Bagaimana jika hubungan yang telah di jalin selama empat tahun terbentang oleh restu orangtua?
Apa harus terus bertahan hingga restu itu datang tanpa kepastian hubungan? atau memilih untuk mengakhiri hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing? Atau malah memilih bertahan dan memantapkan hubungan itu meski harus melawan restu?
Begitu lah dengan kisah Kriss dan Delia yang hubungannya harus terombang-ambing karena RESTU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Kamu mau jenguk siapa dirumah sakit?" Tanya Roy pada Delia sambil mengendarai mobilnya.
"Gak jenguk siapa-siapa. Aku yang mau periksa." Jawab Delia.
"Kamu sakit?"
"Gak sih. Cuma mau check-up bulanan aja. Udah tiga bulan aku gak check-up kesehatan." Jawab Delia berbohong.
"Aku juga deh. Aku juga udah lama banget gak check-up." Timpal Roy.
Mata Delia membulat. Kalau sampai Roy ikut dengannya, otomatis Roy akan tau kalau dirinya bukan ke poli penyakit dalam, melainkan ke poli kandungan.
"Emang kamu udah daftar?"
"Kan bisa nanti di daftar disana."
"Iya sih, tapi mungkin nanti sore lagi. Karena tadi aku tanya dokter untuk check-up adanya pagi dan sore dan pasien yang di terima pun gak banyak. Kalau kamu mau check-up yah harus nanti sore." Ucap Delia berbohong. Ia mencari-cari alasan agar Roy tidak ikut dengannya masuk ke rumah sakit.
"Oh gitu? Ya udah deh kapan-kapan aja kalau gitu." Balas Roy.
Tak sampai dua puluh menit, mobil yang Roy kendarai sudah sampai di depan rumah sakit.
Delia pun mengeluarkan ongkos taksi lalu memberikannya pada Roy.
"Ini." Kata Delia sambil menyodorkan ongkos taksi itu.
"Apaan sih kamu Del. Simpen aja." Tolak Roy.
"Kamu yang apaan!! Aku kan penumpang kamu, ya aku harus bayar ongkos kamu lah. Udah ini ambil."
"Pegang aja, biar tarifnya aku yang bayar." Tolak Roy lagi.
"Bener?"
"Iya."
Delia pun memasukkan lagi uang ke dalam tas.
"Makasih yah udah nganterin aku." Hanya itu yang bisa Delia katakan pada Roy.
"Sama-sama. Kamu gak mau di temenin?" Tanya Roy.
"Gak usah."
"Bener?"
"Iya. Ya udah, aku turun yah." Delia pun membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam mobil.
"Nanti telpon aja aku kalau kamu udah selesai. Tapi telponnya ke nomor aku yang biasa, jangan ke nomor yang aku pake narik." Ucap Roy.
"Oke. Aku masuk yah." Pamit Delia.
Roy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dan Delia pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Roy pun menarik rem tangannya untuk mengemudikan mobilnya, tapi baru saja ia menginjak gas, tiba-tiba ia merasa perutnya sakit.
Pyuuuut. Dengan tak tau dirinya gas beracun dari lubang knalpot Roy keluar dengan bunyi yang pelan dan mendecit.
"Shiiit!!" Umpat Roy saat merasakan perutnya sangat mulas. Tak ingin ampas makanan yang ada di dalam ususnya keluar di pakaian dalamnya, Roy pun memilih untuk memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
Setelah mobil terparkir sempurna, buru-buru Roy keluar dari dalam mobil dan berjalan dengan langkah panjangnya masuk kedalam rumah sakit. Dengan mengikuti arahan petunjuk yang ada, Roy pun berjalan menuju kamar mandi.
***
Sedangkan Delia, karena ia sudah mendaftar lewat online, jadi begitu di tempat pendaftaran, ia hanya tidak perlu mengantri dan langsung menunjukkan bukti pendaftarannya di meja pendaftaran dan langsung di arahkan ke poli kandungan.
Sesampainya Delia di poli kandungan, Delia pun diarahkan ke meja bidan untuk di lakukan pemeriksaan dasar, seperti memeriksa tensi, berat badan, lingkar lengan, menanyakan keluhan yang Delia rasakan dan menanyakan Hari Pertama Haid Terakhir Delia atau yang biasa disebut HPHT.
Setelah melakukan pemeriksaan dasar, Delia pun mendapat nomor antrian dan diminta untuk menunggu di depan ruangan dokter kandungan.
Delia menghela nafasnya saat melihat begitu banyaknya ibu hamil yang sedang mengantri.
Delia mendaratkan bokongnya di kursi. Ia kembali memperhatikan ibu-ibu hamil yang rata-rata didampingi suami mereka, khususnya pasangan muda dimana ini adalah kehamilan pertama mereka.
Ada rasa cemburu dalam dada Delia, ingin rasanya Kriss ada disampingnya saat ini. Delia yang sudah sangat merindukan Kriss pun mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor lama Kriss. Dan hasilnya masih sama, tidak aktif. Sudah dua bulan ia lost contact dengan Kriss.
Delia sudah berusaha mencari nomor yang bisa menghubungi Kriss dari teman-teman terdekat Kriss, tapi tidak ada dari mereka yang tau. Delia pun hanya bisa pasrah dan tetap berpikiran positif tentang Kriss.
Bersambung...