Blurb
Aurora Clarance Adelia, seorang perempuan yang diberi nama seperti salah satu tokoh putri di dunia Disney, tetapi kisah hidupnya justru tidak seindah cerita dongeng.
Aurora terpaksa menjadi pengantin pengganti dengan seorang pria yang telah memiliki anak untuk menutupi pelarian yang dilakukan oleh sang sepupu sebagai calon pengantin. Dia terpaksa harus menjadi istri dan ibu sambung dari seorang duda beranak tiga di umur yang masih cukup belia. Namun, ia tak memiliki pilihan lain karena ada 'sesuatu' yang harus ia pertahankan.
Niat hati ingin terbebas dari 'sesuatu' yang selalu membuatnya tertekan, menikah muda dan menjadi ibu sambung justru membuat kehidupan Aurora berubah. Hal tersebut justru seolah merampas seluruh kebebasan yang selalu dinanti. Akankah perempuan itu dapat menemukan kebahagiaannya sendiri di tengah-tengah kabut nelangsa yang menguasa?
© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donacute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Saya sangat berterima kasih sama Nyonya Aurora dan Tuan Keenan karena udah kasih izin buat saya. Izin yang Tuan dan Nyonya kasih sangat berarti untuk saya."
Kini Bi Ratna sedang berada di depan mansion, lebih tepatnya sedang berpamitan karena hendak pulang kampung kepada Aurora. Bi Ratna akan menaiki bus di terminal dan akan diantar oleh Pak Parto ke terminal.
"Sama-sama, Bi. Lagian itu emang hak Bi Ratna buat dapet libur. Masa Bi Ratna mau kerja terus enggak libur-libur? 'Kan kasihan," gurau Aurora.
Bi Ratna tersenyum, lalu mengangguk. "Bibi berangkat dulu, ya, Nyonya."
"Iya, Bi. Hati-hati, ya. Nanti kabarin kalo udah sampai di kampung," kata Aurora sambil menyalami, lalu memeluk Bi Ratna. Tak lupa perempuan itu menyelipkan uang ke tangan Bi Ratna.
"Nyonya, ini apa? Harusnya Nyonya enggak perlu repot-repot seperti ini. Saya punya uang kok. Nyonya enggak perlu khawatir," ujar Bi Ratna tidak enak. Wanita paruh baya itu langsung menolak uang yang ada di tangannya. Ia justru berikan kembali kepada Aurora.
Aurora tersenyum, ia sama sekali tidak tersinggung dengan penolakan dari sang asisten rumah tangga. "Aku tahu, Bi Ratna punya uang sendiri, tapi enggak apa-apa. Bi Ratna terima aja uangnya. Uang dari saya bisa dipakai buat ongkos, sedangkan uang Bibi bisa Bi ratna pakai buat beli keperluan Bi Ratna atau keluarga di kampung nanti. Jadi, mohon diterima ya, Bi, uangnya."
Bi Ratna hanya mampu mengangguk mengiyakan. Ia terharu sekali dengan perlakuan Aurora. Baru kali ini wanita itu mendapatkan majikan sebaik Aurora yang selain baik juga perhatian padanya. Padahal sebelumnya, Bi Ratna tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh Keenan maupun mendiang Bella. Padahal Bi Ratna sudah bekerja di sana cukup lama, kurang lebih lima tahunan.
"Terima kasih, Nyonya. Semoga Nyonya selalu sejahtera dan bahagia. Aamiin."
Aurora tersenyum, ia mengaminkan doa Bi Ratna. Karena sudah waktunya berangkat, Bi Ratna segera masuk mobil yang akan disupiri oleh Pak Parto. Sebab Pak Partolah yang memang Aurora minta mengantarkan Bi Ratna sampai terminal.
Awalnya Bi Ratna menolak, tetapi Aurora merasa tidak tega jika Bi Ratna naik kendaraan umum padahal di mansion ada banyak sekali mobil di garasi yang tidak dipakai. Lagi pula Pak Parto juga tidak sedang sibuk. Jadi, pas sekali bukan?
Untuk masalah uang yang Aurora berikan kepada Bi Ratna, itu merupakan uang Aurora pribadi. Keenan sama sekali tidak tahu bahwa Aurora memberikan beberapa lembar uang pribadinya kepada Bi Ratna. Jika pria itu tahu pun, Keenan tidak akan bisa berbuat apa-apa karena uangnya memang sudah menjadi milik Aurora. Jadi, jelas Keenan tidak akan bisa ikut campur.
Setelah menatap kepergian Bi Ratna, Aurora segera masuk kamar. Ia teringat dengan ucapan suaminya, yang memintanya segera kembali ke kamar.
"Lama banget kamu ke kamarnya? Padahal tadi kamu bilangnya cuma mau kasih tahu Bi Ratna aja," omel Keenan dengan wajah datar.
