Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngambek
Senja sudah meminta untuk pulang sendiri saja, tidak perlu mengantarnya. Namun, Edward tetap memaksa ingin mengantar gadis itu.
"Tidak perlu balas budi kepadaku karena aku sudah menyelamatkan nyawamu. Aku ikhlas," ucap Senja mengulum senyum. Dia akan dengan senang hati memprovokasi Edward hingga pria itu merasa terpojokkan.
"Ini bukan masalah hutang budi tapi dalam keluargaku mengajarkan bahwa seorang pria harus bisa melindungi wanita, terlebih karena kau sudah berusaha menyelamatkan Leon. Kalau aku tidak melihatmu mengejar mobil van putih itu, aku tidak akan tahu bahwa Leon sudah diculik," ucapnya mencari alibi.
"Bagaimana dengan Susan, apakah kau sudah memberitahukan dia mengenai Leon yang baik-baik saja?" tanya Senja yang masih salah tingkah setiap pria itu memperhatikannya.
"Aku sudah minta Tomi untuk menenangkan Susan, lagi pula aku juga sudah bicara kepadanya menjelaskan bahwa Leon saat ini aman berada bersamaku."
Sisa perjalanan menuju mess, keduanya mengheningkan cipta, tidak ada satupun diantara mereka yang mau membuka topik pembicaraan.
Sebenarnya isi kepala Edward penuh akan hal yang dia ingin ceritakan kepada gadis itu. Ada perasaan yang timbul, dia ingin mengajak gadis itu untuk makan malam sebagai balasan ucapan terima kasihnya karena sudah menyelamatkan nyawanya, tapi lidahnya keluh. Dia tidak tahu merangkai kata untuk mengungkapkan kepada Senja, terlebih gadis itu sedikit gila, mempunyai hobi memojokkan dirinya, mempermalukannya dengan membalikkan kata-katanya sendiri.
"Sudah sampai, terima kasih karena sudah mengantarku," ucap Senja membuka sabuk pengamannya.
"Tunggu," ujar Edward menahan tangan garis itu yang berusaha membuka pintu mobil. Kembali menoleh kepadanya, menebak apa yang akan pria itu katakan padanya, tapi dia tidak punya ide sama sekali.
"Aku sudah mengantarmu pulang tengah malam begini, terlebih dalam keadaanku yang tidak sehat, maka kau punya hutang kepadaku," ucapnya, lagi-lagi Edward mengumpat kebodohannya, kenapa harus kalimat itu yang keluar.
Senja mengerutkan kening, mengapa jadi dia yang berhutang budi kepada pria itu? Dia tidak meminta untuk diantar, lagi pula bukankah dia yang menyelamatkan nyawa pria itu dan juga keponakannya, mengapa keadaannya jadi berbalik?
Senja malas berdebat, dia sudah lelah dan mengantuk. Dia ingin segera kembali ke mess dan mandi lalu tidur dan besok bangun siang, terlebih karena besok adalah hari Minggu tidak ada keharusan mahasiswa koas berada di rumah sakit.
"Baiklah, apa yang harus kulakukan untuk membalas jasa-jasamu yang begitu besar dalam hidupku ini?" ucap Senja dengan kalimat sarkasnya.
"Aku ingin kau traktir makan siang besok," ucap Edward, tanpa menoleh ke arah Senja. Dia tidak ingin warna merah di pipinya terlihat oleh gadis itu yang semakin membuat Senja memiliki bahan untuk mengolok-oloknya.
"Aku harus mentraktirmu makan siang? Apa kau tidak punya uang untuk makan?" Senja membuka tas dan mengambil dompetnya, ingin mengambil beberapa lembar uang merah untuk dia berikan kepada Edward, hal itu tentu saja membuat pria itu berang.
"Kau pikir aku tidak sanggup untuk beli makan? Apa kau tidak pernah diajarkan etika oleh keluargamu untuk membalas kebaikan orang dengan kebaikan lain? Sudahlah, kalau kau tidak mau mentraktirku, keluar dari mobilku! Aku tidak mengharapkannya," ucap pria itu ketus kali ini dia benar-benar marah.
Senja tidak peka atau memang sengaja memprovokasi Edward, tapi hal itu membuat pria itu tersinggung, tidak mungkin ada wanita sebodoh itu! Kalimatnya jelas sedang mengajak gadis itu untuk berkencan, walau dengan kalimat samar. Tapi yang terjadi Senja malah membalasnya dengan sikap yang menyakitkan dan menurut Edward sedikit menghina dirinya.
