Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Rumah Tempat Hati Pulang
Musim berganti dengan lembut, membawa perubahan yang tak lagi menyakitkan. Langkah kaki Argan semakin tegap setiap harinya. Meski masih terlihat sedikit berhati-hati dan terkadang harus berhenti sejenak untuk menahan rasa lelah, ia kini sudah mampu berjalan tanpa bantuan tongkat atau penyangga. Kursi roda yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya kini terparkir rapi di sudut ruangan, tak lagi digunakan setiap hari—sebuah saksi bisu betapa jauhnya ia telah melanggar dari masa-masa tergelapnya.
Pagi itu, Argan menggandeng tangan Aruna menyusuri jalan setapak di taman yang dulu sering ia pandangi hanya dari balik jendela kamar. Kini ia melangkah di atasnya sendiri, merasakan tanah dan rumput yang menyentuh telapak kakinya, merasakan segarnya udara pagi yang menyapa wajahnya. Sesekali ia menoleh ke arah Aruna yang berjalan di sampingnya, menatapnya dengan senyum yang begitu tenang dan penuh kasih sayang.
“Dulu aku membayangkan betapa indahnya berjalan di sini bersamamu,” ucap Argan pelan, mengeratkan genggamannya pada jemari Aruna. “Namun saat itu aku merasa malu dan tak berdaya. Aku berpikir hal itu hanyalah mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.”
Aruna menatapnya lembut, memperlambat langkah agar tetap selaras dengannya. “Mimpi itu kini nyata, bukan? Dan perjalanan ini baru saja dimulai.”
Mereka berhenti di tepi kolam ikan kecil yang airnya jernih berkilau terkena sinar matahari. Argan menatap pantulan wajah mereka berdua di permukaan air—berdiri berdampingan, saling mendekap erat, seolah tak ada kekuatan apa pun yang mampu memisahkan.
“Aruna,” panggilnya pelan, “kau tahu apa yang kurasakan saat ini? Bukan sekadar bahagia karena kakiku pulih. Tapi bahagia karena aku akhirnya pulang ke rumah yang sesungguhnya.”
Aruna menatapnya bingung sejenak. “Rumah? Bukankah kita sudah tinggal di rumah besar ini sejak awal?”
Argan tersenyum lembut, lalu meletakkan tangan Aruna di atas dadanya sendiri, tepat di tempat jantungnya berdetak tenang dan kuat.
“Rumah bukanlah bangunan atau tembok yang megah,” ucapnya dengan suara yang begitu tulus dan dalam. “Rumah adalah tempat di mana hatiku merasa pulang dan tenang. Dan rumahku ada di sini... di dekatmu. Di sinilah aku merasa utuh kembali. Di sinilah aku merasa diterima, dicintai, dan dihargai apa adanya.”
Aruna menahan napas, hatinya terasa penuh hingga sesak oleh kebahagiaan yang menyelimuti. Matanya berkaca-kaca, namun ia tersenyum begitu indah. “Anda juga rumah bagi hati saya, Argan. Tempat di mana saya merasa aman dan tenang. Tempat di mana saya ingin pulang setiap hari, apa pun yang terjadi di luar sana.”
Argan mendekat, menatap mata Aruna lekat-lekat seolah ingin memastikan setiap kata yang terucap tertanam di sana. “Mulai hari ini, ke mana pun kita pergi, apa pun yang kita hadapi... kita adalah rumah bagi satu sama lain. Saat dunia terasa keras, kita pulang ke hati satu sama lain. Saat lelah mendera, kita bersandar pada pelukan satu sama lain. Tak ada lagi yang pergi, tak ada lagi yang kesepian.”
Siang itu, mereka berkeliling ke setiap sudut kediaman itu—ruang makan yang dulu sunyi dan kaku, ruang kerja yang penuh ketegangan, hingga teras tempat mereka menghabiskan banyak malam berbicara dan berjuang. Semua tempat itu kini tampak berbeda. Bukan karena perabotan atau hiasannya yang berubah, melainkan karena kehangatan yang kini mengalir di antara mereka. Dulu rumah itu hanyalah tempat berteduh dan menjalankan kewajiban. Kini rumah itu dipenuhi kasih sayang yang tumbuh subur di setiap sudutnya.
Sore harinya, saat mereka duduk di beranda menyaksikan matahari perlahan turun ke peraduannya, Argan memeluk bahu Aruna dan mendekapnya ke sisi tubuhnya. Ia kini mampu melindungi dan menopang sepenuhnya, tanpa lagi merasa menjadi beban.
“Terima kasih telah membangun rumah ini bersama-sama,” bisik Argan pelan di telinga Aruna. “Terima kasih tidak pernah pergi saat tempat ini masih terasa dingin dan sepi. Terima kasih telah menyalakan cahayanya kembali.”
Aruna menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, merasa begitu aman dan damai. “Rumah ini terasa indah karena Anda ada di dalamnya. Dan saya akan selalu ada di sini, menjaga cahaya itu agar tak pernah padam.”
Langit berubah jingga keunguan, lalu perlahan gelap dan dipenuhi bintang yang bersinar terang. Di dalam pelukan itu, di kediaman yang kini penuh kasih, mereka menyadari satu hal: harta dan kemewahan tak akan pernah bisa menjadi tempat pulang yang sejati. Yang menjadi rumah abadi hanyalah kasih sayang yang tulus, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan kebersamaan yang tak pernah berakhir.
Lanjut ke Bab 25?