Dayna merasa hidup selalu menyengsarakan dirinya. Ia tak pernah berpikir usai menikah ternyata masalah hidupnya kian dibuat pelik. Ia dijual oleh suaminya sendiri.
Yuga, laki-laki yang hidup di lingkungan dunia malam, pekerjaan haram dan penuh kekerasan. Kini episode hitam yang sama kembali menggilas garis hidup Dayna. Demi melunasi hutang, Yuga menjual Dayna pada Tuan Gaza.
Dayna selalu ingin kabur dari jerat hidup Tuan Gaza, tapi sosok laki-laki di rumah Gaza membuat Dayna tertahan. Dialah Arsen. Dayna menyukainya. Tapi Gaza tak akan pernah membiarkan Dayna menyukai Arsen. Gaza hanya ingin Dayna menyukai dirinya bukan Arsen.
Hingga akhirnya sebuah fakta besar terungkap, membuat Dayna hidup dalam kebimbangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seri Melani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDTD - Chapter 24
"Turunkan aku!" pekik Dayna sambil memukul punggung Gaza dengan kepalan tangannya, setelah sebelum Gaza berhasil meraih tubuh Dayna saat berusaha kabur darinya.
BUGGGHHH ...
Dayna terhempas ke atas ranjang besar mereka berdua. Gaza terkekeh kecil.
Dayna bangkit dan duduk di tengah ranjang dengan raut wajah yang terlihat menantang , mengabaikan rasa pusing yang tiba-tiba menderanya.
Dayna sibuk mengutuk gaun pengantin yang saat ini dikenakannya. Yang membuat ia tidak leluasa memberikan perlawanan kepada Tuan Gaza.
Dayna semangkin panik dibuat pria itu ketika melihatnya mulai melepaskan dasi, rompi dan jasnya lalu melemparkannya ke lantai.
"Tidak! Aku tidak--"
"Kita akan bercinta dengan penuh cinta, sayang!" tegas Gaza dengan kekehan dingin.
Dalam satu kali sentakan semua kancing baju terlepas dan luruh ke lantai.
Gaza, dengan gaya maskulinnya. Memamerkan bentuk dadanya yang bidang, tubuh berotot ditumbuhi bulu-bulu menawan.
Jantung Dayna berdegup kencang. Dadanya sesak oleh hasrat. Dan sial! Pusat dirinya berdenyut mendamba.
"Tak tahu diri, bagaimana pria ini bisa menawanmu, Dayna! Apa dia begitu menggairahkan hingga kau akan menganggap dirimu sendiri sebagai wanita ******!" Dayna mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Gaza mulai melepas sabuknya. Mata Dayna mulai terseret turun menyusuri bulu-bulu yang membentuk garis lurus melintasi perut sampai ke bawah pusar dan menghilang di balik pinggang celana pria itu.
Wajah Dayna seketika memanas.
Gaza tertawa puas kian membuat Dayna cemas. Cemas sekaligus gusar melihat Gaza yang ternyata menawan.
Bunyi berisik terdengar saat gesper itu terhempas ke dasar lantai keramik. Hal itu menyadarkan Dayna tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dayna beringsut dan ingin pergi. Namun terlambat. Gaza naik menangkap dirinya.
"Kau tidak akan bisa kemana-mana nona, malam ini akan menjadi malam kita berdua. "
Krieekk...
Wow dalam satu kali tarikan gaun mahal nan elegan itu langsung sobek.
Dayna menjerit kecil berusaha mempertahankan diri. Tapi percuma mata beriris cokelat di depannya terlihat semangkin gelap karena termakan oleh hasrat.
...ΩΩΩ...
Paginya Dayna terbangun dengan mata sembab akibat menangis. Dayna menyipitkan mata, pupilnya berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.
Sinar matahari pagi berhasil menelusup masuk dibalik tirai dan langsung mengenai matanya, saat mata indah itu pertama kali terbuka.
Dayna terbangun dengan keadaan ruangan yang masih terlihat tamaram, karena tirai yang masih tertutup rapat. Tidak ada siapapun di kamar ini.
Wanita itu terlihat berkali-kali menarik napas sebelum bangun dan masuk ke kamar mandi.
Dilihatnya bayangan dirinya di depan cermin. Nampak seorang wanita dengan mata bengkak, merah juga lingkaran hitam di bawah matanya.
Seharusnya bukan seperti ini banyangan pengantin baru.
Dayna masih mengingat kejadian semalam. Tubuhnya masih terasa lenguh.
Hubungan percintaan semalam? Dayna tidak akan menamai hubungan intim mereka sebagai bercinta.
Tidak ada setitik cinta pun di antara mereka.
Pria gila itu, menggaulinya dengan hasrat menggila tak kenal ampun. Memperlakukan ia sebagai budak gairah.
Dayna berjalan ke arah bathub dan membuka seluruh pakaiannya. Mandi dengan air hangat semoga bisa menghilangkan rasa lelahnya.
Bayangan itu kembali terlintas saat Dayna menutup matanya rapat-rapat. Air matanya luruh, ia menangis dalam diam.
Tiga puluh menit kemudian Dayna sudah selesai mandi dan mendesah lega dalam hati ketika membuka salah satu lemari pakaian yang sepertinya memang disediakan untuknya.
Setelah memilih baju dan merapikan rambut. Tanpa menyentuh sedikitpun kosmetik-kosmetik yang terpajang rapi di meja rias, yang tentunya ia tahu itu sudah disiapkan oleh suruhan Tuan Gaza. Dayna melangkah keluar kamar.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi ketika ia menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Dengan langkah pasti Dayna terus melanjutkan langkahnya.
