Terlahir dari isteri kedua seorang pengusaha besar, tersisih, terasing, bahkan terbuang membuat Leo merasa hidupnya begitu memuakkan.
Hingga ia bertemu Aleena dan mulai merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Sayangnya, Aleena yang begitu Leo cintai itu tak lama mendampingi Leo.
Dalam frustasi nya, Leo yang terasing sekian lama akhirnya memaksa kembali ke Indonesia dan justeru menemukan begitu banyak rahasia yang terungkap atas Ayahnya Ibunya dan juga kekasihnya.
Rahasia apakah gerangan? Yuk ikuti kisah Leo... 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Tanda Tanya
BRAK!!
Ricky menggebrak meja di dalam ruang bawah tanah di mana semula tempat untuk mengurung Roy.
"Kau bodoh! Kau tak punya otak hah?!"
Bentak Ricky.
Baron mengepalkan tinjunya disebut demikian oleh Ricky. Rasanya ia ingin membunuhnya sekarang juga jika saja mereka sekarang hanya berdua.
Tapi nyatanya, saat ini kelompok telah terbelah menjadi dua, dan kekuatan Ricky di dalam kelompok mereka jauh lebih banyak daripada Baron karena posisinya yang langsung bisa dekat dengan pimpinan yang terhubung langsung dengan Bos Besar.
Ah yah, Bos Besar, seseorang yang memiliki kekuatan, kekuasaan dan uang itu sejatinya Baron bahkan belum pernah melihatnya.
Bergabungnya Malaikat Hitam menjadi kelompok di bawah pengaruh seseorang yang mereka sebut sebagai Bos Besar itu jelas tak pernah melibatkan Baron untuk setuju atau tidak setuju, karena dulu semua keputusan tertinggi kelompok dipegang oleh Aji.
Dan sekarang, begitu Aji tidak ada muncul Ricky yang menggantikan karena sebelumnya dia adalah kaki tangan Aji.
Baron sendiri sejak bergabung dengan Malaikat Hitam menggantikan kakaknya lebih menjadi seperti pimpinan di lapangan, yang selalu bertugas paling lelah namun tak pernah memiliki posisi yang jelas dalam kelompok.
Yah, meskipun untuk Baron, semula tujuannya masuk ke dalam kelompok memang hanya untuk berurusan dengan Leo.
"Kita bahkan belum mengantongi satu nama pun yang berada dibalik Roy, lalu dengan bodohnya kau lepaskan dia!"
Kata Ricky.
"Dia sudah mati."
Kata Baron.
"Apa kau sudah memastikannya sendiri? Apa kau sudah yakin dia benar-benar mati hah!"
Teriak Ricky.
Baron mendengus.
Tahu apa dia. Sudah jelas Roy mati dan dia melihat terkapar tak bergerak sama sekali seharian.
"Kalian cari sampai ketemu, jika dia memang benar-benar mati, aku sendiri yang akan membuangnya ke laut, dan jelas kalian harus bertanggungjawab atas kebodohan kalian yang sama sekali tak bisa mendapatkan informasi apa-apa dari Roy!"
Ricky begitu geram.
Ia kemudian pergi dari ruangan yang membuatnya pengap dan muak itu dan diikuti orang-orang Malaikat Hitam yang menjadi pengikut Ricky.
Baron menatap punggung Ricky dengan penuh kebencian, rasanya ia tak sabar lagi ingin membunuhnya.
Yah, tentu, nanti dia adalah target setelah Leo. Batin Baron.
Baron duduk di kursinya, lalu menatap kaki tangannya.
"Pergi ke tempat di mana Roy dibuang, pastikan ia masih ada di sana dan bawa ke hadapan si brengsek itu!"
Kesal Baron.
Kaki tangan Baron langsung memberi isyarat pada dua orang yang bertugas membuang Roy agar segera bergerak cepat.
"Aku muak dengan urusan Roy, apa gunanya mengetahui siapa yang menyuruhnya."
Kata Baron dengan wajah merah menahan marah.
"Yeah, lagipula bukankah pimpinan sudah senang mendengar Karlita terbunuh? Kita bahkan sudah mendapatkan bonus dari Bos Besar."
Kata si kaki tangan Baron.
Baron mengangguk.
"Yah, si brengsek bedebah itu, suatu hari aku akan mencincangnya."
Ujar Baron.
Laki-laki kekar itu jelas sekali mengerjakan semuanya hanya berdasarkan otot dan emosi saja tanpa melibatkan otak.
