Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.
Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.
Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.
~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turning Point
Setelah memastikan semua pintu terkunci, Dharma segera ke kamar. Dia menatap Nirmala berdaster merah tua sedang menyisir rambut panjangnya. Berdiri menunggu tepat di samping jendela dan memandang keluar. Nirmala tidak menengok meski semestinya tahu bahwa Dharma perlahan melangkah mendekatinya.
Ah, mungkin malu-malu. Namanya juga pengantin baru.
Dari sebelah Nirmala, Dharma mematikan lampu kamar hingga hanya ada cahaya rembulan remang-remang dari jendela.
Dengan sedikit menahan sakit di lengan, Dharma menggendong dan merebahkan tubuh Nirmala ke ranjang yang cukup sesak dengan sisa kado-kado pernikahan.
Dharma mulai merasakan sesuatu berdesir menjalar dari pusar hingga lehernya. Baru saja dia menaikkan satu kaki ke atas ranjang, tiba-tiba dia merasa ada tangan menangkap kaki kirinya.
"Apa ini?" gumam Dharma seraya menyalakan senter HP, berlutut menengok ke bawah ranjang.
"Astaga! Istriku, sedang apa kamu?"
"Mas, tadi ada perempuan berambut panjang di dekat jendela! Aku takut," jawab Nirmala dengan menggigil ketakutan.
Dalam sekejap pandangan Dharma kembali ke atas ranjang. Ternyata sosok itu telah duduk dengan wajah yang saling berhadapan dengan Dharma, begitu dekat.
Panik dengan kejutan di hadapannya, Dharma menyerang sosok berpakaian merah itu. Seakan kehilangan akal sehatnya menampar, memukul, lalu mencekiknya di atas ranjang.
"Mati kau! M*mpus!" maki Dharma saat mencekik dan membentur-benturkan sosok itu.
"M--mas! M--as!", ucap sosok itu lirih.
Dharma yang terkejut langsung melepas cekikannya. "Ti-- tidakkk! Tidak mungkin!" pekik Dharma melihat bahwa sosok yang dicekiknya tadi adalah Nirmala.
Dharma semakin kebingungan. Berniat turun dari ranjang justru dia terjatuh, kepalanya terlebih dahulu mengenai lantai sebelum tubuhnya.
Duakkk!
Kini tatapan Dharma kosong melihat sosok di bawah ranjang. Pandangannya memudar seiring senyuman sosok di bawah ranjang tersebut yang semakin lebar.
"Tidakkk!" Teriakan Dharma begitu kencang hingga membangunkan Nirmala di sebelahnya.
"Mas! Mas! Bangun, Mas!" kata Nirmala.
"Nirmala! Kamu melihatnya? Mana dia? Mana dia?" racau Dharma.
"Sadarlah, Mas! Kamu mimpi buruk lagi." Memberikan segelas air minum kepada Dharma.
Duduk bersandar di ranjang dengan terengah-engah, begitu cepat Dharma menghabiskan minuman itu. Keringat dingin membasahi wajahnya.
"Buku! Mana buku catatanku? Aku harus segera menuliskannya!"
"Tapi ini sudah larut malam, Mas. Sebaiknya kamu istirahat."
"Tolonglah, cepat."
Dengan sedikit kesal Nirmala mengambil dan memberikan buku yang dimaksud.
"Aku ingat! Aku ingat!" ucap Dharma.
Kini Nirmala kembali mengenakan selimut tebalnya, menatap Dharma yang begitu sibuk menulis di buku catatan tersebut. Nirmala menghembuskan napas panjang lalu membalikkan badannya memunggungi Dharma.
***
Suara azan Subuh mulai berkumandang. Nirmala membuka mata perlahan mencari keberadaan suaminya. Di ruang sebelah rupanya Dharma berada. Nirmala menyandarkan kedua tangan dan dadanya di daun pintu ruangan itu.
"Kamu tidak tidur semalaman, Mas?"
