Axeline tumbuh dengan perasaan yang tidak terelakkan pada kakak sepupunya sendiri, Keynan. Namun, kebersamaan mereka terputus saat Keynan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Lima tahun berlalu, tapi tidak membuat perasaan Axeline berubah. Tapi, saat Keynan kembali, ia bukan lagi sosok yang sama. Sikapnya dingin, seolah memberi jarak di antara mereka.
Namun, semua berubah saat sebuah insiden membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tidak seharusnya terjadi.
Sikap Keynan membuat Axeline memilih untuk menjauh, dan menjaga jarak dengan Keynan. Terlebih saat tahu, Keynan mempunyai kekasih. Dia ingin melupakan segalanya, tanpa mencari tahu kebenarannya, tanpa menyadari fakta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Agnes keluar dengan tergesa-gesa. Ia menarik napas dalam, mencoba meredakan rasa takutnya seraya memperbaiki penampilannya. Namun, sedetik kemudian, ketakutannya berubah menjadi seringai licik. Ia tahu bahwa Keynan tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya, tidak setelah ancaman yang kini ada di genggamannya.
Semua ini berawal saat pagi setelah pertemuannya dengan Keynan dan ibunya. Agnes, yang masih dipenuhi rasa penasaran dan ambisi, memutuskan untuk menemui pria itu sekali lagi. Namun, dalam perjalanannya, mobilnya terhenti ketika ia melihat mobil Keynan yang tiba-tiba berhenti di tepi jalan.
Rasa ingin tahunya pun membuncah. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas siapa yang duduk di sebelah pria itu. Namun, detik berikutnya, matanya membelalak sempurna.
Keynan mencium adik sepupunya sendiri.
Sebuah senyum miring terbentuk di wajah Agnes. Ini lebih dari sekadar keberuntungan untuk nya. Ini kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan.
Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam, dan mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen tersebut. Jemarinya bergerak lincah, memastikan setiap bukti tersimpan dengan sempurna.
Dan saat itu juga, otaknya liciknya mulai bekerja. Dia menggunakan video dan foto-foto tersebut untuk menekan Keynan, menjadikannya miliknya.
Agnes menatap pintu ruangan Keynan dengan seringai licik yang tersungging di bibirnya. "Keynan, Keynan, sebesar apapun kau membenciku, tapi kau tidak akan bisa menolakku. Karena apa? Karena aku mempunyai bukti yang bisa menghancurkan keluarga mu dan juga adik sepupu mu," ujar Agnes.
"Kira-kira, apa yang akan terjadi jika semua orang tahu kau menjalin hubungan terlarang dengan adik sepupumu sendiri, hm? Kalian semua akan kehilangan segalanya, Keynan." Agnes tertawa keras, membayangkan bagaimana semua itu akan terjadi. "Pasti akan sangat menyenangkan jika hal itu benar-benar terjadi," tambahnya dengan senyum sinis sebelum pergi dari sana.
Di sisi lain, di kediaman keluarga Wiratama, Axeline memilih mengurung diri di dalam kamar. Ia enggan melihat dunia luar, seolah kenyataan yang ada terlalu pahit untuk dihadapi.
Hatinya terluka, begitu dalam hingga rasanya sulit bernapas. Hidupnya seolah dijadikan mainan oleh seseorang yang begitu berarti baginya. Kepercayaannya dikhianati, dan kini ia bahkan tidak tahu harus mengekspresikan perasaannya seperti apa.
Haruskah ia menangis? Atau justru tertawa atas kebodohannya sendiri?
Axeline menatap kosong ke langit-langit kamar. "Jika dari awal kau tetap mengabaikan ku, mungkin rasa sakit ini tidak akan sesakit ini," lirihnya dengan suara bergetar. "Aku benar-benar bodoh karena sempat mempercayaimu, Kak."
Ia menghela napas panjang sebelum bangkit dari tempat tidur. Kakinya melangkah ke kamar mandi, tangannya membuka keran, membiarkan air mengalir deras ke telapak tangannya sebelum membasuh wajahnya yang terasa begitu lelah.
Ketika menatap pantulan dirinya di cermin, Axeline terdiam. Sosok di hadapannya terlihat begitu menyedihkan. Mata sembab, wajah pucat, bibirnya bahkan tidak mampu lagi tersenyum seperti dulu.
"Kau sangat bodoh, Lin," gumamnya lirih. "Kenapa kau harus seperti ini? Seolah dunia berhenti berputar hanya karena kau dicampakkan?"
