NovelToon NovelToon
Sayap Patah Milik Melodi

Sayap Patah Milik Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Konflik etika / Persahabatan / Angst / Penyesalan Suami
Popularitas:32.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”

Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.

Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.

Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.

Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.

Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPMM25

"Serius, Bu Imah? Itu udah direncanain sama Bu Ajeng? Pakai obat penggugur janin?" Wanita ber-daster merah, dipenuhi motif bunga-bunga, memastikan bahwa ia tak keliru mendengar bahan gosip.

Wanita dengan dua koyok yang menempel di pelipis nya, mengangguk semangat. "Beneran, Bu Nur. Pakai obat penggugur janin, makanya langsung luntur itu jiabang bayik. Tega banget kan, padahal si Melodi itu mengandung untuk yang ke tiga kalinya. Apes banget ya. —Duh, untung aja mertua ku cuma mata duitan. Kalau punya mertua sejahat Bu Ajeng? Dih, mending aku jadi janda!"

"Ha ... ha ... ha ... auto cari laki-laki lain ya, Bu Imah," wanita yang bernama Nur tertawa kencang. Ia memilah-milah sayuran kacang panjang dengan telinga yang ikut memanjang. "Tapi, kok bisa ya Bu Ajeng sejahat itu sama mantunya? Padahal yang di perut Melodi kan cucunya sendiri, anaknya si Aldrick. Apa jangan-jangan, itu bukan anak nya si Aldrick? Apa jangan-jangan si Melodi selingkuh?"

"Bayam nya kasih 10rb, Nyak," pinta Imah kepada si penjaga warung. Lalu, ia menoleh ke arah Nur. "Mungkin lah selingkuh, secara si Melodi cantik begitu. Tapi, aku denger-denger, katanya Bu Ajeng itu memang nggak suka sama Melodi, karena uang gaji Aldrick sepenuhnya langsung diberikan ke Melodi. Jadi, Bu Ajeng hanya dapat ampasnya doang. Makanya si mertua kejam itu, lagi ngatur siasat agar si Aldrick mau cerai. Eh ... malah bunting si Melodi. Langsung deh, di racun."

"Astaga ... jahat bener!" Nur menutup bibirnya dengan kedua tangan sambil menatap pedagang sayur yang sedari tadi terlihat kikuk. "Bu Asma, kenapa? Kok tegang begitu dari tadi?"

Asma yang kikuk kini berubah tegang. Ia hanya menggeleng. Nur dan Imah pun saling beradu pandang, mengernyit heran. Lalu, serentak mereka kembali menatap Asma. Namun, mereka tersentak. Tubuh mereka berdua seolah membeku, lidah mereka terasa kelu. Orang yang mereka bicarakan sejak tadi, kini berdiri di sebelah Asma. Memilih sayur mayur dengan wajahnya yang santai, seolah-olah tak terusik sedikitpun.

Nur menarik tangan Imah, mengikis jarak di antara mereka. "Sejak kapan dia di situ?" bisik Nur pelan.

"Aku juga nggak tau. —Apa jangan-jangan, dia denger pembicaraan kita?" Imah balas berbisik. Tangannya bergetar.

Sedari tadi mereka bergosip, tapi, tak ada satupun yang tau bahwa Ajeng tengah berjongkok memilah-milah terong yang di susun di bawah meja. Bahkan sang pedagang pun baru menyadari keberadaan Ajeng, ketika ia hendak meletakkan jahe dan kawanannya di bawah meja.

"Iya, saya dengar," kata Ajeng akhirnya. Ucapannya itu layaknya petir yang tiba-tiba menyambar. "Tapi, apa saya harus nanggepin omongan kalian yang ngawur itu? Sementara saya ... nggak pernah merasa berbuat seperti itu," katanya lagi.

Suasana di toko sayur itu mendadak tegang, orang-orang terdiam meskipun batinnya berisik. Nur dan Imah menatap julid, tetapi, bibir mereka tidak berani mengeluarkan suara. Apalagi, sosok Ajeng cukup disegani di daerah itu. Jika ada orang-orang yang berani mengata-ngatai dirinya, sudah pasti orang itu hanya berani mengatainya dari belakang saja.

"Bantu dihitung, Bu Asma." Pinta Ajeng tegas, wajahnya mengeluarkan aura intimidasi.

