NovelToon NovelToon
Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Nipi Nupu

Dean Justin Lee, seorang sutradara muda terkenal yang digilai oleh fans dan para aktris itu membuat skandal yang paling gila. Ia menikahi seorang petugas laundry bernama Jessy Julian yang memiliki paras cantik dengan mata berwarna hazel dan rambut pirang paling indah.

Jessy Julian merupakan seorang wanita mandiri yang sejak kecil ditemukan oleh seorang wanita pemilik yayasan. Ia pindah ke New York untuk mengadu nasib sebagai petugas laundry.

Pertemuan pertama Jessy dan Dean justru membuat mereka harus mengarah pada suatu proses pernikahan. Namun, Apakah perbedaan status keduanya dapat membuat pernikahan mereka berlangsung lama? Lalu bagaimanakah Jessy menjaga hatinya karena pesona Dean yang membuat wanita lain terpesona?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Problem Maker

Dean menutup matanya. Ia menunggu apa yang akan dilakukan wanita yang sudah ia nikahi itu. Biasanya iapun melakukan hal yang sama pada wanita lainnya. Tiba-tiba ia merasakan tangan itu melonggar. Tunggu, kenapa berhenti? Ia mencoba membuka matanya perlahan. Ia melihat Jessy menjauhinya.

"Pfft.." Jessy mencoba untuk menahan tawanya. Ia tergelak tawa tak tertahankan. "Apa yang coba kau pikirkan, Dean? Kenapa kau menutup matamu? Aku hanya menggodamu.." serunya sambil mundur kebelakang.

Dean merasa malu. Baru kali ini ia dipermainkan seperti itu. Ia membalikkan badannya ke belakang. "Aku pikir kau akan memberikanku hadiah pernikahan. Jangan menggodaku lagi. Kau tau aku adalah seorang pria dewasa."

"Kau marah? Memangnya apa yang kau pikir akan aku lakukan?" tanya Jessy. "Aku hanya mengikuti adegan film Maid in Manhattan. Kau tahu itu bukan? Film tentang seorang ibu dengan satu orang anak yang datang ke Manhattan untuk bekerja, kemudian tiba-tiba ibunya itu menyamar sebagai... "

"Cukup. Aku tahu. Itu film lama." potong Dean. "Kau pernah bercerita tidak menyukai film. Kenapa kau menonton film itu? Bagaimana dengan film Death? Kenapa kau tidak pernah menontonnya?" tanya Dean dengan nada kesal.

"Itu film romantis, Dean. Aku memang menyukainya. Aku tidak menyukai film Death. Itu film horror. Aku takut." jelas Jessy.

"Tetap saja. Itu berarti kau pernah menonton film." ucap Dean.

"Aku menontonnya ketika aku kecil. Saat itu semua orang menontonnya saat hari valentine. Tapi itu dulu. Semua teman-teman sekolah dan yayasan membicarakannya. Aku juga ikut membayangkan jika suatu hari aku akan menemukan seorang pria tampan seperti itu." jawab Jessy polos.

"Untuk itu kau datang ke New York? Karena terinspirasi film itu?"

"Itu terdengar konyol, aku datang ke New York untuk mendapatkan uang. Jika aku bertemu dengan pria tampan, itu hanya keberuntungan kecil. Aku tidak pernah membayangkan itu. Aku pernah bertemu dengan salah seorang konsumen di tempat laundry Mrs. Patty. Dia tampan sekali. Kami sempat mengobrol lama. Tapi itupun hanya satu kali. Hanya ketika ia datang. Aku pikir itu sedikit keberuntungan."

Dean mendekati Jessy dan berdiri didepannya. "Apakah aku kurang tampan?" tanya Dean sambil menatapnya tajam.

Jessy gugup. Ia melihat Dean membungkukkan tubuhnya sambil menatapnya. Siapapun yang menjadi dirinya akan meleleh ketika ditatap oleh pria tampan seperti Dean. Iapun menoleh kesamping. "Kau..kau..kau tampan tapi kau punya banyak wanita di sekelilingmu. Kau..kau banyak menyakiti wanita."ucapnya gugup.

"Itu karena mereka yang mengejarku. Tatap aku, Jessy. Kau malu?" tanya Dean.

"Tidak, Aku mengatakan yang sebenarnya."protes Jessy. Ia mempererat pegangan tangannya pada masing-masing sisi tempat tidur. Ia benar-benar gugup. Dean selalu menciumnya dengan tiba-tiba. Ia belum siap. Tapi kali ini ia membalas menggodanya. Apakah Dean akan melakukannya lagi?

"Lalu kenapa kau tidak mau menatapku?" tanya Dean dengan berbisik. "Aku ingin jujur padamu. Kau mau mendengarnya?"

