Dikehidupan lalu dia membuat kesalahan yang berujung penyesalan. Kesempatan kedua didapatkan, dia kembali ke masa lalu untuk mengubah kisahnya yang tragis menjadi manis. Dia kembali dengan menyamar menjadi seorang peramal, untuk mendekati sang pujaan hati. Dapatkah Andrew mengubah kisah percintaannya yang berakhir tragis menjadi sebuah kisah cinta yang berakhir manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Akan Meninggalkan
Amy dan Lucas sudah duduk bersama di sisi dermaga. Makan siang menyenangkan yang seharusnya mereka lewati jadi kacau gara-gara kehadiran Elisa yang secara tiba-tiba.
Amy tidak mengatakan apa pun. Dia masih terlihat syok karena dia tidak menduga jika Elisa akan menghasut Lucas supaya tidak berteman dengan dirinya. Rupanya selama ini dia tertipu oleh sikap baik yang ditunjukkan oleh Elisa.
Sungguh, dia tidak pernah menduga jika sahabat yang dia anggap begitu baik rupanya hanya berpura-pura saja menjadi teman baiknya. Rasanya sungguh menyedihkan walaupun sesungguhnya dia harus bersyukur.
“Kenapa kau masih berada di sini, Lucas? Kenapa kau tidak pergi dan masih berada di sini bersama denganku?” dia berbicara seperti itu supaya Lucas tahu jika tidak menyenangkan bersahabat dengan dirinya.
“Kenapa kau berbicara seperti itu, Amy? Apa kau pikir aku terpengaruh dengan perkataan wanita itu?”
“Aku justru berharap kau terpengaruh dengan ucapannya supaya kau tidak menyesal di kemudian hari karena kau telah mengenal wanita seperti aku. Sebelum terlambat, bukankah lebih baik kau segera menjauhi aku?”
“Bodoh!” Lucas meraih tangan Amy dan menggenggamnya. Amy memandanginya, dengan tatapan sendu. Seandainya Lucas segera pergi pun, dia tidak akan sedih sama sekali karena pada dasarnya dia memang akan selalu ditinggalkan.
“Hanya karena perkataan itu saja, aku tidak mungkin meninggalkan dirimu. Seharusnya aku bersyukur karena kau mau berteman dengan pria seperti aku jadi bagaimana mungkin aku akan meninggalkan dirimu, Amy?” tentu dia tidak akan meninggalkan Amy karena dia telah tahu kenyataannya.
Andrew sudah memberitahunya jika di masa lalu dia terhasut dengan ucapan Elisa dan menganggap Amy mendekatinya hanya untuk memanfaatkan dirinya saja. Dia yang tidak mempercayai siapa pun dengan mudahnya terhasut dengan ucapan Elisa.
Dia kecewa dengan Amy, dia juga begitu marah pada Amy. Dia tidak mau mendengarkan penjelasan Amy sehingga membuat hubungan mereka yang baru saja dimulai berjalan dengan tidak baik. Sekarang dia tidak akan mengulangi kesalahan itu.
“Apa kau yakin dengan perkataanmu itu, Lucas? Mungkin aku memiliki nasib yang tidak baik karena aku akan selalu ditinggalkan oleh orang-orang yang ada di sekitarku jadi aku ingin kau berpikir dengan baik supaya kau tidak menyesali keputusanmu di kemudian hari.”
“Kenapa aku harus menyesal? Aku tidak akan pernah bertemu dengan wanita yang begitu baik seperti dirimu lagi jadi aku tidak akan menyesal. Aku justru akan menyesal jika aku mengecewakan dirimu. Jangan memikirkan wanita itu, dia tidak baik dan tidak pantas menjadi sahabatmu.”
“Terima kasih,” Amy tersenyum namun masih ada perasaan yang mengganjal di hati. Jika selama ini Elisa tidak tulus bersahabat dengannya, lalu kenapa Elisa selalu meminta dirinya untuk mengubah penampilannya?
Entah apa maksud Elisa tapi yang pasti dia jadi tahu jika wanita itu hanya berpura-pura bersahabat dengannya. Memang sangat menyakitkan mengetahui kenyataannya tapi semua itu lebih baik.
“Jangan sedih seperti itu, Amy. Kau sudah melihatnya jika dia bukanlah orang yang tepat kau jadikan sahabat. Kau harus mensyukurinya karena kau tidak ditipu begitu lama olehnya.”
“Kau sangat benar. Rasanya sedikit lega walaupun aku masih merasa sedih.”
“Jika begitu ikut aku!” Lucas beranjak sambil menarik tangannya sampai membuat Amy beranjak dari tempat duduk.
