Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Mulai mendung diluar.
Setelah menangis entah berapa lama, Airin tertidur dengan memegang tangannya. Kuat sekali, seakan tidak mau Ophelia kemana-mana.
Tapi baterai ponselnya habis. Ophelia juga tidak membawa charger jadi ia harus meminjam pada seseorang di rumah ini.
Baru setelah itu ia bisa tahu kabar Chelsea.
Dengan perlahan, Ophelia melepaskan tangannya dari genggaman Airin dan turun dari kasur. Sebisa mungkin ia berjalan dan membuka pintu dengan tanpa suara agar gadis itu tidak bangun.
“Kenapa mengendap-endap begitu?”
Ophelia hampir tersentak mendengar suara berat dari belakangnya. Orang yang Ophelia yakin adalah Kak Arga terlihat berjalan mendekat.
“Airin tidur di dalam,” jawabnya.
“Oh.”
Pria itu menyipitkan mata dan membungkukkan badannya sedikit ke arah Ophelia kemudian berkata, “Kamu terluka?”
Kenapa bisa tahu? Ophelia yakin caranya berdiri dan berjalan terlihat normal!
“Nggak,” gelengnya.
Kak Arga tersenyum sinis. “Bau obatku tercium jelas dari punggungmu.”
Ophelia langsung merapat ke tembok.
“Cuma luka kecil,” ujarnya.
“Iya kah?” Pria itu terlihat tidak percaya. “Dari baunya saja jelas dipakai untuk area yang luas.”
Ophelia tidak bisa kabur. Kenapa situasinya jadi begini?
“Jangan memojokkan orang begitu.” Kak Arjuna datang dari arah yang sama. Dia menarik kembarannya agar berdiri tidak terlalu dekat dengan Ophelia.
“Maaf ya,” Kak Arjuna tersenyum. “Dia ini memang terkadang—kamu terluka?”
Kenapa dia juga bisa langsung tahu?!
Bau obatnya sekuat itu ‘kah? Ophelia yang memakainya saja tidak mencium bau apa-apa.
Kak Arjuna menjelaskan, “Arga sering sekali punya luka lebam begitu sampai-sampai kami semua yang ada di dekatnya hafal. Kamu nggak apa-apa? Lukanya parah?”
“Cuma goresan kecil.”
“Dia bohong,” tunjuk Kak Arga padanya.
Kak Arjuna langsung menurunkan jari kembarannya. “Jangan ditunjuk.”
Pria itu terlihat tidak mau memaksa Ophelia untuk menjelaskan apapun.
“Kamu butuh sesuatu?”
“Charger,” jawabnya cepat. “Baterai ponselku habis.”
“Tipe apa?”
“Type-C biasa.”
“Kami punya itu, tunggu sebentar di sini ya?”
Dan ia ditinggalkan berdua dengan Kak Arga lagi.
Pria di depannya ini tidak bisa ditebak tapi benar-benar peka, Ophelia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
“Mau permen?”
“Ya?”
Dia mengeluarkan bungkusan gummy warna warni dari saku dan menyimpannya satu di tangan Ophelia.
…oke? Apa dia membawa ini kemana-mana?
“Kurang?”
Ophelia diberi lagi.
“Terima—”
Dia tiba-tiba pergi entah kemana.
“...kasih,” gumam Ophelia. Jalannya cepat sekali!
“Charger ini yang kamu butuhkan?” Kak Arjuna juga tiba-tiba datang. “Kamu butuh yang lain?”
“Nggak, ini aja cukup,” tolaknya.
Kepalanya dielus perlahan. “Istirahat ya, kalau ada apa-apa minta saja pada Airin.”
“Terima kasih.”
Ophelia masuk kembali ke dalam kamar. Ia menatap temannya yang masih tertidur pulas memeluk guling seperti koala.
Gadis di depannya ini juga aneh sih, harusnya Ophelia tidak heran.
Setelah ponselnya kembali menyala, Ophelia bisa melihat beberapa pesan dari Chelsea di sana. Berarti ponsel kakaknya itu tidak disita.
Chattingan terlalu lama, jadi dia menelepon saja.
“Halo?” jawab Chelsea di ujung sana. “Kamu nggak apa-apa? Lukamu gimana?”
“Udah diobati.”
“Berarti ada yang tahu ya?” gumam kakaknya.
Ophelia duduk di kasur, sebisa mungkin tidak membangunkan Airin. “Selama mereka tutup mulut Ayah mungkin nggak bakal tau. Kakak gimana? Kemarin dihukum juga?”
“Nggak,” jawab Chelsea. “Ayah bilang ini saat dimana tubuhku harusnya tidak punya luka apapun.”
