Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022
Jangan Pergi
Hujan turun lebih rapat.
Titik-titik air pecah di lantai halaman Polsek, memantulkan lampu kuning yang gemetar. Sekar berdiri di bawah tepi atap, tetapi ujung sepatunya sudah basah. Kevin hanya berjarak tiga langkah darinya, setengah tubuhnya terkena hujan, setengah lagi masih tertahan cahaya dari teras.
Kalimatnya barusan belum hilang.
Berhenti jadi pacar gue, Sekar.
Sekar menatapnya lama. Dadanya sakit, tetapi bukan jenis sakit yang membuatnya mundur. Justru karena sakit, ia tahu kalau ia mundur sekarang, Kevin akan benar-benar memakai malam ini sebagai alasan untuk mengubur dirinya sendiri.
"Nggak," katanya.
Kevin menoleh sedikit.
"Gue nggak minta pendapat lo."
"Aku juga nggak menerima perintahmu."
Hujan memukul bahu Kevin. Air turun melewati rambut birunya, membuat warnanya tampak lebih gelap. Anting peraknya berkilat sebentar, lalu hilang di balik bayangan.
Di belakang mereka, Bu Wati mendekat setengah langkah. "Sekar, kamu bisa bicara besok. Sekarang kalian sama-sama lelah."
Sekar tidak memalingkan wajah. "Bu, maaf. Saya butuh sebentar."
Pak Arief menahan Bu Wati dengan tatapan. Bryan berdiri di samping mereka, mengepalkan tangan sampai buku jarinya putih.
"Bro," ujar Bryan, suaranya berat. "Jangan bikin dia nangis."
Kevin tersenyum miring. "Terlambat."
"Lo tahu bukan itu maksud gue."
"Gue tahu." Kevin akhirnya menoleh pada Bryan. "Makanya lo diam."
Bryan tampak ingin membalas, tetapi Sekar mengangkat tangan kecil. Ia tidak ingin Bryan menjadi sasaran. Malam ini yang berdarah bukan cuma bibir Kevin. Sesuatu di dalam dirinya sedang robek, dan setiap orang yang mencoba mendekat bisa kena serpihannya.
"Kevin," panggil Sekar.
"Pulang."
"Tidak."
"Sekar."
"Kalau kamu mau bilang aku harus berhenti jadi pacarmu, bilang alasannya dengan benar." Sekar melangkah maju, hujan langsung membasahi rambutnya. "Jangan sembunyi di balik kata-kata pendek."
Mata Kevin menggelap. "Lo mau alasan?"
"Iya."
"Gue alasan itu."
Sekar diam.
Kevin menunjuk dadanya sendiri, lebih keras dari sebelumnya. "Gue. Semua yang lo lihat malam ini. Semua yang bikin orang-orang ngomongin lo sejak lo dekat sama gue. Gue bikin hidup lo berantakan."
"Hidupku tidak berantakan."
"Belum."
Satu kata itu membuat tenggorokan Sekar tercekat.
Kevin tertawa pelan. "Lo pikir ini cuma sekali? Hari ini Polsek. Besok bisa apa lagi? Orang kayak gue nggak berhenti narik masalah, Sekar. Gue jalan di mana pun, masalah ikut. Gue duduk diam pun orang cari alasan buat nuduh gue. Lo berdiri di samping gue, semua lumpur itu kena lo juga."
"Aku bukan kaca bersih yang harus kamu simpan di lemari."
"Jangan puitis."
"Aku serius."
"Gue juga serius!" suara Kevin naik untuk pertama kali.
Bu Wati tersentak. Bryan hampir maju, tetapi Pak Arief menahannya lagi.
Kevin menarik napas kasar. Hujan turun di wajahnya, membuat Sekar tidak bisa melihat apakah ada air lain yang ikut jatuh dari matanya.
"Gue lihat lo tadi di ruang tunggu," katanya, kali ini lebih rendah. "Lo duduk di bangku Polsek, pegang tisu buat bersihin darah gue. Lo bicara sama polisi, sama guru, sama Bryan, seolah lo harus jadi orang dewasa buat gue. Lo tahu rasanya lihat itu?"
Sekar membuka mulut, tetapi Kevin sudah melanjutkan.
"Rasanya kayak gue nyeret lo ke tempat yang harusnya nggak pernah lo injak."
"Aku datang sendiri."
"Karena gue bikin lo datang."
"Karena aku peduli."
"Itu yang gue takut."
Kalimat itu pecah di antara suara hujan.