Jessy menatap Dean. Pipinya mulai merona merah. Ia merasa malu.

"Sepertinya aku mulai menyukaimu.." bisik Dean. Kedua tangannya mendorong tubuh Jessy hingga ia terlentang diatas tempat tidur. Ia terlihat sangat gugup. Dean menundukkan wajahnya. Pertamanya wanita didepannya ini menggodanya, kali ini ia yang akan menggodanya. Tapi melihat wajah polosnya, ia tidak tahan untuk tidak menciumnya.

Tidak, aku juga menyukainya. Wanita manapun tidak akan tahan jika berdekatan dengan pria tampan yang terus menggodanya. Jessy menutup matanya ketika Dean mulai menciumnya. Ia merasakan kedua tangan memegang kepalanya. Iapun terdorong untuk menyentuh punggung bidang pria itu. Tiba-tiba ia berhenti. Ia menatapnya sambil tersenyum.

"Aku menyukaimu karena aku kasihan." ucap Dean sambil menyentuh bibir Jessy yang bergetar.

Jessy terkejut. Kasihan? Kata-kata itu yang paling ia benci hingga saat ini. Ketika Dean menundukkan kembali wajahnya, ia menahan dada pria itu dengan kedua tangannya. Pria itu tampak terkejut.

"Cukup. Bangunlah." ucap Jessy serius.

Dean kebingungan ketika melihat perubahan wajah Jessy.

Jessy bangun dan berjalan ke sofa. Ia duduk sambil berpangku tangan. Ia menerima jika Dean menyukainya. Bukan mencintainya. Tidak mungkin ia mencintainya dengan begitu cepat. Ia menyukainya seperti ia menyukai para wanita lain yang menggodanya. Oke, ia menerimanya. Itu hanya sebagian konsekuensi atas pernikahan ini. Karena menurut Anastasia, Dean adalah seorang pria yang tidak mungkin bisa menahan hasratnya ketika bersamanya. Semua pria normal seperti itu. Tapi jika Dean kasihan padanya? Ia kecewa. Ia menundukkan kepalanya.

"Kenapa? Kau marah padaku? Aku mengatakan hal yang salah?" tanya Dean yang duduk disampingnya. Ia memegang tangannya.

"Kau menyakitiku dengan kata-katamu, Dean. Kau kasihan padaku. Kenapa? Aku tidak perlu dikasihani. Kau membuatku merasa menyedihkan. Aku menerima semua perjalanan kehidupanku. Hidup tanpa orangtua, tinggal di apartemen yang menurutmu kumuh itu dan bekerja di tempat laundry. Tapi aku merasa hal itu tidak menyedihkan. Aku bersyukur masih bisa melanjutkan hidupku. Aku seorang wanita mandiri dan selamanya akan seperti itu."

"Maafkan aku.."

Jessy melepaskan tangannya. "Aku ingin sendirian." ucapnya.

Dean berdiri. "Baiklah, maafkan aku." ucapnya sambil berjalan ke pintu. Ia membukanya dan menoleh untuk melihat Jessy. Wanita itu masih diam di sofa tanpa bergerak. Dean menyesal mengatakannya. Iapun menutup pintu dan berdiri sebentar. Sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan kamar mereka.

1
Anisa Sasmita
lanjut doong please🙏🙏🙏
Maya Sari
bagus
Anna Anna
kok aku kasian y sm Lili, terlepas dr masa lalu ny yg jahat tp dia udh bertobat dan berhak mendapatkan maaf dr smua org
~Burberry
kok lily gitu sihhh
~Burberry
badai akan segera datang
reginus tarang
bagus
Miss Tiya😊
Luar biasa
Tut Eny
lanjut
Susanna Ani
bagus
bunda DF 💞
bagus bangeet ceritanya,,,bikin emosi naik turun,,, tp romantiiis 😍😍
Mrs. O'Neil
satu part lagi donk... pengen baca kebahagian Alv Joan punya jagoan 🙏🙏🙏
Darmawati Pachri
karena itulah cara Dean mencintaimu...
Darmawati Pachri
😭😭😭pasti salah faham yg terjadi akan lebih besar lagi
Darmawati Pachri
susah kalo sudah curiga dihati..
Darmawati Pachri
betul banget
Darmawati Pachri
bicara dong jangan langsung memvonis akhirnya salah faham
ArrdiLLa
ceritanya bagus..
mudah dimengerti...
enak dibaca
Kosong (uninstall)
💕💕😍😍😍😍😍😍
Kosong (uninstall)
nama juga dokter biar pun umum yang pasti hal2 seperti itu juga mereka tau ya kan. masa masih lingkungan dokter gak tau? betul gak netizen?
Mrs. O'Neil: Alv bukan dokter umum
total 1 replies
irish gia
happy ending
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!