NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Setelah beberapa hari berlalu, masalah si pengirim buket tidak terlalu dipikirkan oleh Adera.

Dia pikir mungkin dari seseorang yang lagi gak ada kerjaan, atau bisa jadi dari Denial yang berusaha untuk membuatnya bahagia.

Hari ini adalah jadwal kontrol Adera, namun gadis itu malas pergi ke rumah sakit. Rasanya ingin sekali mengurung diri di kamar seharian.

Nindy datang memaksanya pergi ke rumah sakit meski sebelumnya harus berdebat dan eker-ekeran sampai urat leher keluar.

"Yuk jalan Der! Jangan keras kepala deh?Lo tau kan kalo gue ini calon kakak ipar Lo, jadi harus nurut sama kakak ipar gitu loh" goda Nindy sambil menyeret tangan Adera.

"Aduh calon kakak ipar ya? gak kuat banget sama perkataannya! Tapi gue malas ah, bosen lihat orang sakit terus," rengek Adera malas.

Kebetulan hari ini juga adalah hari yang sangat penting bagi seluruh staf dan dokter di Rumah Sakit Adisakti. Rapat Tahunan yang biasanya hanya dihadiri oleh para manajemen dan kepala divisi.

Namun, ada kabar yang membuat suasana menjadi sangat tegang dan penuh antisipasi.

Hari ini, Direktur Damar akan hadir secara langsung.

Bahkan kabarnya, untuk pertama kalinya dia akan menampakkan wajah aslinya tanpa penutup. Selama ini dia hanya dikenal sebagai suara di telepon, nama di tanda tangan, atau sosok tinggi dengan masker yang menutupi separuh wajahnya.

Di ruang rapat yang luas dan mewah itu, para dokter senior dan kepala divisi sudah duduk rapat dengan penuh kesopanan.

Denial duduk di salah satu kursi penting, mewakili divisi-nya. Di kursi lain, tidak jauh dari situ, duduk juga Ezra. Wajah Ezra terlihat tegang, tangannya saling bertaut kuat hingga buku jarinya memutih, pikirannya kacau balau.

Dia tahu hari ini Damar akan muncul. Dia ingin melihat, ingin memastikan sendiri, seperti apa rupa pria yang menjadi calon suami Adera itu.

"Tenang saja... mungkin mukanya biasa aja, atau bahkan jelek," bisik Ezra dalam hati, berusaha menenangkan diri tapi gagal total. Jantungnya berdegup tak karuan, penuh rasa cemas dan iri.

Tiba-tiba...

Krieeett...

Pintu utama ruangan terbuka lebar.

Suasana yang tadinya sedikit berisik langsung hening total. Detak jantung saja seolah bisa terdengar. Semua orang spontan berdiri dari tempat duduknya serentak bak pasukan terlatih.

Masuklah seorang pria berjalan di depan.

Tinggi, tegap, dan sangat berwibawa. Dia tidak lagi memakai jas dokter biasa, melainkan setelan jas hitam formal yang sangat rapi dan mahal, membuat penampilannya terlihat seperti CEO besar perusahaan multinasional, bukan sekadar dokter.

Dan yang paling membuat semua orang terpaku diam...

Dia tidak memakai masker.

Wajahnya tampan sempurna bak dewa Yunani yang baru turun ke bumi. Garis rahang yang tegas dan kokoh, hidung mancung sempurna, kulit bersih, dan rambut hitam legam yang disisir rapi ke belakang memperlihatkan dahinya yang luas dan tampan.

Matanya tajam, gelap, dan dingin. Tatapannya menelusuri seluruh ruangan dengan tenang namun mendominasi, seolah mampu membaca isi pikiran setiap orang yang ada di sana. Itu adalah tatapan seorang pemimpin yang lahir untuk memerintah.

Itu Damar Bramana.

"Silakan duduk," ucapnya singkat. Suaranya dalam, berat, dan tenang. Sangat berwibawa hingga merasuk ke dalam tulang.

Semua orang duduk kembali dengan gugup. Napas mereka tertahan, tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.

"Gila... Direktur Damar sekeren ini..." itu yang ada di pikiran semua orang di ruangan itu. Mata mereka tak lepas memandang sosok mempesona di depan.

Denial yang melihatnya pun ikut terbelalak. Dia tahu Damar pasti orang penting, tapi melihat langsung ketampanan dan auranya yang sekuat ini... membuatnya pun ikut merasa segan dan takjub.

"Wah... ini calon ipar gue..." batin Denial bergumam takjub. "Keren abis. Adera beruntung banget dapetin cowok segini levelnya."

Sementara itu...

Ezra yang duduk di sana merasa dunia seakan berputar 360 derajat. Wajahnya pucat pasi kehilangan warna darah.

Tangannya gemetar hebat di bawah meja, dingin menjalar ke seluruh tubuh.

"Itu... itu Damar?!" batin Ezra berteriak panik.

Pria itu bukan hanya tampan dan berkuasa. Postur tubuhnya, garis wajahnya, dan yang paling membuat Ezra nyaris pingsan...

Aura dan wangi parfum mahal yang samar namun maskulin keluar dari tubuh Damar...

Itu adalah aroma yang sama persis yang pernah Adera ceritakan! Aroma yang membuat Adera merasa nyaman dan aman!

Ezra merasa dadanya diremas kuat oleh rasa cemburu dan ketakutan.

Dia membandingkan dirinya dengan Damar.

Dia hanya wakil divisi biasa, sombong, dan sering meremehkan orang.

Sementara Damar... dia adalah pemilik segalanya. Dingin, tenang, sempurna, dan memiliki segalanya termasuk status sebagai calon suami Adera. Perbandingannya jauh banget, seperti bumi dan langit.