Sekar tidak segera menjawab. Untuk pertama kali malam itu, ia melihat bukan cuma marah dan malu di wajah Kevin, tetapi ketakutan yang paling mentah. Bukan takut pada polisi. Bukan takut dipukul. Takut dicintai sampai ia punya sesuatu yang bisa kehilangan.
Sekar melangkah lagi.
Kevin mundur.
Gerakan kecil itu menusuk lebih tajam daripada kalimat putus tadi.
"Jangan mendekat," kata Kevin.
"Kenapa?"
"Karena kalau lo mendekat, gue nggak yakin bisa nyuruh lo pergi."
Sekar berhenti.
Hujan membasahi pipinya. Bajunya mulai menempel di lengan. Ia menggigil, tetapi suaranya tetap jelas. "Kalau begitu jangan suruh aku pergi."
Kevin memejamkan mata.
"Mudah buat lo ngomong," katanya. "Lo selalu percaya gue lebih baik dari yang gue lihat."
"Karena aku melihatmu."
"Nggak." Kevin membuka mata, tajam dan basah. "Lo lihat versi gue yang lo mau. Yang bisa berubah. Yang bisa jadi baik. Yang bisa duduk di sebelah lo tanpa bikin orang tua lo khawatir. Tapi gue tahu gue siapa."
"Kamu tahu sebagian."
"Gue tahu cukup."
"Tidak."
Kevin menatapnya.
Sekar menelan sakit di dadanya. Ia ingin mengatakan bahwa ia tahu masa depan mereka. Ia tahu laki-laki ini bisa mencintai sampai akhir hidup, bisa membangun rumah, bisa menjadi orang yang tidak pernah meninggalkannya. Tapi ia tidak bisa membuka rahasia itu di halaman Polsek, di bawah hujan, di depan guru dan Bryan.
Jadi ia memilih kebenaran yang bisa Kevin terima malam ini.
"Aku tahu kamu menahan diri tadi sebelum memukul," katanya. "Aku tahu kamu melindungi Bryan. Aku tahu kamu terluka tapi masih minta aku pulang supaya aku nggak kena masalah. Aku tahu kamu berpura-pura jahat karena lebih mudah dibenci daripada dikasihani."
Rahang Kevin bergetar.
"Jangan sok tahu."
"Kalau aku salah, bantah."
Kevin tidak menjawab.
Sekar mengambil satu langkah lagi, pelan. "Kamu bukan proyek amal. Kamu bukan dosa yang harus aku tebus. Kamu pacarku."
Wajah Kevin berubah.
Mungkin karena kata itu.
Pacarku.
Kata sederhana yang seharusnya manis, malam ini terdengar seperti tali yang Kevin ingin putuskan dengan giginya sendiri.
"Jangan panggil gue begitu," katanya.
"Pacarku."
"Sekar."
"Pacarku," ulang Sekar, lebih pelan. "Kevin Senja Halim. Anak laki-laki yang bawain helm buat aku. Yang inget aku nggak suka sambal terlalu banyak. Yang nulis surat cinta tiga kalimat sampai tangannya pegal. Yang hari ini berdarah karena melindungi orang yang dia sayang."
"Berhenti."
"Yang selalu merasa dirinya nggak pantas, padahal dia yang paling dulu berdiri saat semua orang mundur."
"Gue bilang berhenti!"
Kevin mengangkat tangan seperti hendak menutup telinga, tetapi berhenti di tengah. Punggung tangannya yang lecet terlihat jelas di bawah lampu. Sekar hampir meraihnya, namun Kevin menarik tangan itu ke belakang.
"Lo nggak ngerti," katanya, suara serak. "Lo nggak ngerti kalau gue tiap hari takut."
Sekar membeku.
Kevin menatap jalan yang gelap. "Takut suatu hari lo sadar. Takut lo lihat gue seperti orang lain lihat gue. Takut Oma lo kecewa. Takut guru lo bilang lo salah pilih. Takut suatu hari gue beneran nggak bisa nahan diri dan bikin hidup lo hancur."
"Aku yang memilih."
"Pilihan lo bisa salah."
"Bisa. Tapi itu pilihanku."
"Gue nggak mau jadi kesalahan lo."
Sekar merasakan matanya panas. Ia tidak membiarkan air mata jatuh, atau mungkin hujan sudah menyamarkannya.
"Kamu bukan kesalahan," katanya.
Kevin menatapnya lama.