Si kaki tangan Baron mengangguk mengiyakan saja apa kata Baron layaknya seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Buatnya, kata-kata Baron layaknya sebuah sabda yang akan terdengar selalu benar dan harus diiyakan.
Baron kemudian tiba-tiba berdiri.
"Kita pindah ke markas baru sekarang saja! Bersihkan ruangan ini dan tutup semua akses."
Kata Baron.
**-------**
Luna turun dari mobil saat ia merasa ada yang memperhatikan gerak-geriknya.
Gadis itu celingak-celinguk menatap ke sekeliling namun tak mendapati apa-apa.
"Kenapa? Ada yang salah?"
Tanya Rose begitu sudah turun juga dan kini menghampiri Luna.
"Entahlah Kak, aku merasa ada yang sedang memperhatikan kita."
Ujar Luna.
Rose ikut mengedarkan pandangannya ke sekitar, tak ada yang terlihat mencurigakan.
"Sudahlah, wajar orang merasa seperti itu ketika masuk tempat baru."
Kata Rose.
"Apa maksud mu kemungkinan ada hantu?"
Tanya Luna.
Rose menghela nafas.
"Kau terlalu banyak nonton film horor."
Kata Rose.
Rose kemudian melihat supirnya sudah kembali menutup dan mengunci pagar.
Rose segera membuka kunci rumah yang telah diganti dengan kunci memakai kode pengaman.
"Masuklah, di luar dingin."
Kata Rose pada Luna yang masih saja seperti tidak tenang melihat ke sana ke mari.
Luna bergegas mengikuti sang kakak masuk ke dalam rumah peristirahatan, kemudian diikuti supir mereka yang menutup pintunya.
"Kau pilihlah sendiri kamar yang ingin kau tempati Bang."
Kata Rose pada supirnya.
Setelah itu bersama Luna menuju ke lantai atas.
"Tidak ada pembantu di sini? Apa kau gila kak?"
Tanya Luna melihat rumah itu begitu sepi.
"Aku baru membelinya, tak ada waktu aku mencari pembantu, tadi pagi aku hanya meminta sebuah agen yang menyediakan jasa membersihkan rumah panggilan, itu sudah cukup."
Kata Rose.
"Bagaimana kalau aku tiba-tiba lapar di malam hari dan tak ada yang bisa aku suruh?"
Gumam Luna.
"Kau tunda makannya hingga pagi agar bisa pesan layanan antar."
Sahut Rose yang membuka blazernya begitu sudah ada di kamar.
"Aku akan tidur bersama mu di sini."
Ujar Luna mendekati jendela kaca kamar Rose.
Menyingkap tirainya dan mendapati pemandangan dari sana adalah rumah tetangga sebelah.
"Apa-apaan ini, balkon kamar menghadap rumah orang lain."
Kata Luna.
"Yah memang banyak yang tak jadi membeli rumah ini karena masalah itu. Tapi aku tak begitu mau peduli, toh aku tak suka duduk di balkon, seperti orang kurang kerjaan."
Kata Rose sambil beranjak ke kamar mandi.
Ia ingin berendam air hangat di bathtub, tubuhnya ingin relax.
Luna jelas saja mendengus. Ia tidak setuju dengan Kakaknya. Duduk di balkon di saat pagi atau sore hari di kala mendekati senja adalah waktu terbaik menurut Luna.
Luna kemudian menutup tirai kaca kamar sang kakak lagi, lalu mendekati kasur dan merebahkan diri di sana.
Jelas sekali rasanya ada yang memperhatikan mereka, tapi kenapa tidak ada satupun sosok di sana.
Ah Luna jadi merinding membayangkan bilamana memang rumah peristirahatan itu berhantu.
Berbeda dengan Luna, sang kakak yang sudah masuk ke dalam bathtub justeru memikirkan hal lain.
Sesungguhnya ia juga merasa mereka sedang ada yang memperhatikan, bukan hanya di saat sudah berada di rumah peristirahatan mereka, namun sejak mereka meninggalkan rumah.
Yah, sejak ia bertemu laki-laki asing di dalam lift yang mengatakan dia seharusnya tak merasa terlalu aman, pikiran Rose cukup terusik.
Selama ini Rose tak pernah merasa ada sesuatu yang mencurigakan terjadi di sekitarnya, apalagi jika ia merasa tengah menjadi sebuah target hingga bisa merasa tidak aman.
Tapi...
Entah kenapa sekarang ia merasa berbeda. Apa yang salah? Apa ia hanya over thinking? Atau memang ia sejatinya memang sungguh tidak aman?
apalagi untuk kaum papa