😍Sedang dalam revisi, perbaikan tanda baca, narasi dan lainnya.😍
Season 1 & Season 2.
Warning!!!
kalau mau baca pliss dari episode awal karena kisah cinta Vino - Ran berawal dari Season 1.
Di season ke dua, author akan fokus pada kisah cinta Vino sang cassanova yang jatuh cinta pada saudara ipar sepupunya. Ran, begitu ia biasa memanggil gadis itu.
(Season 1 )
Adimas bramasta seorang duda kaya berumur 35 tahun,dia sudah dua kali gagal menikah dan kedua nya gagal di pertahankan karena ia selalu di selingkuhi. sehingga membuat nya trauma akan dunia percintaan.
setelah 8 tahun di luar Negeri, ia kembali ke Indonesia dan menggantikan posisi papa nya sebagai presdir perusahaan. lalu ia bertemu kembali dengan Fani yang dulu ia anggap sebagai keponakan nya,kini telah menjadi gadis dewasa berumur 20 tahun.
jangan luka like,vote, dan komennya ya beb😽💙 jangan lupa juga masukan nya.. biar lebih baik lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulan_zai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 25: Selimut Duka
Di rumah sakit..
Tampak Nita tengah berbaring lemas di ruangan ICU dengan ventilator yang menempel di hidung nya.
Monitor menunjukkan gelombang yang sangat lemah dan hampir menghilang.
Dika dan kedua adik nya duduk di sisi ranjang sembari memegangi tangan Nita.
"jaga adik adik mu ya nak.."
ucap Nita lirih sambil meneteskan air mata nya.
"Dika akan jaga adik adik buk.. ibuk yang kuat ya.. ibuk harus sembuh." ujar Dika sambil berusaha menahan air mata nya.
Nurul dan Ayu tak henti henti nya menangis di samping Nita,mereka sangat takut melihat kondisi Nita yang kian melemah.
"ibuuuk....." panggil Fani yang baru saja tiba di rumah sakit masih dengan gaun pesta nya.
Fani langsung memeluk Nita sambil menangis sejadi jadi nya.
"Fani...tenang lah.."
Dimas mengelus punggung Fani.
mata nya pun berkaca kaca,ia juga merasakan sedih yang sama dengan Fani, namun ia berusaha tetap tegar dan menahan air mata nya sebisa mungkin.
Adit dan Rianti menyusul masuk ke ruang ICU.
"mbakk..." ujar Rianti lirih dengan raut wajah sedih.
"Nak... ibuk titip Fani dan adik adik ya.."
ujar Nita lirih dengan suara yang hampir hilang.
Nita meraih tangan Dimas,lalu perlahan meletakkan nya di atas kepala Fani.
Fani yang sedang membenamkan wajah nya di pelukan Nita pun langsung terkejut dan mengangkat wajah nya.
ia memandangi ibu nya sambil terus terisak tak henti henti.
"ibuk percaya kamu bisa bahagiain Fani.."
ucap Nita sambil menatap nanar ke arah Dimas.
Dimas menitikkan air mata nya saat mendengar kata kata Nita.
"saya janji akan membahagiakan Fani."
ucap nya yakin sambil meregangkan telapak tangan nya di atas kepala Fani,tanda bahwa ia bersungguh sungguh dengan janji nya.
"menikah lah dengan om Dimas nak"
tambah Nita lagi sambil tersenyum kecil.
"iya buk.. iyaa.. Fani akan menikah dengan om Dimas. tapi ibuk harus sehat, kata nya ibuk mau lihat Fani pakai baju pengantin." sahut Fani terisak meyakinkan ibu nya.
Lalu Fani berdiri menghadap Dimas sambil menggenggam erat tangan ibu nya.
"ayo kita menikah om.."
ujar Fani menatap Dimas dengan yakin.
Dan di depan Nita juga yang lain nya, Dimas mengikrarkan janji pernikahan sambil memegang pucuk kepala Fani dan menatap nya dengan keyakinan penuh.
" Saya Adimas bramasta..
meminta mu untuk menjadi istriku.
untuk saling memiliki.
saling melengkapi dalam susah maupun senang.
pada waktu sehat mau pun sakit.
saya berjanji akan setia pada mu.
menjaga dan membahagiakan mu sampai maut memisahkan kita."
ucap Dimas dengan suara tegas dan lantang.
Fani pun menerima ikatan pranikah yang di ucapkan Dimas kepada diri nya.
" saya Alisha Fania..
bersedia menjadi istri mu.
saya akan mendampingi mu dalam susah maupun senang.
dalam sehat maupun sakit.
dan saya berjanji akan setia kepada mu sampai maut memisahkan kita."
ucap Fani sangat yakin sembari meneteskan air mata.
Nita tersenyum sambil mengelus pipi putri sulung nya itu. lalu ia menatap sekeliling dan juga tersenyum ke arah anak anak nya yang lain.
lalu perlahan senyuman itu memudar,mata nya perlahan tertutup dan nafas nya terhenti......
🔊Tiiiiiiiiittttttttt............!
Monitor berbunyi lurus dan berdengung di telinga semua orang.
Dokter menempelkan Defibrilator berulang untuk memancing detak jantung Nita, namun gelombang Monitor tak menunjukkan perubahan pada organ tubuh Nita.
