NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Di Antara Kecurigaan dan Keyakinan

Suasana di teras rumah terasa sangat sunyi dan mencekam. Hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan, sementara semua mata tertuju pada Dika yang berdiri dengan kepala tertunduk, wajahnya pucat pasi. Di satu sisi ada Paman Arga yang terus mendesak dengan nada penuh kecurigaan, sementara di sisi lain Nyonya Wijaya masih terlihat ragu, bingung membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan.

Kirana yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara dengan nada tenang namun tegas. “Tunggu sebentar, Paman. Jangan langsung memutuskan sembarangan. Kalau benar dia yang mengambil atau menghabiskan uang itu, mengapa dia tetap membawa pulang semua barang yang dibeli dengan rapi dan lengkap? Kalau ingin berbuat curang, seharusnya dia bisa saja kabur tanpa kembali lagi ke sini.”

Paman Arga menoleh dengan wajah tidak senang. “Itu taktiknya saja, Kirana! Dia tahu kalau kabur, kesalahannya akan terbukti seketika. Sebaliknya, dengan kembali dan membawa barang lengkap, dia berharap bisa dipercaya lagi, lalu mengarang cerita agar tidak dimintai ganti rugi. Dia pikir dia pintar, tapi saya sudah sering melihat orang seperti ini.”

Nyonya Wijaya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka berdua berhenti bicara sejenak. Ia melangkah mendekat ke arah Dika, menatapnya dalam-dalam seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di hatinya.

“Dika, dengarkan saya baik-baik,” ucapnya perlahan tapi tegas. “Selama ini saya melihat kamu bekerja dengan jujur, rajin, dan bertanggung jawab. Itu sebabnya saya berani mempercayakan uang itu padamu. Tapi kali ini, tidak ada saksi, tidak ada laporan ke polisi, dan tidak ada bukti apa pun selain ucapanmu sendiri. Bagaimana saya bisa meyakinkan diri sendiri bahwa ini benar-benar terjadi seperti yang kamu katakan?”

Dika mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca namun tetap tegas. “Saya mengerti keraguan Nyonya. Kalau saya berada di posisi Nyonya, saya pun pasti akan merasa curiga. Saya tidak punya bukti apapun selain keyakinan hati saya sendiri bahwa saya tidak berbuat salah. Saya hanya bisa meminta waktu, Nyonya. Beri saya kesempatan untuk membuktikan kebenaran ini, atau jika memang tidak bisa, saya bersedia mengganti seluruh jumlah uang itu dengan cara apa pun yang saya mampu, meski harus bekerja bertahun-tahun lamanya.”

Mendengar ucapan itu, Nyonya Wijaya tertegun. Ia melihat ketulusan yang tulus di mata pemuda itu, tapi logikanya masih mempertanyakan bagaimana mungkin kejadian itu terjadi tanpa jejak yang tersisa.

Sementara itu, di sudut hatinya, Paman Arga merasa sangat puas. Rencananya berjalan sempurna. Ia tahu betul kedua orang yang menyamar sebagai perampok itu adalah orang kepercayaannya sendiri, yang sudah diperintahkan untuk menghilang begitu saja setelah tugas selesai. Tidak akan ada jejak yang bisa dilacak, dan Dika tidak akan pernah bisa membuktikan dirinya tidak bersalah.

“Sudah cukup,” potong Paman Arga lagi. “Berjanji mengganti uang itu tidak menyelesaikan masalah. Kamu tidak punya apa-apa, dari mana bisa mengganti sejumlah uang itu? Ini hanya cara lain untuk menunda-nunda saja. Menurut saya, keputusannya sudah jelas — dia harus diusir dari rumah ini dan tidak boleh lagi melangkah kaki ke sini.”

Belum sempat Nyonya Wijaya menjawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki cepat dari arah gerbang. Ternyata Pak Joko, sopir keluarga yang baru saja kembali dari mengantar tamu, datang menghampiri mereka dengan wajah terkejut.

“Maaf mengganggu, Nyonya. Saya baru saja mendengar sedikit pembicaraan dari kejauhan. Apakah benar Dika mengaku dirampok di jalan tadi?” tanyanya dengan nada serius.

Semua orang menoleh ke arahnya. “Benar, Pak Joko. Dia bilang dihadang dua orang dan uangnya diambil, tapi tidak ada bukti apapun,” jawab Bu Marni singkat.

Pak Joko mengangguk, lalu menoleh ke arah Dika. “Kalau begitu, saya mungkin bisa membantu sedikit. Tadi sepuluh menit sebelum saya sampai di sini, saya melewati jalan yang sama dan melihat dua orang laki-laki berjalan tergesa-gesa, mengenakan topi lebar dan pakaian yang tidak rapi. Mereka terlihat gelisah, dan saat mobil saya lewat, mereka segera bersembunyi di balik ruko kosong di ujung jalan. Saya pikir itu aneh, tapi tidak tahu apa yang terjadi sampai tadi mendengar kabar ini.”

