NovelToon NovelToon
Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Fantasi / Suami Tak Berguna / Tamat
Popularitas:751.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Buna Seta

Kartika Sari, di tinggal suaminya sejak pernikahannya yang baru berjalan enam bulan. Terlebih, saat itu Kartika baru mengandung tiga bulan.

Alasan ekonomi yang membuat Kartika merelakan suaminya pergi. Namun, tidak disangka bagi Kartika bahwa suaminya tidak pernah memberi kabar.

Hari berganti bulan, bahkan tahun. Angga tak kunjung pulang.

Kartika harus membesarkan anaknya seorang diri, walaupun dalam keadaan sulit. Hingga Jenita berumur enam tahun Kartika mencari Angga suaminya di rantau orang. Namun kenyataannya suaminya telah menikah lagi.

Akan kah Kartika mempertahankan rumah tangganya? atau justeru sebaliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Setelah sekitar 20 karyawan yang berbondong-bodong meninggalkan pabrik, Chief HR Officer. Yang tak lain Devano segera akan mengadakan rapat darurat. Pria yang kedudukanya paling tinggi di antara delapan HR dan posisinya sebagai HR dibawah CEO itu meradang.

Betapa tidak? nyata-nyata Diana sudah keterlaluan tidak mengindahkan kata-katanya. Sebagai CEO, harusnya Diana bisa menyikapi, segala sesuatu dengan kepala dingin. Tidak grusa grusu dalam memutuskan suatu masalah.

Sebelum rapat dimuali, Devano mendatangi panggilan Diana ke ruangan.

"Terus, bagaiman ini Dev?" Diana tampak meremas rambutnya gusar.

"Bukankah tadi sudah saya berikan masukkan bu, ibu tidak bisa memecat karyawan tanpa masalah yang jelas?"

"Bukan itu yang ingin saya tanyakan, lalu bagaimana kita menangani masalah ini." Diana tampaknya tidak mau disalahkan.

"Satu-satunya jalan, kita harus berhenti pruduksi sampai menunggu merekrut karyawan baru"

"Itu artinya kita akan merugi Dev."

"Tidak ada pilihan lain bu."

"Kurang ajar! pasti Kartika menghasut teman-temannya agar berhenti!" tuduh Diana geram.

"Saya rasa tidak, karena Kartika bukan orang yang seperti itu."

********

Didalam mobil, dalam perjalanan menjemput Jeni, handphone Angga selalu berdering. Namun, Angga tidak mau mengangkat. Disamping sedang menyetir, pasti yang telepon Diana istrinya. Ranggano masih kesal, malas berbicara dengan Diana untuk saat ini.

Kartika mau tak mau mengangkat kepala, menatap handphone yang di simpan di depanya. Otomatis mengganggu pendengarannya.

"Lebih baik minggir dulu, angkat tuh! telepon." saran Kartika tidak menatap obyek.

"Biar saja." Angga bersorak dalam hati, karena Kartika mau bicara kepadanya. Walaupun dengan nada ketus.

Mereka diam kembali hingga sampai di depan sekolah.

"Aku turun dulu ya, menjemput Jeni kedalam," Rangga hendak membuka sabuk pengaman.

"Nggak usah! saya saja!" Kartika mendahului turun dari mobil. Menghampiri Jeni yang sedang menunggunya di samping pagar.

"Du duuuh... anak bunda, maaf ya nak, lama menunggu."

"Nggak apa-apa bun, bunda kan lagi kerja." Kata Jeni anak ini cukup mengerti kesulitan bundanya. "Bunda libur, besok pagi bunda yang antar kamu."

"Horee..." Jeni tersenyum senang.

"Anisa mana?" Kartika memutar bola matanya tidak ada Anis disana.

"Kak Nisa, lagi les privat bun, nanti pulangnya di jemput bude" tutur Jeni. "Bener... besok bunda antar Jeni?" wajah Jeni berbinar-binar.

"Benar dong... masa sih bunda bohong."

"Jeni kasihan sama bunda. Kalau repot, Jeni sama Nisa sudah bisa naik angkot kok," Jeni jika bicara seperti orang dewasa. Mungkin karena dibiasakan mandiri sejak kecil, membuatnya lebih cepat dewasa.

