Seorang gadis dari desa kecil menjalani hidupnya dengan banyak harapan. Sejak kecil dia selalu menderita dan tertekan. Hingga dirinya beranjak remaja, tekanan dan kesulitan ekonomi selalu ada dan erat bersamanya.
Hingga suatu hari, tanpa menyelesaikan sekolah, atau berbekal pendidikan yang terbatas, dia memberanikan diri pergi merantau ke tempat yang jauh. Tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Dia berharap, suatu saat hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik.
Tapi yang ada hanyalah kekecewaan dan sakit hati. Semua kerja kerasnya tak pernah dipandang.
Sampai suatu ketika, kekecewaan terbesar datang dari teman dekatnya sendiri. Teman dekat yang dia sudah anggap seperti saudara, tega meninggalkannya dengan semua kerugian yang harus dia tanggung sendiri.
Seperti apa kisah selanjutnya?
Silahkan baca cerita, dan jika suka, jangan lupa vote yah teman-teman
😆😆😆
Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oppusunggu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Malam Perkenalan
Malam itu Doni dan gadis itu tidak kembali ke apartemen. Ibunya mendesaknya agar menginap di sana selama beberapa hari agar bisa lebih mengenal calon menantunya. Perkataan itu pun terdengar seperti suara petir yang mengagetkan di telinga gadis itu. Dia berkata dalam hati,
"Hal yang paling sulit kulalui adalah menyesuaikan diri dengan orang yang baru pertama kali bertemu. Apalagi jika itu adalah calon mertua. Berbeda rasanya jika dengan orangtua sendiri, rasa malas masih bisa dimaklumi. Dan orangtua mau mengambil alih perkerjaan tertentu jika melihat anaknya tidak bersemangat.
Ah... aku tidak bisa menolaknya. Ku harap aku tidak terlalu bodoh sehingga mengecewakannya yang telah mempercayakan putranya padaku. Dan kau otak, berpikirlah dengan cepat. Amati mereka bekerja agar kau bisa cepat tanggap. Meski kau berasal dari kampung, tapi sikapmu jangan kampungan dan akhirnya membawa cibiran. Apa kau mengerti?" Ujarnya menyakinkan dan menyemangati dirinya sendiri.
Perkataan itu juga membuatnya terdiam cukup lama karena sibuk menasehati dirinya sendiri. Hingga Doni mencubit lengannya agar dia sadar karena sejak tadi dia tidak membalas perkataan ibunya.
Seketika Jina pun tersadar dan terlihat seperti kebingungan. Namun dia menyesuaikan kembali fokusnya dengan cepat. Lalu jawaban singkat, jelas dan padat keluar dari mulutnya yang mengatakan,
"Yah bu. Aku akan selalu mencintai Doni."
Namun calon mertuanya bingung mendengar jawaban itu. Karena bukan itu balasan yang seharusnya dia ujarkan. Bahkan sebenarnya dia hanya perlu menganggukkan kepalanya saja tanda setuju dengan semua perkataan calon mertuanya agar dia mendapat nilai tambah sebagai menantu yang baik.
Maka sore itu, setelah mereka selesai berbicara, Jina memutuskan pergi ke dapur dan membantu pelayan di sana untuk menyiapkan makan malam. Apapun yang pelayan itu katakan untuk dia lakukan, dia lakukan dengan sepenuh hati karena dia sendirilah yang memintanya. Dia sangat rendah hati mencari ilmu dari pelayan itu tentang apa saja yang disukai calon mertuanya dan tidak, demi menyenangkan hati calon mertuanya. Bagaimana pun suatu keberuntungan di pihaknya karena ada keluarga yang mau menerimanya sebagai menantu dan tidak mempermasalahkan latar belakangnya.
Maka dengan dibantu oleh pelayan itu, Jina memasak makanan favorit calon mertuanya dan menghidangkannya di meja makan. Tapi sementara dia sibuk dengan pekerjaannya, Doni diam-diam memfoto kekasihnya bekerja. Ada beberapa gambar yang berhasil dia abadikan. Mulai dari reaksi lucu saat terkena percikan minyak panas, saat memotong-motong sayuran, dan saat dia berbicara serius dengan pelayan itu. Semua itu dia simpan di ponselnya. Bahkan dia kirimkan juga ke email pribadinya sebagai cadangan jika sewaktu-waktu foto itu terhapus tanpa disengaja.
