Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Bab 24
Di gubuk tua yang pengap dan berbau kemenyan itu, suasana terasa begitu mencekam. Kyai Wok benar-benar sudah menjadi bahan hantaman kekesalan oleh Mang Ujang. Dukun tua itu terduduk lemas di lantai tanah dengan sudut bibir yang pecah dan napas yang tersengal-sengal setelah menerima pelampiasan amarah dari sang bandar desa.
“Jelasin ke saya, Kyai Wok! Maksudnya ini semua apa? Hah?!” raung Mang Ujang dengan wajah merah padam, matanya melotot beringas menatap dukun kepercayaannya yang kini tampak tak berdaya.
“Kamu bilang santet itu maut! Kamu bilang janda itu bakal lumpuh dan rahimnya membusuk! Setelah itu dia bakal jadi birahi, tepat pada saat itu saya masuk ke dia, membantunya dan menakluk hati si janda! Itu rencana kita, kan? Tapi apa yang saya lihat tadi di jalan? Dia sehat, seger, tambah ayu! Kamu sengaja tipu saya, ya?!”
Mang ujang murka. Rencana dia gagal total. Padahal dia mau membuat janda kembang desa itu kena sihir hitam, membuat dia gampang birahi dan saat benar-benar berada di ujung tanduk, saat sekarat, dia bakal muncul. Berlagak bak dewa menyelamatkan rasti … lalu membatalkan kutukan.
Istilahnya dia seolah pahlawan padahal dia sendiri yang membuat rasti kesakitan. Dengan begitu si janda ini jadi miliknya. Namun apa yang dia dapat? Alih-alih rasti melemah, dia sekarang tambah bugar, sehat, semain ayu pula … terus yang membuat dia makin murka adalah … bima! Beraninya dia mendekati incarannya!
Kyai Wok gemetaran, dia menyeka darah di bibirnya dengan tangan yang ringkih.
“M-Ampun, Mang... ampun! Saya tidak berani menipu Sampeyan. Demi leluhur, tiap malam saya sudah mengirimkan energi hitam itu. Tapi... tapi ada kekuatan gaib lain yang membentengi rumah mereka! Ada orang sakti yang meluruhkan semua kiriman saya! Setiap saya kirim, pasti kutukannya dilepas lagi, kang!”
“Halah! Alasan!”
Mang Ujang mencengkeram kerah baju hitam Kyai Wok, mengangkat tubuh kurus itu hingga kakinya hampir jinjit. “Saya tidak mau tahu siapa orang sakti di belakang mereka. Yang saya tahu, uang jutaan rupiah sudah masuk ke kantongmu! Kalau hari ini kamu tidak bisa melenyapkan penghalang itu dan membawa Rasti ke hadapan saya, gubuk keparatmu ini bakal saya bakar habis bersama kamu di dalamnya!”
Ancaman maut itu membuat bulu kuduk Kyai Wok meremang hebat. Dia tahu Mang Ujang tidak pernah main-main dengan ucapannya. Pria beringas di depannya ini bisa bertindak lebih kejam daripada setan jika keinginannya tidak dituruti. Dalam kondisi terdesak dan ketakutan setengah mati, pikiran gelap Kyai Wok langsung mengambil keputusan nekat.
Seharusnya dia tidak melakukan ini. Karena bakal membuat sekota heboh dan menjadi marabahaya, tapi persetanan dengan itu! Yang penting nyawa dia aman!
"T-Tunggu, Mang! Kasih saya satu kesempatan terakhir!" seru Kyai Wok dengan suara parau yang melengking panik. "Saya... saya akan gunakan ajian pamungkas. Ilmu kuno pengorbanan darah! Ini tidak akan gagal, Mang!"
Mang Ujang mendengus kasar, lalu menghempaskan tubuh Kyai Wok hingga dukun itu jatuh tersungkur di dekat altar pemujaannya. "Satu kesempatan lagi. Kalau gagal, nyawamu taruhannya!"
Kyai Wok merangkak dengan tergesa-gesa ke sudut ruangan. Dengan tangan yang gemetar, dia mengambil seekor ayam jantan hitam legam—ayam cemani yang memang sengaja dia pelihara untuk ritual terlarang.
Di tengah gubuk yang remang-remang itu, Kyai Wok mulai merentangkan tangan, memejamkan mata, dan merapalkan mantra dalam bahasa Jawa kuno yang terdengar berat, ganjil, dan bergetar mistis.
Hawa di dalam ruangan mendadak turun drastis menjadi sangat dingin yang menusuk tulang. Angin gaib berembus kencang entah dari mana, membuat kobaran api lilin di altar meliuk-liuk liar hampir padam.
Sreeet!
Dengan satu gerakan cepat, Kyai Wok menyayat leher ayam jantan itu, membiarkan darah segar yang hangat mengucur deras di atas mangkuk kuningan kuno berisi kembang setaman. Bau anyir darah seketika merebak pekat, memenuhi rongga dada. Dukun tua itu kemudian mengusapkan darah tersebut ke dahi dan dadanya sendiri, sambil berteriak histeris menyelesaikan manteranya.
