Menjadi wanita simpanan pria beristri, bukalah pilihan hidup bagi Vivian. namun dia bisa apa? cuma ini jalan satu-satunya agar bisa mendapatkan uang dalam waktu cepat, demi kesembuhan sang ibu tercinta.
"Oke, Viv. selama kamu menjadi wanita simpananku, kamu dilarang untuk jatuh cinta apalagi hamil. jika kamu melanggar kesepakatan kita, maka kamu harus pergi tanpa mendapatkan apa-apa dariku, karena cuma istri sahku yang berhak untuk melahirkan calon penerus Davison."
"Oke, aku terima dengan senang hati syarat darimu, tuan." Viv tersenyum merasa syarat yang diberikan cukup mudah.
Seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh dihati mereka. meskipun tidak terucap namun David berusaha untuk terus melindungi Viv, dari niat jahat ibu tirinya yang ingin menguasai harta warisan atas nama Viv.
Bahkan karena kecerobohannya, Viv hamil dan jatuh cinta pada Dav, hingga melanggar kesepakatan.
Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya? apakah Viv pergi tanpa membawa apa-apa atau sebaliknya?"😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daging yang empuk
Vivian tidak tahu berapa lama dia tidak sadarkan diri, begitu membuka mata, gadis itu sudah mendapati jika dia telah berada dalam ruangan dan kamar yang berbeda.
"Astaga, aku dimana?"
Vivi segera bangkit, meskipun rasa pusing masih mendera. Mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan untuk memastikan dan mencari jalan keluar dari ruangan tersebut.
"Siapa yang membawaku ke sini, apakah David?" Vivi mulai gelisah dan takut jika David tidak sebaik yang dipikirkannya. Vivi menyeret langkahnya menuju pintu sambil terhuyung, bahkan dia hampir jatuh kelantai jika tidak segera berpegangan pada dinding.
Tubuh Vivi yang semula ingin memegang gagang pintu, mendadak kaku begitu mendengar suara langkah semakin mendekat, bahkan terlebih dahulu menarik gagang pintu dan mendorongnya, Viv refleks mundur ke belakang begitu pintu terbuka lebar.
Nampak David berdiri di hadapannya, dengan tatapan mata elang yang tajam seakan ingin menelan Vivi saat itu juga.
"Da... David!"
Vivi berusaha mengeluarkan suara, meskipun saat ini dia mulai ketakutan, beberapa adegan pembunuhan yang sempat dilihatnya kembali melintas.
"Tidak! Aku tidak ingin mati sia-sia ditangan David, Anabela masih membutuhkan aku." gumam Vivi berusaha kabur, namun David dengan sekali hentakan berhasil menarik tangannya, hingga tubuh mungil Vivi jatuh kedalam peluknya.
"Le.. lepaskan aku."
"Kamu mau kemana baby."
"Aku takut, tuan siapa kamu sebenarnya?"
"Untuk apa kamu harus, mengetahui siapa aku, Viv?"
"Aku tidak bisa tinggal dengan pembunuh ataupun seorang mafia." barusan untuk melepaskan diri dari pelukan David yang semakin erat mengukungnya.
"Diam Viv, aku bukan pembunuh ataupun mafia seperti yang kamu pikirkan."
"Lalu foto-foto itu, siapa mereka?"
"Banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang aku, Viv. makanya aku selalu menutup kamar ini agar kamu tidak berfikir macam-macam tentangku."
"Aku takut Dav."
"Yang jelas aku bukan pembunuh, tolong percaya padaku."
"Baiklah, tapi kamu masih hutang penjelasan padaku, Dav."
"Ya, aku akan menyelesaikan permasalahan ini satu persatu dulu. terutama tentang dirimu dan keselamatanmu saat ini , Viv." bujuk David.
"Aku dan Anabel tidak menginginkan warisan itu, biarlah mereka mengambil dan menikmatinya. Asalkan kami bisa hidup tenang dan nyaman seperti dulu lagi." ujar Viv.
"Tidak bisa Viv, mereka akan terus mengintai keselamatanmu. Mulai sekarang kamu tidak perlu takut, karena aku yang akan melindungimu dan Anabel. dengan syarat yang masih sama, menjadi wanitaku sampai kapanpun aku inginkan." bisik David bernada mesum.
"Baiklah aku bersedia, aku percaya padamu, Dav." ucap Viv pasrah.
"Good baby." mengusap lembut wajah imut Viv, yang tidak pernah membuatnya bosan.
"Aaaaww!!!"
Vivian sempat berteriak kaget, begitu David tiba-tiba menggendongnya, membawa Vivi menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke area parkir khusus mobil David.
"Kita mau kemana?"
"Katanya kamu kesepian dan tidak nyaman lagi tinggal disini, sekarang kita pindah ke rumah pribadiku, disana kamu tidak akan merasa kesepian lagi jika aku tinggal pergi-pergi. Karena banyak pelayan yang akan melayanimu, baby."
"Iya."
***
Tidak lama kemudian, mereka sampai disebuah hunian yang jauh lebih mewah. Mereka langsung disambut hormat beberapa pelayan wanita dan bodyguard.
"Selamat datang tuan muda."
"Selamat datang Nona muda."
"Hn...!" jawab David singkat, menarik sebelah tangan Viv menuju lantai dua, memasuki sebuah ruangan khusus yang menyediakan banyak minuman berkelas.
"Mau minum bersamaku?" tawar David.
"Tidak, aku tidak terbiasa minum seperti ini."
"Cobalah sedikit, untuk menghangatkan tubuhmu." David lalu menuangkan kedalam gelas kaca, menambahkan sedikit es batu diatasnya.
"Chess!!"
Mereka bersulang, Viv memejamkan matanya begitu meneguk minuman yang terasa aneh di tenggorokannya, namun ada rasa manis-manisnya. Sedangkan David mengulum senyum melihat ekspresi yang ditujukan Viv.
"Apa kamu masih menginginkan sesuatu?"
"Tidak!" Viv menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, kita makan malam diteras ini saja." ucap David lalu memerintahkan pelayan dan koki profesional untuk segera menyiapkannya.
"Kamu suka steak?"
"Suka." Viv menerima dengan senang hati begitu David menyuapinya.
"Selera kita sama, tapi aku lebih suka daging yang empuk dan legit." David mengering nakal, sedangkan Viv berpura-pura tidak mendengar. Sementara wajahnya sudah bersemu merah.
Ditempat lain, Sandra berjalan mondar-mandir dengan ekspresi panik, syok begitu mendapat berita jika Viv masih hidup. Meskipun dia belum memastikan sendiri kebenaran berita tersebut.
"Gawat jika David menemukan bukti keterlibatan kita." adu Marina.
"Kalian jangan khawatir, semua bukti yang mengarah pada kita sudah berhasil aku singkirkan." jawab Jack percaya diri.