Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemputan Untuk Indy
Panas terik matahari membuat seorang gadis nyaman duduk berteduh di bawah pohon rindang di area taman yang terdapat di dalam sekolahnya. Padahal siswa lain ramai berebut jalan untuk bisa segera keluar dari parkiran.
Daripada harus beradu siku dengan siswa lain dan membuat kulitnya terbakar sinar ultraviolet, Indy memilih duduk di sebuah bangku panjang dengan menikmati sepotong es lilin.
Bunyi bising klakson motor dari sang pemilik yang tidak sabaran karena sudah merasa kepanasan, tidak mengusiknya sama sekali. Dia justru semakin santai duduk menikmati es lilin.
Hingga sampai di potongan es ke lima yang sedang meyumpal mulutnya, suasana parkiran baru mulai sepi dan lengang. Gadis itu berjalan santai mendekati tempat sampah, guna membuang plastik-plastik bekas es lilin yang telah kosong.
Lingkungan sekolah telah di tinggalkan semua siswa. Keramaian yang tersisa hanya terdapat di ruang guru dan staf. Suara halus knalpot matik milik Indy terdengar jelas saat mesin dinyalakan. Karena hanya ada dirinya, parkiran akan segera kosong mlompong jika dia sudah melajukan motornya.
Sejak hari dia meninggalkan motornya karena keusilan Nanda dan kawan-kawan, Indy tidak mendapati mereka duduk di atas motornya lagi. Atau menyambangi gadis itu ke kelasnya. Apa mungkin Nanda kapok dan menyerah dengan segala bentuk penolakan gadis angkuh it? Entahlah. Hanya cowok tengil itu yang tahu apa sebabnya dia tidak lagi berlaku usil.
Gadis yang kini melengkapi pakaiannya dengan hijab itu sudah berada di tepi jalan raya yang ramai oleh kendaraan bermotor, menunggu saat dia bisa menyebrang ke lajur yang mesti dia lewati untuk menuju ke rumahnya.
Namun sebuah mobil berwarna putih mengkilap melintas di depannya dan menepi tepat setelah melewatinya. Dalam hati dia mengutuki mobil itu, sebab jika bukan karenanya melintas tadi, mungkin Indy sudah bisa menyebrang. Sekarang dia harus menunggu jalanan kembali lengang.
Selirik dia menatap pada mobil yang entah siapa pengemudi di dalamnya. Cukup kesal dalam hatinya, karena dia harus lebih lama tersengat sinar matahari yang panasnya membakar tepat ubun-ubunnya. Yang meskipun tertutup helm, tapi dia masih bisa merasakan denyut akibat kepanasan.
"Assalamualaikum, ya ukhti …," sapa lembut suara cowok yang muncul dari arah samping kiri.
Merasa salam itu tertuju padanya, Indy mengalihkan pandangannya pada sumber suara.
"Wa'alaikumsalam," balasnya.
"Gue, belum telat, kan?" ucap cowok itu lengkap dengan senyumnya yang menawan.
"Telat, apa?" tanya gadis itu polos.
"Telat jemput lo,lah."
"Jemput gue? Gue kan bawa motor, bisa pulang sendiri, kok."
"Motornya bisa lo titipin di sekolah, kan?"
Cowok itu menarik tangan Indy, membuatnya mematikan paksa mesin motornya. Gadis itu bingung, sebenarnya apa yang sedang Rio lakukan di sekitar sini. Kenapa dia tiba-tiba muncul di hadapannya?
Rio memberika kunci motor Indy pada satpam penjaga gerbang yang bertugas. Cowok itu meminta tolong pada satpam untuk mengamankan motor itu.
Sementara nasib gadis itu, dia di gelandang masuk ke dalam mobil putih yang tadi di kutuknya dalam hati. Ternyata mobil yang menghalanginya itu adalah mobil Rio.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanya gadis itu.
"Jalan-jalan," ucap Rio dengan tenang.
"Gue belum minta izin sama Bapak," imbuhnya.
"Bapak lo nggak akan keberatan, gue jamin, Indy."
"Kalau Bapak gue marah, tanggung sendiri, ya," ancamnya.
"Iya."
Mobil itu sudah melesat jauh dari tempatnya tadi berhenti untuk menjempul gadis bawel itu. Indy pasrah dengan nasibnya yang entah akan di bawa kemana oleh cowok itu.
Indy percaya, dia aman bersama Rio. Cowok itu tidak akan berbuat macam-macam padanya, karena Rio sosok yang sopan. Untuk menghabiskan waktu menembus perjalanan, Indy membuka sebuah buku bacaan yang di pinjamnya dari perpustakaan sekolah beberapa hari lalu.
"Rajin banget," sindir Rio pada Indy yang serius membaca isi buku yang di pegangnya.
