Abraham yang seorang Komisaris Polisi dan Arshinta seorang guru TK. anak-anak Lucifer setelah dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linieva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
“Kata anda kan ‘kita’, maka nya saya pikir kalau itu termasuk saya juga..” ucap Bellova kembali murung.
Adley dan Abraham saling menatap dengan tatapan heran. Ada perasaan lucu melihat semangat yang di pancarkan gadis itu.
“Sebaik nya kau pulang saja dulu……
“Saya tidak punya tempat tinggal pak, saya harus pulang kemana?” ucap Bellova dengan suara pelan.
Wanita itu masih menundukkan wajah nya.
“Berarti selama ini kamu tinggal di mana?” tanya Adley.
“Selama ini kan di rumah sakit, saat di culik saya tinggal nya di tempat persembunyian mereka. Tadi nya saya ingin mencari pekerjaan, tapi tidak ada yang menerima saya bekerja.”jawab nya.
Adley menyenggolkan lagi tangan Abraham. Dia memberi kode apa yang harus di lakukan.
“Kalau begitu kau ke kantor polisi saja, kau tidur di dalam sel, besok aku akan menjemput mu…
“Ppppfffftthhh……hahahahahahaha……hahahahha….” Adley tak kuasa menahan tawa nya.
Abraham heran melihat Adley yang tertawa.
“Bagaimana bisa kau menyuruh nya untuk nginap di sel, apa kau pikir itu hotel? Ada-ada saja kau Bram, hahahahaha…..” ucap nya masih tertawa.
“Begini saja, apa saya harus mencuri dulu biar saya masuk penjara, tapi nanti pak Abraham harus mengeluarkan saya ya…..
“Hahahahahaha……hahahahahaha……. Ini lagi…. Kamu bodoh atau nyindir sih?? Hahahaha……hahahahaha….” Tawa Adley lagi mendengar kalimat Bellova, yang dengan polos nya memberikan pendapat.
Adley tertawa puas sampai air mata nya keluar.
Abraham dan Bellova melihat Adley dengan heran.
“Terus bagaimana?.... jangan terlalu lama mikir nya, udah sore ini, mencari kado buat papa ku belum ada kan?”
“Kalau begitu Love ikut kita aja? Nah dari sana kalian berdua bisa pulang bersama kan?”
PPLLEEETTTAAAKKK…..
Abraham menjitak kepala Adley yang berbicara segampang itu.
“Addduuhh…. Sakit Bram….” Teman nya mengusap kepala tempat yang di jitak itu.
“Maka nya kalau bicara itu harus di saring dulu… jangan asal bersuara saja…” ucap Abraham kesal.
Bellova merasa kasihan dengan Adley, karena diri nya, pria itu mendapat hukuman dari Abraham.
“Tidak apa-apa pak, kalian bisa pergi. Nanti saja aku akan cari tempat untuk bisa tidur malam ini.” Ucap Bellova dengan suara pelan.
Sebenar nya dia takut, apalagi dia adalah gadis yang sedang merantau, dan baru lepas juga dari penculikan.
“Besok saya akan menunggu pak Abraham di sini, itu pun kalau bapak mau menerima saya bekerja dengan anda. Tapi kalau memang saya tidak bisa…… saya tidak akan memaksa nya.”
Sekilas Abraham melihat mata nya yang berkaca-kaca.
Kelihatan sekali wanita itu sudah sangat lelah dan pucat.
Setelah diam beberapa saat, Abraham yang berpikir keras sambil melirik Adley yang juga tidak tahu harus berbuat apa.
“Baik lah…… kamu ikut dengan kami.” Ucap nya memberikan keputusan.
Adley dan Bellova melihat nya.
“Benar kah pak? Saya boleh ikut?.... saya…..
“Apa kau sudah makan? Lalu pakaian mu?” Abraham melihata pakaian yang di pakai Bellova, pakaian bekas yang di berikan suster pada nya.
“Saya…saya belum makan, tapi saya tidak lapar kok, saya sudah biasa menahan lapar. Kalau pakaian…. Saya cuma ada yang saya pakai ini saja..”
“Hhhaadduuuhh…” Abraham menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Di lihat jam nya sudah menunjukkan jam 5 sore.
“Bram, sebaik nya kau belikan baju untuk Love, aku yang akan beli kado buat paman Adam…..
“Tidak, aku saja yang beli kado nya kau yang beli baju Love mu ini.” Potong Abraham.