Dharma tak menjawab seakan begitu asyik dengan kegiatannya. Hampir setiap malam Dia terbangun dari mimpi buruk. Dia sangat yakin bahwa mimpi-mimpi tersebut adalah ingatannya yang hilang selama ini.
Usai salat Subuh Nirmala termangu di atas sajadah. Pikirannya tertuju kepada sang suami, hingga kapan akan seperti ini. Sedangkan di lain sisi, jika Nirmala menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dia khawatir akan membuat Dharma semakin frustasi.
Haruskah menceritakannya sekarang?
Nirmala penuh keraguan, dia memutuskan untuk membiarkan Dharma mengingat kejadian-kejadian itu sendiri. Sedikit membantunya bisa saja, tetapi dia tahu tidak akan sama jika Dharma hanya mendengarkan ceritanya bukan mengingat kejadian yang sebenarnya.
***
Pagi ini mentari cukup terik. Cahayanya menerobos jendela ruang tamu dan menyoroti sebagian tubuh Dharma. Dia sedang melihat televisi ketika Nirmala datang dengan pakaian yang telah rapi.
"Mandi dulu terus sarapan, Mas. Tadi aku masak sayur sop kesukaanmu," ucapnya seraya tersenyum tipis.
"Aku sudah siap, apapun yang akan kamu katakan. Tolong ceritakan sekarang juga apa yang sebenarnya terjadi malam itu."
"Mas ... aku tahu. Aku janji nanti sore kita bicarakan semua. Sebaiknya kamu mandi dulu. Sebentar lagi perawat datang, ingat hari ini jadwal kunjungan terakhir rawat jalanmu."
"Semingggu ... sejak malam itu hingga satu minggu setelahnya. Tak ada yang aku ingat. Beritahu setidaknya kejadian malam itu saja!"
Nirmala menghela napas, menghentikan langkahnya dan duduk di sebelah Dharma. Mengulum bibir bawahnya yang bergetar menahan keraguan. Sejenak ia menatap suaminya, tak yakin apakah harus menceritakan semuanya. Pada akhirnya terucap juga ....
"Setelah ayah dan ibu mengantar kita ke rumah baru itu, aku menunggumu di kamar sambil membuka beberapa kado," ucap Nirmala membuka ceritanya.
"Saat itu aku masih menyelesaikan urusan catering dengan Bu Aisyah dan suaminya."
"Betul. Agak lama," sambung Nirmala.
"Lalu?"
"Aku menyisir rambutku di dekat jendela. Saat itu aku melihat sesuatu ...."
"Apa maksudmu, Dik? Apa yang kamu lihat?"
"Seorang wanita, dengan wajah sendunya yang seakan aku kenal. Wajahnya mirip sekali dengan ibu."
"Apakah wanita yang ada di gambar yang ditemukan ibu di gua?"
"Betul sekali, Mas."
"Mungkinkah itu nenek?"
"Aku tidak yakin. Bahkan aku tak tahu apakah yang aku lihat itu nyata, bayanganku di kaca jendela atau lamunanku saja!"
"Lalu apa yang terjadi?"
"Saat kamu mematikan lampu dan menggendongku, dia menghilang."
"Jadi, jika memang kamu yang aku gendong berarti memang kamu yang kubaringkan di atas ranjang?
"Tentu saja, Mas."
"Apa?!? Ya Tuhan!" Dharma mulai cemas.
"Benarkah kamu siap mendengarkan apa yang terjadi selanjutnya?"
"Katakan saja, Nirmala!"
"Aku tak tahu mengapa kamu menengok ke bawah ranjang. Saat aku mendekatimu justru kamu mencekik leherku, Mas!"
"Ma--maafkan aku! Aku mengira itu bukan kamu! Sungguh!" pekik Dharma panik.
"Kamu hampir membunuhku, Mas!"
"Ti--tidak mungkin, Dik. Kamu tahu itu tidak mungkin aku lakukan!" Dharma mengelengkan kepala kemudian memegang dengan kedua tangannya.
"Itu kenyataannya, Mas."
"Lalu, benarkah aku terjatuh?"