Untuk satu detik, Sekar melihat anak laki-laki itu goyah. Hanya satu detik. Kakinya seperti ingin kembali ke arahnya, tangannya seperti ingin menyentuh pipinya, bibirnya seperti ingin mengatakan maaf.
Lalu dari arah jalan, suara sirene jauh melintas. Tidak berhenti di Polsek, tetapi cukup membuat Kevin tersentak. Wajahnya kembali tertutup.
"Gue capek," katanya.
"Aku tahu."
"Nggak. Lo nggak tahu."
"Kalau kamu capek, bersandar."
"Ke siapa?"
"Ke aku."
Kevin tertawa tanpa suara. "Sekar, lo kecil banget."
"Aku cukup kuat."
"Buat berdiri di depan polisi? Buat ngelawan gosip satu sekolah? Buat lihat gue berdarah? Buat suatu hari mungkin lihat gue lebih hancur dari ini?"
"Iya."
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Kevin menatapnya seolah jawaban itu justru menghancurkan pertahanan terakhirnya.
"Kenapa?" bisiknya.
Sekar tidak bisa lagi menahan air matanya. "Karena aku pernah kehilangan kamu."
Kevin terdiam.
Sekar sadar kalimat itu hampir membuka terlalu banyak. Ia segera menarik napas, menyusun ulang. "Maksudku, aku pernah takut kehilanganmu. Dan rasa takut itu cukup untuk membuatku tahu, aku tidak mau jadi orang yang berdiri jauh saat kamu paling butuh seseorang."
Kevin menatapnya, bingung dan terluka.
"Lo harus takut kehilangan diri lo sendiri juga," katanya akhirnya.
"Aku tidak kehilangan diri dengan mencintaimu."
"Tapi gue kehilangan kendali kalau dekat lo."
"Kendali atas apa?"
"Atas semua yang gue tahan." Kevin menekan dadanya. "Marah. Takut. Mau. Semua. Gue jadi orang yang lebih serakah. Gue pengin lo selalu di samping gue, tapi setiap kali lo benar-benar di samping gue, gue takut tangan gue yang kotor ini bakal ninggalin bekas di hidup lo."
Sekar menatap punggung tangannya.
Nanti, di bawah hujan yang sama atau hujan lain, ia akan menggigit tangan itu. Membuat bekas yang tidak akan hilang. Bukan sebagai luka untuk menghukum, tetapi tanda bahwa ia memilihnya.
Tapi belum sekarang.
Sekarang Kevin masih berdiri terlalu jauh.
"Kalau ada bekas," kata Sekar pelan, "biar aku yang memutuskan apakah aku mau menyimpannya."
Kevin menutup mata lagi.
Saat membukanya, tidak ada kelembutan yang tersisa di permukaan. Hanya keputusan yang dipaksa keras.
"Gue pulang."
"Aku ikut."
"Jangan."
"Kevin."
"Jangan ikut gue malam ini."
Sekar bergerak hendak meraih lengannya, tetapi Kevin lebih cepat mundur. Sepatunya turun dari lantai teras ke aspal halaman. Hujan langsung menelannya lebih penuh.
Bu Wati bersuara dari belakang, cemas. "Kevin, jangan pergi sendiri. Hujan deras."
"Saya bisa, Bu."
Pak Arief maju. "Kevin."
"Maaf, Pak."
Kevin menunduk singkat, lalu berbalik.
Sekar melihat punggungnya.
Jaket hitamnya basah. Rambut birunya menempel di tengkuk. Langkahnya tidak cepat, tetapi setiap langkah menjauhkan mereka seperti pisau yang ditarik pelan dari luka.
Sekar tidak lagi peduli siapa yang melihat.
Ia melangkah keluar dari bawah atap.
Hujan menghantam wajahnya, dingin dan tajam. Bryan memanggil namanya. Bu Wati ikut berseru. Pak Arief mengatakan sesuatu tentang jalan licin. Semua suara itu kabur.
Yang jelas hanya punggung Kevin yang semakin jauh.
Kevin sampai di gerbang Polsek.
Ia berhenti satu detik, seperti menunggu dirinya sendiri berubah pikiran.
Sekar menahan napas.
Namun Kevin tidak berbalik.
Ia justru melangkah keluar, masuk ke jalan yang sudah menjadi garis-garis air di bawah lampu kota.
Sekar berlari dua langkah.
"Kevin!"
Ia tidak berhenti.
Sekar mengepalkan tangan, suaranya pecah menembus hujan.
"Kamu berhenti!"