"My Secretary"
Elsa adalah seorang sekretaris yang ditakdirkan menikah dengan atasannya karena hal buruk yang menimpanya.
Edward adalah CEO muda tampan yang besar di London, memiliki sifat temperamen dan pergaulan yang bebas.
Apakah pertemuannya dengan sekretarisnya akan membuat hidupnya berubah?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Kisah lama terungkit kembali
Setelah lift lantai atas terbuka, Elsa langsung berjalan mamasuki ruangan itu, tidak
dihiraukannya beberapa karyawan yang melihatnya kaget karena kehadirannya.
Dilihatnya bu Mirna duduk dimejanya, dia segera berdiri saat melihat Elsa masuk, mukanya
terlihat pucat.
Elsa menatap bu Mirna dengan marah, “ Kenapa kau berbobohong padaku ? “ bentak Elsa, membuat
Bu Mirna terdiam.
Elsa langsung masuk ke ruangan CEO, dia tidak peduli apakah di dalamnya sedang ada tamu atau tidak. Dia hanya ingin tau siapa yang ada disana.
Dan benar saja didalam sana ada Steve dan dua orang tamu.
Steve tampak kaget dengan kehadiran Elsa, dia segera mengakhiri meetingnya, dan tamunya segera keluar.
Elsa menatap Steve dengan sorot mata tajam dan marah.
“ Apa ini semua ? Ada apa ? “ tanya Elsa, sudah tidak bisa membendung pertanyaannya ? “
“ Kenapa kau tidak bisa dihubungi, dan sekretarismu berbohong padaku kalau kau pindah ke London, hingga aku harus menunggu berbulan bulan untuk datang kesini ? “
Steve berdiri dengan sorot mata dingin, dia tidak seperti biasanya yang tersenyum ramah pada Elsa, bahkan Elsa merasa tidak mengenalnya.
“ Aku tidak tau arah pembicaraanmu. Pergilah, aku sibuk “ ujar Steve
“ Jangan berpura pura lagi ! Mana Edward ? Kalian menyembunyikannya dariku kan ? “
“ Untuk apa menyembunyikan dia ? Tidak ada yang menyembunyikannya. Dia meninggalkanmu
karena keinginannya. Apa lagi ? “ nada suara Steve sudah sangat berbeda, bahkan dia begitu ketus dan tidak berperasaan.
“ Kau tau darimana dia meninggalkanku ? “
“ Tentu saja aku tau, dia sudah bertunangan dengan Olivia, Sebentar lagi mereka akan menikah “
“ Dimana dia ? Aku ingin bicara dengannya “
“ Untuk apa mencarinya lagi. Kau sudah dia campakkan, kau kan tau dia tidak pernah bisa berkencan dengan wanita yang sama, apa kau tidak mengerti, atau kau pura pura tidak tau ? “
“ Tega sekali kau bicara begitu “
“ Itu kenyataannya, apalagi ? “
“ Kita sudah menikah “ ujar Elsa, kesal terhadap ucapan Steve yang menyudutkannya.
“ Apa bedanya ? Dia bukan laki laki yang suka terikat. “
“ Aku minta alamat dia di London “ pinta Elsa.
“ Buat apa ? Kau percuma mencari cari dia. Hanya akan membuatmu merasa dibuang “
“ Keterlaluan sekali kau bicara begitu “
“ Itu kenyataannya. Dia meninggalkanmu. Apa kau tidak mengerti juga ? “ Steve terlihat tambah kesal.
“ Aku tidak percaya ! Dia meninggalkan keluarganya, kedudukannya hanya untukku “
“ Dia menikahimu karena merasa bersalah. Lihatlah, sekarang sepertinya kau sudah sembuh. Untuk apa lagi mempertahankanmu ? Kau seperti tidak mengenal dia saja. Kau fikir dia mencintaimu ? Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu seperti ini “ Ujar Steve, cara bicaranya sudah tidak ada yang enak di dengar Elsa, sikap pria itu benar benar sangat berbeda.