"Ya, emang mau kasih tahu Bi Ratna, tapi Bi Ratna bilang mau pulang kampung sekarang juga. Aku izinin aja, jadi aku antar Bi Ratna sampai depan doang kok," jawab Aurora tanpa rasa bersalah. Padahal di kamar, Keenan dari tadi terus bertanya-tanya kenapa Aurora tidak segera kembali ke kamar. Padahal ia sudah memintanya agar segera kembali ke kamar, jelas saja membuat Keenan risau.
Keenan tidak menjawab apa-apa lagi. Ketika ia hendak mengatakan sesuatu, Aurora lebih dulu memanggil nama suaminya.
"Mas Keenan?"
"Apa?" jawabnya ketus.
"Aku mau ngomong sesuatu sama Mas," ujar Aurora memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ia pikirikan kepada Keenan yang tidak lain adalah suaminya.
"Dari tadi juga kamu udah ngomong, Aurora." Keenan membalas sekenanya sebab yang dari tadi mereka lakukan adalah mengobrol, bukan?
"Mas, aku serius." Keenan lantas menaruh ponselnya dan menatap sang istri yang ingin berbicara padanya. "Kamu mau ngomong apa?"
"Tapi Mas Keenan harus janji, Mas enggak boleh marah. Oke?"
"Saya enggak mau janji." Wajah Aurora langsung berubah kesal mendengar ucapan suaminya, alamat jika salah ngomong ia pasti akan terkena marah. "Kamu mau ngomong, ya ... syukur. Kalo enggak, ya udah. Saya mau istirahat."
Aurora mendengus kesal mendengar ucapan Keenan yang baginya sangat menyebalkan, padahal ia sedang ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Aurora juga tidak habis pikir, dari tadi di kamar kenapa tidak istirahat saat ia mengurusi masalah Bik Ratna tadi. Malah mau istirahat ketika dirinya mau berbicara.
"Jadi bicara enggak, nih?" tanya Keenan sengaja.
Aurora menghela napas, butuh keberanian yang sangat besar saat ingin membicarakan persoalan ini. Karena pembicaraan memang sangat sensitif sekali menurut Aurora.
Dengan cemberut Aurora berkata, "Ya udah, iya- iya. Aku minta maaf kalau yang aku bicarain ini menyangkut masa lalu Mas Keenan."
Mata Keenan memincing. "Maksud kamu?"
"Aku mau tau tentang mantan istri Mas yang udah meninggal. Dia—"
Ucapan Aurora terpotong oleh bentakan Keenan. "Dia masih istri saya, Aurora. Bukan mantan!"
Keenan yang sampai saat ini masih mencintai mendiang Bella, jelas sangat tidak suka bahwa Bella disebut oleh siapa pun sebagai mantan istrinya. Sekalipun Bella sudah pergi sangat jauh meninggalkannya bersama anak-anak dan tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Aurora mulai ketakutan, walau ia merasa salah mengatakan hal itu. Tidak seharusnya Keenan membentaknya sampai seperti itu. Selain ketakutan, gadis itu juga kaget karena bentakannya memang sangatlah keras.
Aurora menghela napas panjang. Setelah berhasil menetralkan hatinya, Aurora mulai berbicara lagi. "Ah, iya. Maksud aku itu, Mas. Maaf."
"Kamu mau tau apa tentang Bella?" tanya Keenan dengan memincingkan mata menatap Aurora. "Saya udah bilang ke kamu masalah ini 'kan? Jangan pernah ikut campur dalam urusan saya apalagi menyangkut Bella. Apa kamu lupa."
Terlihat dari balasan Keenan, pria itu amat tidak suka Aurora membahas Bella dengan dirinya. Karena belum selesai berbicara tentang apa yang ia pikirkan, Aurora terus berbicara pada Keenan. Walau Keenan terlihat sudah tidak ingin lagi berbicara dengannya.
"Aku inget, Mas. Cuma ini perkaranya beda, ini masalah serius. Aku terpaksa ngelakuinnya."
"Apa? Kalau enggak pen—"
Auroralah yang sekarang memotong ucapan Keenan. "Penting, Mas. Soalnya ini menyangkut masalah anaknya Mas Keenan."
"Siapa?" Kini Keenan bertanya dengan nada yang lebih lembut dari tadi, jadi Aurora bisa lebih enak berbicaranya. Tidak seperti tadi, seperti adu suara karena sama-sama keras.
"Calysta, Mas. Hari ini dia sedih banget karena kangen sama Mamanya," jawab Aurora dengan jujur.
"Terus?"
"Dia nangis, Mas. Jadi, aku berusaha tenangin dan tawarin dia buat jenguk Mamanya."
Wajah Keenan yang tadi sudah mulai biasa saja, kini mulai mengeras lagi. "Kenapa kamu tawarin sesuatu yang bahkan kamu sendiri enggak tahu tempatnya? Lain kali jangan selancang itu, Aurora. Saya paling enggak suka sama orang yang kayak gitu," kesal Keenan.
Walau sudah melihat wajah kesal dan marah Keenan, tidak membuat Aurora pasrah. Karena ia melakukan ini semua untuk Calysta, gadis kecil yang sangat ia sayangi.