Suara teriakan dari luar membangunkan seorang anak laki-laki yang saat itu sedang tidur pulas.
"Mama..." anak itu berlari menghampiri mayat ibunya. Darah berceceran di lantai.
"Mama.. jangan tinggalkan aku... Mama bangun.. jangan tinggalkan aku," ucap anak itu menangis memeluk tubuh ibunya yang penuh dengan goresan luka. Wanita yang sangat dicintainya. Sungguh, ia tidak ingin kehilangan ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gelsomino, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sadar
Eve membuka matanya perlahan. Menatap sekeliling kamar yang ditempatinya. Eve tidak di gudang lagi. Eve bangun dengan perlahan karena tubuhnya yang lemah. Eve menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Perutnya terasa sakit karena lapar.
"Syukurlah Nona sudah bangun," ujar Gianna yang baru saja masuk ke dalam kamar dan melihat Eve bersandar di kepala ranjang.
"Apa kamu yang membawaku ke sini?" tanya Eve dengan suara lemah.
Gianna menggeleng, "Tuan Chris yang membawa anda ke sini nona," kata Gianna. Eve tidak tau siapa itu Chris.
"Sebentar, aku akan mengambil makanan untukmu," kata Gianna hendak pergi.
"Tunggu," cegah Eve. Gianna memutar tubuhnya lalu menatap Eve.
"Ada apa nona?" tanya Gianna.
Eve meraih tangan Gianna, "tolong bantu aku keluar dari sini. Aku tidak ingin di sini. Pria itu akan membunuhku. Dia juga sudah membunuh kekasihku," kata Eve memohon. Gianna terkejut. Namun dengan cepat ia menggeleng.
"Maafkan saya nona, saya tidak bisa," kata Gianna menolak. Ia tidak ingin mati karena menolong wanita di depannya. Gianna yakin, masalah Eve dan Chris sangatlah kompleks hingga Chris membawa Eve ke rumahnya.
"Ku mohon..." ujar Eve dengan tatapan putus asa. Gianna tidak tega melihatnya. Tapi ia tidak ingin mengambil jalan yang salah.
"Gianna," panggil Bertha berdiri di depan pintu.
"Bertha," gumam Gianna segera melepaskan tangannya dari Eve.
"Apa kamu sudah memberinya makan? Jangan melakukan apapun yang membahayakan dirimu," kata Bertha memperingati Gianna seolah tahu jalan pikiran Gianna.
"Saya akan mengambil makanan untukmu," kata Gianna pergi. Eve menatap punggung Gianna yang semakin menjauh.
"Kamu, waktu istirahatmu sudah cukup. Setelah makan temui aku," kata Bertha lalu pergi.
Tak lama kemudian, Gianna kembali membawa makanan untuk Eve.
"Nona, sebaiknya anda makan dulu."
"Tidak, aku tidak ingin makan. Aku hanya ingin keluar dari sini," Eve menolak untuk makan.
"Setidaknya tenagamu pulih kembali agar bisa keluar dari rumah ini," kata Gianna. Eve menolak lagi.
"Baiklah, aku akan menaruhnya di sini. Kamu bisa memakannya nanti," tukas Gianna menaruh makanan di atas nakas. Ia lalu pergi dan mengunci kamar Eve.
Satu jam kemudian, Bertha menemui Eve dan melihat makanan di atas nakas tidak tersentuh sedikitpun. Bertha menatap tajam Eve.
"Keras kepala. Kau tau, jika Tuan Chris mengetahuinya kamu akan mendapat hukuman," ucap Bertha.
"Aku hanya ingin keluar dari tempat ini. Aku tidak butuh makanan," kata Eve berbohong. Sebenarnya ia sudah sangat lapar.
"Baiklah. Kalau begitu bangun dari tempat tidurmu. Ku pikir kamu sudah pulih kembali. Saatnya untuk bekerja," kata Bertha membuat Eve membulatkan kedua matanya.
"Kamu di sini bukan untuk hidup santai," kata Bertha menarik tangan Eve dan membawanya keluar dari kamar.
"Lepaskan... Lepaskan aku. Kamu tidak bisa seenaknya memperlakukanku seperti ini," kata Eve mencoba menarik tangannya. Keduanya sudah keluar dari paviliun.
"Lepaskan," Eve menyentak kuat tangannya hingga terlepas dari Bertha. Eve berlari. Sepertinya akan lebih mudah baginya keluar dari tempat itu. Eve terus berlari hingga melihat ia melihat gerbang. Eve melihat kebelakang, Bertha mengejarnya. Dengan kondisi tubuh yang lemah, Eve berusaha mencapai gerbang itu. Hingga dua ekor anjing menggonggong ke arahnya. Suara gonggongan anjing itu membuat sekuriti segera mencari tahu apa yang terjadi.
"Tangkap wanita itu, jangan biarkan dia lari," ucap Bertha.
Eve takut, kedua anjing itu akan menggigitnya. Kecepatan larinya tentu saja akan kalah dengan anjing itu.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah. Mobil itu berhenti di depan Eve.
Chris keluar dari dalam mobilnya. Kedua anjing itu kemudian menghampiri Chris dan melompat-lompat ke arahnya mencari perhatian Chris.
sempet ngira akan sad ending waktu Chris kena tembak dan gak ada semangat hidup lg..
apalagi pas lompat waktu dan ayahnya Chris bilang kalo kangen sama Chris yg udah lama pergi..
dan ternyata semua itu hanyalah "PRAAANK"..
Aah kakak mah menjungkirbalikkan hatiku..
untunglah Chris selamat dan hanya pergi untuk berobat dan pemulihan..
and then finally happy ending for everyone..
semua dendam dan kesalahpahaman sudah berkahir dg bersatunya Chris dan Eve..
congrats jg buat Zara yg akhirnya bisa ngeluluhin si Shane..
oke lanjut next novel..
semoga sehat terus ya kak..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu..
🙏🏻💪🏻😘🥰😍🤩💕💕💕