Sedang direvisi.
Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paman Max Kejadian Tak Terduga
Episode ini ditulis dari sudut pandang Paman Max
___________________&____________________
Setelah mengantar keduanya ke dalam mobil yang segera melaju meninggalkan tempat itu, aku kembali bukan ke rumah tadi tapi aku masuk ke dalam mobil yang kini sudah aku pindahkan dari pinggir lapangan di sana. Aku ingin memastikan apa yang dikatakan orang suruhanku tadi benar adanya. Bahwa ada pergerakan dari orang suruhan Ferdi menuju ke perkampungan tersebut.
Hingga menjelang tengah malam tidak ada apapun yang terjadi? Ke mana mereka sebenarnya pergi? Apa bukan di sini tujuan mereka? Atau jangan-jangan... Aku segera merogoh saku mengambil handphone dan melakukan panggilan pada dua orang yang sedang mengantar mereka berdua.
"Apa yang terjadi?" Aku langsung bertanya tanpa basa basi. Terdengar jawaban dari sana yang sepertinya tidak terjadi apapun di sana.
"Tidak terjadi apapun Tuan, semua berjalan aman. Saat ini kami hampir sampai ke kota dan sebentar lagi akan sampai di rumah Tuan."
Haaaaahhhh... Aku menghela nafas lega mendengar jawaban mereka.
"Ya sudah. Tetaplah berhati-hati. Jaga mereka dan pastikan mereka sampai dengan selamat." Ucapku dibarengi rasa syukur karena apa yang ku pikirkan tidak terjadi.
"Baik Tuan." Ucapnya lalu aku menutup telphone mengakhiri obrolan. Baru saja tanganku meletakkan handphone milikku ke dalam saku jas. Terdengar suara teriakan sangat keras dari arah gang rumah yang tadi ku masuki. Mereka berteriak,
"Kebakaran... Kebakaran... Kebakaran....."
Aku terlonjak kaget. Kebakaran? Tapi apa yang terbakar? Rumah? Rumah siapa?
Aaahhh... Aku semakin terkejut ternyata rumah yang terbakar adalah rumah yang ditempati oleh Nyonya dan Tuan Muda. Jika mereka menunda satu malam saja kepergian mereka, maka sudah dapat dipastikan mereka akan ikut terbakar bersama rumah bambu itu. Asap membumbung tinggi memenuhi langit, api yang berkobar seolah menjulurkan lidahnya menggapai langit.
Seseorang berlari dari sisi gang yang lain, berlari seolah takut akan ada yang mengejarnya. Aku melihatnya, aku melihat orang yang berlari sambil sesekali menoleh ke belakang seolah takut ada yang mengikutinya.
Aku bersembunyi di balik badan mobil, ingin sekali menangkapnya. Setelah cukup dekat, ku letakan kakiku ke depan menghalangi jalan. Di kegelapan seperti ini itu tidak terlihat, apalagi orang yang aku hadang itu tidak berkonsentrasi dalam larinya. Jadilah.
"Bruuuukkkk"
"Uuuggghhhhh"
Orang itu jatuh tersungkur mencium tanah, aku berjalan menghampirinya yang masih tersungkur. Aku lihat tubuhnya yang bergerak hendak bangkit. Ku raih kerah baju belakangnya, ku angkat dan ku banting tubuhnya ke badan mobil. Ku lipat sebelah tangannya ke belakang. Dia meringis.
"Apa kau yang membakar rumah itu? Katakan! Jika tidak aku akan mematahkan leher dan tanganmu ini."
Aku mengancamnya dengan menekankan kedua tanganku semakin menempelkan wajahnya pada badan mobil.
"I-iya a-aku yang membakarnya. Tapi aku hanya suruhan sungguh! Aku disuruh. Iya aku hanya disuruh."
Aku terkejut, suara orang itu tidak asing di telingaku. Sepertinya aku mengenalnya. Tapi tunggu, aku harus tau dulu siapa yang menyuruh orang ini membakar rumah itu.
"Siapa? Siapa yang menyuruhmu? Katakan! Cepat!"
Aku sungguh tidak sabar ingin segera mengetahuinya.
"A-aku. Ti-tidak tau. Siapa mereka. Mereka mendatangiku tiba-tiba menyodorkan segepok uang kepadaku dan memintaku melakukan itu." Ucapnya sambil meringis
"Bagaimana ciri-ciri mereka?"
Aku belum ingin melepaskan tanganku yang mengunci tangannya.
"Le-lepaskan dulu. Akan aku katakan semuanya." Ucapnya memohon.
Tidak. Aku tidak sebodoh itu. Bagaimana jika dia lari setelah aku lepaskan. Atau dia malah menyerang ku sebelum melarikan diri.