Di dalam interior rumah begitu unik dan menarik. Beda dengan rumah yang sebelumnya belum pernah ia injak. Tidak terlalu semak di matanya. Lampunya sesuai dengan warna dinding, serasa berada di dunia alam sendiri. Aroma di dalam rumah juga sejuk.
Tidak nampak keberadaan Tuan Gaza di rumah ini, dan hal justru membuat Dayna merasa lega. Ia bisa menyusun strateginya kembali untuk kabur.
Untuk pelariannya kali ini, Dayna terus berpikir.
Bagimana kalau suruhannya menangkapku lagi?
Bagaimana kalau aku dikurung dalam ruang bawah tanah seperti film-film psikopat?
Banyak sekali pertanyaan yang timbul dibenak Dayna. Dan bayangan tentang panasnya permainan semalam membuat Dayna mengutuk pria yang bernama Gaza itu.
Dayna membenci Gaza. Pria itu kejam bahkan sangat menyebalkan.
"Selamat pagi Nyonya Dayna. Perkenalkan saya Lyli kepala pelayan di rumah ini," ujar seorang wanita separuh baya sambil tersenyun ramah.
Sesaat Dayna terkejut, tidak menyangka akan mendapati pelayan mewah seperti ini.
Hm, tentu saja statusnya sekarang adalah Nyonya Gaza Abyakta. Ia akan mendapatkan layanan istimewa di rumah ini.
Dayna membalas senyum pelayan itu.
"Nyonya makanan sudah tersedia di meja makan, tapi jika nyonya ingin saya buatkan makanan sesuai keinginan saya siap untuk memasak kembali."
Dayna melirik makanan yang telah terhidang di atas meja. Lumayan banyak dan sajiannya menarik napsu makan untuk segera menyantap semuanya.
Dayna menelan salivanya dalam-dalam. Saat ini ia memang tengah lapar. Apalagi saat ini Dayna membutuh asupan gizi yang banyak untuk memulihkan kembali energinya yang mulai habis.
"Tidak perlu, biar saya makan makanan yang sudah terhidang di atas meja saja."
"Iya, Nyonya. Semoga nyonya senang tinggal di sini"
Dayna beralih duduk di kursi meja makan yang begitu luas. Meja makan ini bisa diisi oleh 10 orang. Namun, kali ini Dayna duduk sendiri sembari menikmati hamparan makanan yang begitu banyak. Ia bahkan bertanya-tanya apakah orang yang menghuni rumah ini begitu banyak, hingga pelayan rumah membuatkan makanan sebegitu banyak.
Dayna belum memulai makannya, matanya mengekor mencari cari keberadaan pelayan rumah tadi. Sampai ia menemukan Lyli sedang membuat minuman.
"Nyonya, ini minumnya"
"Iya." Dayna meraihnya.
Ketika Lyli hendak berbalik badan Dayna mencegahnya. Ia menatap wanita paruh baya itu. "Saya boleh bertanya sesuatu?"
"Ada apa Nyonya?"
"Apa orang yang tinggal di rumah ini banyak?"
Lyli mengulas senyum. "Tidak Nyonya, di rumah ini hanya ada Nyonya dan Tuan Gaza. Tapi biasanya, ada Nyonya besar juga Tuan Arsen yang juga tinggal di rumah ini."
Ah, pasti Nyonya besar yang dimaksud adalah ibunya Gaza batin Dayna.
"Tuan Arsen itu saudaranya Gaza kan?"
"Iya, Tuan Arsen itu saudara kandung Tuan Gaza. Mereka kembar, Nyonya"
Dayna mengangguk pelan.
"Lalu, kalau hanya ada saya dan Gaza di sini, kenapa makanan yang terhidang begitu banyak di sini?"
"Ini atas permintaan Tuan Gaza, Nyonya. Saya hanya menuruti saja permintaannya. Jika Nyonya ingin menanyakan kenapa saya tidak tahu, Nyonya"
"Oh begitu ya sudah makasih atas infonya, bik"
"Iya, Nyonya sama-sama."
Satu jam kemudian setelah selesai makan.
Dayna berjalan keluar rumah, menghirup udara segar sekaligus mencari peluang siapa tahu ia mempunyai cela untuk bisa keluar dari rumah ini.
Halaman rumah yang begitu luas, bersih dan rapi. Dayna bahkan tidak melihat sedikitpun daun yang jatuh mengenai rumput yang menghijau. Sangat asri.
Rumah begitu besar di bangun di atas tanah yang luas. Desain interiornya benar-benar mirip seperti luar negeri. Berdasarkan info yang Dayna dapatkan bahwa Tuan Gaza memang menyukai bangunan yang unik. Lebih nyaman, katanya.
Selain luas, halamannya seperti lapangan golf. Jika kegiatan di pagi hari Gaza suka melakukan olahraga golf daripada harus keluar, pergi jauh-jauh. Bukan itu saja masih banyak fasilitas olahraga di dalamnya. Segalanya lengkap di rumah besar ini.
Dayna merentangkan kedua tangannya, melenturkan otot-otot pergelangan tangan dan kaki.
Dari kejauhan di depan pintu gerbang Dayna bisa nelihat beberapa pengawal tampak berjaga-jaga dan sebagian terlihat meronda kesana kemari.
Memang tidak ada peluang untuk bisa keluar dari rumah ini. Pilihannya dia akan mendekam selama 6 bulan lamanya dalam rumah megah bak istana ini. Meski begitu, di dalam rumah ini sangat panas dan menyiksa batin Dayna.
Menjadi wanita pelunas hutang dan pemuas napsu birahi lelaki jahanam itu adalah mimpi terburuk dalam hidup seorang wanita, termasuk Dayna.
...----------------...
wanita bodoh di jual ama laki kabur balik lagi kelaki nya
ogah baca nya 🙏🙏🙏
sekali up ngulang 😔😔