"Kamu mengingatnya, Mas?" Nirmala terkejut.
"Tentu, aku sudah menuliskannya. Namun setelah itu aku tidak tahu."
"Tiba-tiba hujan turun. Kamu mengambil sekop dan pacul lalu menuju bagian rumah yang lama."
"Untuk apa? Bukankah aku terjatuh lalu pingsan?"
"Tidak, Mas! Kamu menuju bangunan yang sebelumnya kamu bilang belum sempat kamu robohkan dan renovasi itu."
"Iya, memang rencanaku dengan Pak Asmudi begitu. Namun, aku belum sempat sewa excavator. Apa yang aku lakukan di sana?
Kamu menggali sisi samping dindingnya. Aku berteriak memanggilmu, bahkan menyusulmu dengan payung dan senter, tetapi aku takut mendekat karena kamu seperti bukan dirimu sendiri.
"Lalu apa yang aku gali itu?
"Setelah mencapai kedalaman beberapa meter, air hujan mengalir ke salah satu sudut galianmu. Dari situlah kamu menemukannya, Mas!"
"Menemukan apa?"
"Ruang rahasia itu beserta 300 ton emas."
Dharma terdiam. Sekilas teringat kejadian saat hujan malam itu. Napasnya terengah-engah seolah dia sedang menggali. Kilatan petir dan suara guntur membuyarkan ingatannya. Ditatapnya Nirmala yang sedang menunggu reaksinya.
"Ma--maaf aku tidak bermaksud melukaimu, mencekikmu, apalagi membunuh. Itu tidak akan mungkin."
"Mas, aku bisa mengerti. Aku percaya kepadamu, tetapi bukan hanya emas yang ada di ruangan itu. Aku tidak yakin akan menceritakannya saat ini."
"Apa maksudmu?" Dharma mengernyitkan dahi.
"Mas, maaf aku sudah ada janji. Kita bicarakan lagi nanti."
"Kamu mau kemana?"
"Ada perlu sebentar ke kota, Mas."
"Bilang saja kamu mau menemui dia, apa susahnya?" kata Dharma seraya menunjuk layar TV.
Sudah hampir 1 jam acara TV pagi ini menampilkan tentang sosok Obi. Kisahnya semakin terkenal setelah menjadi novel online yang dituliskan oleh Nirmala, kini "Pengakuan Pembunuh" sudah beredar dalam bentuk cetak dan menjadi best seller nasional.
"Bukankah kamu sudah tahu, Mas. Hubungan kami cuma sebatas author dan narasumber."
"Pergilah ...."
"Keterlaluan kamu, Mas. Ini pekerjaanku, aku hanya berusaha bersikap profesional." Mengenakan sepatu lalu meninggalkan rumah.
Dharma terdiam. Dari jendela yang terbuka lebar terlihat mobil sedan silver baru itu melintas perlahan.
Nirmala menengok dari sisi kaca pengemudi, dilihatnya Dharma belum beranjak dari depan TV untuk mandi atau sarapan.
***
Dalam perjalanan, pikiran Nirmala berkecamuk. Sebuah pernikahan yang semestinya penuh keromantisan telah terusik berbagai misteri kehidupan. Meski kini kaya raya justru gelimangan emas seakan menjadi sebuah kutukan. Kisah kakek dan nenek sudah tersibak, tetapi kini justru Dharma yang harus berganti menjalani kisah pahit. Ingatan yang hilang bisa saja Nirmala ceritakan seluruhnya karena hampir setiap saat bersamanya. Namun, dapatkah sang suami menerima kenyataan? Merelakannya begitu saja atau justru membuatnya penasaran dan nekat memecahkan misterinya?
Lalu lintas kota cukup lengang. Sedan putih Nirmala memasuki halaman parkir sebuah hotel bintang lima.
"Sampai di mana?" tanya Obi lewat gawainya.
"Aku sudah di depan lift. Lantai tiga?" jawab Nirmala.
"Iya, kamar 316." Obi menutup teleponnya.
(Bersambung)
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.