" Menikahlah dengan Nev". Kata-kata itu sangat mengejutkan Nara, bagaimana bisa Ia menikahi Nev yang notabenenya adalah kakak iparnya. " Ini adalah permintaan kakak yang terakhir". Nara semakin bingung dengan permintaan kakaknya ini. Di tengah kebingungannya ini, Ia teringat akan sosok kecil mungil Deril, anak Nev dan kakaknya Kamira. Sosok yang Ia sangat sayangi.
Apakah Nara akan akan memenuhi semua keinginan kakaknya? Apakah Ia harus memutuskan hubungannya dengan kekasihnya?.
Semua keputusan yang ia ambil akan menjadi masa depannya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
" Kamu bertanya atau cemburu".
Kata-kata itu kembali terngiang dikepalanya. Bagaimana bisa ia cemburu hanya karena perkataan Rindi. Lagipula atas dasar apa ia harus cemburu pada suaminya itu. Sejak awal menikah saja mereka seperti membentengi diri kalau kata cinta, cemburu dan apapun itu tidak boleh hadir diantara mereka. Lalu kenapa sekarang muncul kata-kata itu.
" Kakak pasti bercanda".
" Siapa yang bercanda?", tanya Meta yang tiba-tiba muncul. " Vino mana?". Nara langsung memandangi Meta heran karena menanyakan Vino padanya. Ia lupa atau apa karena seharusnya Nara lah yang bertanya padanya dimana keberadaan Vino.
" Bukannya kamu yang sering sama Vino?".
" Tapi akhir-akhir ini Vino sering sama kamu". Nara mengernyitkan dahinya tidak percaya apa yang didengarnya barusan. " Hei Nara".
" Hmm".
" Kayaknya Vino suka deh sama kamu".
" Haa??? yang benar saja".
" Iya benar, tidak salah lagi. Aku ini sudah lama kenal dengan Vino. Dia itu tidak mudah dekat dengan seorang wanita. Tapi, semenjak kenal denganmu, dia terlihat nyaman bersamamu".
" Bukannya kamu juga seorang wanita?".
" Beda".
" Apanya yang beda?", tanyanya. " Kamu tuh yang terlalu mikir jauh soal hubungan kami. Vino tidak mungkin punya perasaan seperti itu padaku".
" Kenapa tidak mungkin".
" Kamu cemburu kan?". Nara menatap Meta. " Kamu yakin tidak merasa tertarik dengan Vino?".
" Maksudnya?".
" Perasaan cintalah".
" Mana mungkin".
" Hmm...kenapa tidak mungkin?". Meta terdiam. " Lagipula terkadang orang yang kita cari itu sebenarnya tidak jauh, contohnya Vino karena kalian terlalu dekat, mungkin kamu tidak menyadari kehadirannya".
" Kamu bicara apa sih", elak Meta. " Eh, bukannya itu suami kamu", ujar Meta menunjuk seseorang dari kejauhan. " Wanita disampingnya siapa?".
" Oh itu temannya kak Nev".
" Hoo...mereka lagi apa disini? di kampus kita ada acara ya?".
" Seminar".
" Hoo".
Ya...acara seminar yang membuat Nara dan Nev hampir bertengkar. Perkataan Rindi yang hampir saja membuat Nara terpancing. Nara tahu betul sosok Rindi yang selalu ingin dekat dengan Nev. Sejak kedatangannya Rindi tidak pernah suka dengannya, apalagi setelah ia menikah dengan Nev, rasa ketidaksukaan itu semakin besar. Seperti apapun akan dilakukannya demi mendapatkan perhatian dari Nev.
Sarah selalu berpesan padanya agar selalu waspada pada Rindi. Bukan tanpa maksud ia berkata seperti itu, dulu apapun dilakukannya untuk menjauhkan Nev dan Kamira, tapi tidak membuahkan hasil. Kini Nara sebagai target selanjutnya seakan lebih mudah untuk dihadapinya. Mungkin karena Nara jauh lebih muda darinya hingga ia merasa tidak akan sesulit sebelumnya.
Nara melihat isi pesan ponselnya.
aku akan mengantarmu pulang.
Ia melihat si pengirim pesan itu. " Kak Nev", gumamnya. Ia mumutuskan untuk menunggunya karena memang jam kuliahnya sudah habis.
Ia melihat orang-orang sudah keluar dari ruangan itu. Perlahan Nara memasuki tempat itu, masih ada beberapa orang yang mengerubungi mereka. Ya mereka, Nev dan Rindi. Tampak Nev dan Rindi begitu sabar menjawab semua pertanyaan mereka.
Mata Nara dan Rindi saling bertemu. Seketika itu ia mulai merapatkan tubuhnya pada Nev.