Mendengar itu, wajah Dika seketika berubah menjadi lega. “Itu pasti mereka, Pak! Persis seperti yang saya lihat.”

Namun, Paman Arga segera menyela dengan cepat. “Itu hanya kebetulan semata! Melihat dua orang yang terlihat mencurigakan bukan berarti mereka yang merampok. Itu tidak bisa dijadikan bukti yang kuat.”

“Memang belum cukup untuk membuktikan sepenuhnya,” kata Pak Joko tenang. “Tapi setidaknya ini menunjukkan bahwa cerita Dika tidak sepenuhnya dibuat-buat. Ada kemungkinan memang ada kejadian seperti itu.”

Nyonya Wijaya menghela napas panjang, lalu memutuskan dengan suara yang mantap. “Baiklah, saya akan memberi kesempatan satu kali lagi. Dika, untuk sementara ini kamu tetap boleh tinggal dan bekerja di sini. Tapi selama uang itu belum ditemukan atau kebenarannya belum terbukti, gajimu akan ditahan seluruhnya untuk menutupi kerugian ini. Jika nanti terbukti kamu berbohong, maka selain diusir, kamu juga akan saya serahkan ke pihak berwajib. Setuju?”

Dika segera menunduk hormat, merasa sangat bersyukur masih diberi kesempatan. “Saya terima keputusan itu, Nyonya. Terima kasih atas kepercayaannya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari jejak para pelaku dan membuktikan bahwa saya tidak bersalah.”

Setelah peristiwa itu selesai, suasana di rumah terasa lebih dingin dari sebelumnya. Meskipun tidak diusir, pandangan beberapa pembantu lain kini kembali berubah menjadi ragu dan menjauh. Mereka tidak berani mendekat atau berbicara banyak dengan Dika, seolah takut ikut terlibat dalam masalah yang menimpanya.

Sore harinya, saat Dika sedang duduk sendirian di bangku taman yang sepi, Kirana datang menghampirinya dengan membawa segelas teh hangat. Ia meletakkannya di samping Dika, lalu duduk agak jauh seperti biasa.

“Jangan terlalu tertekan,” katanya pelan. “Saya percaya kamu tidak melakukannya. Cara bicaramu dan tatapan matamu tidak pernah berbohong selama ini.”

Dika menoleh sedikit, matanya terlihat lelah namun penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Non. Rasanya berat sekali, apalagi tahu bahwa ini bukan kebetulan, tapi memang sengaja diatur untuk menjatuhkan saya. Tapi saya tidak akan menyerah. Saya harus membuktikan kebenaran ini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga agar nama baik saya tetap terjaga untuk ibu saya.”

Kirana mengangguk, wajahnya terlihat serius. “Kalau memang ada yang sengaja menjebakmu, pasti akan ada jejak yang tertinggal. Mulai sekarang saya juga akan lebih waspada, dan mencoba mencari tahu sendiri siapa yang sebenarnya berada di balik semua kejadian ini.”

“Tapi hati-hati, Non. Jangan sampai kamu ikut terlibat dan membahayakan dirimu sendiri,” pesan Dika khawatir.

“Saya tahu batasannya,” jawab Kirana sambil tersenyum tipis. “Kita akan saling mengawasi, dan biarkan waktu yang menjawab semuanya.”

Malam itu, di kamarnya, Dika kembali menulis di buku catatannya. Tangannya sedikit gemetar, tapi tulisannya tetap rapi dan tegas:

“Hari ini saya terjebak lagi dalam jebakan yang lebih rumit dan sulit. Tidak ada bukti yang jelas, tidak ada saksi yang bisa membenarkan, dan keraguan kembali menyelimuti. Tapi Nyonya masih memberi kesempatan, itu saja sudah cukup untuk saya terus berjuang. Saya tahu siapa yang menginginkan kepergian saya, tapi dia lupa bahwa kebenaran tidak bisa selamanya disembunyikan. Sehelai benang pun bisa menjadi petunjuk jika dicari dengan teliti. Saya akan tetap sabar, tetap waspada, dan mencari celah untuk membongkar rencana licik ini.”

Sementara itu, di ruang kerjanya, Paman Arga menerima laporan dari Sari yang datang secara diam-diam.

“Semua berjalan sesuai rencana, Pak. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa Dika tidak bersalah. Meski dia tidak diusir hari ini, posisinya sudah lemah dan tidak dipercaya lagi. Lambat laun dia akan merasa tertekan dan pergi sendiri,” kata Sari pelan.

Paman Arga tersenyum lebar, senyum penuh kemenangan sementara. “Bagus. Biarkan dia tinggal sedikit lebih lama. Rasakan beratnya dicurigai, dipandang rendah, dan tidak dipercaya. Lebih baik dia pergi dengan penderitaan sendiri daripada harus diusir secara paksa. Tunggu saja, ini baru permulaan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!