Kiran adalah seorang gadis berusia 34 tahun yang sudah menyandang gelar perawan tua dihadapkan pada 2 pilihan, menikah dengan Aslan yang sudah memiliki istri atau tetap menjadi simpanan mantan kekasihnya yang sudah lebih dulu menikah.
Antara cinta dan hidupnya sendiri, mana yang akan Kiran perjuangkan?
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Setelah menutup pintu mobil, Aslan lalu memelajukan mobilnya keluar dari area wisata.
Kiran tak terima, kenapa Aslan begitu semena-mena. Sementara di dalam sana semua rekan kerjanya sedang menunggu.
"Mas, kamu apa-apaan sih? kenapa tiba-tiba datang kesini dan malah menculikku pergi?" tanya Kiran ketus, ia bahkan menatap tajam Aslan dengan kedua tangan yang melipat didepan dada.
Hancur sudah harinya yang menyenangkan, pikir Kiran.
Bukannya menjawab, Aslan malah semakin melaju dengan kencang. Marah, karena Kiran tak menyadari kesalahannya. Memeluk pria lain yang bukan mahram, itu adalah dosa dan manyulut rasa cemburunya.
Jengah, akhirnya Kiran hanya diam, tak takut sedikitpun meski mobil itu melaju dengan cepat.
Hingga 15 menit kemudian, mobil itu berhenti juga.
Cemburu memang bahaya, Aslan pria yang begitu tenang jadi berubah seketika. Bertindak hanya sesuai hati dan mengesampingkan logika.
Kiran terdiam, ia memalingkan wajahnya tak sudi menatap sang suami. Kini ia pun marah atas kelakuan Aslan ini.
"Berhentilah bekerja." ucap Aslan langsung dan Kiran berdecih.
Seperti kembali ke masa lalu, mereka kembali berselisih.
"Aku tidak mau, sampai kapanpun aku tidak akan berhenti bekerja." jawab Kiran, semakin ia dilarang ia akan semakin keras kepala. Apalagi saat ia sedang diselimuti emosi seperti ini.
Diam.
Tak ada lagi yang buka suara.
Hening.
"Apa kamu tidak sadar apa kesalahanmu?" tanya Aslan dengan suara yang dingin, memecah keheningan.
"Apa salahku? memeluk Agung? itu cuma permainan." jelas Kiran langsung, sedari tadi ia sudah menebak jika itu adalah sumber masalahnya.
Tapi tetap saja, Kiran merasa tak bersalah. Itu hanyalah permainan, dan Agung?
Ya Allah, tidak mungkin aku ada apa-apa dengan pria tukang kentut itu! batin Kiran kesal.
"Mas Agung itu bukan mahrammu, harusnya kamu bisa menjaga sikap. Sekarang ini kamu sudah menjadi seorang istri Ran."
Kiran terdiam.
Hati kecilnya mengatakan jika ucapan sang suami itu benar, tapi egonya tetap tak mau mengalah.
"Aku tau batasanku sendiri, lagipula itu jelas-jelas hanya permainan."
"Permaianan yang mempermainkan perasaan suamimu." jawab Aslan cepat.
Seketika itu juga Kiran bingung, apa maksudnya?
"Apa maksudmu?" tanya Kiran masih dengan nada yang ketus, ia kembali menatap lekat mata Aslan.
"Ran, apa hatimu begitu beku? apa kamu tidak bisa merasakan perasaan tulusku? aku cemburu melihat kamu berdekatan seperti itu dengan orang lain Ran. Kamu istriku." jelas Aslan segamblang-gamblangnya.
Keduanya saling tatap, dalam, seolah saling menyelami isi hati masing-masing.
"Cemburu?" tanya Kiran gamang.
Cemburu erat kaitannya dengan cinta, dan dia begitu enggan mengenal satu kata itu, cinta.
Hatinya tak utuh lagi, ia tak mau menghancurkan sisa hatinya itu dengan yang namanya cinta.
"Ran, apa begitu sulit bagimu untuk menerima ku? bahkan kita sudah sering menyatu."
Kiran masih betah terdiam, mencerna tiap ucapan yang dikeluarkan oleh sang suami
"Kita bukan orang baru, bahkan sedari kecil aku sudah sering melihatmu tak memakai baju. Sedekat itu kita Ran, apa bagimu aku masih saja orang asing?"
"Stop Lan!" ucap Kiran, emosinya sudah sampai di ubun-ubun, sampai ia tak menyebut sang suami dengan sebutan Mas.