Ophelia mengerutkan dahi. Maksudnya apa itu?
“Kakak nggak disuruh yang aneh-aneh ‘kan ya?”
“Kamu mikir kemana? Sekejam-kejamnya Ayah dia tidak mungkin menjual putri kandungnya.”
Yang kita bicarakan ini Randi Pratama lho, Ophelia tidak akan heran kalau dia melakukan hal yang lebih gila dari itu.
“Kamu nggak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri,” ucap kakaknya tenang. “Kalau bisa menginap saja di sana, sepertinya Ayah juga akan sibuk sampai malam nanti.”
“Sibuk kenapa?”
Chelsea terdiam sebentar.
“Ayahnya Reine akan datang.”
...****************...
Randi Pratama berdiri di ruang kerjanya seperti biasa, namun hari ini dia terus menatap ke arah jendela hingga mobil berwarna hitam parkir tepat di depan rumahnya.
Randi tidak terburu-buru karena dia tahu pastinya ada orang lain yang menyambut orang itu.
Istrinya sendiri.
Aneh sebenarnya, ia tahu ada yang salah dengan dirinya ini. Suami manapun pastinya cemburu atau setidaknya merasa teritorial jika Istri mereka memeluk dan berayun mesra di pelukan pria lain begitu.
Tapi, Randi tidak merasakan apapun.
Apa mungkin karena dia dan Yelena tidak mencintai satu sama lain?
Pria itu melihat kemejanya sekali lagi—memastikan penampilannya sempurna seperti biasa sebelum keluar dari ruang kerja.
Yah, itu tidak penting.
Selama itu berguna untuknya ia bisa memanfaatkan siapapun, apapun. Termasuk cinta yang diagungkan semua orang itu.
“Pak Danendra,” sapa Randi. “Perjalanannya lancar?”
Danendra Maharaja—pria yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu mengangguk. “Lancar.”
“Oh, aku membuat kue sebelum kamu datang.” Yelena yang masih merangkul lengan pria itu terlihat sumringah. “Sebentar, kusiapkan dulu.”
Randi yang terlihat biasa saja kemudian bicara.
“Mari, saya antarkan ke ruang tamu.”
Danendra yang melihat respon itu tersenyum tipis. “Anda benar-benar tidak keberatan ternyata.”
“Oh, soal Yelena?”
“Soal Istri Anda yang punya hubungan dengan Saya.”
“Tidak sama sekali,” ucapan itu terdengar tenang. “Tapi kalau kalian berencana untuk menikah, mungkin perlu menunggu beberapa waktu agar perceraian kami tidak terlihat—”
Danendra Maharaja tertawa.
“Saya tidak berniat menikah lagi dengan siapapun. Bahkan sampai sekarang satu-satunya orang yang saya cintai adalah mendiang istri saya.”
Oh?
“Berarti dengan Yelena—?”
“Hanya membuang kebosanan belaka.”
Randi tersenyum kecil. Ada juga orang yang sepertinya ternyata.
Ketika sampai di ruang tamu, Danendra terlihat menatap sebentar pada lukisan ‘Ophelia’ yang dipajang di dinding sana.
“Kalau tidak salah Anda adalah kolektor seni ya?” tanya Randi.
“Saya menginginkan lukisan ini sejak lama, sekalipun hanya replika tapi benar-benar mirip dengan aslinya.” Pria itu terlihat memperhatikan setiap detail yang ada di dalam sana.
Begitu tahu kalau lukisan ini dijadikan hadiah oleh keluarga Mahawirya saya mencoba untuk mendapatkannya, tapi tidak berhasil.”
Randi hanya mengangguk mendengar itu. Apa dia mesti menghadiahkan lukisan ini pada keluarga Maharaja? Siapa tahu dia bisa mendapatkan keuntungan dari sana.
“Yang menemukannya adalah putri angkat Anda ‘kan ya? Namanya juga Ophelia?”
“Benar,” angguk Randi. “Gadis itu memang memiliki bakat dalam apapun.”
“Dia dimana sekarang?” tanya Danendra. “Reine sepertinya… punya sedikit masalah dengan dia.”
Randi menyimpan kedua tangannya di belakang punggung. “Dia sedang belajar bersama temannya. Mungkin akan kembali nanti malam? Tapi saya sudah memberinya hukuman, dipastikan dia tidak akan melakukan apapun pada putri Anda lagi.”
“Begitu.”
“Untuk permintaan maaf, saya berencana untuk—”
Chelsea yang berada di lorong samping ruang tamu hanya bisa mengeratkan pegangannya pada ponsel.
Kenapa… keluarganya seperti ini?