“Yahhhh… mana aku tahu, lagi pula aku takut nanti pacar ku melihat dan salah paham, lalu…..
“Ah elah….. banyak alasan banget sih kau Dley?..... ya udah kalau begitu, kau belikan kado untuk papa ku, beli syal saja, dia lebih suka memakai syal sekarang.” Ucap Abraham yang mengalah.
“Oke….. aku akan beli, ya sudah… ayo kita berangkat, kita cari mall nya, nanti berpencar di situ.” Ajak Adley setelah berhasil
memutuskan.
“Ayo….” Ajak Abraham pada Bellova.
Adley berjalan di depan mereka, Bellova berada di paling belakang.
“Cepat dong jalan nya, jangan lambat begitu, kita tidak ada banyak waktu lagi.” Ucap Abraham cerewet.
Adley hanya tersenyum melihat Abrahan yang menyuruh Bellova jalan lebih cepat.
***********
“Papa….. baju Akha sudah cakep kan pa?” Rakha menunjukkan pakaian nya pada Satmakaa yang sedang mengancing kemeja nya.
Satmaka melihat anak nya yang sedang menunggu jawaban dari putera nya itu.
“Sudah cakep kok nak, anak papa ini terlihat sangat tampan sekali loh…” puji Satmaka, berjongkok di depan Rakha.
“Akha pasti tampan kayna papa nya juga tampan, hehehehe…” jawab Rakha.
Satmaka mengusap kepala Rakha dengan lembut sambil tersenyum.
“Entah kenapa kok aku merasa senang sekaligus deg-deg an ya di undang Shinta ke rumah nya?” gumam Satmaka memperbaiki kemeja nya lagi.
“Papa…. Ayo pa, udah jam 5 lewat nih…. Biayl kakak Shinta enggak mayah..” Rakha menarik tangan papa nya.
“Iya sayang, papa ambil dompet dan kunci mobil kita dulu ya… kamu jangan lari-lari juga. Nanti bareng sama papa turun tangga nya.”
**********
Sementara itu di rumah besar keluarga Lucifer, sudah datang Lisna, suami nya Steven dan putera nya Aditya Bagas, orang tua Lisna dan adik-adik nya. Ada juga William dan Novelina dengan puteri nya Prameswari
Oksana, dan anak nya Vicky, Claudia Gween Lee. Aris beserta isteri nya Rihana dan anak nya Zafran Uri, lalu Hendra dan Citra dengan putera nya Sakya Ray.
Aditya Bagas
Zafran Uri
Sakya Rai
Ina
Shinta
Prameswari Oksana, anak dari William dan Novelina.
Claudia Gwen Lee, anak dari Vicky dan Cleo
Semua berkumpul kecuali saudara yang ada di Singapura yang tidak bisa datang karena pekerjaan.
Beberapa dari mereka sangat sibuk mempersiapkan acara itu.
Eva dan Lucifer hanya duduk santai saja.
Rumah itu terlihat sangat ramai.
Tinggal Abraham dan Satmaka yang belum datang.
Ada juga yang duduk mengobrol bersama Lucifer, kaum bapak-bapak.
******
Abraham sedang menunggu Bellova untuk keluar dari ruang ganti baju. Gadis itu sedang memakai langsung pakaian nya.
“Lama banget sih…. Waktu nya udah mepet nih.” Ucap Abraham melihat jam di tangan nya.
“Pak Abraham, saya sudah selesai pakai baju nya.” Bellova keluar dari ruang ganti baju, sekarang dia sudah memakai pakaian yang rapi dan bersih.
“Nah…. Kalau seperti ini kau terlihat rapi dan cantik.” Puji Abraham saat melihat Bellova.
“Te….terima kasih pak..” balas Bellova tersenyum malu.
“Bawa pakaian lain yang tadi sudah di pilih, biar aku bayar…”
“Tapi pak, ini harga nya sangat mahal dan…
“Jangan membantah, bawa saja. Aku tidak akan jatuh miskin hanya untuk membeli pakaian segini kan?” Abraham memotong kalimat protes dari gadis itu.
“Baik pak, sekali lagi saya ucapkan terima kasih.”
Banyak pakaian yang di belikan Abraham untuk Bellova.
Atas permintaan Abraham, butik tempat nya membeli pakaian tadi memberi ijin pada nya untuk bisa mandi buat Bellova. Tentu saja harus ada bayaran nya.