamu."

"Beri aku kesempatan, Mas." Lasmi meraih tangan Anarya yang segera ditepis oleh pria itu.

"Pergilah sebelum aku memanggil polisi," ancam Anarya yang seketika membuat nyali Lasmi menciut.

"Apa kamu tega meninggalkan Resti dan anak di dalam kandunganku ini?" Netra Lasmi berkaca-kaca dan wajahnya begitu memelas.

Anarya terdiam. Ada keraguan yang sebenarnya ia pendam selama ini.

"Berapa usia kandunganmu?"

"Sudah masuk sepuluh minggu."

"Seingatku dalam waktu tiga bulan terakhir aku tak menyentuhmu."

"Apa kamu lupa saat kubawakan  kopi untukmu ke kamar?"

Anarya mengernyitkan dahi, mencoba mengingat. Ia usap kasar wajahnya.

"Dasar wanita licik!" umpat Anarya setelah tahu apa yang dimaksud oleh Lasmi.

"Bukan licik, Mas. Aku ini istrimu, jadi berhak atas dirimu," cibir Lasmi dengan senyum kecil di sudut bibir.

Anarya merasa muak dengan wanita yang berdiri di hadapannya. Ingin sekali mencuci mulut Lasmi yang terlalu berbisa itu. Ia mencoba merangsek ingin turun dari ranjang, namun ada yang aneh.

"Argh ... kakiku kenapa sakit sekali? Kenapa kaki kananku tak bisa digerakkan?" Tangan Anarya memegangi erat kaki yang ia rasakan teramat sakit itu.

Daneela yang sedari tadi diam menahan geram dengan ulah Lasmi, kini panik. Ia menekan tombol panggil yang tergantung di sisi atas ranjang, kemudian mendekati Anarya dan berusaha menenangkan.

Berbarengan dengan datangnya perawat dan dokter, di belakangnya beriringan Pak Bram dan Bu Bram dengan wajah cemas.

Dengan sigap perawat menyuntikkan obat penenang melalui selang infus. Perlahan tubuh Anarya melemas. Ia tidur kembali dalam pengaruh obat.

"Apa yang terjadi dengan anak saya, Dok?" tanya Pak Bram penuh kekhawatiran.

"Putra Bapak mengalami kecelakaan, ketika dievakuasi ternyata kaki kanannya terjepit antara pintu mobil dengan bagian depan kendaraan yang menabraknya." Dokter menghela nafas sejenak, memberi jeda pada kesiapan hati bagi yang mendengar.

"Lalu?" tanya Pak Bram tak sabar.

"Kaki kanannya mengalami cidera dari tulang kering hingga tungkai. Membutuhkan waktu cukup lama untuk penyembuhan."

"Apa itu artinya suamiku akan cacat seumur hidup, Dok?" tanya Lasmi penasaran.

"Kemungkinan cacat -iya, karena tungkainya jika sembuh pun tak akan bisa dipakai untuk menapak sempurna."

Lasmi yang mendengar itu membeliakkan bola mata dan menepuk jidat. Ada rasa kecewa yang sangat dalam atas nasib Anarya nantinya. Dengan perlahan ia mundur dan keluar dari ruangan itu.

"Baiklah ... saya pamit dulu, jika ada apa-apa bisa hubungi saya kembali." Dokter muda itu menepuk bahu Pak Bram seolah ingin menguatkan.

Pak Bram tertegun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara itu, Bu Bram tengah terisak di sisi Anarya sembari mengelus kepala anak kesayangan yang telah ia rampas kebahagiaannya.

Daneela yang sedari tadi membekap mulut akibat tak percaya dengan penjelasan dokter, kini terduduk di sofa sudut ruangan setelah beberapa detik yang lalu tubuhnya limbung.

"Eyang Kung ...." Pak Bram terhenyak dengan sebuah pelukan di pinggangnya.

"Nesa." Pak Bram menurunkan badan dan berdiri dengan lutut, menangkupkan kedua tangan ke wajah gadis kecil itu.

"Kenapa Yang Kung nangis?" Tangan kecil Nesa mengusap bulir bening yang menuruni pipi.

Tak kuasa menahan kesedihan, Pak Bram akhirnya memeluk Nesa. Gadis kecil yang malang, cucu yang selama ini menderita karena ketidakpedulian darinya.

"Bidadari kecil Eyang ... apa kabarnya?" tanya Pak Bram berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Baik, Eyang. Nesa baru saja selesai berdoa untuk Ayah. Tapi ...." Nesa melirik ke arah Anarya yang masih terbaring.

"Tapi kenapa?" Netra Pak Bram mengikuti arah pandangan Nesa.

