Laura gadis malang yang dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan seorang CEO yang sudah beristri dan juga sangat dingin.
Mampukah Laura bertahan disamping Tuan CEO? Atau kembali kepada cinta pertamanya, yang ternyata adalah anak dari Mr. Edward
yang dingin itu?
"Pernikahan adalah hal yang suci dan aku akan bertahan walaupun kau terus menyakiti ku." Laura
"Kau hanya seorang selir bagiku, jadi jangan pernah berharap lebih dariku." Mr. Edward Sebastian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Dingin
Aku memperhatikan sekeliling ku, namun tidak ada siapapun disana. Hanya aku dan Harry.
"Harry, lupakan lah aku dan mulailah kehidupan barumu. Lagipula aku sedang mengandung, Harry... Aku sedang mengandung anak dari Tuan Edward, Ayahmu." ucap ku.
"Tidak! Itu tidak mungkin! Kau pasti bohong... Kau bohong kan, Laura?!" ucap Harry sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Akupun mengangguk perlahan, "Ya Harry, aku sedang mengandung anak dari Tuan Edward."
Tubuh Harry jatuh ke tanah dan ia menangis histeris sambil mengacak-acak rambutnya. Aku ketakutan, aku segera berlari untuk mencari bantuan.
Hingga akhirnya aku bertemu Chelsea yang sedang bicara serius dengan dua orang laki-laki. Aku bingung, apa hubungan Chelsea dengan kedua lelaki itu. Karena mereka terlihat sangat mencurigakan.
"Nona Chelsea, Nona Chelsea... tolong bantu aku! Disana... di halaman Villa, Harry sedang kacau. Kasihan dia, ku mohon bantu dia..." ucap ku sambil memelas kepada Chelsea dan kedua lelaki itu.
Chelsea tersenyum sinis padaku. "Itulah akibat rakus, Laura! Sudah bagus dapat anaknya, sekarang Ayahnya pun kau embat! Dasar jalang!" ucapnya padaku.
Aku tidak terlalu mempedulikan ucapan kasarnya padaku. Aku hanya ingin dia menolong Harry yang sedang kacau disana.
Chelsea segera menghubungi para keamanan dan meminta mereka untuk mengamankan Harry.
"Sekarang sudah beres, sekarang pergilah! Aku eneg melihat wajahmu!" ucap Chelsea padaku.
"Terimakasih, Nona Chelsea."
Akupun kembali menuju Villa dan ternyata Harry sudah mereka bawa ke sebuah kamar tamu dan membiarkan dia istirahat sambil menenangkan dirinya.
"Nyonya Laura, apa anda ingin makan siang?" ucap salah seorang pelayan yang menghampiriku ketika aku ingin memasuki kamar.
Aku mengangguk. Setelah lelah berlari-lari, akupun kembali lapar dan ingin menikmati makan siang buatan Tuan Edward.
Aku berjalan mengikuti langkah kaki pelayan itu menuju ruang makan. Pelayan itu segera mengambilkan makan siang ku, yang sudah disiapkan oleh Tuan Edward.
Namun ketika Pelayan ingin menyerahkannya kepadaku, Chelsea yang entah sejak kapan berada diruangan itu, dengan sengaja menabrak tubuh Pelayan hingga ia terjatuh bersama makan siang ku.
Prankkk!!!
"Oupss! Maaf!" ucap Chelsea tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Aku menatap makan siang ku yang terserak di lantai. Ingin sekali rasanya aku menangis ketika melihatnya. Aku menatap Chelsea, iapun balas menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Maafkan saya, Nyonya Laura... saya tidak sengaja." ucap pelayan itu sambil memelas kepadaku. Wajahnya pucat pasi, pasti ia sangat ketakutan. Takut aku akan memarahinya dan melaporkannya kepada Tuan Edward.
"Sudahlah, Bi. Tidak apa." sahut ku sambil merengkuh tubuh Pelayan itu.
"Terimakasih, Nyonya!" ucapnya
Chelsea memutarkan bola matanya. Ia nampak tidak suka dengan adegan yang sedang terjadi didepan matanya.
Pelayan itu segera membersihkan pecahan piring dan makan siang ku yang berserakan bersama beling pecahan piring tersebut.
"Bi, beri dia makanan biasa. Sama seperti yang lainnya. Manja sekali, makan saja minta dibuatkan sama Tuan Edward. Dan bodohnya, kenapa Tuan Edward mau-maunya dibodohi oleh wanita ini!" seru Chelsea
Rupanya Chelsea tidak mengetahui perihal kehamilan ku, padahal semua pelayan disini sudah mengetahuinya. Mungkin saja Tuan Edward memang sengaja tidak memberitahunya.