"Aku tidak tau apa yang ingin kamu coba katakan. Tapi tolong, jangan memojokkanku dengan banyak argumen. Aku paling benci perdebatan."
"Aku mencintaimu Ran." Jawab Aslan cepat.
Seketika itu Kiran menoleh, menatap tak percaya pada sang suami.
Entah kenapa, ia benci dengan Aslan yang menyatakan cinta itu. Apalagi secepat ini.
Kiran menggeleng, Tidak. Batinnya.
"Kamu salah, itu bukan cinta. Kamu hanya sedang terlena dengan istri barumu. Cinta itu tidak bisa dibagi Lan." jawab Kiran yakin.
"Jangan bahas tentang ini lagi, main-mainlah sendiri dengan perasaanmu. Tapi jangan bawa-bawa aku."
Setelah mengatakan itu, Kiran membuka pintu mobil dan keluar. Berlari secepat kilat mencari taksi dan meninggalkan Aslan seorang diri disana.
Menatap, kearah kepergiannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu terus berlalu, semenjak dari Bandung kala itu, hubungan Aslan dan Kiran berubah menjadi dingin. Bahkan lebih dingin daripada sebelum menikah kala itu.
Saat Aslan sudah kembali tidur bersama Kiran pun. Mereka masih saling mendiami. Sebenarnya Aslan sudah mencoba bicara, namun Kiran selalu menghindar.
Hingga pagi ini pun Kiran kembali menghindari, ia tak ikut sarapan bersama, demi tak bertemu dengan sang suami.
Dengan cepat, Kiran menuruni anak tangga, ingin segera berlalu ke tempat kerja.
Namun langkahnya memelan, saat sayup-sayup ia mendengar suara seseorang yang muntah-muntah di ruang tengah.
Ingin acuh namun tak bisa, akhirnya Kiran mendatangi sumber suara itu.
Dilihatnya Maya yang tertunduk lemas, dipengangi oleh Aslan. Ada Yuli dan Asni juga disana.
"Ya Allah, kamu kenapa?" tanya Yuli cemas.
Kiran yang baru datang ikut mendengarkan.
"Aku mual Umi, tadi saat ke dapur tiba-tiba bau bawang begitu menyangat, aku tidak sanggup." jawabnya dengan suara yang lemash.
Yuli dan Asni saling pandang, seolah mempunyai pemikiran yang sama.
"Masya Allah May, jangan-jangan kamu hamil Nak." ucap Yuli.
Deg! mendengar itu entah kenapa Kiran sangat terkejut. Bahkan jantungnya seperti tersengat.
Maya yang mendengar itu pun seolah tak percaya, lalu mengingat-ingat kapan ia terakhir datang bulan.
Ah iya, bulan lalu aku tidak mendapatkan haid. Mingkinkah aku hamil? ya Allah benarkah? Batinnya tak percaya.
Takut jika itu hanya angan-angannya saja, sama seperti yang lalu-lalu.
"Kita langsung ke rumah sakit ya? kita juga harus periksa keadaanmu," ucap Aslan yang baru buka suara. Ia pun terkejut kala mendengar ucapan sang ibu.
Tapi tak ingin banyak berharap, ia akhirnya mencoba tenang. Meski hatinya selalu berdoa jika itu benar, Maya hamil.
Maya lalu mengangguk kecil, menyetujui ajakan sang suami.
Akhirnya dengan memapah Maya, Aslan membimbing sang istri untuk keluar. Melewati Kiran yang termangu disana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, kalau aku tidak hamil, apa kamu akan kecewa?" tanya Maya saat keduanya sudah berada di dalam mobil yang melaju memasuki jalan raya.
"Kita serahkan semuanya kepada Allah ya sayang, apapun hasilnya kita harus ihklas."
Maya mengangguk, kedua tangannya mengelus perutnya yang masih rata.
Begitu besar harapannya agar kali ini ia bisa hamil.
Dengan begitu ia bisa kembali merebut hati sang suami secara utuh. Tak dibagi-bagi dengan si Madu.
Maya tidak bodoh, ia sadar jika selama ini ternyata Aslan sudah mencintai Kiran. Terbukti, waktu tak sengaja, Aslan termenung lalu memanggil Maya dengan sebutan Kiran.
Meski marah, tapi Maya mencoba tersenyum.
Selalu meyakini jika Kiran hanyalah mainan sementara sang suami. Nanti, dia akan pergi dengan sendirinya.