Bertemu lagi dengan Dyta, Farel dan Agrif. Hasya Dyra dan lain-lainya di Fersi remaja
Di jodohkan? Sepertinya keturunan Alvina akan kembali di jodohkan
Follow IG author ya.
@chitanda_nnd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putri Sarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ziya muncul
''Iya, Sya. Kak Zhar sama kak Riki bakalan wakili sekolah kita ikut pertandingan Olimpiade setiap tahunya,'' ucap Dyra, menjelaskan kepada Hasya.
Hasya mengangguk. ''Kok kamu bisa tau, Ra. Kita aja sekolah di sini belum ada setahun,'' ucap Hasya membuat Dyra tersenyum.
''Gue selalu cari tau tentang cogan,'' balas Dyra membuat Hasya tertawa, membuat Zhar semakin jatuh cinta dengan Hasya.
Tidak salah lagi, dia memaksa gadis itu untuk menjadi pacarnya. Mengingat kejadian di parkiran sekolah tadi, membuat Zhar mengepalkan tanganya.
Dia ingin sekali memberikan pelajaran kepada Farel tadinya, karna dia sudah berani mencium pipih Hasya di depan matanya.
Andai saja Zhar tidak menjaga reputasinya sebagai murid teladan juga pintar, sudah pasti dia sudah adu jotos dengan Farel sepeti waktu itu dirinya dengan Riki.
Tahun ini, Zhar kembali bersama dengan Riki mengikuti Olimpiade mewakili sekolah, sebagai murid terbaik dan terpintar di sekolah ini.
''Oiya, Kak, kakak cuman berdua sama kak Riki wakili sekolah buat Olimpiade?'' tanya Dyra, seraya menutup bukunya.
Jarang-jarang loh dia punya kesempatan ngobrol dengan Zhar.
Zhar mengalihkan pandanganya dari Hasya, lalu menatap diri sebentar. ''Ada tambahan,'' jawab Zhar.
''Siapa?'' tanya Dyra penasaran, dia juga penasaran siapa tambahan diantara Zhar dan Riki mengikuti Olimpiade tahun ini.
‘’Murid baru itu, kalau nggak salah mamanya, Lion,'' jawab Zhar, membuat Dyra membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan Zhar.
''Kak Lion yang pas hari main basket sama Raka?'' tanya Dyra memastikan.
''Iya, Raka pacar lo,'' ucap Zhar membuat Dyra memasang wajah cemberut saat Zhar mengatakan Raka pacarnya.
Entahlah. Sejak kapan berita ini sudah tersebar luas di sekolahnya. Jika dirinya berpacaran dengan sosok Raka yang tidak pernah masuk dalam Listnya.
‘’Nggak usah sebut pacar gue lah, kak,'' ucap Dyra membuat Hasya angkat bicara.
‘’Nggak boleh gitu, kamu harus akui kak Raka sebagai pacar kamu, Ra. Aku yakin, kak Raka bakalan beda dari mantan-mantan kamu,'' ucap Hasya, sehingga Dyra melirik sepupunya itu.
''Beda gimana sih, Sya. Gue nggak pernah masukin nama kak Raka dalam List gue,'' ujar Dyra dengan lesuh.
''Mungkin kak Raka nggak masuk List kamu, tapi siapa tau aja kak Raka jodoh kamu,'' balas Hasya membuat Dyra mengekspresikan wajahnya dengan datar.
''Sya,'' panggil Zhar.
Sebenarnya Hasya takut dengan Zhar, karna cowok itu pemaksa menurut Hasya. Namun dia urungkan rasa takutnya itu, karna Zhar nggak akan macam-macam karna ini perpustakaan, ada ibu guru dan para murid-murid sedang membaca.
''Kalau di panggil itu jawab, Sya,'' tegur Dyra seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hasya.
Benar-benar sih, Hasya. Ngikuti lemotnya tante Rara.
''Kenapa?'' jawab gadis itu.
''Jadi pacar gue.''
Zhar langsung mengucapkan kata inti, membuat Dyra melototkan matanya sementara Hasya mengigit bibirnya.
Ini kesekian kalinya Zhar menembak dirinya, ditambah di depan sepupunya cowok tampan itu menembaknya.
''Aku nggak bisa,'' jawab Hasya. ''Aku nggak mau pacaran,'' lanjut Hasya, dia masih menolak Zhar dengan alasan yang sama.
Dyra menyenggol lengan hasya, sehingga gadis itu menatapnya.
''Terima, Sya. Bukan di tolak,'' bisik Dyra, membuat Hasya menggelengkan kepalanya.
''Aku mau fokus sekolah dulu,'' ucap hasya.
''Aku harap, kak Zhar berhenti sampai di sini ngejar aku. Karna jawaban aku masih sama,'' lanjut gadis itu.
