Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
“Belum, nyonya,” ucap pria berjas itu. Ada raut wajah menyesal terlihat jelas di wajahnya.
“Cepat cari dan selidiki semua gadis perempuan umur 24 tahun dengan tanda titik hitam tiga di belakang telinganya,” ucap Linda penuh harapan.
“Baik, nyonya,” jawab pria berjas hitam itu. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Lisa dan Adam.
“Anakku, Lena...” gumam Linda lirih. “Akhirnya ada kabar juga darimu, Nak. Bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik-baik saja.” Mata Linda berkaca-kaca menahan air mata yang hampir jatuh.
“20 tahun tidak ada kabar, sekarang ada setitik kabar. Anak kita pasti baik-baik saja,” kata Adam sambil melihat foto usang putrinya yang hilang 20 tahun lalu.
Malam itu, harapan yang selama ini terasa gelap perlahan mulai menemukan titik terang. Setelah puluhan tahun mencari tanpa hasil, akhirnya mereka mendapatkan sebuah petunjuk kecil yang membuat hati mereka kembali memiliki keyakinan.
...
Sementara itu, Kayla sekarang sudah tinggal sepenuhnya di rumah mewah Adrian. Setelah mandi, dia memakai baju tidur putih. Bagian atas pakaian itu sedikit terbuka dan terlihat transparan.
Kayla berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Di belakangnya juga terdapat cermin lain yang memperlihatkan bagian belakang tubuhnya.
Dia mengeringkan rambut, lalu menyingkap rambut panjangnya ke samping. Saat itulah terlihat jelas tiga titik hitam yang berada di belakang telinganya.
“Adrian beberapa kali membelaku,” gumam Kayla pelan sambil tersenyum sendiri.
“Sekarang aku sudah menjadi istrinya. Seharusnya aku melayaninya malam ini,” gumam Kayla sambil menggigit bibirnya sendiri.
Lelaki yang dulu pernah dia anggap sebagai gigolo ternyata seorang CEO kaya raya. Sekarang pria itu bahkan sudah menjadi suaminya.
“Haruskah aku melakukannya lagi malam ini?” gumam Kayla sambil memejamkan mata. “Tapi apakah aku yakin dengan perasaanku sendiri? Bagaimana kalau dia membelaku hanya untuk menjaga harga dirinya?”
Kayla terus tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia perlahan membuka jubah tipis berwarna putih yang dikenakannya, lalu menatap dirinya di depan cermin.
“Aku sudah menjadi istrinya. Kata orang pintar, istri adalah milik suami,” ucap Kayla pelan.
Namun, jauh di dalam hatinya, masih ada keraguan yang belum hilang. Dia tidak ingin memberikan sesuatu hanya karena merasa memiliki kewajiban. Dia ingin memastikan bahwa perasaannya benar-benar tulus.
...
Sementara itu, di ruang makan, Maharani dan Adrian sedang duduk menikmati hidangan makan malam yang sudah disiapkan.
“Adrian, suruh Kayla turun. Dia harus makan banyak. Dia mengandung bayi kembar, harus banyak asupan makanan supaya bayinya sehat,” ucap Maharani sambil merapikan beberapa hidangan yang menurutnya kurang rapi.
“Baiklah, Nek,” jawab Adrian.
Setelah itu, Adrian berdiri dan naik ke lantai atas menuju kamar mereka.
Sesampainya di depan pintu, Adrian langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Namun, begitu pintu terbuka...
“Arghhhhh!” teriak Kayla kaget karena bagian atas tubuhnya belum tertutup sempurna.
“Kamu enggak boleh lihat! Enggak boleh lihat!” ucap Kayla buru-buru.
“Iya, iya, aku enggak lihat,” jawab Adrian sambil membalikkan badan dan memejamkan mata.
“Kamu jangan lihat dulu,” kata Kayla cepat sambil memakai kembali jubah tipisnya.
“Kalian kenapa berisik sekali?” teriak Maharani dari bawah.
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Adrian yang refleks mendengar suara itu langsung membalikkan badan dan memeluk Kayla.
Kayla yang sedang memakai jubah langsung terkejut karena dipeluk tiba-tiba oleh Adrian.
“Kalian kenapa beri—” perkataan Maharani terpotong ketika dia melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat.
“Kalian ini dasar pengantin baru, tidak tahu aturan, ya? Ini masih sore, kenapa melakukan itu?” ucap Maharani sambil menahan tawa.
Namun, tiba-tiba wajah Maharani berubah cemberut.
“Adrian, Adrian, kamu ini bagaimana sih? Kehamilan Kayla belum tiga bulan lebih. Kamu nakal, ya? Kamu enggak boleh melakukannya. Yang sabar, ya. Dasar anak nakal,” ucap Maharani.
Setelah itu, Maharani cepat-cepat turun.
“Kalian turun. Nenek tunggu di bawah untuk makan malam,” teriaknya.
“Le... lepasin,” bisik Kayla yang masih berada dalam pelukan Adrian.
“Ma... maaf,” ucap Adrian pelan. Dia buru-buru melepaskan pelukannya. “Tadi aku refleks, enggak sengaja.”
“Kamu ceroboh sekali,” ucap Kayla sambil merapikan bajunya.
“Ka... kamu cantik sekali, Kay,” ucap Adrian pelan. “Apa kita akan mengulanginya lagi?”
“Maaf, aku belum siap,” kata Kayla pelan.
Sebenarnya Kayla merasa menyesal mengatakan hal itu. Namun, dia masih membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri.
“Oke... oke, baiklah. Aku enggak akan maksa,” kata Adrian.
