Jihan Kharisma gadis SMA yang tergila-gila dengan seorang pria berseragam. Lebih tepatnya dengan tentara, dia begitu mengidolakan seorang tentara untuk menjadi suaminya karena ia ingin seperti kakaknya yang perempuan yang menikah dengan tentara. Apalagi kakaknya yang laki-laki adalah seorang tentara sehingga menambah keinginannya yang begitu dalam untuk memiliki suami tentara.
Suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria yang tanpa sengaja membantu Jihan saat gadis itu jatuh dari sepeda, pertemuan itu membuat jihan terpesona setengah mati berharap ingin bertemu kembali dan mentakdirkan mereka.
Apakah nanti Jihan akan bertemu kembali dengan pria itu, baca disini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ansifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 24
Malam hari Jihan terbangun dari tidurnya, dia membuka matanya menyapu setiap sudut kamarnya saat ini. Dan ia baru menyadari kalau ia sudah berada di kamarnya.
Saat terbangun ia hanya sendirian saja didalam kamar tidak ada orang atau siapapun disampingnya. Dia merasa bingung, perasaan tadi dia ada didalam mobil Bara setelah dari rumah sakit kenapa ia sekarang sudah ada didalam kamarnya.
"Kok gue udah ada di kamar ya, siapa yang bawa aku kesini?apa mas Bara" wajah Jihan langsung merona saat menyebutkan nama Bara. Ia langsung membayangkan Bara yang kemungkinan tadi telah menggendongnya.
"Tadi mas Bara gendong aku ala bridal style kayak di drama-drama korea nggak ya, apa dia gendong aku dipunggung bidangnya" Jihan merasa girang sendiri saat membayangkannya.
"Oh iya, tapi ngomong-ngomong kemana mas Bara ya?apa dia sudah pulang" heran Jihan karena tidak melihat ada Bara di kamarnya.
Jihan beranjak dari kasurnya hendak pergi keluar. Tapi tiba-tiba ia merintih kesakitan memegangi lehernya.
Jihan merasakan ada sesuatu yang menempel di lehernya saat ini. Perlahan ia memegang lehernya sendiri, dan merasakan apa itu. Karena penasaran ia berjalan perlahan menuju cermin tempat riasnya.
Di cermin itu ia melihat, ada plaster luka yang tertempel di sana. Senyum mereka menghiasi bibirnya saat ini.
"Ini pasti Mas Bara yang lakuin, dia perhatian juga" ucapnya sambil tersenyum.
………………
Bara sedang ada di kantor kodim tepatnya di ruangannya saat ini. Dia sedang melihat kearah komputer tetapi pikirannya melayang pada Jihan. Dia kepikiran dengan adik seniornya itu, memikirkan apa Jihan masih syok atau bagaimana. Soalnya gadis itu sedang di rumah sendiri paling cuman ditemani oleh asisten rumah tangganya saja.
Sedangkan Bara tadi mencoba menghubungi Banu ponsel seniornya itu tidak diangkat, dia hendak memberitahukan apa yang terjadi pada Jihan.
"Bang Bara, Bang Bara" panggil Dika dari luar ruangan Bara karena dia tidak berani masuk. Dia bukan dari bagian unit intel.
pikiran Bara masih melayang memikirkan keadaan Jihan sampai-sampai ia tidak mendengar Dika yang memanggilnya dari luar ruangan.
"Yaelah nih orang dipanggil nggak jawab-jawab" kesal Dika dan langsung masuk begitu saja menghilangkan ketakutannya.
"Woii, bang Bara" ucap Dika sambil menepuk pundak Bara yang terdiam.
"Eh kamu Dik, ngangetin saya aja" ucap Bara yang baru tersadar dari lamunannya.
"Habisnya bang Bara ngelamun, di panggilin nggak nyaut-nyaut"
"Ada apa kamu kemari," tanya Bara sambil melihat Dika.
"Tadi, Bang Banu nelpon pakek nomer bang Rosyid dia tanya kenapa kok Bang Bara dari tadi nelponin dia terus. Hpnya bang Banu lagi rusak bang jadinya nggak bisa angkat telpon" jelas Dika memberitahukannya pada Bara.
"Oh pantes, dari tadi saya telpon bang Banu nggak diangkat-angkat"
"Lah bang Bara kenapa nelpon bang Banu bolak-balik, ada yang penting?"tanya Dika mulai ingin tahu urusan orang.
"Bukan urusan kamu, yaudah sana pergi. Saya mau nelpon Rosyid" usir Bara pada Dika secara halus.
"Dasar"
Dika langsung berjalan pergi keluar dari ruangan Bara saat ini, meninggalkan seniornya yang sepertinya terlihat ragu-ragu.
Saat Dika sudah keluar dari ruangannya Bara langsung menghubungi Rosyid, agar ia bisa berbicara dengan Banu.
Bara mengetikan nama Rosyid di ponselnya, saat nama rosyid sudah ketemu dengan segera ia langsung menghubungi rekannya yang sekarang beda tempat dinas itu.
"Assalamualaikum syid" ucap Bara memberi salam saat panggilan sudah tersambung.