"Tapi Ayah belum bangun juga, Eyang." Nesa menekuk wajah, kesedihan bergelayut.

"Tadi Ayahnya Nesa sudah bangun, tapi dokter memberi obat penenang biar Ayahnya Nesa bisa istirahat lagi."

"Yang benar, Eyang?" Binar mata bulat itu menyiratkan penuh harap.

Pak Bram mengangguk dan tersenyum. Ia ingin menguatkan hati bidadari kecil itu, tak ingin dilihatnya air mata menggenang kembali di mata indahnya.

"Nesa sudah makan?"

"Belum, Eyang. Nesa nggak bisa makan kalau Ayah belum bangun."

"Nesa harus makan, harus jaga kesehatan supaya nanti kalau Ayah bangun Nesa bisa kuat untuk jagain Ayah."

"Iya juga ya, Yang. Iya deh, Nesa makan. Tapi ...."

"Sudah ... ayo, jangan banyak tapi." Pak Bram menggandeng tangan Nesa dan membawanya keluar.

Tinggallah Bu Bram yang masih menangisi anaknya. Namun ia terhenti ketika sudut netranya menangkap sosok Daneela di sudut ruangan.

Dengan hati-hati Bu Bram mendekati Daneela yang masih menutupi wajah dengan kedua tangan. Isak tangis jelas terdengar, uraian air mata berjatuhan ke pangkuannya.

"Da-Daneela ...." Tangan Bu Bram perlahan memegang bahu Daneela dengan lembut.

Daneela mendongak, spontan ia berdiri dan menghambur memeluk Bu Bram. Daneela sesenggukan menumpahkan semua rasa di hatinya hingga membuat Bu Bram merasa heran.

"Daneela, apa kamu mencintai Anarya?"

Daneela terhenyak dengan pertanyaan yang terlontar dari wanita yang sedang ia peluk. Ia tersadar sikapnya berlebihan, dengan perlahan ia melepas rengkuhannya.

"Jawab, Daneela. Apa kamu mencintai putraku?"

Daneela menjadi salah tingkah, ia tak tahu dengan perasaan yang ia rasakan. Berulang kali ia usap air mata yang terus saja mengalir tanpa komando.

"Daneela," panggil Bu Bram seraya memegang bahu Daneela.

"Jujur ke Mama, apa kamu mencintainya?"

Daneela semakin menunduk dalam, kembali ia menangis dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Bu Bram sepertinya tanggap dengan perasaan Daneela, ia rengkuh kembali tubuh Daneela ke dalam pelukan.

"Mama akan bahagia jika kamu mau mendampingi putraku."

Daneela kembali dibuat kaget oleh perkataan Bu Bram. Ia mendongak, memandangi wajah wanita ayu di hadapannya. Mimpikah ia? Ataukah hanya salah dengar?

Daneela terkesiap dan terpegun tanpa bisa mengungkap kata.

1
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
Lasmi klo km masih belum jujur soal siapa ayh biologis Rasti berarti km blm sepenuhnya bertobat, tobatmu masih setengah2 itu😟😟
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
memang benar dan seharusnya Lasmi sadar klo cinta yg dipaksakan itu akn sngt menyakitkan.. lebih baik melepaskannya daripada terus bertahan yg berakibat menderita dihati jg jiwanya😔😔😔
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
cerita yg luar biasa singkat padat dan jelas.. is the best👍💯👍💯
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
Bu Bram seperti kacang yang lupa kulitnya...
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
iya jelas Nesa merasa pernah bertemu Danella soalnya kan Danessa sering muncul di mimpinya Nesa secara Danella kan kembarannya Danessa jadi mngkn wajahnya mirip...
Ayu Dwi S
laki2 lemot emang gk tegas gk ad pendirian patas emg d kibuliin sampe kebenaran istri meninggal pun gk tau,,, tae
Kuswati Kuswati
nangis aq Thor ceritamu bagus banget...
Siti Juleha
emmmm
Siti Juleha
ehem
Delfana
lg nyari bawang
Mikaila Dira Khodijahatika
sex gak butuh cnta
Mikaila Dira Khodijahatika
semangat nessa
Mikaila Dira Khodijahatika
kalau sudah tiada baru terasa
Mikaila Dira Khodijahatika
sedihnya... untung nesa msh unya tante daniela
Mikaila Dira Khodijahatika
smoga nessa bahagia
Mikaila Dira Khodijahatika
lebih baik dgn danela drpd mak tiri kejam
Mikaila Dira Khodijahatika
wanita iblis
Mikaila Dira Khodijahatika
ibu tiri kejam
Mikaila Dira Khodijahatika
kasian nessa
Aran_MouHanAra
bawangnya berapa ton sib ini 😭😭😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!