Salah satu pelayan lainnya segera membawakan makanan untukku. Ia menata makanan itu dihadapan ku kemudian mempersilakan aku untuk mencicipinya.
Aku terdiam sambil menatap makanan itu. Makanan itu sama sekali tidak menggugah selera ku. Aku bahkan masih tidak ingin menyentuhnya sama sekali.
"Maafkan aku, sepertinya aku sudah kenyang."
Aku bangkit dari tempat duduk ku dan ingin segera pergi dari ruangan itu. Namun baru saja aku berdiri, Chelsea menangkap tanganku dan dengan sangat kasar dia mendudukkan aku kembali ketempat duduk ku.
"Duduk dan nikmati!" perintah nya.
Aku bangkit. Bukan hanya dia yang bisa kesal, akupun juga bisa. "Cukup, Nona Chelsea! Sebenarnya apa masalah mu padaku. Aku sama sekali tidak pernah mengganggu kehidupan mu!" sahut ku.
"Ya, kau memang tidak pernah mengganggu kehidupan ku secara langsung, tapi aku sangat membenci mu, Laura! Karena kamu telah merebut posisi ku disamping Edward!" hardik nya.
Aku tersenyum sinis sambil melewatinya, "Kau sudah gila!" sahut ku.
Chelsea sangat kesal. Ia bahkan menghamburkan makanan yang sudah tertata rapi diatas meja.
"Ingat, Laura! Kau akan menyesal karena telah mengatakan hal itu kepadaku!" teriak Chelsea,
Aku tidak mempedulikan bagaimana reaksinya saat itu. Aku terus melangkah menuju kamar. Setibanya dikamar, aku segera mengunci pintunya. Aku tidak ingin ada yang masuk, baik itu Chelsea atau siapapun, termasuk Harry yang masih beristirahat disalah satu kamar tamu.
Aku melangkah ke kamar mandi, membersihkan diriku secara kilat kemudian mengganti pakaianku. Kini aku hanya termangu sambil menunggu kedatangan Tuan Edward.
Setelah beberapa lama, akhirnya Tuan Edward pun datang. Aku segera menyambutnya dengan senyuman hangat. Aku menghampirinya dan berniat ingin membantunya melepaskan setelan Jas yang sedang ia kenakan.
Namun sepertinya Tuan Edward enggan aku menghampirinya. Ia menahan tubuhku dengan tangannya agar aku tidak mendekat padanya.
"Berhenti disana!" ucapnya,
Seketika senyuman ku menghilang. Aku bingung melihat reaksinya. Aku tidak menyangka ia akan menolak ku seperti itu.
Tuan Edward melepaskan setelan Jas nya sendiri dan meletakkannya ke keranjang pakaian kotor kemudian ia segera memasuki kamar mandi.
Aku masih terdiam ditempat ku berdiri, masih memikirkan penolakan Tuan Edward terhadap ku. Apa salahku kali ini, kenapa dia kembali berwajah dingin seperti itu kepadaku. Padahal sudah beberapa hari ini, Tuan Edward mulai hangat kepadaku.
Aku melangkah gontai menuju tempat tidur dan duduk disana sambil menunggu Tuan Edward keluar dari balik kamar mandi. Selang beberapa saat, Tuan Edward pun keluar dari tempat itu dengan aroma tubuh yang semerbak mewangi.
Tuan Edward keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya bagian bawah. Kulit putih mulusnya nampak terlihat sempurna ditambah dengan perut kotak-kotak bak roti sobek.
Walaupun Tuan Edward sudah berusia matang, namun penampilannya tidak kalah dengan lelaki berusia 28-30 tahun. Pantas saja Chelsea begitu tergila-gila kepadanya. Padahal usia Chelsea masih muda, hampir seusia Harry.
Aku masih memperhatikan Tuan Edward sambil tersenyum hangat kepadanya. Tapi tidak dengannya. Tuan Edward tidak mempedulikan ku, dia terus melakukan ritual sehabis mandinya.
"Tuan Edward..." belum selesai mengatakannya, Tuan Edward langsung memotong pembicara ku.
"Sudah diam, aku tidak ingin mendengar suaramu!"
Aku semakin bingung, kesalahan apalagi yang telah aku lakukan kepadanya. Aku bangkit dan berniat mengambilkan piyama tidur untuknya, namun ia kembali mencegah ku.
"Tidak perlu! Aku bisa mengambilnya sendiri." ucapnya
Akupun segera mengurungkan niat ku sambil menatapnya dengan tatapan sendu. Aku sangat sedih karena Tuan Edward kembali bersikap seperti itu kepadaku.
***