Fani mematung seketika.
buliran air mengalir deras dari pelupuk mata nya.
ia berusaha meyakinkan diri nya sendiri kalau ibu nya akan baik baik saja.
Seketika telinga nya tak dapat mendengar apa apa kecuali dengungan dari Monitor pendeteksi tersebut.
dunia Fani seperti berhenti berputar,nafas nya sesak tak tertahan,tubuh nya gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"nggak..!! ibuk baik baik aja.. ibuk pasti sembuh.. ibuk nggak mungkin tinggalkan kami.." Fani meyakinkan diri nya sendiri sembari menciumi punggung tangan Nita.
Dika pun memeluk adik nya dengan erat sambil menangis sekuat kuat nya.
ia sudah memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi kepada ibu nya tercinta.
Setelah beberapa kali mencoba,Dokter berhenti memancing detak jantung Nita karena tidak ada perubahan, lalu perlahan Dokter menutup wajah Nita dengan kain dan dengan berat hati menyatakan kalau Nita sudah tiada.
" nggak...! ibuk nggak boleh pergi!!!!.. hiks hiks .. ibukk......."
tangisan Fani pun pecah saat itu juga. ia mengguncang guncang tubuh ibu nya yang sudah dingin tak bernyawa.
Dimas pun ikut merasakan perih nya luka yang di alami Fani.
tangisan Dika,Nurul dan Ayu juga pecah di pelukan Rianti sambil terus memanggil ibu nya dengan suara yang terisak.
" sabar ya sayang.. kalian harus kuat.."
ujar Rianti yang juga sedang menangis. ia merasa sangat iba kepada mereka karena mereka tidak punya siapa siapa lagi.
"om.. ibuk belum meninggalkan om. ibuk belum meninggal om.. ibuk nggak mungkin pergi om."
Fani menatap Dimas dengan ber-urai air mata, ia berharap semua ini hanya mimpi buruk nya saja.
Dimas memeluk Fani dan menenenangkan nya.
di dalam pelukan Dimas suara tangisan Fani perlahan hilang dan akhir nya ia tak sadarkan diri.
...~~~~...
Keesokan pagi nya....
Suara tangis mengiringi keberangkatan jenazah Nita menuju ke peristirahatan terakhir nya.
Fani masih tidak percaya kalau wanita tangguh nya kini pergi untuk selama lama nya.
ia terus menangis saat teringat betapa keras nya Nita berjuang untuk menghidupi mereka.
Ya, ibu yang selalu ada dan berjuang seorang diri untuk mereka.
ibu yang selalu tersenyum di depan mereka meski menyimpan banyak luka.
ibu yang menjadi tumpuan mereka satu satu nya.
kini mereka harus merelakan kepergian ibu yang sangat luar biasa tangguh itu.
dan sekarang mereka harus melihat sosok hebat itu menghilang selama nya di iringi dengan timbunan tanah.
Satu persatu orang yang mengantarkan Nita ke pusara nya beranjak dari sana.
kini hanya ada Fani,adik adik nya, Dimas dan kedua orang tua nya.
"ayo kita pulang nak.." ajak Rianti sambil mengusap bahu Fani.
Fani pun menuruti Rianti lalu mereka semua melangkah pergi dari sana.
Di rumah nya Fani dan adik adik nya duduk dan saling berpelukan, mereka seperti sedang menguatkan satu sama lain.
Rianti yang melihat itu pun merasa tersentuh dengan kepedulian mereka terhadap satu sama lain.
...~~~~...
Tiga hari setelah nya,Rianti mengajak Fani dan adik adik nya pindah ke rumah nya.
Rianti berjanji akan menjadikan mereka bagian dari keluarga nya dan Rianti juga bersedia menjadi pengganti Nita.
Di kamar Fani tampak sedang mengemasi pakaian nya, Dimas juga membantu di sebelah nya.
" om udah mengurus dokumen nya?"
tanya Fani memecah keheningan.
" dokumen??" Dimas menatap Fani heran.
"dokumen pernikahan kita.." sahut Fani sambil mengalihkan pandangan nya pada tumpukan baju di pangkuan nya.
Dimas lalu menghampiri Fani dan duduk tepat di samping nya.
"kalau kamu merasa terpaksa menikah dengan om, kamu boleh membatalkan nya. om nggak akan memberatkan kamu." ujar nya sambil memandangi Fani dengan kelembutan.
" kita udah mengikat janji di hadapan ibuk om.. dan Fani nggak mau ngecewain ibuk."
Fani menatap Dimas dengan mata berkaca kaca.
"menikah itu bukan soal janji Fani.. om nggak mau kamu menghabiskan sisa hidup mu bersama orang yang nggak kamu cintai."
"asalkan om Dimas mencintai Fani, Fani nggak keberatan menghabiskan sisa umur Fani untuk jadi istri om."
ujar nya yakin.
Alasan yang membuat Fani mau menikah yaitu karena cinta yang Dimas berikan kepada Fani sangat tulus. ia percaya Dimas tidak akan menghianati nya seperti ayah nya menghianati ibu nya.
ia juga berjanji kepada diri nya sendiri akan belajar mencintai Dimas dengan tulus.
Dimas merasa sangat senang dengan keyakinan Fani.
"om benjanji akan mencintai kamu sayang.."
ujar Dimas sambil mengecup lembut kepala Fani.
degg.....
Jantung Fani seperti hidup kembali saat mendapat kecupan lembut dari Dimas.
...*************...