"Tidak akan! Sebelum aku mengetahuinya."
Ucapku berbisik di telinganya. Mengintimidasi.
"Jadi. Cepat katakan bagaimana mereka?"
Ku dorong kembali tubuhnya semakin menekan badan mobil.
"Me-mereka semua memakai jas hitam dan kacamata hitam, aku tidak dapat melihat dengan jelas saat mereka mendatangiku. Ku mohon. Lepaskan aku dulu. Aku tidak akan lari."
Ucapnya memohon kembali. Ku balik tubuhnya dan kembali meraih kerah baju bagian depannya. Tapi, tanganku melemas saat melihat wajahnya. Orang yang sangat ku kenali.
"Rio!"
Ucapku menyebut namanya. Dia tak kalah terkejut begitu melihatku dan aku memanggil namanya. Ia menatapku dalam dan,
"Max!"
Katanya ternyata dia masih mengenaliku. Ku lepaskan tanganku dari kerah bajunya dan aku meletakan keduan tanganku di badan mobil. Aku menunduk dan menghela nafas, sahabat masa kecilku saat ini telah berubah. Kenapa dia rela melakukan hal yang tidak manusiawi seperti itu?
"Kenapa kau melakukannya?"
Rio menatapku dengan dahi yang mengkerut. Hhaaahhh... Aku menghela nafas dan mengulangi pertanyaanku
"Kenapa kau mau saja saat orang itu menyuruhmu membakar rumah itu?"
Ku perjelas saja pertanyaanku. Ku lihat dia yang memalingkan wajahnya dariku lalu menatap langit malam yang kelam di sana.
"Aku terpaksa. Anakku harus segera dioperasi, di saat aku bingung mencari biaya untuk itu mereka datang memberikanku sejumlah uang dengan syarat itu. Menurutmu bagaimana aku akan menolak sementara yang ku cari datang dengan sendirinya."
Ucapnya yang telah menoleh kembali menatapku dengan wajah sendu.
"Tetapi itu tentunya uang haram Rio. Bagaimana bisa tubuh anakmu menerima uang haram tersebut? Apa kau tidak berpikir justru itu akan menambahkan penyakit pada tubuhnya."
Ucapku mengingatkannya. Tampak dia berpikir mendengar ucapanku.
"Apa kau tau? Rumah siapa yang kau bakar?"
Tanyaku padanya. Dia hanya diam mendengarkan apa yang akan aku ucapkan selanjutnya.
"Kau hampir saja membunuh orang yang telah berjasa pada kita Rio!"
Ucapku pelan namun menekankan setiap kata yang aku ucapkan. Ku perhatikan dirinya, raut wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Tubuhnya menegang setelah mendengar perkataanku. Rio menoleh menatapku yang juga menatapnya dengan tajam kemudian ia menunduk.
"Aku tidak tau. Sungguh! Jika aku tau itu adalah dia aku tidak mau melakukannya meskipun aku sangat membutuhkan uang itu. Maafkan aku Max! Aku orang yang tidak tau balas budi. Ya Tuhan."
Ucapnya frustasi ia menengadah dan menarik rambutnya ke belakang dan melipat bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Yang aku lihat hanya ada penyesalan dalam matanya.
"Lalu aku harus melakukan apa Max? Aku malu sekali."
Ia menundukkan kepalanya tangannya mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya. Aku berjalan menghampirinya ku tepuk bahunya pelan, ia tetap menundukkan pandangannya.
"Aku ingin kau menyembunyikan fakta bahwa Nyonya dan Tuan Muda hidup. Dan menyebarkannya kepada seluruh lapisan masyarakat agar sampai ke telinga orang yang menyuruhmu."
Ucapku tegas. Ia menoleh menatapku dengan kening berkerut.
"Mereka berdua telah pergi meninggalkan rumah itu beberapa jam sebelum kau membakarnya."
Ucapku menenangkan.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? Aku yang akan menanggung semua biaya pengobatan anakmu. Tapi aku minta satu hal padamu, jangan pernah melakukan kesalahan yang sama. Jangan melakukan sesuatu yang belum kau ketahui kebenarannya. Segera lakukan operasinya. Dan uang yang kau terima dari mereka berikan kepada pemilik rumah sebagai ganti rugi."
Ia berbalik menatapku lalu memelukku, ku balas pelukannya sambil ku tepuk-tepuk punggungnya.
"Terimakasih Max. Terimakasih. Kau adalah orang yang sangat baik."
Setelah kejadian itu tersebar bahwa Nyonya dan keturunan Pratama telah tiada. Mereka ikut terbakar bersama rumah kayu yang terbakar...
baca dari awal begitu bnyk kematian
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
itu namaku🤭🤭
itu namaku🤭🤭
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