Setelah membayar barang belanjaannya, Ajeng memilih pulang. Setibanya di depan rumah, Vina sudah menyambutnya di depan teras dengan membawa wadah plastik, keponakannya itu sudah jelas hendak meminta lauk-pauk.

"Loh, baru mau masak, Tan?" Vina tampak kecewa melihat belanjaan tantenya. Ia sudah bisa menebak, belum ada makanan yang tersaji di rumah Ajeng.

"Iya," jawab Ajeng singkat. Ia masih tak enak hati. Dan, Vina menyadari akan hal itu.

Vina tersenyum tipis. "Tante, kok mukanya ditekuk begitu? —Ada apa, sih?" Ia berusaha mengorek informasi.

Ajeng tak langsung menjawab, ia terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Kemudian meletakkan barang belanjaannya di atas meja. Ia berbalik badan, barulah ia menatap sang keponakan.

Ajeng menceritakan semua gosip-gosip tentang dirinya pagi itu. Vina mendengarkannya dengan baik, menatapnya penuh iba.

"Yang anehnya, mereka tau sedetail itu dari mana ya, Vin?" gumam Ajeng.

"Kok dari mana, ya dari Melodi lah, Tan. Tante tuh nggak tau ya? Melodi tuh sering banget gosipin tante kemana-mana," sahut Vina.

"Hah? Apa iya? Ngarang aja kamu, Vin," sanggah Ajeng.

"Astaga, Tan. Malah nggak percaya. Hih, Tante aja yang nggak pernah tau sifatnya Melodi. Dia itu kayak ular, Tan," Vina semakin berapi-api. "Tante ingat si Karin temenku itu, kan? Yang sekantor sama si Aldrick itu. Karin, selalu bilang, Aldrick di kantor itu kayak orang nggak terurus. Bajunya lusuh, nggak disetrika. Gaji gede, tapi makan bekal hanya lauk tempe tokk! Kebayang nggak gimana kehidupannya si Aldrick, Tan?"

"Kurang ajar!" Ajeng membanting kasar pisaunya di atas meja, Vina turut tersentak. "Sampai sebegitunya? —Astagfirullah!"

"Beneran, Tan." Vina menggenggam lembut jemari Ajeng. Ia tersenyum tipis, tetapi, penuh maksud. "Sabar ya, Tan. —Aku nggak nyangka, orang sebaik Tante gini masih aja difitnah. —Lagian ngapain juga Melodi cerita ke sana-sini, padahal belum tau siapa dalangnya. Kebiasaan dia itu, banyak cincong."

Malam itu, hujan rintik-rintik jatuh di luar jendela kamar rumah sakit. Udara dingin menyelinap masuk melalui celah-celah, membuat suasana di dalam ruangan terasa lebih sunyi. Ajeng terbaring lemah di atas ranjang, ia menyeka air matanya yang mengalir deras. Wanita separuh baya itu baru saja selesai menceritakan semua tentang ingatan kelam yang membekas di hatinya.

"Drick ...," kata Ajeng dengan suara pelan, tetapi bergetar. "Kenapa Ibu bodoh banget! Bisa-bisanya ibu zolim sama Melodi gara-gara dibodohin Vina. —Kasihan sekali Melodi, Drick!"

Aldrick menggigit bibirnya, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, “Nasi sudah menjadi bubur, Bu. Waktu nggak bisa terulang. —Aku hanya mampu berharap serta melantunkan doa, semoga Allah sudi mengembalikan Melodi.”

“Aamiin Allahumma Aamiin ....” Ajeng menghela napas panjang. “Tapi, Drick, kenapa Ibu ngerasa ada yang aneh ya ....”

Aldrick terdiam sejenak. "Aneh?" kening Aldrick berkerut. "Tentang?"

Ajeng tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mencoba menyusun kalimat di kepalanya. "Kamu tau nggak, kenapa ibu sempat percaya kalau Melodi yang nyebarin cerita itu?"

Aldrick tertegun sejenak, lalu menggeleng. “Kenapa, Bu?”

“Karena orang-orang yang bergosip itu pada nyebut-nyebut obat penggugur janin. Sementara, penyebab Melodi keguguran kan hanya Ibu, kamu dan Melodi saja yang tau. Bahkan, Vina pun enggak pernah ibu kasih tau. Makanya, ibu yakin, Melodi yang ngomong begitu ke orang-orang," jelas Ajeng.