"walikumsalam bang," jawab Rosyid di seberang sana.
"Syid, saya bisa bicara dengan Bang Banu sebentar?tolong kamu temui bang Banu, Bang Banu tidak sedang bersama Danyon kan?"
"Tidak bang bang, kebetulan sekarang saya sedang bersama Wadanyon"
"Halo Bar, ada apa ya dari tadi siang kamu menghubungiku terus apa ada sesuatu" ucap Banu saat Rosyid sudah memberikan ponselnya pada Banu.
"Begini bang, saya mau memberitahu Bang Banu kabar yang tidak enak tentang Jihan bang" ucap Bara pada akhirnya setelah ia sedikit ragu.
"Kabar tidak enak tentang Jihan?Memang ada apa dengan Jihan Bar?"
"Jihan tadi di copet bang, terus dia sempet syok tadi tapi sekarang sudah tidak apa-apa" jelas Bara memberitahukan nya pada Banu.
"Astaga,..bagaimana bisa?" Banu tampak kaget saat mendengar adiknya yang kecopetan.
"Saya juga kurang tahu bang, tadi saya ketemu dia di pinggir jalan sambil nangis"
"Dia bagaimana sekarang?"
"saya kurang tahu bang, soalnya tadi saat dia tidur saya berangkat Dinas bang"
"Waduh gimana ya, orang tua saya kan sedang ada di Sulawesi nemuin Fira yang keguguran. Dan di sana masih dua minggu lagi. Sementara Saya ini masih di medan bersama Rosyid juga Danyon seminggu lagi baru pulang. Jihan bagaimana ya,..Bar, Bara saya boleh minta tolong sama kamu nggak?"
"minta tolong bang?kalau boleh tahu minta tolong apa ya bang?"
"Tolong kamu temani Jihan ya selagi saya dan orang tua saya tidak ada di rumah" mohon Banu.
"Saya khawatir dengan dia,"
Bara diam sebentar memikirkannya terlebih dahulu sebelum menjawab.
"I..Iya bang, nanti kalau saya pulang Dinas saya akan ke rumah bang Banu buat nemenin Jihan. Bang Banu tidak apa jika saya hanya berdua dengan Jihan?"
"Tidak apa Bar, saya percaya kok sama kamu. Eh bar sudah dulu ya, saya harus menghadap Danyon"
"Iya bang," Bara langsung mematikan sambungan telponnya.
Dia menghela napas perlahan, memikirkan nanti saat bertemu Jihan dia harus bagaimana dengan gadis yang selalu mengejar-ngejarnya itu.
°°°°°
Matahari sudah menampakkan cahayanya yang menyilaukan mata saat ini sudah pukul enam lebih lima belas menit. Tetapi sinar surya telah bersinar begitu terang.
Sementara Jihan masih tidur di tempat tidurnya, Dia merasa kedinginan saat ini, dan ia kringat dingin. Serta kepalanya juga terasa berdenyut nyeri.
"Arghh, kok kepala gue pusing banget ya dingin juga" rintih nya sambil menarik selimutnya kembali tidak jadi beranjak dari tempat tidur.
"Masa gue sakit sih, di rumah lagi nggak ada orang. Bunda sama ayah kan ke Sulawesi" bingungnya, lalu siapa yang akan merawatnya.
Bik Nah, iya bik nah. Diakan di rumah bersama bik nah.
Dengan menahan denyutan yang bersarang di kepalanya Jihan bangkit dari rebahan nya beranjak pergi kebawah menemui bik nah untuk membuatkannya teh hangat dan bubur untuk sarapan karena sepertinya lidahnya saat ini sudah pahit.
Perlahan demi perlahan Jihan menuruni tangga dirumahnya.
Mencari keberadaan Bik nah,
"Bik nah pasti di dapur," ucapnya pada diri sendiri. Lalu ia melangkah ke dapur, mencari bik nah benar saja bik nah sedang ada di dapur karena Jihan saat ini mendengar seseorang yang sedang memasak. Baru saja ia akan beranjak ke dapur bel rumahnya berbunyi, memaksa Jihan untuk berjalan ke depan untuk membukakan pintu itu.
Dia sudah sampai didepan pintu dan siap membukakannya. Saat pintu terbuka betapa berbinar nya mata Jihan saat ini melihat Bara yang sudah berdiri didepannya sambil menggendong tas berukuran sedang berwarna hitam.
"Mas Bara," ucap Jihan terlihat senang.
Bara hanya diam saja, melihat Jihan yang sepertinya tampak pucat. walaupun gadis itu terlihat ceria saat ini,
Tapi wajah pucat nya tidak bisa berbohong.
"Kamu sakit dek,?" tanya Bara langsung.
"Ah cuman pusing saja mas,"
"Ayo masuk dek, kamu juga pasti kedinginan kan?" tebak Bara.
"Kok mas Bara tahu aku juga ngerasa dingin" takjub Jihan.
"Ayo masuk" Bara menggandeng tangan Jihan menuntunnya duduk di sofa ruang tamu.
°°°
T.B.C
muncul