NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:832
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Obrolan di Meja Makan

Mobil SUV hitam itu membelah jalanan kompleks yang beraspal mulus dalam keheningan yang tebal. Lampu jalanan mulai menyala satu per satu, menyiram kabin mobil dengan pendar kuning yang samar.

Nara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Rasa lelah yang luar biasa seolah menyedot seluruh tenaganya. Matanya yang berat dan sembab sesekali terpejam, menikmati hembusan pendingin udara yang pelan.

Di sampingnya, Zaid tetap fokus menatap jalanan di depan. Kedua tangannya menggenggam kemudi dengan tenang, meski sesekali ekor matanya bergerak, mencuri pandang ke arah wanita di sampingnya yang tampak begitu rapuh.

Tak butuh waktu lama hingga mobil berbelok masuk ke dalam garasi rumah mereka. Bunyi mesin mobil yang mati menandakan perjalanan singkat itu telah usai.

Nara baru saja hendak meraih gagang pintu mobil ketika Zaid bersuara pelan.

"Tunggu sebentar, Nara."

Nara menoleh, menatap Zaid dengan pandangan bertanya. Zaid meraih sebuah kantong plastik dari kursi belakang—kantong berisi makanan hangat yang sempat ia beli sebelum memutar balik mobilnya tadi.

"Kamu belum makan siang, kan?" tanya Zaid datar, tanpa ada nada menghakimi.

Nara tertegun. Dari mana Zaid tahu? Apakah wajahnya begitu jelas menunjukkan rasa lapar yang sempat ia abaikan? Nara hanya bisa mengangguk pelan. "Iya... belum."

"Ayo masuk," kata Zaid singkat seraya membuka pintunya sendiri.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah yang hening. Suasana rumah yang dingin dan rapi menyambut mereka. Mbok Tini sepertinya sudah pulang sejak sore tadi, meninggalkan rumah dalam keadaan bersih dan harum.

Nara melepas alas kakinya dan berjalan agak canggung menuju area dapur. Ia merasa serba salah, terutama ingatan tentang percakapan telepon semalam yang tak sengaja didengar Zaid masih membayang-bayang.

Namun, Zaid bergerak lebih cepat. Pria itu meletakkan kantong makanan di atas meja makan, lalu melepaskan jam tangan serta melipat lengan kemejanya hingga ke siku.

"Duduklah," perintah Zaid pelan. Ia menyodorkan segelas air hangat ke hadapan Nara. "Minum dulu."

"Terima kasih, Zaid," bisik Nara. Ia menerima gelas itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar, meminumnya perlahan untuk membasahi kerongkongannya yang kering.

Zaid membuka bungkusan makanan. Makanan simpel berupa nasi goreng seafood yang ia beli di tempat langgananya. Tanpa banyak bicara, Zaid menyiapkannya di atas piring dan menggesernya ke depan Nara.

"Makanlah. Setelah itu kamu bisa istirahat," ujar Zaid. Pria itu lalu menarik kursi di seberang Nara dan duduk di sana.

Nara menatap piring yang sudah berisi nasi goreng yang berasap tipis itu. Aroma gurih dari aroma nasi goreng mendadak membangkitkan rasa lapar yang tumpul sejak siang.

Ia memegang sendok, menunduk, dan mulai menyuap perlahan. Setiap suapan terasa begitu menghangatkan dadanya yang dingin.

Di seberang meja, Zaid memperhatikan gerakan pelan Nara. Tatapannya tertuju pada mata sembab dan garis wajah Nara yang guram.

"Ponsel kamu mati?" tanya Zaid memecah keheningan. Suaranya tidak tinggi, hanya bertanya biasa seolah memecah rasa canggung.

Nara menghentikan sendoknya sejenak. "Iya... kehabisan baterai saat di masjid tadi."

"Masjid?" Zaid mengangkat sebelah alisnya tipis.

Nara mengangguk, memberanikan diri menatap mata Zaid. "Setelah urusanku selesai... aku jalan tanpa arah dan mampir ke masjid untuk shalat Dzuhur. Aku tertidur dan berdiam di sana sampai sore. Maaf membuatmu bingung atau mencari."

Zaid diam sejenak, mencerna ucapan Nara. Tidak ada nada kebohongan dari suara Nara, hanya ada kepasrahan dan kejujuran yang polos.

"Saya tidak bingung," sahut Zaid tenang, walau sebenarnya ada sedikit rasa lega yang menyelusup di hatinya mengetahui Nara berada di tempat yang aman.

"Saya cuma khawatir kamu tersesat, mengingat kamu belum ingat benar alamat rumah ini."

Mendengar kata khawatir yang keluar dari mulut pria sekaku Zaid, jantung Nara mendadak berdesir pelan. Ia menunduk lagi, melanjutkan makannya untuk menyembunyikan pipinya yang sedikit merona.

"Zaid..." panggil Nara lirih setelah beberapa saat menyuap makanan.

"Ya?"

Nara meletakkan sendoknya. Ia meremas jemarinya di bawah meja. Keberanian yang ia dapatkan saat bersujud di masjid tadi siang seolah mendorongnya untuk meluruskan kesalahpahaman yang mengganjal di antara mereka sejak semalam.

"Soal... soal percakapan semalam," Nara menarik napas panjang, mencoba menetralkan getaran di suaranya. "Aku tahu kamu mendengar apa yang aku bicarakan di telepon."

