"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Aqil duduk tenang di depan ayahnya. Meskipun keningnya masih dibebat perban dan agak memar, bocah mungil itu tak lagi kerepotan seperti kemarin.
"Tahan sebentar ya. Sedikit agak perih," bisik Abi lembut seraya perlahan melepas plester perban lama yang menempel di jidat Aqil.
Aqil meringis pelan, memejamkan matanya rapat-rapat. "Perih sikit, Ayah..."
"Iya, sebentar lagi selesai kok," sahut Abi menenangkan. Ia lalu menoleh ke arah Akbar yang sedang duduk menonton di samping mereka. "Mas Akbar, tolong ambilkan botol obat merah yang di dalam kotak, Nak."
Dengan sigap, Akbar mengangguk. Tangannya yang mungil merogoh kotak obat dan menyerahkan botol kecil itu pada ayahnya. "Ini, Ayah."
"Pinter. Sekarang tolong pegangkan guntingnya ya, jangan dimainin," pinta Abi lagi.
Akbar memegang gunting perban itu dengan hati-hati dan bangga karena dipercaya membantu ayahnya. Ia memperhatikan jemari Abi yang sangat telaten mengusapkan kain kasa basah untuk membersihkan bekas luka jahitan di jidat adiknya.
"Nah, lukanya sudah bersih dan bagus. Sekarang kita tutup pakai kasa baru," ujar Abi. Ia menerima gunting dari tangan Akbar, memotong kasa steril secukupnya, lalu menempelkannya perlahan di kening Aqil.
"Selesai!" seru Abi tersenyum tampan sambil mengacak-acak rambut kedua putranya.
Aqil menyentuh perban barunya yang rapi, lalu tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi susunya. "Makasih, Ayah! Makasih juga Mas Akbar!"
"Sama-sama, Aqil!" sahut Akbar bangga, merasa sudah menjadi kakak yang berguna menjaga adiknya.
Setelah selesai merapikan kotak obat dan memastikan perban di kening Aqil terpasang sempurna, Abi berdiri sambil merenggangkan badannya.
"Mas Akbar jaga Adik dulu ya di sini," kata Abi pelan seraya mengusap kepala putra sulungnya.
Abi kemudian melangkah menuju dapur tempat Bu Marni sedang menyiapkan sarapan. "Bu, Abi mau ke rumah bentar ya."
Bu Marni yang sedang memindahkan sayur ke mangkuk menghentikan tangannya sejenak, lalu menoleh heran.
"Ngapain, Le? Kok ndak sarapan sekalian di sini?" tanya Bu Marni.
Abi tersenyum tipis sambil menepuk bajunya yang agak kusam. "Mandi dulu, Bu. Baju Abi yang di sini sudah habis, mau ambil baju ganti sekalian mandi di rumah sendiri biar seger."
"Oalah... ya sudah sana mandi dulu," sahut Bu Marni mengangguk paham. "Nanti balik ke sini lagi ya, sarapan bareng sama anak-anak."
"Nggih, Bu," jawab Abi singkat. Ia melangkah keluar melewati pintu depan, menikmati udara segar pagi hari sembari berjalan santai menuju rumahnya sendiri yang terletak tak jauh dari rumah sang ibu.
Baru beberapa langkah melintasi jalan setapak desa, suara decitan rem sepeda dari arah samping mengejutkan Abi.
"Eh, Mas Abi!" sapa Pak Darno ramah, menghentikan langkah sepedanya tepat di sebelah Abi.
Abi menyunggingkan senyum hormat. "Pak Darno... Mau berangkat ke sawah, Pak?"
"Iya nih, Mas, mumpung matahari belum terlalu panas," jawab Pak Darno.
"Pripun kabare Aqil hari ini, Mas? Piye jidate sing dijahit mau bengi?"
"Alhamdulillah sampun mendingan, Pak," sahut Abi.
"Baru saja selesai saya ganti perbanya. Anaknya juga sudah ceria lagi, sudah mau makan lahap dibawakan sup sama ibu dan Kayla kemarin."
Pak Darno tertawa pelan seraya menepuk bahu Abi. "Alhamdulillah yen wis makan lahap. Kemarin Sulastri karo Kayla mulih rene cerita."
"Nggih, Pak. Maturnuwun sanget nggih, kemarin sampun direpotkan," tutur Abi tulus.
