NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 - Giliran Sebastian

Nama yang tertulis di sana: Sebastian Widjaja.

Ruangan itu langsung punya empat jenis reaksi.

Sebastian menatap kertas itu seolah hasil eksperimen awal sesuai hipotesis. Nathan menghela napas pelan, menerima hasil dengan wajah paling rapi yang bisa ia pakai. Calvin tersenyum sambil membuka sketchbook, mungkin sudah menemukan ekspresi baru untuk digambar. Jayden menatap gelas undian seperti benda itu baru saja mengkhianatinya.

"Gue minta audit gelas," kata Jayden.

"Silakan," jawab Sebastian.

"Lo jangan senang dulu."

"Aku tidak senang. Aku puas secara metodologis."

Jayden memijat pelipis. "Itu lebih nyebelin."

Felicia mengambil kertas dari meja. "Sebastian menang. Sepuluh menit. Di ruang tengah. Semua aturan tetap berlaku."

Calvin mengangkat tangan kecil. "Boleh menonton?"

"Tidak."

Senyum Calvin turun setengah senti.

Jayden langsung menunjuk Calvin. "Nah, itu baru adil."

Nathan menatap Felicia. "Kamu yakin?"

"Aku yang menentukan kapan berhenti."

Sebastian melepas sarung tangan kanannya perlahan. Gerakan kecil itu membuat seluruh ruangan berubah. Bagi orang lain, melepas sarung tangan hanya tindakan biasa. Bagi Sebastian, itu seperti membuka pintu ruang yang selama ini dipasangi tanda bahaya.

Kulit jarinya pucat. Bersih. Hampir terlalu bersih.

Ia meletakkan timer di meja. "Durasi awal sepuluh detik. Kontak telapak tangan. Jika ada rasa sakit, mual, panas, atau reaksi lain, eksperimen dihentikan."

"Kalau tidak ada?" tanya Felicia.

"Durasi bisa dinaikkan pada sesi berikutnya."

"Kamu sudah merencanakan sesi berikutnya?"

Sebastian diam sebentar. "Aku berharap ada sesi berikutnya."

Kalimat itu membuat Nathan menoleh.

Jayden membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Bahkan dia seperti tahu kalimat Sebastian terlalu jujur untuk diejek.

Felicia duduk di sofa dan mengulurkan tangan.

Sebastian tidak langsung menyentuh. Ia duduk di kursi seberang, menatap telapak tangannya sendiri, lalu telapak Felicia. Napasnya terukur, tetapi bahunya terlalu kaku.

"Kalau takut, mundur," kata Felicia.

"Aku takut," jawab Sebastian.

Ruangan diam.

Sebastian mengangkat mata. "Tapi rasa takut bukan alasan untuk menolak data penting."

Felicia tersenyum. "Bagus."

Ia membiarkan Sebastian datang sendiri.

Ujung jari Sebastian menyentuh telapak Felicia.

Satu detik.

Tidak ada yang bergerak.

Dua detik.

Mata Sebastian melebar sedikit.

Tiga detik.

Napasnya yang sejak tadi terlalu rapi mulai patah.

Felicia merasakan suhu kulitnya. Dingin di awal, lalu perlahan menghangat, bukan karena demam, melainkan karena tubuhnya sadar sentuhan ini tidak menyerang.

"Sakit?" tanya Felicia.

Sebastian menggeleng sangat pelan.

"Mual?"

"Tidak."

"Panas?"

"Hangat."

Timer berbunyi di detik kesepuluh.

Sebastian tidak melepaskan.

Jayden langsung berdiri. "Woi, timer bunyi."

Sebastian seperti baru tersadar. Ia menarik tangan, terlalu cepat, lalu menatap telapak tangannya dengan ekspresi yang hampir sama seperti kemarin di aula. Bedanya, kali ini ada sesuatu yang lebih rapuh di sana.

"Sepuluh detik," katanya pelan. "Tidak ada nyeri."

"Catat," kata Felicia.

Sebastian mengambil ponsel dengan tangan yang masih agak kaku. "Mencatat."

Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. Untuk orang yang biasanya memotong soal olimpiade dalam lima detik, mencatat satu sentuhan ternyata membutuhkan waktu lebih lama. Jarinya sempat berhenti di atas layar ketika ia menulis kata hangat.

Felicia melihatnya.

Sebastian juga sadar ia dilihat.

"Istilahnya belum presisi," katanya.

"Karena itu bukan hanya data."

Sebastian menatapnya.

Di meja, sanitizer masih utuh. Tidak disentuh. Tidak dibuka. Tidak dicari. Keempat pria di ruangan itu menyadari hal yang sama pada waktu hampir bersamaan.

Nathan melihat botol sanitizer, lalu Sebastian.

Calvin berhenti menggambar.

Jayden, yang biasanya paling cepat bicara, justru diam selama dua detik penuh.

Sebastian mengikuti arah tatapan mereka. Baru setelah itu ia sadar tangannya masih telanjang, belum dibersihkan, dan ia tidak merasa tubuhnya harus melarikan diri dari kulitnya sendiri.

"Menarik," gumamnya.

Suaranya terlalu pelan untuk seluruh ruangan, tetapi cukup untuk Felicia.

Sis membuka layar kecil. "Tidak ada pergerakan bintang. Tapi data emosi Sebastian naik tajam."

"Biarkan."

Calvin dari ujung ruangan bergumam, "Aku tidak suka eksperimen ini."

"Karena kamu kalah undian," balas Jayden.

"Karena dia menyentuh Ci selama sebelas koma delapan detik."

Sebastian mengangkat mata. "Kamu menghitung?"

Calvin tersenyum. "Aku menggambar dengan waktu."

Nathan menutup mata sebentar, mungkin menyesal telah menyetujui aturan yang baru berumur sepuluh menit.

Felicia berdiri. "Selesai. Giliran berikutnya ditentukan nanti."

"Besok?" tanya Jayden.

"Besok ada kegiatan berkuda," kata Nathan, kembali menjadi orang yang membawa jadwal dunia. "Undangan resmi baru dikirim ke grup kelas. Akademi mengadakan latihan terbuka di klub berkuda sponsor."

Jayden langsung cerah. "Nah, itu seru."

Calvin memutar pensil. "Ci bisa berkuda?"

Felicia mengambil kertas aturan dari meja. "Bisa duduk di atas makhluk bergerak."

Sis berbisik, "Tuan Rumah pernah menunggang kuda?"

"Tidak."

"Lalu kenapa jawabannya begitu percaya diri?"

"Kuda lebih masuk akal daripada monster berkaki enam."

Sis tidak punya bantahan.

Kegiatan berkuda itu berlangsung keesokan paginya di sebuah klub berkuda elit di pinggir kota. Gerbangnya tinggi, jalannya bersih, dan rumputnya dipotong rapi seperti karpet. Mobil-mobil mewah berbaris di area parkir, sementara siswa Akademi Bintang Mulia berkumpul dengan seragam olahraga khusus yang disediakan sponsor.

Udara pagi berbau rumput basah, tanah, dan kulit pelana yang baru dibersihkan. Di sisi lapangan, tenda putih dipasang untuk orang tua sponsor dan guru pendamping. Ada meja minuman dingin, kamera dokumentasi, dan banner besar dengan logo Akademi Bintang Mulia di samping logo klub.

Untuk sekolah biasa, kegiatan seperti ini akan dianggap field trip mewah.

Untuk Akademi Bintang Mulia, ini hanya hari Jumat.

Kelas F biasanya tidak akan mendapat perhatian di acara seperti ini, tetapi setelah kemenangan Felicia, beberapa kamera siswa justru mencari wajahnya lebih dulu.

Clarissa datang dengan outfit berkuda putih yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Yesika berdiri di sampingnya, tersenyum ramah pada beberapa guru, seolah kemarin ia tidak baru saja gagal menjatuhkan Felicia di depan kamera resmi.

"Mereka hadir," kata Sis.

"Tentu."

"Ada potensi jebakan."

"Selalu ada."

Felicia menerima helm dari panitia. Nathan berada di dekat meja registrasi, membantu guru memastikan nama peserta. Jayden sudah menghilang ke area kuda seolah menemukan taman bermain. Calvin duduk di pagar kayu, menggambar cepat. Sebastian berdiri di tempat teduh, sarung tangan sudah kembali dipakai, tetapi matanya beberapa kali turun ke telapak tangannya sendiri.