“Mau ke mana, Lucas? Sebentar lagi aku harus kembali ke kantor!”
“Hanya sebentar saja. Aku berjanji tidak akan lama!” Lucas menarik tangan Amy sambil berlari, meski dia memiliki tubuh yang gemuk tapi karena dia memiliki tinggi badan yang cukup bagus sehingga membuatnya berlari cukup cepat.
“Tunggu, Lucas. Jangan menarik tanganku seperti ini!” Amy kewalahan mengikuti larinya.
“Bukankah kau berkata kau harus segera kembali ke kantor? Aku tidak ingin kau terlambat jadi cepatlah!”
“Sebenarnya kau mau membawa aku ke mana?” dia tidak mengerti namun dia jadi penasaran ke mana Lucas akan membawanya..
Mereka menyeberangi jalan, melewati mobil yang berlalu lalang. Mereka juga menaiki pembatas jalan yang tinggi. Amy berteriak ketika Lucas menggendongnya supaya bisa melewati pembatas jalan itu.
Yang mereka lakukan memang melanggar aturan tapi entah kenapa terasa menyenangkan. Sesekali melanggar aturan untuk melakukan hal yang menyenangkan sepertinya tidaklah salah.
“Apa kita sudah mau sampai?” Amy berteriak dengan keras karena angin yang begitu kencang.
“Sedikit lagi!” Lucas pun berteriak supaya Amy mendengar suaranya. Meski masih tidak mengerti namun Amy tetap ikut.
Mereka melewati beberapa pertokoan juga gang-gang yang sempit. Amy mengira jika Lucas akan mengajaknya membeli barang tapi ketika mereka tiba di tempat tujuan, dia benar-benar kagum melihat sebuah pantai tersembunyi yang sepertinya tidak diketahui banyak orang.
“Wuuaahh!” mata Amy berbinar, pantai yang begitu cantik. Air laut yang diterpa oleh matahari siang itu bagaikan mutiara yang bersinar di atas ombak yang menggulung dan menghantam bibir pantai dengan perlahan.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Amy memandangi Lucas, lalu dia memandangi laut indah itu.
“Aku selalu datang ke sini ketika aku sedang sedih. Tempat ini nyaman, yang datang hanya sedikit jadi aku bisa menghabiskan waktuku di sini untuk merenungi nasibku.”
“Baiklah, mulai sekarang kita akan merenung nasib kita berdua di sini!”
“Aku memperlihatkan tempat rahasiaku ini bukan karena aku ingin mengajakmu termenung bersama, Amy!”
“Aku tahu, Lucas. Aku hanya bercanda saja. Tempat ini begitu luar biasa. Terima kasih kau sudah mau berbagi dan memberitahu aku tempat rahasiamu yang begitu indah.”
“Aku harap kau tidak sedih lagi hanya karena ucapan wanita itu.”
“Terima kasih, Lucas!” Amy berjinjit, lalu memberikan sebuah ciuman di pipi Lucas.
Lucas sangat terkejut, dia bahkan berdiri bagaikan patung. Dia juga seperti berhenti bernafas atas apa yang baru saja Amy lakukan pada dirinya.
“I-itu sebagai ucapan terima kasih!” Amy melangkah pergi dengan wajah yang memerah.
Apa yang baru saja dia lakukan? Kenapa dia begitu berani mencium pemuda itu? Rasanya ada yang aneh pada dirinya. Tidak seharusnya dia melakukan hal itu hanya untuk mengucapkan terima kasih saja.
Lucas memegangi pipinya, apa dia tidak sedang bermimpi? Pertama kali dalam hidupnya ada seorang wanita yang melakukan hal itu. Dia sungguh tak menduga apalagi Amy menciumnya tanpa merasa jijik sama sekali pada dirinya.
Amy berdiri di sisi pantai, menikmati hembusan angin serta terjangan ombak yang menggulung di sisi pantai. Dia tidak berani berpaling ketika Lucas menghampiri dirinya dan berdiri di sisinya.
Mereka berdua hanya saling melirik dan setelah itu mereka berdua memalingkan wajah dengan wajah yang tersipu. Entah kenapa, mereka sudah seperti anak remaja yang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Lucas menggenggam tangannya, Amy jadi lupa untuk kembali karena dia ingin berada di sana sedikit lebih lama.
Lagi pula dia malas bertemu dengan Elisa tapi Elisa pun tidak kembali ke kantor karena dia sedang menemui seseorang yang akan membantunya menyingkirkan Amy.
mau jelek tp ada duit bisa jdi cakep kok