Kartika tersenyum mengusap pipi anaknya dengan jempol. "Anak pinteer... yuk kita keluar,"

"Bun, Om ganteng jadi jemput Jeni nggak? tadi pagi kan mengantar Jeni kesekolah, terus... katanya pulangnya Jeni tidak boleh kemana-mana. Om ganteng janji mau jemput." bibir mungil itu bercerita.

"Ada kok, itu mobilnya." tunjuk Kartika.

"Asik...." Jeni segera berlari menghampiri Rangga. "Om ganteng..." tangan kecil itu meraih tangan kekar lalu menciumnya.

"Lama menunggu ya" pria yang anti merokok itu berjongkok menyejajarkan badanya.

"Ngga kok Om" Jeni menggeleng. Dengan cepat Angga mengangkat tubuh mungil anaknya lalu mendudukan di Jok depan. Seperti biasa. Jeni tertawa senang.

Kartika menatap Jeni, ada rasa khawatir dihati. "Semoga kamu bisa terus begini dengan Ayahmu nak. Sebab, yang ada dihati Ayahmu tidak hanya kita. Tetapi ada orang lain." monolog Kartika.

"Bunda... Ayo" Jeni memanggil sudah berada di dalam mobil.

"Ayo"

Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang. Jeni terus saja ngobrol dengan Angga sementara Kartika bersandar di Jok, menatap kesamping.

Rangga menghentikan mobilnya disalah satu restoran. "Kok turun disini Om?"

"Kita makan siang dulu, tadi kamu bilang lapar, kan? Om juga lapar" Rangga melirik Kartika masih posisi nyaman bersandar.

"Boleh nggak bun?" Jeni memutar tubuhnya kebelakang, minta persetujuan Kartika.

"Boleh, tapi bunda tunggu disini ya?" Kartika ragu, makan di restoran bersama Rangga? jika tiba-tiba Diana memergoki apa yang akan terjadi?

"Ya sudah, nggak usah saja Om, kalau bunda nggak mau ikut," nada kecewa terlukis diwajah Jeni.

"Tik, kasihan Jeni loh" ucap Angga.

Kartika pun turun mlengos kesal. "Siapa suruh mau ngajak makan nggak bilang dulu, bilang dong dari tadi! supaya saya bisa menjelaskan pada Jeni." Kartika ngedumel pelan didekat Rangga agar jangan sampai terdengar Jeni.

"Iya... lain kali aku bilang, terus mau bilang sama siapa kalau kamu setiap aku ajak bicara menghindar."

Kartika tidak lagi menjawab. Kecuali menyetujui ajakan Jeni.

"Ayo turun" Kartika membukakan pintu anaknya.

"Oh, jadi bunda boleh ya..." Jeni tersenyum senang.

"Boleh! Kartika mengangguk. Menuntun tangan Jenita, berjalan mendahului Angga.

Angga segera menutup pintu, memencet remote, segera menyusul Istri dan anaknya.

"Keatas saja ya, disini terlalu ramai" Rangga tiba-tiba sudah disebelah Kartika.

"Naik tangga kan Om" jeni yang menyahut. "Jeni duluan ya?" mata bening itu menatap Ayah, bundanya.

"Iya tapi... hati-hati." Suami istri itu menjawab serentak.

"Rupanya kita masih sehati, jawaban kita saja sama." Angga terkekeh.

"Uh pede amat!" membuang muka kesal lalu mengejar Jeni.

"Istriku..." Angga bergumam. Senyum terukir di bibirnya, kakinya memijak cepat-cepat mengejar Kartika.

Jeni sudah sampai terlebih dahulu, lalu mencari tempat. Gadis kecil itu memutar otak. Jarinya mengetuk-ngetuk dahi kemudian tersenyum. Ia menyusun kursi yang awalnya ada empat di singkirkan satu.

Kemudian menyusun dua kursi bersebelahan. Sedangkan yang satu kursi untuknya. Gadis itu memutar bola matanya. "Bunda sama Om sudah datang hihihi." gumamnya. Jeni cepat-cepat duduk.

Kartika berdiri di depan Jeni ingin bingung mau duduk di mana.

"Bunda duduk di situ, terus... Om ganteng di sebelah." Jeni membuat aturan.

Pasutri yang sudah sudah lama berpisah itupun menuruti kata anaknya.