Senja mengamati mobil itu pergi dengan sekali gas, meluncur hingga tidak terlihat lagi. Senja menebak pengemudinya pasti marah dan itu semua karena sikapnya.
"Ini aku salah apa? Dia minta untuk ditraktir makan, dan aku memberinya uang. Bukankah apa yang kau lakukan sudah tepat?" ucapnya bermonolog di tengah keheningan malam.
Senja tidak mau memikirkan lebih lanjut, kepalanya sudah mumet dan matanya sudah mengantuk. Buru-buru dia masuk ke dalam mess dan memutuskan untuk tidur, melupakan semua kejadian yang berat hari ini.
***
Pagi harinya saat bangun, Senja sudah ditinggal sendiri oleh Tina dan juga Rina. Kedua teman sekamarnya itu sudah pergi entah ke mana.
Senja memutuskan untuk mandi, perutnya sudah lapar minta diisi. Namun, seketika dia melihat titik yang ada di tangannya, berkurang lagi dua dia menebak itu adalah amal karena dia sudah menolong Leon sekaligus Edward.
Satu senyum indah melengkung di bibir Senja, tidak lama lagi dia pasti bisa kembali ke dunia nyata. Namun, terselip satu keraguan di hatinya kalau dia nanti kembali, apakah dia bisa sebahagia ini? Senja baru menyadari bahwa hidupnya yang tampak sempurna di dunia nyata, memiliki segalanya ternyata terasa hampa dan kosong.
Dinda dan Satria yang selalu ada bersamanya, secara perlahan Senja sadari bahwa mereka melakukan itu hanya demi menyenangkan dirinya. Tidak ada satupun yang berani menegur dirinya seperti apa yang sudah dilakukan Edward padanya atau membuka pikirannya seperti yang dilakukan oleh om Rudolf kepadanya dan pelukan hangat yang diterima dari Susan, dan persahabatan yang tulus dari Tina dan Rina. Di dunianya tidak ada yang pernah melakukan hal itu padanya.
Kenapa hati Senja lebih condong untuk tetap tinggal di dunia novel? Di sini hidupnya sempurna memiliki teman yang baik, ayah yang mencintainya dan juga... Memikirkan Edward membuatnya tersenyum.
Ada rasa hangat di hatinya, mengapa rasa benci yang awalnya ditujukan kepada pria itu tiba-tiba berubah menjadi rasa senang, bahkan hatinya bergetar kala mengingat pria itu.
Dia sadar ketika mengingat Edward dia sudah melakukan hal yang mungkin menyakiti hati pria itu, buru-buru dia mengambil ponselnya dan memeriksa apakah ada panggilan dari Edward nyatanya tidak.
Senja memutuskan untuk mandi dan berendam setidaknya setengah jam agar tubuhnya menjadi lebih rileks dan pikirannya lebih segar.
Selama berendam, pikirannya tersita pada Edward. Dia berpikir, mengapa tidak dirinya saja yang menghubungi pria itu, mungkin sikapnya tadi malam sudah keterlaluan, dengan memberikannya uang sama saja menghina pria itu.
"Mengapa kau bodoh Senja!" ucapnya menepuk genangan air yang ada di bathtub. Mendapatkan keberanian untuk menghubungi pria itu, buru-buru Senja keluar dari kamar mandi memakai kaos dan celana pendek lalu meraih ponselnya dan mulai menghubungi pria itu.
Kembali Senja tersenyum, ingat kala pria itu meminta nomornya. Senja sempat menolak dengan mengatakan bahwa mereka tidak perlu lagi menjalin komunikasi satu sama lain karena tidak mungkin bertemu lagi.
"Untuk apa kau memerlukan nomorku? Senin tuan Rudolf sudah pulang dan kita pasti tidak perlu bertemu lagi, jadi tidak ada gunanya kau menyimpan nomor ponselku," ucap Senja saat mencuci piring bekas makan mereka malam itu.
Masakan yang dimasak Senja dilahap habis oleh Leon dan juga Edward. Satu poin lagi diberikan pria itu kepada Senja, ternyata walau gadis itu memiliki mulut yang pedas tetapi memiliki kemampuan memasak yang hebat.
"Halo," terdengar suara bariton di seberang sana yang dikenali Senja sebagai suara Edward.
Gugup karena tidak tahu harus mengatakan apa, dan malu karena menghubungi lebih dulu, Senja memutuskan panggilan telepon itu.