Entah kenapa tubuh Adrian terasa panas dan tenggorokannya terasa kering. Dia mencoba mengendalikan dirinya sendiri.
“Mari makan malam,” ajaknya sambil tersenyum kecil.
Adrian dan Kayla turun bersama dengan perasaan canggung. Aneh rasanya, mereka merasa gugup padahal mereka sudah pernah melewati malam pertama, meskipun saat itu terjadi tanpa sengaja.
Kayla duduk berdampingan dengan Adrian di meja makan. Suasana di antara mereka terasa sedikit kaku, membuat Kayla beberapa kali menunduk karena malu.
“Kayla, makan ini,” ucap Maharani sambil mengambilkan udang goreng untuk Kayla.
“Iya, Kayla. Kamu harus makan ini,” kata Adrian sambil ikut mengambilkan sup jamur hitam ke dalam mangkuk Kayla.
“Terima kasih, terima kasih,” ucap Kayla pelan dengan wajah sedikit malu.
“Jangan sungkan, Kayla. Kita ini keluarga. Kamu sedang mengandung, jadi harus banyak makan supaya bayi kamu sehat,” kata Maharani dengan lembut.
Ucapan itu membuat hati Kayla tersentuh. Selama ini, dia tidak pernah merasakan perlakuan hangat seperti itu dari keluarga yang membesarkannya. Dia selalu merasa sendirian dan harus berjuang sendiri menghadapi semuanya.
“Kayla, ke depan sebaiknya kamu mandi bersama Adrian,” ucap Maharani tiba-tiba.
“Uhuk!” Kayla langsung tersedak karena kaget mendengar ucapan itu.
“Pelan-pelan makannya, Nak,” kata Maharani sambil memberikan air minum kepada Kayla.
“Kamu sedang hamil. Lantai kamar mandi itu licin. Ke depan kalau kamu mandi, harus bersama Adrian supaya Adrian bisa menjaga keselamatan kamu,” lanjut Maharani.
Kayla langsung merasa kikuk. Walaupun dia dan Adrian pernah melakukan hal itu bersama, tetapi saat itu kondisinya berbeda. Dia masih merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
“Adrian, kamu harus mau mengantar mandi Kayla. Kamu harus menjadi suami yang baik,” kata Maharani.
“Tentu saja aku mau, Nek,” jawab Adrian dengan penuh semangat.
“Argh,” Adrian tiba-tiba merasakan sedikit nyeri karena Kayla mencubit pinggangnya.
“Kamu apaan sih,” bisik Kayla pelan.
“Enggak usah malu-malu, Kayla. Dia suami kamu,” kata Maharani sambil tersenyum melihat mereka berdua.
“Iya, Nek. Mari makan. Katanya aku harus makan banyak,” ucap Kayla dengan wajah memerah menahan malu.
Makan malam berlangsung hangat. Maharani banyak bercerita tentang masa lalu bersama suaminya. Dia menceritakan bagaimana dulu suaminya sering bersikap romantis dan selalu membuatnya merasa dicintai.
Setelah makan malam selesai, Kayla dan Adrian masuk kembali ke kamar mereka.
“A... aku tidur di sofa saja,” kata Kayla sambil mengambil bantal.
“Kenapa tidur di sofa? Kenapa tidak tidur bersama saja?” tanya Adrian sambil menatap Kayla penuh harap.
“A... aku gugup. Aku belum siap,” jawab Kayla malu-malu sambil berjalan menuju sofa.
“Aku saja yang tidur di sofa. Kamu tidur di kasur,” kata Adrian.
“Ini kamar kamu, jadi aku yang tidur di sofa,” jawab Kayla pelan.
“Ini kamar kita, Kayla. Di sini kita akan membuat peradaban,” ucap Adrian bercanda sambil mengambil bantal lalu berbaring di sofa. “Tidurlah, sudah malam.”
“Baiklah,” jawab Kayla.
Kayla merebahkan diri di kasur dengan perasaan yang tidak karuan.
“Aku benar-benar bukan istri yang baik,” gumamnya pelan sambil mengintip Adrian yang sudah memejamkan mata. Tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus dari Adrian.
Kayla akhirnya ikut memejamkan mata dan tertidur.
Waktu berlalu dengan cepat. Pagi pun tiba.
Adrian membuka mata perlahan. Dadanya terasa sedikit sesak karena ada beban di atas tubuhnya. Ketika matanya terbuka sepenuhnya, dia terkejut melihat Kayla sudah berada di atas tubuhnya sambil tertidur.
Adrian ingin menyentuh pundak Kayla, tetapi Kayla bergerak pelan dan tanpa sadar menyandarkan wajahnya di dada Adrian.
“Arghhh!” tiba-tiba Kayla berteriak.
“Kenapa kamu mesum dan pindah ke kasur?” ucap Kayla kesal.
Adrian terkejut, lalu tersenyum kecil.
“Kayla, buka mata kamu. Lihat sekarang kamu berada di mana,” kata Adrian.
Kayla mengedarkan pandangannya. Beberapa detik kemudian, dia langsung terlonjak kaget.
“Hah? Kenapa aku jadi tidur di sofa?” ucap Kayla bingung.
Kayla langsung merutuki dirinya sendiri. Dia memang memiliki kebiasaan berjalan dan berpindah tempat saat tidur tanpa sadar. Namun, kali ini dia malah berpindah ke tempat tidur Adrian.
Kayla menutup wajahnya karena malu.
“Aku jadi malu,” gumamnya.
Adrian tersenyum lalu menarik Kayla lebih dekat.
“Dadaku lebih nyaman daripada kasur, kan?” bisik Adrian.
Mendengar itu, Kayla semakin gelisah dan tidak tahu harus menjawab apa.