“ Kau berbohong, aku tidak percaya !! Aku akan menemuinya, dimana dia ? “
“ Sudah aku katakan dia tidak ingin menemuimu lagi “
“ Apa Mr.Smith memaksanya ? “
“ Tidak ada yang memaksanya, itu keinginan dia sendiri “
“ Aku tidak percaya “
“ Baik kalau kau tidak percaya, aku akan memberikan alamatnya di London. Dan jangan salahkan aku, aku sudah memperingatimu. “ akhirnya Steve menuliskan sebuah alamat lengkap di London.
“ Aku akan kesana. Dan aku hanya ingin mendengar langsung dari dia “
“ Asal kau tau, dia sudah mengajukan gugatan cerai untukmu. Kau hanya tinggal menunggu surat saja “
Ucapan terakhir Steve, membuat suasana hati Elsa semakin buruk. Apa benar Edward akan menceraikannya ? Rasanya dunianya benar benar mau runtuh. Elsa keluar dari gedung itu dengan hati yang hancur. Bahkan sikap Steve itu sangat menyakitkan, tidak ada sedikitpun simpatik padanya, dia benar benar seperti orang yang tidak dikenalnya.
Sesampainya di rumah, Elsa segera mengapak pakaiannya.
“ Kakak, ada apa ? Kau mau kemana ? “ tanya Winda.
“ Kakak mau ke London, ada penerbangan sore ini. Kakak sudah memesan tiket “ jawab Elsa sambil memasukan bajunya ke koper.
“ Kakak serius mau ke London ? “
“ Iya. Steve sudah memberikan alamat Edward di London “
“ Tapi kak, kau harus menjaga kesehatanmu “
“ Aku tetap harus berangkat. Sebelum Edward tau kalau aku mencarinya. Akan sulit menemuinya lagi “
“ Kak, lebih baik kita pulang saja ya kak. Dari pada kakak nanti mendapat hal yang pahit lagi “
“ Tidak WInda, kakak harus bicara dengannya. Dia tidak bisa seenaknya meninggalkanku dan anakku tanpa kabar. Baik dan buruk harus aku dengar langsung dari mulutnya “
“ Ya udah kalau gitu aku ikut ya kak. Aku tidak mau terjadi apa apa sama kakak “ pinta Winda, memohon pada kakaknya.
Sejenak Elsa menatapnya lalu mengangguk. “ Baiklah, coba kita pesan tiket lagi “
***********
Akhirnya mereka berangkat berdua ke London. Dalam pesawat Elsa tampak gelisah..berbagai pertanyaan timbul di benaknya. Steve bilang Edward sedang mengurus perceraian dengannya, Edward juga sudah bertunangan dengan Olivia, mereka akan menikah.
Perlahan dia menghela napasnya, kemudian melihat perutnya yang mulai agak memulat, mengusapnya dengan lembut.
“ Kau harus tegar Elsa, kau harus tegar “ gumamnya dalam hati.
Kenapa hatinya tetap tidak percaya kalau Edward akan meninggalkannya, apalagi dia sedang hamil. Mungkin kalau Edward tau dia hamil, dia akan kembali.
Meskipun Edward sudah bertunangan, bukankah dia lebih berhak sebagai istrinya ? Apalagi sedang mengandung anaknya. Edward takan bisa menceraikannya begitu saja. Semua ini pasti ada yang salah. Pasti ada yang menyebabkan Edward meninggalkannya.
Apa mungkin Edward bosan ? Sudah memilikinya dan ingin mencampakkannya ? Bukankah dia seorang penganut ONS? Apakah dirinya salahsatu korban ONS itu ?
Setelah malam itu dia benar benar menyerahkan semuanya, menerima pria itu menjadi suaminya, kini suaminya itu meninggalkannya, seperti yang dilakukannya pada wanita wanita penghibur itu ? Tidak, tidak, Edward tidak seburuk itu.
Elsa menggeleng gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan semua bayangan buruk tentang Edward.
*************
Sementara itu, di perkebunan, tepatnya di depan rumah ibunya Elsa, terparkir sebuah mobil mewah.
Pemiliknya keluar dari mobil, seorang pria asing berkulit putih, diikuti seorang pemuda tampan bertubuh tinggi atletis, berusia di atas 30 an.
Pria paruh baya itu berdiri menatap hamparan perkebunan teh yang sejuk.