"Selamat siang," ucap Damar memulai rapat, berdiri tegak di depan podium dengan tatapan tajam menyapu seluruh hadirin, termasuk menatap lurus ke arah Ezra yang langsung menunduk ketakutan dan tak berani balas menatap.

"Saya Damar. Seperti yang sudah kalian tahu, saya adalah Direktur Utama di sini. Mulai hari ini, saya akan lebih sering turun tangan langsung dalam operasional rumah sakit," jelasnya dengan intonasi datar namun memukau.

Suara Damar terdengar tenang tapi menusuk, membuat siapa saja tak berkutik.

"Dan ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan..." kata Damar berhenti sejenak, menahan napas semua orang.

Damar berhenti sejenak, tangannya memegang tepi podium, lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat Ezra semakin hancur lebur dan merasa kecil hati.

 

Dalam waktu satu jam, rapat dinyatakan selesai. Sebelum Damar pergi meninggalkan ruangan dengan langkah anggunnya, dia melihat sekilas ke arah Ezra dengan tatapan tajam yang penuh arti.

Damar tahu jika Adera selama ini mengejar Ezra dengan gila, namun Ezra sama sekali tidak memperdulikannya.

"Untungnya dia bodoh tidak membalas Adera, tidak perlu repot bersaing atau merebut lagi. Karena dari awal, Adera memang milikku," batin Damar tersenyum miring penuh kemenangan.

 

Malam harinya...

Adera sedang duduk santai di teras rumah memandangi buket bunga pemberian misterius itu, bahkan dia tak sadar menghubungkan bunga itu dengan aroma wangi pria yang pernah ia temui di dalam lift rumah sakit. Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.

Nama Kak Denial tertera jelas di layar.

Adera segera mengangkatnya dengan cepat.

"Halo, Kak..." sapanya.

"Der, kamu lagi apa?" suara Denial terdengar serius tapi terdengar sangat antusias dari seberang sana, seolah ada berita besar yang siap meledak.

"Lagi di teras aja Kak. Kenapa? Kok suaranya serius banget?" tanya Adera bingung, alisnya terangkat menebak-nebak.

"Aku mau ngomong penting sama kamu," suara Denial terdengar berat dan tegas. "Tentang perjodohan kamu sama Dokter Damar itu."

Adera langsung mendengus kesal, matanya memutar malas.

"Ah itu lagi... Kak, aku kan udah bilang, aku gak mau lagi sama dokter-dokter. Trauma tau gak! Aku mau cari yang lain aja yang biasa-biasa aja," tolak Adera tegas, mengingat sakit hatinya dulu.

"Dengerin dulu!!!" potong Denial cepat, tak memberi kesempatan Adera menolak. "Aku cuma mau bilang satu hal sama kamu..."

Denial berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang sangat serius dan menegangkan.

"...kalau kamu berani nolak perjodohan ini, kamu bakal nyesel seumur hidup, Der. Sumpah demi apapun. Nyesel banget sampe nangis darah," kata Denial dengan penekanan kuat.

Adera mengerutkan kening, mulai merasa curiga dan penasaran.

" Dih apaan sih sampe nangis darah, Jangan-jangan kakak sudah bertemu dengannya ya? Terus dia nyogok kakak gitu? Emmm... atau kakak dijanjikan naik jabatan sama dia?" tuduh Adera setengah bercanda.

"Memang sudah bertemu, tapi kita tidak saling ngobrol hanya sebatas memandang saja. Coba kamu lihat pesan dariku sekarang!" perintah Denial. "Foto yang baru aja aku kirim."

Adera pun segera menuruti perkataan dari kakaknya, jari tangannya bergerak cepat membuka chat.

"Ini siapa kak?" tanya Adera penasaran, jantungnya mulai berdebar tidak karuan melihat foto sosok pria tampan berjas hitam yang sangat mempesona.

"Ayo tebak, siapa dia?" tantang Denial, menikmati reaksi adiknya.

"Malah main tebak-tebakan lagi, mana aku tau dia siapa!," keluh Adera.

"Dia Dr. Damar sekaligus Direktur Utama RS Adisakti!" jelas Denial dengan nada bangga.

JLEB!!!

Wajah Adera seketika memerah padam, jantungnya serasa ditonjok keras dari dalam. Tanpa sadar dia langsung mematikan ponselnya karena kaget dan malu.

Adera memandangi foto tersebut bahkan sempat di zoom berkali-kali, matanya tak berkedip menatap setiap detail wajah pria itu.

"Kenapa wajahnya nge-aktor banget sih?! Gantengnya ngalahin oppa Korea!" gerutunya sambil memegangi pipi yang terasa panas. "Oh Tuhan, jangan biarkan aku menjadi bodoh lagi, aku sudah bertobat kok..." ratapnya sambil masih terus memandangi foto Damar tak mau berkedip.

Malam ini Adera tidak bisa tidur sama sekali. Bayangan wajah dingin dan tampan Damar mulai mengganggu pikirannya tanpa ampun.

"Ahh sial! Kenapa jadi kepikiran sih?? Gue sudah tobat ya otak!!" teriaknya dalam hati sambil mengguling-gulingkan badan di kasur. "Tapi... tapi kalo dia mau berusaha ngejar gue sih ya gapapa kali ya... ahhh sial sial sial!!!"

Adera menutup wajahnya dengan bantal, berusaha menahan senyum bodoh yang mulai muncul di bibirnya. Malam ini terasa begitu panjang, dan untuk pertama kalinya, dia tidak sabar menunggu pagi datang.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!