Dyra tersenyum kecut, rupanya Hasya masih tetap pada pendiriannya. Apa gadis itu tidak ingin merasakan punya pacar? Apa gadis itu tidak ingin merasakan chatingan dengan pacar, di ingatkan makan, di berikan perhatikan, di berikan hadiah dan juga jalan-jalan, dan tentunya sebagai tukang antar kemanapun kita ingin pergi.
''Sampai kapan lo nggak mau pacaran?'' tanya Zhar membuat Hasya nampak berpikir.
''Sampai aku lulus sekolah,'' jawab Hasya dengan yakin.
''Jadi....Lo mau pacaran kalau udah lulus sekolah?'' tanya Zhar memastikan.
‘’Rupanya ada yang bakalan menunggu, terus gimana nasibnya kak Riki?'' gumam Dyra yang hanya dirinya saja yang mendengarkanya.
Hasya kembali berpikir, dia menggeleng membuat Zhar tersenyum tipis. Hasya itu seperti anak kecil, hanya orang tertentu saja tahu.
''Aku tetap nggak mau pacaran, meskipun udah lulus sekolah,'' ucap Hasya membuat Dyra menepuk jidatnya.
Barusan Hasya mengatakan sampai SMA, sekarang gadis itu berucap lain lagi. Untung saja Dyra sudah terbiasa dengan kelemotan milik Hasya sejak kecil.
''Aku mau, setelah aku lulus SMA, aku bakalan lanjut kuliah di luar negri, ikutin jejak ayah aku. Dia kuliah di luar negri. Nanti, kalau aku udah pulang sisa nungguin cowok lamar aku, tanpa pacaran,'' ucap gadis itu panjang kali lebar.
Dyra sampai cengok mendengar jawaban Hasya yang luar biasa, ternyata pikiran gadis itu sangat luas.
Sementara dirinya? Dyra hanya berpikir, lulus sekolah dia akan menyuruh sang pujaannya akan melamar dirinya.
‘’Pikiran lo berkelas juga ya, Sya,'' ucap Dyra.
''Gue bakalan ubah pikiran lo itu, agar kita pacaran. Kalau nantinya nggak bisa, gue bakalan tunggu lo, Sya. Tapi bukan berarti gue nggak dekat sama lo.'' Zhar beranjak dari kursinya. ‘’Gue bakalan tetap paksa lo buat jadi pacar gue, sampai lo bosan di ganggu sama gue dan memutuskan untuk pacaran sama gue.''
Lepas itu, Zhar pergi dari hadapan Hasya dan Dyra.
''Omg, ucapan kak Zhar bikin gue melayang,'' gumam Dyra memandang punggung Zhar yang sudah menjauh.
***
Lion memegang pagar pembatas, saat ini cowok bermata tajam wajah dingin itu, menatap kedepan, dengan menggenggam erat pagar pembatas roftop.
‘’Kenapa harus sahabat masa kecil gue?''
Lion memejamkan matanya, membiarkan angin roftop menyapu wajahnya.
Cowok itu berjalan meninggalkan roftop, dia akan kembali ke kelas. Tidak lama lagi bel pulang akan bunyi.
Saat ingin ke kelas, Lion tidak sengaja melihat Dyta nampak melamun di dalam kelasnya, gadis itu duduk di dekat pintu kelas, sehingga Lion bisa melihat gadis itu nampak melamun.
Lion melanjutkan langkah kakinya, dia melewati kelas Dyta tanpa Dyta lihat, karna gadis itu sedang melamun.
Setelah mengambil tasnya, bel pulang sekolah berbunyi.
Lion ke parkiran untuk segera pergi dari sini, dia melajukan motornya meninggalkan pekarangan sekolah.
Di sepanjang perjalanan, cowok itu memikirkan banyak hal mengenai masa penderitaan yang sudah beberapa tahun dia lewati.
Dia tidak tau, apa tujuan hidupnya saat ini. Karna sibuk dengan pikiranya cowok itu hampir saja menabrak seorang gadis cantik yang sedang ingin menyeberang.
Lion menghentikan motornya, sehingga gadis yang hampir dia tabrak itu menghampiri dirinya.
''Kalau bawa motor itu pelan-pelan. You tidak lihat, lampu merah,'' tunjuk gadis cantik itu kearah lampu lalu lintas berwana merah.
''You Understand?'' lanjut gadis blasteran itu, karna Lion hanya diam.
Lion menatap gadis itu, gadis blasteran di hadapanya sungguh sangat cantik.
Dia menggunakan rok diatas lutut berwana putih dengan menggunakan tank top knit rajut.
''Non Ziya!'' panggil seseroang, membuat gadis blasteran itu membalikkan tubunya.
''I coming!''