Sementara pria muda yang menemaninya pun, mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
“ Rupanya ini rumahnya Elsa ? Sangat menyenangkan dan sejuk “ ucapnya dalam hati. Setiap mengingat nama itu, ada rasa sesak di dadanya. Seandainya dia terlebih dulu menyatakan persaannya pada gadis itu mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Endaikan Edward tidak melakukan hal bodoh, mungkin dia masih punya kesempatan untk mendapatkan hati gadis itu.
Sakit rasanya melihat Elsa begitu mengkhawatirkan Edward, meskipun pria itu sudah menyakitinya.
Seseorang yang melintas melihat kedatangan mereka, segera berlari ke pabrik pengumpulan daun teh, menemui ibu Elsa.
“ Nyoya !!! Ada tamu di rumahmu ! “ ujarnya, terengah engah.
“ Tamu ? “
“ Iya. Seorang asing dan seorang pemuda “ jawab orang itu lagi.
“ Orang asing ? siapa orang asing ? “ gumam Ibunya Elsa, merasakan hati yang tidak enak, saat pria tadi memberitahu ciri ciri tamu yang bertamu ke rumahnya.
Ibunya Elsa segera pulang ke rumahnya, diantar menggunakan motor oleh seseorang yang bekerja disana.
Saat tiba di halaman rumahnya, hati ibu Elsa semakin tidak nyaman. Dia berterimakasih pada orang yang mengantarnya, lalu mendekati mobil yang terparkir depan rumahnya.
Dicarinya pemilik mobil itu, ternyata pria itu berada tidak jauh darinya, berdiri membelakanginya, menatap hamparan pohon pohon teh yang hijau.
Seorang pemuda yang tidak jauh darinya, melihat kedatangannya dan menyapanya, “ Selamat sore Nyonya “ sambil mengangguk.
“ Sore “ balas ibu Elsa, dia kembali menatap orang yang masih membelakanginya.
Keringat dingin mulai membasahi kening Ny. Caty, raut mukanyanya memucat, tangannya terasa gemetar. Apa tidak salah dengan penglihatannya ? Seseorang yang tidak dilihatnya beberapa tahun yang lalu, kini ada dihadapannya.
Mendengar pria muda tadi menyapa ibu Elsa, pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya. Tersenyum dengan sorot mata yang dingin.
“ Apa kabarmu ? “ tanyanya, berjalan mendekat. Ny. Caty menatap wajah pria itu, dengan raut muka tidak senang.
“ Mau apa kau datang kemari “ Ny. Caty balik bertanya, dengan ketus.
“ Kau tidak suka aku datang ? “ tanyanya.
“ Sebaiknya anda pergi dari rumahku ! Mr. Smith “ usir Ny Caty.
“ Aku hanya akan mengganggumu beberapa menit “ jawab Mr. Smith.
“ Setelah bertahun tahu yang lalu, apa masih ada yang akan kau bicarakan “ gerutu Ny Caty, tidak senang.
“ Aku tidak tau takdir mempertemukan kita kembali, apalagi kita menjadi satu keluarga “
“ Sebenarnya apa yang ingin kau katakan ? “ tanya Ny Caty, tidak sabar, menurutnya Mr. Smith bicara berputar-putar.
Mr. Smith mengernyitkan alisnya. “ Sudah kuduga kau tidak tau siapa Edward “
“ Maksudmu apa dengan membicarakan menantuku “ hati Ny. Caty tampak semakin cemas, hatinya semakin tidak nyaman.
“ Sudah kuduga kau tidak mengetahuinya. Kalau kau mengetahuinya bisa dipastikan kau takkan menerimanya menjadi menantumu “ ujar Mr Smith, berjalan semakin dekat.
“ Apa maksudmu ? “ tiba tiba Ny Caty tersadar, saat Edward datang, dia merasa seperti mengenal seseorang, Edward sangat mirip dengan seseorang. Waktu itu dia hanya berfikir mirip saja dan kehadiran Elsa yang sakit membuatnya tidak berfikir menyelidikinya.
“ Jangan katakan dia anakmu “ tuduh Ny.Caty, raut mukanya semakin pucat.
“ Sepertinya kau tidak bisa melupakanku “ Mr. Smith tersenyum.
