Kabur dari rumah agar terhindar dari perjodohan yang tak di inginkan, namun siapa sangka Eliana justru masuk kedalam lubang buaya. Ia harus berurusan dengan seorang lelaki yang super nyebelin menurutnya yang telah mempekerjakan dirinya sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah lelaki itu.
Dan masih banyak lagi kisah cinta pasangan muda mudi yang akan menemani Eliana di setiap episode nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diah mahlipi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa sengaja
"Apa kalian sepasang suami istri?" tanya kembali si pemilik pemilik rumah.
Nazwa dan Hans tertegun saling pandang, kemudian keduanya tertawa kecil.
"Bukan, saya seorang dokter dan dia polisi. Kami ke sini hanya ingin mengobati salah satu warga yang lagi sakit. Karena tidak bisa ke rumah sakit atau tenda darurat di kota, maka itulah kami ke sini." Nazwa menjelaskan.
"Oh jadi begitu, saya pikir kalian suami istri..." sang ibu terkekeh malu sendiri, " habisnya kalian terlalu mesrah ... jangan terlalu lama pacaran, nanti ke buru ada setan yang datang. Lebih baik cepat menikah aja!"
"Tapi kami tidak pa... "
" Amin, doa kan saja ya Bu, semoga Allah menjodohkan kami," jawab Hans cepat mengaminkan ucapan ibu Fatma lalu ia melirik Nazwa yang nampak linglung.
"Amin...," jawab ibu Fatma.
" Hah..." Nazwa menghembuskan nafasnya, terlambat sekarang untuk mengelak.
"Oh iya bagaimana keadaan Ibu Nur? beliau sakit dari 2 hari yang lalu. Anaknya begitu panik karena semua puskesmas tutup karena para dokter pergi ke kota untuk membantu di sana. Jika Ibu Nur di bawa pakai perahu ke tenda darurat di sana, takutnya nanti sakitnya semakin parah," ujar Ibu Fatma.
"Iya, sebab itulah saya datang ke desa ini secepatnya, beliau terkena DBD," jawab Nazwa.
"Ya Allah, apa gak apa-apa?" cemas ibu fatma.
"InsyaAllah... "
Setelah 1 jam berteduh, hujan mulai reda. Hans dan Nazwa berpamitan karena hari sudah sore jadi mereka cepat-cepat kembali ke kota.
_______
Di waktu yang sama, seorang laki-laki tampan sedang menunggu di depan kampus. Namun sayangnya hanya menunggu di dalam mobil, tidak mungkin keluar karena pasti akan membuat gadisnya itu merajuk nantinya.
El melihat mobil terpakir di depan, ia langsung menghampiri.
"Hay, udah lama menunggu nya?" tanya El masuk ke dalam mobil sambil melepaskan kaca matanya.
"Tidak, baru beberapa menit aja kok," jawab Aaron lembut mengelus kepala El.
"Beberapa menit apanya? 2 jam iya," batin sang supir ingin tertawa jahat," bisa aja Tuan berbohong, padahal bokong sudah panas tuh. Lebar, kelamaan duduk."
Bimo benar-benar ingin tertawa jika ia berani, namun sayang nyalinya kecil sehingga hanya mampu menahannya saja. Aaron terlalu bersemangat saat ingin menjemput El pulang kuliah, bahkan lelaki itu rela menunggu 2 jam lamanya sangking takutnya telat tadi.
"Huuuuf, lelah...," keluh El lesu ia menyadarkan kepalanya di bahu Aaron.
"Capek ya ... mau makan? "
" Nanti aja deh di rumah, pulang aja dulu. Gerah banget mau cepat mandi," jawab El sambil memejamkan mata akibat terlalu lelah saat di kampus nyaris seharian.
"Tidurlah kalau kamu leleh, nanti aku bangunin jika sudah sampai." Aaron mengusap kepala El lembut.
"Hem... "
Dalam hitungan menit El nampak sudah tertidur nyenyak. Aaron tersenyum menatapnya. Perlahan ia merebahkan tubuh Eliana dan menjadikan kedua pahanya sebagai batal agar jauh lebih nyaman.
" Pelan-pelan saja, jangan sampai membangunkannya," pinta Aaron berbicara pelan kepada Bimo.
"Baik Tuan! " Bimo melirik dari kaca spion mobil, ia dapat melihat kelembutan Aaron kepada El." Syukurlah kalau Tuan sudah mendapatkan calon istri, kasihan juga kalau dia jomblo seumur hidup akibat penyakit yang di deritanya. Jadi gak kebayang," batin Bimo tersenyum tipis, dalam hati lega.