"Halah, kaya karo sopo wae, Mas Abi," balas Pak Darno sambil mulai menaikkan satu kakinya ke pedal sepeda ontelnya.
"Ya sudah, saya berangkat ke sawah dulu ya. Mumpung masih pagi."
"Ngihh pak."
Setelah berpisah dengan Pak Darno, Abi melanjutkan langkahnya menuju rumahnya sendiri. Suasana rumah terasa begitu tenang dan sepi. Abi melangkah masuk, mengunci pintu depan dari dalam, lalu berjalan menuju kamar utamanya.
Udara pagi yang sejuk membuat tubuhnya terasa lelah setelah kekacauan kemarin. Abi meraih ujung kausnya, baru saja hendak membuka baju untuk bersiap mandi, mendadak terdengar suara dering nyaring dari ponsel yang ia letakkan di atas meja.
Abi menunda gerakannya. Ia mengambil ponsel tersebut dan menatap layarnya.
"Opo, Dek?" sapa Abi langsung dengan suara beratnya.
"Mas Abi!" suara Nadia dari seberang telepon terdengar panik bercampur gemas.
"Kenapa lagi si Dinda itu datang, Mas? Mas yang ngundang ya?!" tembak Nadia langsung tanpa basa-basi.
Abi mengerutkan kening mendengar tuduhan adiknya. "Jaga omonganmu, Dek. Buat apa Mas ngundang dia? Ndak ada gunanya. Kamu sendiri darimana tahu Dinda datang kemarin?"
"Ya... ya dari siapa ajalah, Mas. Aku kan punya banyak teman di kampung!" sahut Nadia
"Mas juga ndak tahu maksud dia kemarin datang ngapain," jawab Abi pelan.
"Dia ndak ada kabari Mas atau Ibu sama sekali, tiba-tiba saja sudah nongol di depan rumah."
"Hih, dasar wanita ndak tahu diri!" omel Nadia berang. "Pokoknya aku ndak suka ya, Mas, kalau dia datang-datang lagi ke rumah!"
"Wis, ndak usah kamu pikirkan. Mas juga ndak sudi dia datang ke rumah," potong Abi menenangkan. "Sudahlah, kamu itu lagi hamil masih saja marah-marah. Arya mana?"
Suara Nadia melunak sedikit di seberang sana. "Lagi beli sarapan, Mas..."
"Ya sudah, Mas tutup dulu teleponnya. Mas mau mandi. Jaga kesehatan kamu baik-baik di sana ya, Dek," ujar Abi lembut sebelum menyudahi panggilan telepon tersebut.
Setelah menutup panggilan telepon dari Nadia, Abi bergegas mandi dan berganti pakaian bersih. Namun, alih-alih langsung kembali ke rumah ibunya, Abi menyempatkan diri melipir sejenak menuju area persawahan miliknya untuk mengecek kondisi aliran air pagi itu.
Di tengah bentangan sawah yang hijau menyejukkan, terlihat Pak Darno sedang mengayunkan cangkulnya dengan cekatan, bergabung bersama beberapa warga lain yang juga sibuk mengolah tanah. Abi melambaikan tangan singkat dari atas pematang sawah, menyapa mereka dari kejauhan.
Usai menyusuri pematang dan memastikan debit air cukup, Abi membalikkan badan untuk melangkah pulang. Namun baru beberapa meter berjalan menyusuri jalan setapak tanah yang licin, sosok Kayla tampak berjalan dari arah berlawanan. Gadis itu terlihat baru saja selesai dari arah sungai atau pekarangan ujung dan hendak berjalan pulang.
Kayla tampaknya kurang fokus. Langkahnya yang agak terburu-buru tak sengaja menapak tanah liat gembur yang masih basah tersiram embun pagi.
Srett!
Hanya berjarak beberapa meter di depan Abi, tubuh Kayla mendadak hilang keseimbangan.
"Eh.....!"
Bruk!
Kayla terjatuh terduduk tepat di atas tanah basah, membuat bagian belakang rok dan kedua tangannya tercoreng lumpur cokelat.
Abi yang menyaksikan kejadian serba cepat itu sempat tertegun sejenak. Namun melihat raut kaget bercampur malu yang tercetak jelas di wajah Kayla, kekehan pelan tak sanggup ia tahan.
"Dapat ndak, Dek, ikannya?"