" Wah dokter Nev dan dokter Rindi sangat serasi ya", oceh salah satu dari mereka. Rindi langsung sumringah, ia sangat senang mendengar pujian dari mereka. Ia terus saja menempel padanya padahal ia tahu kalau Nara ada disitu juga.
Nara hanya diam melihat aksinya itu. Ia hanya berusaha untuk tidak bertindak terlalu berlebihan. Apalagi ditempat yang ramai ini, nanti malah mempermalukan dirinya sendiri.
Ia pun memutuskan untuk menunggu Nev diluar saja. Tapi saat Nara melangkahkan kakinya tiba-tiba Nev memanggilnya. Ia menoleh, Nara tidak tahu kalau Nev daritadi mengetahui kehadirannya disini.
" Dokter, itu siapa? adik dokter?", tanya mereka lagi.
" Dia istri saja", jawab Nev tanpa basa basi. Itu sudah cukup membuat Rindi kesal setengah mati. Bagaimana tidak sedari tadi ia berakting seperti pasangan, malah hancur hanya dengan kalimat itu. Mereka yang ada disitu pun hanya bengong mendengar jawabannya. Mereka tidak menyangka dokter tampan ini sudah menikah. " Maaf, saya harus pulang. Lain kali kita bisa bertemu kembali. Terima kasih sudah datang", ucap Nev lalu pergi setelah berpamitan.
Nev berjalan mendekati Nev lalu mengambil tangannya kemudian digenggamnya. Nara yang sempat shock hanya bisa mengikuti setiap langkah Nev yang ada didepannya.
" Sekarang kamu senangkan?", ujar Nev tiba-tiba. Nara sangat bingung dengan ucapan ini.
Apa maksud dari ucapannya itu.
" Aku tahu kamu sejak tadi ditempat itu karena Rindi terus bertingkah aneh. Aku hanya membiarkannya, aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya didepanmu".
" Jadi tadi kakak juga berakting?".
" Ya, setidaknya istri seorang Nevandra Louis tidak boleh diperlakukan seperti itu".
" Begitu ya".
" Kenapa? kedengarannya kamu tidak senang".
" Bukan begitu, aku hanya bingung saja dengan sikap kakak. Aku tidak bisa membedakan kakak yang tulus padaku atau hanya tidak ingin namamu jelek dimata orang".
" Apa kita harus seperti ini terus?. Bisakah kamu tidak berpikir terlalu jauh?".
" Apa aku salah?".
" Nara!!!".
" Maafkan aku. Kakak tidak perlu mengantarku pulang, permisi". Nara berlalu begitu saja meninggalkan Nev yang sama sekali tidak mengerti mengapa Nara bersikap seperti itu padanya.
Ini untuk pertama kalinya ia merasa bingung harus melakukan apa disituasi ini. Sejak menikah dengan Nara, ia harus menghadapi kejadian yang tidak pernah didapatinya dulu. Umur yang terlampau jauh membuatnya harus ekstra memahami istrinya itu. Tidak bisa dipungkiri sedewasa apapun seseorang, umur tetap akan mempengaruhi pola pikirnya yang masih tergolong muda.
Nev terus menghubungi ponsel Nara tapi tidak ada jawaban darinya. Dia meletakkan ponselnya itu kasar karena merasa kesal dengan Nara.
Nev tidak tahu harus mencarinya kemana, apalagi ditempat seluas ini. Dia jug tidak mempunyai nomor ponsel temannya itu. Jadilah Ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
" Ada apa dengan wajahmu itu", celetuk Ergi yang melihat Nev begitu kesal. " Apa yang terjadi?".
" Aku tidak mengerti dengan sikapnya itu".
" Siapa? Nara?".
" Memangnya siapa lagi".
" Wah, ini pertama kalinya kamu terlihat marah padanya. Apa kalian bertengkar?".
" Tidak".
" Lalu?".
" Dia salah paham, lagipula dia selalu seperti ini. Selalu salah memahami perkataan orang lain".
" Tunggu...tunggu.., aku benar-benar tidak mengerti maksudmu".
" Bagaimana aku bisa menjelaskannya padamu!".
" Ya tidak harus marah-marah juga bos".
" Maafkan aku".
" Aku sudah lama tidak melihatmu seperti ini. Uring-uringan sendiri, kesal sendiri. Sekarang katakan padaku apa pertahananmu dengan kata-kata tidak akan pernah punya perasaan padanya masih utuh?".
" Kamu ini bicara apa. Aku hanya tidak mengerti dengannya. Dia seperti anak kecil saja, hanya itu".
" Dia memang masih kecilkan? umurnya baru 20 tahun. Lagipula aku merasa, kamu juga ikut-ikutan seperti anak kecil".
" Bicara denganmu malah membuatku tambah pusing, tidak membantu sama kali".
" Kamu saja yang tidak mengerti".
cerita nya besttt
semangat author 🌹🌹🌹🌹🌹