Ya Allah... jantungku rasanya ingin copot, aku masih sangat mencintainya. Angga.

"Bunda... Jeni, boleh pinjam handphone nggak?"

"Boleh" Kartika menyerahkan hp yang ia ambil dari saku celana.

"Om, bunda... siap..."

Cekrek, cekrek!" Jeni mengabadikan momen Om ganteng dan bundanya. "Sekali lagi..." seru Jeni. Secepat kilat tangan Angga melingkar di pundak Kartika.

Cekrek.

Kartika terkesiap lalu menatap Angga tajam.

Angga terkekeh.

"Jeni nggak boleh begitu aaahhh..."

"Nggak apa-apa bun bagus kok, lihat." Jeni menunjukan fhoto Kartika. Jepretan tanpa sengaja itupun tampak romantis.

"Bunda ke toilet dulu ya" Kartika melenggang menghilangkan rasa gugupnya.

Angga terkekeh, memperhatikan wajah Kartika yang memerah. Pandangan Angga tidak berpaling dari Kartika. Hingga Kartika tidak terlihat lagi.

"Tuh kan Om... bagus kan." Jeni mengejutkan Angga yang sedang tersenyum sendiri.

"Iya, bagus" jawab Angga.

"Jen, Om boleh bertanya sesuatu?" Angga tampak serius, berbicara dengan Jeni memainkan telapak tangannya.

"Mau tanya apa Om?"

"Seandainya kamu sudah menemukan Ayahmu, lantas... Ayahmu berbuat salah... apakah Jeni mau memaaafkan?"

"Tergantung Om, kalau salahnya hanya karena Ayah Jeni nggak mau punya anak seperti Jeni lantas pergi. Jeni nggak akan marah. Karena... Jeni tau, Jeni suka nakal." ucapnya polos.

"Tapi... kalau perginya karena meninggalkan bunda yang baik hati. Jeni akan membela bunda." jawab Jeni tegas.

Angga terkesiap akan jawaban Jeni. Rangga tidak menyangka anak umur tujuh tahun, akan berbicara sedewasa itu.

1
imoe nawar
👍
Jumi Eko
Bagus
Hera sasuwe
👍
Isabela Devi
Kartina akan dapatkan orang yg lebih baik angga
Isabela Devi
semoga kamu tetap kaya terus angga
Isabela Devi
Angga bagai kacang lupa kulit
Isabela Devi
semoga Devan jodoh dgn Kartika
Isabela Devi
Kartika ga usaha harapin laki laki yang kaya Angga itu lagi
Evy
Harus nikah lagi kalo mau kumpul sebagai suami istri...
Evy
Karena sudah kaya ...Angga jadi lupa anak istri ..punya istri baru yang kaya ..tega menelantarkan anak istri dikampung.setifaknya walaupun sudah punya yang baru ..ingat akan nafkah pada keluarga yang ditinggal kan...
fadhila
bagus Kartika pembalasan yang cantik tak perlu saling mencakar...
emg Diana sakit jiwa kyaknya tu..🤭
ayu cantik
suka
Firgi Septia
Kartika sdh TDK ada harga diri jadi istri mau kembali sama suami yg menduakan walaupun ada alasan TDK jijik apa
Syilvi Hesty
kayaknya Diana itu pernah kena depresi deh makanya bapaknya maksa si Mokondo nikahin anaknya karna dia tau anaknya gila
LENY
DASAR WANITA SAKIT JIWA DIANA
LENY
KASIHAN MAMA ULY ORANGNYA BAIK BANGET😥😥
LENY
KASIHAN DEVAN ORANGNYA BAIK AKU SIH SEBETULNYA LBH SETUJU KL TIKA SAMA DEVAN 😊🙏🙏
LENY
PAPA HERMAWAN & MAMA ULY ORANG YG SANGAT BAIK KOK ANAKNYA DIANA KELAKUANNYA BEDA BANGET SAMA MM PAPA. APA ANAK PUNGUT 😊😅
SALAH DIDIK SIFATNYA GAK NURUN MAMA DAN PAPA.
LENY
DIANA INI KL MARAH SEREM YA BANTING2 BARANG DUH🙈
LENY
DASAR DIANA SAKIT JIWA😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!