Axeline tersenyum miris. Matanya menatap pantulan dirinya dengan lebih tajam, seakan marah pada dirinya sendiri.
"Seharusnya kau bangkit," bisiknya. "Tunjukkan pada mereka jika kau bisa bertahan. Jangan biarkan mereka melihatmu hancur seperti ini."
Axeline mengepalkan tangan, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ia tidak boleh terpuruk selamanya. Entah bagaimana caranya, ia harus bangkit.
Axeline membasuh wajahnya sekali lagi, mencoba menenangkan pikirannya. Setelah mengeringkan wajah dengan handuk, ia menarik napas panjang dan keluar dari kamar, berusaha mengubur semua luka yang masih mengganjal di hatinya.
Di ruang keluarga, ia melihat ayahnya, Alexio, tengah bersantai dengan surat kabar di tangan. Dengan senyum ceria yang dibuat-buat, ia melingkarkan kedua tangannya di bahu Alexio dari belakang, lalu mencium pipinya dengan manja.
“Apa yang Daddy lakukan?” tanyanya dengan nada ceria.
Alexio melipat surat kabar dan meletakkannya di meja. Ia menatap putrinya dengan tatapan penuh arti. “Hanya bersantai saja, sayang. Apa yang kau inginkan, hm?”
Axeline mencebik kecil. Ayahnya sudah sangat hafal setiap kali ia bersikap manja, pasti ada sesuatu yang ia inginkan.
“Daddy selalu tahu jika aku menginginkan sesuatu.” Ia duduk di sebelah Alexio, memasang wajah cemberut.
“Itu bukan hal yang baru, sayang.” Kali ini, suara Keyra, terdengar disertai kekehan ringan. “Tentu Daddy sudah sangat hafal.”
Axeline mendesah pelan, lalu mengalihkan pandangan ke arah ayahnya, memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya.
“Dad, aku ingin magang di perusahaan Daddy saja. Boleh tidak?”
Permintaan itu membuat Alexio dan Keyra saling bertukar pandang. Kening Alexio berkerut, begitu juga dengan Keyra.
“Memangnya ada apa, sayang?” tanya Keyra dengan lembut. “Apa ada yang mengganggumu di perusahaan Keynan?”
Axeline terdiam sesaat, sebelum mengangguk pelan. “Bukan mengganggu, Mom, hanya saja, aku merasa tidak nyaman," ucapnya dengan nada yang terdengar lirih. “Itu sebabnya, aku ingin pindah tempat magang.”
Alexio menghela napas panjang, matanya menatap putrinya penuh pertimbangan. “Dari awal, Daddy sudah bilang agar kau magang di perusahaan Daddy saja. Tapi, kau menolak.”
Axeline tersenyum kecil, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang berusaha ia tutupi. “Dulu aku pikir, memilih tempat lain adalah keputusan terbaik. Tapi ternyata … aku salah.”
Axeline menatap ayahnya penuh harap, lalu kembali berkata dengan suara yang lebih mantap, “Daddy mau, kan, membantuku mengurusnya? Aku berjanji akan bekerja dengan sebaik mungkin di perusahaan Daddy.” Ia mencoba meyakinkan Alexio, memastikan bahwa keputusannya kali ini bukan sekadar pelarian, melainkan langkah awal untuk membangun kembali dirinya.
Alexio terdiam sejenak, menatap putrinya dengan tatapan penuh pertimbangan. Namun, melihat kesungguhan di mata Axeline, ia akhirnya mengangguk. “Baiklah, Daddy akan mengurus semuanya. Kau hanya perlu mempersiapkan diri untuk masuk ke perusahaan Daddy.” Senyum tipis terukir di wajahnya sebelum ia menambahkan dengan nada menggoda, “Dan siapkan mentalmu saat menjadi bawahan kakakmu.”
Axeline mendengus kecil. “Aku tidak akan membiarkan Kak Axel menindas ku,” sahutnya penuh keyakinan.
Ia tahu, keputusannya ini bukanlah hal mudah. Tapi satu hal yang pasti, untuk bisa melupakan rasa sakitnya, yang harus ia lakukan pertama kali adalah menjauh. Dan kali ini, ia bertekad untuk benar-benar menjauh dari Keynan, tanpa melihat lagi ke belakang.
jadi penasaran
thor jgn lama2 up nya