"Enggak, Bu." Aldrick menggeleng. "Mustahil Melodi begitu. Yang pasti, orang yang nyebarin cerita itu, kemungkinan dia lah pelakunya, Bu."

"Tapi, siapa?" Kening Ajeng mengernyit.

"Mungkin ini yang namanya berburuk sangka, tapi, aku nggak peduli. Aku yakin ... Vina terlibat. Dan ... aku bakal cari kebenarannya, Bu." Kedua tangan Aldrick mengepal erat.

Setelah berkata demikian, suara derit pintu menghentikan pembicaraan mereka. Suara langkah kaki dari sepatu hak tinggi, terdengar mendekat. Namun, seseorang yang muncul di balik pintu, membuat air muka Aldrick berubah ketus. Vina dan Karin, masuk ke dalam ruangan.

"Duh, Tanteeee. Kok nggak ngabarin sih kalau masuk rumah sakit?"

*

*

*

1
istianah istianah
bagus melodi aq suka gayamu bicara ,lnhsung kena tu lwan ,😅
Dae_Hwa💎: mental serasa di banting 😆
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
diri mu hesti wanita sialan🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Dae_Hwa💎: nggak nyadar diri ya kak 😌
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
hahahaha benar itu dajjal akan sungkem sama vina berhati malaikat😂🤣🔥🔥 menyala melodi🥰
Dae_Hwa💎: menyalaaaa~ 🔥
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
good job melodi😘😘😘💖💖💖
Dae_Hwa💎: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
sami² thor 🥰🥰🥰semungut🥰😘💖
Dae_Hwa💎: /Kiss/
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
lah ini napa emak² main nampar aja...waduh² ga sadar diri anak nya berulah malah nyalain orang lain🤦‍♀️😡
Dae_Hwa💎: buah jatuh tak jauh dari pohon 😃
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
hahahahahahaha🤣🤣🤣🤣🤣
Dae_Hwa💎: /Curse/
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
wkwkwkwk ada² aj lo nad kegetok ranting bisa kejang²🤣🤣🤣
Dae_Hwa💎: Nadia emang suka agak-agak 😃
total 1 replies
vj'z tri
aku pada mu thorrrr 🥳🥳🥳🥳🥳 semangattt 🥳🥳🥳🥳🥳
Dae_Hwa💎: 💗💗💗💗💗💗
total 1 replies
vj'z tri
😤😤😤😤😤😤😤yakkkk 😡😡😡😡😡
Dae_Hwa💎: Yihaaaaaa
total 1 replies
vj'z tri
ada ada ajj si author ini lah ....bikin ngakak berjamaah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Dae_Hwa💎: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
istianah istianah
aq selalu menunggu kak ,walau pun kangen tapi, aq tahan🤭🤭
istianah istianah: oke siap menunggu pokoe🥰
Dae_Hwa💎: Terimakasih, Kakak 💗
total 2 replies
Nur Adam
lnjut
Dae_Hwa💎: Siap 💗
total 1 replies
N Wage
maaf nih ya...maaf banget.
itu rumah makan menyediakan saksang,yg dari daging *bebi* kan?
Dae_Hwa💎: betul.
Di tmpt Author, warung medan halal, saksang nya pakai daging kerbau.
ya meskipun gak tau ya, beneran kerbau apa bukan 🗿
N Wage: oh iya ya,yg kalau dr daging kerbau utk sauadara kita di sumut,yg tidak
makan ba** dan anj***.
yg masaknya juga gak pakai darah.
total 3 replies
istianah istianah
ya allah sakit perut aq ...🤣🤣😂😂 ada"aja ide usilnya si nadia itu/Facepalm/
Dae_Hwa💎: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Juhairiah
aku nungguin dr kmrn tor. kok ngk up up
Dae_Hwa💎: Hehehehe
total 1 replies
Juhairiah
kadang aku kalau lagi di bonceng, suka jawab iya iya, padahal ngk denger 🤣
Dae_Hwa💎: permasalahan umum ya 🤣🤣🤣
N Wage: sama kak...
jangankan sama2 pakai helm,gak pakai helm aja suka gak kedengeran krn kebawa angin suaranya.
😁
total 2 replies
Juhairiah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Dae_Hwa💎: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Juhairiah
kegetok ranting 🤣
Nur Adam
ljuut
Dae_Hwa💎: Heheh bentar lagi kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!