“ Tentu saja aku tidak akan melupakan wajah orang yang sudah membunuh suamiku ! “ bentak Ny. caty, kini wajahnya berubah memerah, terlihat aura kebencian di matanya.
“ Sudah aku jelaskan aku tidak membunuhnya, semua itu kecelakaan,suamimu terjatuh ke jurang dengan sendirinya “ bella Mr. Smith. Wajahnya terlihat tidak suka.
“ Tapi kau yang menyebabkan suamiku jatuh ke jurang. Kalau saja kalian tidak berkelahi, mungkin kejadian itu takkan pernah terjadi “
“ Aku kesini bukan untuk membahas itu. Aku hanya ingin memastikan putrimu tidak akan mengganggu anakku lagi. Dan aku yakin kaupun tidak akan menyukai merestui hubungan mereka “
“ Kalau aku tau Edward itu anakmu, aku tidak sudi menerimanya jadi menantuku “
“ Bagus kalau begitu. Aku sudah mengembalikan semua yang jadi milikmu atasnama Elsa, Perkebunan pabrik pabrik, semua sudah aku kembalikan “
“ Jadi perkebunan dan pabrik teh bukan Edward yang membelinya ? “ tanya NY. Caty.
“ Tentu saja tidak, dari mana anak manja itu mempunyai uang kalau bukan uangku ? “
Ny Caty tercenung sebentar, “ Jadi perkebunan ini dulu kau yang membelinya ? Atau kau memang sengaja membuat kebangkrutan di perkebunan suamiku ? “ tuduhnya, menatap Mr. Smith dengan tajam.
“ Iya ! “ jawab Mr Smith, ketus.
“ Apa maksudmu dengan semua itu ? “
“ Tentu saja karena suamimu sudah mengambil milikku, tunanganku. Apa kau lupa ? “
“ Kau, tega sekali kau pada kami ! “ bentak Ny. Caty, amarahnya sudah mulai memuncak.
“ Pergi dari rumahku ! Jangan pernah kesini lagi juga anakmu ! Aku tidak sudi berurusan dengan kalian ! “ Ny, Caty menajamkan perkataannya. Matanya sudah mulai memerah.
“ Bagus, aku akan pergi. Kau hanya perlu tau, anakku sudah bertunangan dan mereka akan menikah, sebaiknya anakmu tidak perlu mencari anakku lagi “ ujar Mr Smith.
“ Steve, ayo kita pulang “ Mr. Smith memanggil pemuda itu yang ternyata Steve.
Steve mengangguk lalu masuk ke mobil. Dia merasa terkejut mendengar pembicaran Mr. Smith dan Ny. Caty. Ternyata mereka memiliki hubungan di masa lalu. Yang paling tidak menyangka, Ny. Caty adalah tunangan Mr. Smith yang menikah dengan ayahnya Elsa. Dan kini Elsa menikah dengan Edward.
Apakah Edward sudah tau ? Sepertinya begitu, makanya Edward memutuskan meninggalkan Elsa dan bertunangan dengan Olivia.
Sebenarnya dia merasa heran saat tiba tiba Edward pulang, berbicara dengan ayahnya di ruang kerja, kemudian menyuruh pengacara untuk mengurus peralihan perkebunan. Waktu itu Steve tidak banyak bertanya karena itu bukan tugasnya, tapi tidak menyangka kalau perkebunan itu milik Elsa.
Steve menghela napas panjang, entah senang atau sedih mengetahui Edward dan Elsa tidak mungkin bersatu lagi. Tapi di sisi lain, dia merasa ikut sedih dan sakit saat Elsapun merasa sakit dan sedih.
Apakah dia akan mengambil kesempatan ini ? Tapi tidak mungkin juga karena Mr.Smith pasti tidak suka dengan yang berhubungan dengan keluarga Elsa.
Mobil mewah itu melaju meninggalkan rumah Elsa. Ny Caty tampak sangat terpukul, duduk bersimpuh di tanah. Dia tidak menyangka masalalunya akan membawa penderitaan pada anaknya.
Dia pun bergegas masuk ke rumah, mencari hpnya, untuk menghubungi Elsa, supaya kembali pulang, tidak perlu lagi mencari Edward dan melupakan pria itu selamanya.
*************