Zaid tidak memotong. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mendengarkan dengan penuh perhatian. Wajahnya tetap tenang, menunggu Nara melanjutkan.

"Orang yang menelepon semalam adalah Devino," lanjut Nara jujur. "Dia... seseorang dari masa laluku. Dia nekat menungguku di depan rumah orang tuaku dan mengancam tidak akan pergi kalau aku tidak mau menemuinya. Aku tidak ingin dia membuat keributan di rumah orang tuaku, makanya... makanya aku setuju untuk bertemu dengannya siang tadi di tempat umum."

Nara menatap Zaid dengan pandangan memohon pengertian. "Aku cuma ingin menyelesaikan semuanya, Zaid. Aku ingin menegaskan padanya kalau aku sudah menikah dan meminta dia berhenti mengganggu hidupku."

Zaid menatap Nara dalam-dalam. Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Zaid bisa melihat keputusasaan dan kejujuran yang terpancar murni dari mata wanita di hadapannya. Tidak ada niat untuk berselingkuh atau mengkhianati pernikahan ini.

"Lalu?" tanya Zaid singkat. "Apa yang dia katakan saat bertemu tadi?"

Nara tersenyum pahit, sebuah senyuman kecil penuh kepedihan yang membuat Zaid mengerutkan kening.

"Dia... dia menyodorkan selembar kertas," bisik Nara, air matanya merebak kembali di pelupuk mata namun ia tahan sekuat tenaga.

"Dia minta aku membuat perjanjian denganmu. Dia ingin kita cuma bertahan selama satu tahun, lalu bercerai. Setelah itu, dia berjanji akan bertanggung jawab dan menikahi aku."

Zaid mengepalkan tangannya di bawah meja, meski raut wajahnya tetap terkontrol sempurna. Ada kilatan kemarahan dingin yang melintas di matanya mendengarkan betapa piciknya pria bernama Devino itu.

"Dan apa jawaban kamu?" tanya Zaid dengan suara yang mendadak lebih berat.

Nara menggelengkan kepala perlahan. "Aku tidak menjawab apa-apa. Aku cuma sadar... betapa lucunya hidupku. Orang tuaku mengatur dengan siapa aku harus menikah, dan pria yang pernah aku cintai justru menyusun skenario kapan aku harus bercerai. Mereka semua memperlakukanku seperti boneka yang tidak punya suara."

Nara menatap Zaid lurus-lurus, membiarkan satu tetes air mata meluncur di pipinya.

"Aku meninggalkan dia begitu saja di kedai kopi. Aku tidak mau lagi diatur oleh siapa pun. Aku sudah menikah denganmu, Zaid. Walaupun pernikahan kita berawal dari perjodohan, aku tidak pernah berniat menjadikan pernikahan ini sebagai permainan atau batu loncatan."

Pengakuan tulus itu bergema lembut di ruangan makan yang sunyi.

Zaid menghela napas panjang. Beban dan keraguan yang sempat menggantung di pikirannya sepanjang hari perlahan luruh. Ia meraih selembar tisu di atas meja dan mengulurkannya pada Nara.

"Usap air mata kamu," ucap Zaid pelan, suaranya kini jauh lebih lembut dari biasanya.

Nara menerima tisu itu dan mengusap pipinya.

Zaid menegakkan tubuhnya, menatap Nara dengan tatapan yang penuh kepastian. "Nara, dengarkan saya."

Nara menengadah, menatap pria yang kini menjadi suaminya itu.

"Pernikahan ini mungkin bukan berawal dari kisah romantis," tutur Zaid runtut dan jelas. "Tapi bagi saya, pernikahan adalah janji sakral di hadapan Tuhan. Saya tidak pernah menganggap kamu sebagai boneka, dan saya tidak akan pernah membiarkan orang lain. ... siapa pun itu, mempermainkan ikatan pernikahan."

Kata-kata Zaid terngiang begitu tegas namun menenangkan di telinga Nara.

"Kalau kamu butuh waktu untuk menata hati, saya akan beri kamu waktu," lanjut Zaid. "Tapi jangan pernah merasa kamu sendirian atau bisa diatur sesuka hati oleh masa lalu kamu. Selama kamu menjadi istri saya, tugas saya adalah melindungi kamu dan menjaga kehormatan rumah tangga ini."

Dada Nara bergemuruh hangat. Rasa cemas, takut, dan kesepian yang menghimpitnya seharian ini perlahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang begitu menentramkan. Zaid mungkin pria yang dingin dan tidak pandai merangkai kata-kata manis, namun sikap dan ketegasannya memberi kepastian yang tak pernah ia dapatkan dari Devino.

"Terima kasih, Zaid..." ucap Nara tulus, bibirnya akhirnya mampu mengukir senyum tipis yang nyata. "Terima kasih banyak."

Zaid mengangguk pelan, sebuah ukiran senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya.

"Sekarang habiskan nasi goreng kamu, lalu bersihkan diri dan istirahatlah. Hari ini sudah terlalu panjang untuk kamu."

Nara mengangguk patuh dan kembali menikmati makan malamnya dengan hati yang jauh lebih ringan.

Malam itu, di dalam rumah yang tenang, sebuah fondasi baru di antara dua insan mulai terbangun, bukan lagi atas dasar paksaan atau keraguan, melainkan atas dasar rasa hormat dan saling percaya.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!