"Biar nggak kalah saing, sama lo," balasnya ketus.
"Kita kan nggak satu sekolah, kenapa takut tersaingi?" tanya Rio penasaran.
"Bapak gue sering ngebandingin nilai lo sama gue. Lo pikir, gue nggak tahu itu?" jelas gadis itu.
"O …, gue baru tahu," ejek cowok itu yang sebenarnya sudah lebih tahu.
Mereka sampai di sebuah Mall. Indy tidak lagi heran melihat gedung tinggi dan besar itu. Karena dia sudah menduga, Rio akan membawanya ke tempat ini. Sebab, hanya tempat ini yang pantas disebut dengan jalan-jalan ala muda.
"Kenapa, ke sini? Lo, nggak bosen?" cecar gadis itu begitu masuk ke dalam gedung yang di sambut udara dingin.
"Waktu itu kita belom puas main di sini, kan? Sekarang, gue pengen ajak lo main sampai puas."
"Nggak jelas banget, tiba-tiba ngajak gue jalan gini."
Mata gadis itu mulai menyapu seluruh sudut gedung yang luas itu. Dia tidak punya tujuan pasti akan kemana, langkahnya hanya terus mengikuti sang penunjuk jalan, Rio.
Cowok yang juga masih mengenakan seragam putih abu-abu khas anak SMA dengan berbalut jaket jeans hitam di bagian atasan, membelokkan laju kakinya menuju sebuah tempat yang di depannya bertuliskan 'GRAMEDIA'.
"Lo suka baca, kan? Kita tamasya di sini," ajaknya dengan yakin bahwa seseorang di belakangnya akan merasa senang berada di dalam sana.
Dugaannya tidak meleset. Senyum gadis itu merekah saat dia menemukan rak-rak buku bacaan kesukaannya. Matanya menelisik habis sampul demi sampul, judul demi judul, mencari yang sekiranya cocok untuk dia baca.
"Ambil aja kalau mau di baca," kata Rio pada gadis di sebelahnya yang nampak ragu untuk mengambil sebuah buku.
Indy mengangguk dan segera mengambil buku itu, kemudian dia memilih satu sudut di bilik baca. Rio tidak mau kalah, dia juga membawa satu buku untuk menemaninya duduk.
Belum puas menghabiskan waktu satu jam untuk membedah buku bacaannya, Indy berniat untuk memboyong buku itu sebagai tambahan buku bacaan di rumah.
"Mau kemana?" tanya Rio yang melihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya.
"Ke kasir," jawabnya singkat.
"Mau beli buku itu?"
Dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk pertanyaan Rio.
"Sini, gue aja yang ke kasir."
Rio mengambil buku yang sedang dalam genggaman Indy. Gadis itu tidak memprotesnya karena khawatir akan menimbulkan kebisingan yang mengganggu orang-orang membaca di sana.
Keluar dari sana, mereka lanjut berkeliling. Berjalan menyapu koridor Mall dengan kaki mereka. Rio membawa Indy masuk ke sebuah toko yang menjual baju. Namun sepertinya, gadis itu sedang tidak tertarik untuk berbelanja pakaian.
Meskipun Rio memaksanya untuk membeli beberapa baju untuknya, kali ini Indy tetap menolaknya karena memang tidak ingin.
"Laper, nggak?" tanya Rio karena perutnya sudah mulai keroncongan.
"Lo kali yang laper," lemparnya sebagai jawaban.
"Iya, sih. Kita makan dulu," ucapnya dengan senyum yang tak ketinggalan.
Karena mereka lebih dengan lift, untuk menyingkat waktu dan menghemat sisa tenaga, mereka memilih menaikinya untuk bisa cepat sampai ke foodcourt.
Setibanya di sana, mereka langsung memesan beberapa jenis makanan yang mereka suka. Tak ketinggalan juga memesan minuman.
Setelah itu, mereka menuju ke sebuah tempat duduk yang tak jauh dari outlet makanan yang tadi mereka pesan.
"Rio," panggil gadis itu ragu.
"Kenapa, Ndy?" jawabnya santai.
"Maaf soal semalam, gue …,"
"Lo, ngigau. Gue tau kok, Ndy," potongnya dengan tepat. Seakan tahu apa yang menjadi pokok pembicaraan gadis itu.
"Maaf, ya."
"Nggak papa. Lo nggak usah ngerasa nggak enak sama gue."
Mereka kembali diam untuk menyantap makanan yang tadi mereka pesan. Semuanya telah sampai di meja mereka. Memenuhi meja yang memang tak cukup besar.
Di tengah lahapnya mereka berdua makan, seorang cewek berhijab panjang tiba-tiba datang dan berdiri dengan derai air mata di samping kiri meja.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!