Setelah sampai di depan rumahnya, perlahan Aaron menggendong El dan membawanya masuk lalu ia bawa ke kamarnya.
Aaron duduk di shopa menunggu El bangun, entah mengapa ia tak ingin jauh-jauh dari wanita yang ia cintai itu.
"Emmmmm... " El meregakan otot -ototnya. Matanya mengerjab sambil di kucek nya.
" Kamu udah bangun? "
El membuka matanya pelan, sedikit rabun ia dapat melihat Aaron yang sedang duduk.
" Emm, apa ini sudah di rumah? " tanya El dengan suara serak.
" Iya, apa kamu lapar?" Aaron mendekat lalu duduk di samping El.
"Nanti, aku masih ngantuk," jawab El malas.
"Dasar pemalas, ayo bangun sebentar lagi mau magrib loh." Aaron menarik kedua tangan El.
"Nanti deh, lima menit lagi. Aku benar-benar masih ngantuk tau... "
" Bangun, gak ada lima menitan. Gak baik tidur di waktu senja. Mandi sana biar badan kamu itu segera," perintah Aaron.
"Emmmm ... emang jam berapa sih?" tanya El lagi -lagi dengan suara malas.
"Sebentar lagi jam 6, matahari aja sudah hampir tenggelam. Ayo bangun, mandi ... atau mau aku yang mandiin?" ucap Aaron menggoda dengan senyuman nakalnya.
"Emanya aku bayi, pake di mandiin segala."
Aaron terkekeh. " Tapi melihat wajah kamu seperti ini, memang seperti bayi mungil gang mengemaskan," batin Aaron tersenyum.
"Baby besar, ayo bangun... "
Hoooaaaam, El menguap panjang.
" Kalau menguap itu mulutnya di tutup, liat noh setan pada ketawa," ujar Aaron sembari menutup mulut El dengan tangannya.
Saat ini tubuhnya sedikit membungkuk, dan tepat berada di atas tubuh El dengan jarak cukup dekat.
Mata keduanya saling tatap mengunci satu sama lain. Perlahan Aaron melepaskan tangannya dari mulut Eliana. Sesaat lelaki itu menelan ludahnya, ada setan lewat sehingga pikirannya buyar.
"A-aku mau mandi, om keluarlah," usir El terbata sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.
Aaron tersadar, ia pun menjauhkan tubuhnya sambil berdehem dengan wajah merona.
"Ma-mafkan aku, " ujar Aaron sesal.
" Hem... " Eliana bangkit dari tidurnya menjadi duduk." aduh gila, untung om Aaron gak denger detak jantung gue saat ini. Ih, kok jadi canggung gini ya?" batin El menggaruk kepalanya.
"Mandi lah, aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan malam," ujar Aaron, lembut mengacak rambut El. Ia pun handak bangkit.
"Eh, om tunggu... "
Aaron yang belum sempat berdiri, tangannya keburu di tarik oleh Eliana sehingga membuat tubuhnya oleng dan terjatuh, karena takut menimpa El, ia pun menahan dengan satu tangannya. Namun sayangnya tetep saja tumbang hingga menimpa tubuh El juga pada akhirnya.
Dan nasib baik. memihak padanya hari ini, entah keberuntungan atau nasib sial. Tanpa sengaja kedua bibir mereka menyatu saling menempel.
Maksud hati ia ingin menanyakan soal pertemuan dengan Eliana palsu sewaktu di kampus, sebab itulah ia ingin menahannya sebentar. Namun siapa sangka terjadi hal yang tak di sangka -sangka.
Mata Eliana terbelalak kaget, spontan ia langsung mendorong tubuh Aaron agar menjauh darinya.
"Maafkan aku El, aku gak sengaja?" sesal Aaron, padahal dalam hati sudah seperti lautan bunga yang bermekar.
Eliana menyentuh bibirnya, masih terasa hangat ia rasakan. Benda kenyal itu menempel di bibir untuk yang pertama kali.
"Om, ka-kamu ... sudahlah, keluar sana. Ini yang ketiga kalinya kamu mencium ku, " ucap Eliana ketus tanpa sadar berucap.
" Tapi kali ini aku beneran gak sengaja, sumpah deh." Aaron mengangkat kedua jari nya.
"Eh, apa kamu sudah mengingat aku?" tanya Aaron baru sadar akan ucapan Eliana.
Eliana tertegun, sesaat pikirannya melayang melintas waktu ke 11 tahun yang lalu di mana seorang laki-laki dewasa telah mengambil ciuman pertamanya, dan bukan hanya sekali melainkan dua kali.
Eliana melebarkan kedua kelopak matanya melotot pada Aaron..
"Jadi kamu... "