Sepuluh detik kemarin belum selesai di kepalanya.

Pelatih klub menjelaskan aturan dasar: tidak mendekati kuda dari belakang, tidak berteriak, tidak menarik tali kekang sembarangan, dan mengikuti instruksi pemandu. Untuk siswa pemula, kuda akan dipilih yang tenang.

Jayden mendengarkan sambil setengah tersenyum, jelas sudah pernah melakukan ini berkali-kali. Nathan mencatat pembagian kelompok di tablet, memastikan siswa yang tidak punya pengalaman tidak langsung masuk lintasan utama. Calvin lebih tertarik menggambar garis leher kuda dari pagar kayu. Sebastian berdiri di tempat teduh, membaca papan informasi kesehatan kuda dengan serius seolah itu jurnal medis.

Felicia berdiri di antara semua itu, menyerap pola.

Kuda yang tenang menurunkan kepala saat pemandu mendekat. Kuda yang gelisah menggerakkan telinga terlalu cepat. Pemandu yang berpengalaman tidak menarik kasar, tetapi memberi ruang dan tekanan kecil. Tidak jauh berbeda dari manusia.

Felicia mendengarkan cukup.

Binatang punya bahasa tubuh.

Selama bisa dibaca, bisa dikendalikan.

Di sisi lain kandang, seorang staf klub menerima daftar peserta dari panitia. Nama Felicia ditandai dengan stabilo kuning.

Staf itu mengerutkan kening. "Untuk pemula harusnya kuda cokelat nomor tiga."

Seorang siswa panitia yang tidak Felicia kenal mendekat dan berkata pelan, "Ada perubahan dari daftar sponsor. Felicia Winarko pakai kuda hitam nomor tujuh. Katanya lebih cocok untuk dokumentasi."

"Kuda itu baru pulih. Temperamennya belum stabil."

"Instruksi panitia."

Staf itu ragu, tetapi akhirnya mengambil tali kendali.

Di meja kecil dekat kandang, daftar asli terlipat di bawah clipboard. Pada daftar itu, nama Felicia masih sejajar dengan kuda cokelat nomor tiga. Di atasnya, lembar revisi baru ditempel dengan klip logam, tintanya masih terlalu segar.

Siswa panitia itu memotret lembar revisi, mengirimnya ke seseorang, lalu cepat-cepat menghapus notifikasi yang muncul.

Felicia tidak melihat layar ponselnya.

Tetapi Sis melihat pantulan singkat di ember air.

"Ada pesan masuk dari kontak tanpa nama," bisik Sis. "Isinya hanya tanda centang."

"Simpan."

"Sudah."

Tidak jauh dari pintu kandang, Yesika menoleh sebentar. Hanya sebentar. Senyumnya tetap lembut saat ia kembali berbicara dengan guru.

Sis langsung bersuara rendah. "Tuan Rumah, ada yang tidak beres."

"Aku tahu."

Di dalam kandang, kuda hitam nomor tujuh menghentak lantai sekali.

Matanya terlalu lebar.

Napasnya terlalu cepat.

Staf yang memegang tali kendali mencoba menenangkan dengan suara rendah. Kuda itu tidak merespons seperti kuda gugup biasa. Telinganya bergerak maju-mundur terlalu cepat, lehernya berkeringat walau udara kandang sejuk, dan otot di bawah kulit hitamnya bergetar halus.

"Ini bukan cuma temperamen," bisik Sis.

Felicia melihat rahang kuda itu bergerak, giginya menekan besi di mulut dengan ritme kasar. Binatang yang takut akan mencari jalan menjauh. Binatang ini seperti didorong dari dalam tubuhnya sendiri.

"Ada sesuatu di sistem tubuhnya," kata Felicia.

"Racun?"

"Belum tentu. Tapi cukup untuk membuatnya tidak waras."

Di luar kandang, peluit pelatih berbunyi keras, memanggil kelompok pertama menuju lintasan utama.

Dan di ember minumnya, permukaan air bergetar walau tidak ada angin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!