Visual Novel ini ada di akun Dedek, yuk follow
- Tiktok @Tanti
- Instagram @ Tantye005
Kika Naziah, gadis korban pembulian karena wajah dan penampilannya, membuatnya di gelar gadis buruk rupa. Suatu hari ia didatangi pria paruh baya yang menawarkan sebuah perkejaan dengan bayaran lumayan mengiurkan. Ingin terlepas dari jeratan Virgo Verdinan yang selalu membulinya tanpa pikir panjang Kika menerima tawaran itu.
Sejak saat itu kehidupan Kika berubah 180°, tak ada lagi Kika buruk rupa. Kini penampilannya sangat modis dan mempunyai wajah yang cantik.
Dirinya bertekad akan membalaskan dendam sakit hatinya pada Virgo suatu hari nanti.
Akankah Kika berhasil membalaskan dendamnya? Atau ia akan terjatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung berdebar pertanda jatuh cinta?
Tak bisa tidur sebelum memainkan rambut Ziah, Panji menyelinap masuk ke kamar gadis itu, bukannya mendapati pemilik kamar tidur, ia malah mendapati Ziah sedang muntah-muntah di kamar mandi.
Tanpa mengetuk pintu atau semacamnya, Panji langsung menerobos masuk ke kamar mandi dan mendapati Ziah tengah menumpu tangannya di pinggir wastafel.
"Badan lo panas banget Zi," ujar Panji menarik Ziah dengan memijit tengkuk gadis itu. "Kayaknya lo juga masuk angin."
Ziah membilas mulut juga tangannya lalu menghadap Panji yang kini menatapnya sangat kawatir, apa lagi hidung gadis itu sangat memerah.
"Gue gantuk tapi kepala sama perut gue rasanya aneh," lirih Ziah menumpu kepalanya di dada bidang Panji.
"Yaudah tidur, gue bantu redain sakit kepala lo dengan memijitnya dikit."
"Gue mau tidur di sini," gumam Ziah
"Di sini? Di kamar mandi?" tanya Panji tak percaya, tapi Ziah malah mengangguk.
Ziah melepaskan pegangannya pada baju Panji lalu berjalan ke bathtub yang kering tanpa Air, masuk ke sana lalu tidur seperti bayi yang sangat lucu di mana Panji.
"Ziah... Ziah, napa lo gemesin gini sih?" gumam Panji menunggu gadis itu terlelap di bathub.
Merasa Ziah sudah terlelap Panji memindahkannya keranjang, lalu menyelimuti tubuh berbalut piyama sebatas lutut itu. Baru saja akan beranjak lengannya di peluk sangat erat oleh Ziah.
"Dingin Panji, jangan ninggalin gue," gumam Ziah semakin mengeratkan pelukannya.
"Nggak ada yang bakal ninggalin lo Ziah," cuap Panji ikut tidur di samping Ziah membiarkan gadis itu memeluk tubuh kekarnya hingga terpaan nafas Ziah terasa di ceruk lehernya.
"Seandainya lo tau gue suka sama lo, apa yang bakal lo lakuin? Nerima gue atau jauhin gue?"
Panji memainkan rambut Ziah hingga ia ikut terlelap di samping gadis itu.
***
Pagi harinya suhu tubuh Ziah turun tanpa meminum obat apapun. Panji di buat salut dengan imun tubuh Ziah yang tidak gampang rapuh. Kini keduanya berada di meja makan.
"Nggak usah ke sekolah dulu kalau lo nggak enak badan," ujar Panji sembari meminum susunya.
"Siapa bilang? Gue udah sehat jasmani dan rohani," sahut Ziah mengigit sandwich di tanganya.
Usai sarapan, keduanya berangkat naik motor seperti biasanya, memarkirkan motor besar Panji di parkiran khusus motor lalu berjalan di koridor sekolah bersama-sama. di ujung koridor Ziah dan Panji berpisah. Panji berjalan ke kiri dan Ziah lurus menuju kelasnya.
Bel pelajaran berbunyi lima menit yang lalu, semua siswa masuk ke kelas masing-masing begitupun dengan Ziah yang kini duduk di samping Sinta menunggu guru mereka masuk.
"Pagi anak-anak, seperti janji ibu minggu lalu kita ada praktikum di laboratorium kimia. Karena ada perubahan jadwal, kalian akan di gabungkan dengan kelas XII Ipa 1, ibu tunggu di lab sepuluh menit dari sekarang."
Usai mengatakan informasi itu, guru kimia tersebut berlalu pergi begitu pula siswa kelas XII Ipa 2 yang mulai menyiapkan buku catatan untuk ke laboratorium.
"Kok gue jadi gerogi gini ya Zi?" ucap Sinta menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Bukannya ini bukan pertama kali kita masuk lab ya?"
"Tapi kan kita gabung sama Ipa 1, pasti ada Panji sama Rian, jantung gue deg-deg an," jawab Sinta.
"Emang kalau jantung kita deg-deg an kenapa? Gue juga sering gitu kalau dekat sama orang?" tanya Ziah polos.
"Ya besar kemungkinan lo suka sama orang itu."
Ziah mengangguk mengerti, terus memikirkan perktaan Sinta tadi, ia akan perjelas setelah bertemu Panji di rumah nanti.
Suara riuh menyambut Ziah dan Sinta di laboratorium karena mereka yang terakhir masuk. Ipa 1 di huni oleh cowok-cowok tampan dan penuh prestasi seperti Panji dan Rian. Para siswa mulai rebutan kursi untuk duduk di dekat mereka.
"Ziah, sini!" panggil Panji menepuk tempat kosong di sampingnya.
Ziah menunjuk Sinta seakan mengatakan dirinya bersama seseorang.
"Ziah, sini!" Kini bukan Panji yang memanggil melainkan Rian si ketua osis.
Karena melihat tempat duduk Rian dan Panji kosong, Ziah menarik Sinta untuk mendekat.
"Sinta lo duduk di depan sama Rian gue di belakang sama Panji," ucap Ziah menunjuk tempat kosong di samping Rian. "Boleh, kan. Ian?"
"Duduk aja, nggak ada penghuninya kok," jawab Rian
"Panji, gue mau nanya sesuatu sama lo," ucap Ziah antusias mumpung guru kimia mereka belum datang.
"Apa?" tanya Panji menghentikan aktivitasnya membuat tabel untuk pendataan nanti saat praktikum.
"Kata Sinta kalau jantung deg-deg an mau ketemu seseorang atau dekat dengan seseorang itu tandanya kita suka."
"Terus?"
"Berarti gue suka sama Lo ...." Seulas senyum tercetak di wajah Panji mendegar kalimat itu keluar dari mulut Ziah. Tapi tak bertahan lama setelah mendengar kalimat selanjutnya. "Virgo, Om Alan, sama ... oh iya, sama Rian juga pas pertama kali ketemu pas mau daftar osis," lanjut Ziah.
Pletak
"Panji! Sakit," aduh Ziah mengusap keningnya.
"Nggak semua jantung berdebar karena suka Ziah, bisa aja lo habis lari, takut, gugup dan semacamnya," gerutu Panji.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak