NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:156.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Hari demi hari berganti, Lingga tidak mengomentari Jenaka kembali memakai pakaian lamanya, baju tidur yang sopan. Lingga hanya diam saja, namun Jenaka selalu bisa merasakan tatapan pria itu terus mengamatinya ketika mereka bersama.

Selama sesi terapi, Jenaka selalu menyentuh Lingga, dan lambat laun Jenaka mulai terbiasa jika jemari Lingga memegang kakinya saat ia memijat pria itu, dan betapa sering tubuh mereka bergesekan ketika sesi berenang, hingga ia tak pernah meras mual jika di dekat Lingga.

Dalam waktu lebih cepat dari prediksi Jenaka, Lingga bisa berdiri sendiri tanpa bantuan tangan. Mula-mula tubuhnya limbung sesaat, tapi kakinya tidak goyah dan dia berhasil mempertahankan keseimbangan.

Lingga berlatih lebih keras dari semua pasien yang pernah Jenaka tangani, Lingga memiliki tekad yang besar untuk mengakhiri ketergantungannya pada kursi roda. Namun di sisi lain setiap malam, Lingga harus membayar kegigihan tekadnya dengan mengalami kram menyiksa, meski demikian Lingga sama sekali tidak melonggarkan target yang dia tetapkan untuk dirinya.

Jenaka tidak lagi mengatur sesi terapi Lingga, sekarang Lingga sendiri lah yang memaksa dirinya untuk berlatih. Sekarang Jenaka hanya bisa mencoba mencegah Lingga berlatih terlalu keras sehingga mencederai dirinya, dan membantu melenturkan otot-otot Lingga pada sesi akhir latihan dengan pijatan dan sesi latihan di kolam renang.

Tidak lama lagi program terapi akan berakhir, dan Jenaka akan melanjutkan menangani pasien lain. Lingga sekarang pria yang seratus persen berbeda dari yang pertama kali Jenaka lihat hampir lima bulan lalu.

Sekarang tubuh Lingga sekeras batu, kulitnya secokelat kayu jati, di tubuhnya merekah otot-otot. Berat tubuh Lingga kembali seperti dulu, bahkan mungkin lebih besar, tapi semuanya berupa otot, dan pria itu sebugar atlet profesional.

Dan itu tentunya membuat Jenaka sangat bangga, bahkan ada perasaan memiliki Lingga. Selain itu, ada emosi lain, sesuatu yang membuat Jenaka merasa hangat , Jenaka merasa lebih hidup dari sebelum ia mengenal Lingga.

Jenaka bisa membiarkan pria itu menyentuhnya, dan ia merasakan kedekatan dengan Lingga lebih dari sekedar pasien dan terapis. Ia mengenal pria itu, mengenal kesombongannya, mengenal sifat suka menantang bahaya dan menerima tantangan apa pun sambil tertawa-tawa. Ia mengenal kecerdasan Lingga yang tajam dan selalu bergerak cepat, semburan temperamennya, juga kelembutannya. Ia mengenal cara Lingga mencecap, kekuatan bibirnya, serta tekstur rambut dan kulitnya yang lembut.

Lingga menjadi bagian dari hidup Jenaka sehingga, saat Jenaka mengizinkan dirinya memikirkan masa akhir terapi Lingga, Jenaka ketakutan sendiri. Dari hari ke hari Lingga makin tidak membutuhkannya.

Suatu hari nanti, atau tak lama lagi, Lingga akan kembali ke kantornya dan di saat itu Jenaka pun akan pergi. Untuk pertama kalinya, Jenaka merasakan sakit saat berpikir akan pindah ke pasien lain.

Jenaka menyukai hari-hari yang ia habiskan di kolam bersama Lingga, tertawa bersama, latihan berjam-jam, bahkan keringat dan air mata, semua itu menempa sebentuk ikatan yang membuat Lingga tersangkut di hidup Jenaka dengan cara yang menurut Jenaka sangat indah.

Tidak mudah baginya untuk mengakui bahwa ia mencintai Lingga, tapi bayangan kesakitan di masa lalu terus menghantuinya hingga akhirnya ia harus mengubur perasaan itu. Terlebih melihat Lingga yang begitu hidup, begitu maskulin, dan dia membutuhkan wanita yang sepadan dalam segala hal.

Bukan wanita sepertinya yang hanya seorang janda dan tidak mampu memuaskan Lingga. Terlebih Lingga adalah tipe pria pemuja Fisik, itu bagian dari sifat lamanya.

Jenaka tidak ingin membebani Lingga dengan belitan perasaannya, ia takkan membuat Lingga merasa bersalah karena Jenaka akhirnya jatuh cinta padanya. Meski perasaan itu seakan membunuhnya, meski perasaan itu seakan mencabik hatinya, ia akan menjaga hubungan mereka tetap stabil, membimbing Lingga menjalani minggu-minggu terakhir terapinya, merayakan bersama pria itu ketika akhirnya dia berhasil mengayunkan langkah pertama,yang terpenting dari semuanya, pergi diam-diam.

Jenaka sudah bertahun-tahun melakoni pekerjaan ini, ia mencurahkan semua perhatiannya untuk pasiennya. Tapi tidak sebesar ia mencurahkan segalanya untuk Lingga. Dan Lingga tidak tahu itu. Jenaka akan mengucapkan selamat tinggal sambil tersenyum, angkat kaki dari rumahnya, dan Lingga akan kembali menjalani kehidupannya. Mungkin kelak, sesekali dia teringat wanita yang pernah menjadi terapisnya, tapi mungkin juga TIDAK.

Mata Jenaka seperti kamera, dengan rakus menjepret tiap moment kebersamaannya dengan Lingga dan mengukir sketsa permanen di otaknya, di mimpinya, di setiap langkah kehidupannya.

Hingga suatu pagi ketika Jenaka memasuki kamar Lingga, ia menemukan pria itu telentang sambil menatap kakinya sendiri penuh konsentrasi. “Lihat,” erang Lingga. Butiran keringat muncul di wajah Lingga, tangannya mengepal… dan jemari kakinya bergerak.

Lingga melemparkan senyum kemenangan kepada Jenaka, dan otak dalam benak wanita itu kembali mengabadikan satu kenangan lagi.

Dan di suatu malam Lingga menyuguhi Jenaka dengan wajah cemberutnya karena Jenaka berhasil mengalahkannya dalam pertandingan catur yang berlangsung cukup sengit. Di situ Lingga menunjukkan kemarahan yang sama besarnya seperti saat Lingga tahu jika ternyata Jenaka juga melakukan latihan angkat beban. Entah sedang kesal atau tertawa, Lingga adalah makhluk terindah yang pernah memasuki kehidupan Jenaka, dan ia terus mengamati Lingga.

Jenaka begitu terhanyut menyadari dirinya jatuh cinta, dan menyesali apa yang di inginkannya tak akan mungkin bisa terwujud.

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!