"Wahai penguasa kegelapan bumi Sukamaju! Bangkit... dan laksanakan tugasku!"
Tepat di depan mata Mang Ujang, fenomena mengerikan terjadi. Asap hitam yang pekat dan tebal mendadak keluar meluap-luap dari dalam mangkuk darah.
Asap itu bergulung-gulung di udara gubuk, memadat, hingga membentuk siluet makhluk halus bertubuh tinggi besar, bermata merah menyala bak bara api, dengan kuku-kuku tajam yang mengerikan.
Aura magis negatif yang dipancarkan makhluk itu begitu pekat hingga membuat dinding bambu gubuk berderit keras.
Mang Ujang yang biasanya beringas pun sempat tersentak mundur satu langkah, menelan ludah melihat perwujudan makhluk gaib yang begitu mengerikan di depannya.
Melihat makhluk hitam mengerikan itu, ditambah aura kegelapan yang begitu pekat.
"Khukuhukuhu..."
Kyai Wok tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sudah berubah menjadi ganda, melengking tinggi bercampur suara gaib. "Selesai, Mang! Makhluk ini sudah terkunci pada aroma tubuh Rasti dan Bima. Targetnya adalah si Bima! Saya yakin dia adalah pelaku utamanya. Kalau dia gak ada, mang ujang bisa deketin rasti tanpa gangguan. Siang ini, acara kencan mereka di kota bakal terganggu total! Makhluk ini akan mencabik-cabik energi pelindung pemuda mesum itu sampai hancur. Saya yakin, Bima bakal berakhir mati mengenaskan hari ini juga!"
Mendengar jaminan dari Kyai Wok dan melihat sendiri kengerian makhluk gaib hasil pengorbanan darah tersebut, amarah di wajah Mang Ujang perlahan memudar. Perlahan, sebuah seringai kepuasan yang licik dan kejam terukir di wajah beringas sang bandar desa.
Dia melangkah maju, menatap ke arah kepulan asap hitam bermata merah yang siap bergerak menuju kota kabupaten. Dengan begini, tidak akan ada lagi yang berani mengganggu atau mendekati wanita incarannya. Setelah Bima tewas secara tragis oleh teror gaib, Rasti yang tidak lagi memiliki pelindung pasti akan jatuh ke dalam dekapannya dengan mudah.
"Bagus... bagus sekali, Kyai," gumam Mang Ujang sembari terkekeh senang, membayangkan kemenangan yang sudah berada di depan mata. "Lenyapkan bocah ingusan itu, dan bawa janda ranum itu berlutut di bawah kakiku! Aku sudah mengincar dia sejak lama bahkan sampai melakukan hal buruk tahun lalu! Sekarang janda itu bakal menjadi milikku!”
Sementara itu.
Bima dan Rasti baru saja masuk ke pusat berbelanja. Itu adalah sebuah tempat penyedia baju yang terbilang mahal.
Mereka berdua asyik memilih pakaian.
“Bima, Bima... lihat yang ini! Manis banget warnanya!” seru Rasti dengan nada riang sambil menunjukkan sebuah gaun terusan anggun berwarna pastel ke arah adik iparnya.
Di sisi lain, Bima mulai menghela napas pasrah. Ternyata menemani wanita berbelanja membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dari yang dia perkirakan. Meski begitu, melihat senyum bahagia di wajah kakak iparnya membuat rasa lelahnya menguap. Bima melangkah mendekat untuk memeriksa pakaian pilihan Rasti.
“Iya, itu bagus dan cocok banget buat Mbak Rasti. Ambil yang itu satu, lalu kita—”
CRAK!
Belum sempat Bima menyelesaikan kalimatnya, sebuah fenomena gaib yang ganjil terjadi secara mendadak.
Bzzzzt... Jlap!
"Kyaaa!"
"Lho, ada apa ini?!"
"Lampunya tiba-tiba padam!"
Seketika itu juga, seluruh ruangan pusat perbelanjaan yang tadinya terang benderang langsung berubah menjadi gelap gulita. Riuh rendah kepanikan langsung terdengar dari para pengunjung lain. Matinya aliran listrik ini terasa sangat aneh, mengingat tempat perbelanjaan modern sebesar ini biasanya memiliki generator cadangan otomatis yang akan langsung menyala dalam hitungan detik. Namun, kegelapan ini terasa berbeda—begitu pekat, sunyi, dan mendadak diselimuti hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
"B-Bima... kamu di mana? Mbak takut..." cicit Rasti dengan suara bergetar.
Dalam kegelapan total itu, dia refleks melangkah mundur dan mencengkram erat lengan kekar Bima, mencari perlindungan
Bima tahu bahwa sesuatu baru saja terjadi!
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