Lalu dia datang ke dapur dan memuji calon istrinya itu karena mau berusaha demi keluarganya. Tanpa rasa segan, dia memeluk kekasihnya di hadapan pelayan itu, membuat gadis itu semakin dirundung malu. Wajahnya merah seperti besi yang terbakar.
Lalu setelah semuanya selesai, gadis itu menyuruh Doni memanggil orangtuanya agar berkumpul untuk makan malam. Namun Doni tidak mau dan meminta Jina yang melakukannya.
"Pergilah! Jangan khawatir. Ibu dan ayahku adalah orang yang baik dan ramah. Kau sudah lihat sendiri kan? Jadi kau saja yang panggil mereka." Ujar Doni dengan gayanya yang tengil.
"Kau saja. Aku bukannya takut. Tapi segan. Kau tahu kan, beradaptasi sangat sulit bagiku. Aku sangat canggung dan gugup sekali."
"Tidak Jina. Jika aku menurutimu, maka kau tidak akan akrab dengan mereka. Ini kesempatan yang bagus bagimu untuk lebih mengenal orangtuaku."
"Aku tahu. Tapi aku masih belum siap. Kali ini, tolong, kau saja yang panggil ayah dan ibu. Mungkin baru besok aku bisa melakukannya." Desak Jina.
Mereka berdua pun saling melemparkan tugas. Maka pelayan yang melihat itu, menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran melihat mereka bertingkah seperti anak kecil. Akhirnya pelayan itu pun memutuskan pergi dan memanggil sendiri majikannya.
Tak lama, kedua orangtua Doni pun muncul dan melihat mereka berdua masih saling berdebat. Maka pria paruh baya itu memanggil anaknya dan melotot padanya. Akhirnya kedua insan yang dimabuk cinta itu pun menjadi salah tingkah lalu menyambut kedua orangtuanya.
Kalimat halus pun keluar dari bibir gadis itu,
"Maafkan atas sikap kami bu. Kami tidak akan mengulanginya dan akan bertindak sopan. Semua makanan sudah siap bu."
"Ya sudah, kalian berdua segera duduk. Kita akan makan.
Makanan ini kelihatannya enak. Siapa yang sudah memasaknya?"
Lalu dengan lantang Doni menyebut nama kekasihnya. Tapi Jina mengelak dan mengatakan bahwa masakan itu dibuat oleh si pelayan. Tapi pelayan juga membantah dan mengatakan bahwa Jina lah yang telah memasaknya.
"Sudahlah. Siapa pun yang telah memasaknya, ibu tidak ambil pusing. Yang penting kita semua bisa berkumpul dan menikmati jamuan makan ini.
Mereka pun mulai menyantap makanan itu. Namun gadis itu masih canggung dan malu. Dia masih memakan satu sendok makan makananya sementara yang lainnya sudah setengah piring. Doni yang melihat hal itu pun segera menarik piringnya ke dekatnya dan mulai menyuapi kekasihnya.
Meski terpaksa, tapi gadis itu tetap membuka mulutnya dan mengunyah setiap suapan yang masuk ke mulutnya.
Lagi-lagi, gadis itu harus menahan malu karena setiap perhatian yang Doni perlihatkan padanya, dilakukan di depan orang lain tanpa merasa segan seolah dunia milik berdua dan yang lainnya menumpang. Apa daya? Lebih baik jika urat malu sudah putus dan itu tidak menjadi masalah. Gadis itu tidak mempermasalahkan keromantisannya, hanya saja tempatnya tidak tepat. Jika itu dilakukan ditempat tersembunyi, gadis itu pasti membalasnya dengan senang hati. Namun meski dia sudah memberi isyarat, tapi kekasihnya tetap tidak berhenti. Namun calon mertuanya pun tidak menyimpan rasa keberatan sedikit pun. Seperti menganggap itu sudah hal biasa di kalangan anak muda yang tengah dimabuk cinta.
lanjut