Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Ujian Keyakinan
"Selamatkan orang yang berada di balik tombak!" suara bayangan pria berjubah putih masih terus bergema.
Namun, ribuan bayangan tombak telah lebih dahulu tiba dengan kecepatan yang sangat luar biasa dan juga sangat mematikan.
WUSSSH!
Ujung-ujung tombak hitam menutup seluruh ruang di hadapan Lin Yuan, tak menyisakan sedikit pun celah untuk menghindar.
Mata Lin Yuan menyipit tajam, sementara Naluri Tempur miliknya bekerja hingga batas maksimal untuk mencari jalan keluar yang aman.
Seluruh dunia di sekelilingnya kembali melambat, dan ribuan tusukan yang semula mustahil dihindari kini mulai terlihat sangat jelas.
Lin Yuan memperhatikan setiap lintasan dan aliran Qi yang menggerakkan setiap bayangan tombak hitam yang sangat mengerikan tersebut.
"Langkah Pembelah Takdir!" serunya pelan.
SWISH!
Tubuh Lin Yuan menghilang seketika dari tempat semula dengan gerakan yang sangat halus.
Bayangan tombak pertama hanya menyentuh sisa bayangannya saja, sementara ledakan demi ledakan mulai mengguncang seluruh permukaan jembatan batu.
BOOM!
Pecahan batu beterbangan ke segala arah, namun Penjaga Menara Pertama tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk Lin Yuan bernapas.
Begitu serangan pertama gagal, tombaknya kembali berputar dengan gerakan yang sangat sederhana namun memiliki tekanan aura yang sangat besar.
Putaran itu tidak memiliki gerakan yang mencolok, tetapi tekanan yang dipancarkannya membuat udara di sekitar jembatan bergetar sangat hebat.
Mata Lin Yuan langsung berubah menjadi sangat tajam saat menyadari bahwa dia sedang menghadapi teknik tombak tingkat tinggi.
Dia segera mencabut pedang besinya dari punggung,
SRAAANG!
Kilatan dingin memantulkan cahaya redup dari langit merah yang sangat mencekam.
Detik berikutnya, tombak hitam dan pedang besi saling berpapasan di tengah udara, menciptakan suara benturan logam yang sangat keras.
CLAAANG!
Benturan keras menggema ke seluruh penjuru jembatan, dan tubuh Lin Yuan terdorong mundur beberapa langkah akibat kekuatan tersebut.
Kedua lengannya bergetar hebat menahan beban serangan yang sangat berat, membuatnya menyadari kekuatan sesungguhnya dari sang penjaga menara.
Ini adalah lawan pertama yang mampu menekannya hanya dengan satu benturan fisik saja sejak dia memasuki wilayah Balai Takdir.
Namun, tatapan Lin Yuan tidak menunjukkan sedikit pun rasa kepanikan, sebaliknya dia justru mulai mengamati setiap detail gerakan lawan.
Setiap gerakan Penjaga Menara Pertama terasa begitu sempurna, tidak ada gerakan yang sia-sia ataupun tenaga yang terbuang secara cuma-cuma.
Seolah setiap ayunan tombaknya telah ditempa oleh ribuan pertempuran hidup dan mati selama ribuan tahun yang sangat panjang sekali.
"Kalau begitu, aku tidak boleh bertarung dengan mengikuti ritme permainanmu," gumam Lin Yuan dengan penuh rasa percaya diri.
Penjaga Menara Pertama kembali melangkah maju, dan dalam satu langkah saja sosoknya telah berada tepat di depan wajah Lin Yuan.
Tombak hitam menusuk lurus ke arah tenggorokannya dengan gerakan yang sangat cepat, tepat, dan juga sangat mematikan bagi siapa pun.
Lin Yuan memiringkan tubuhnya dengan sangat tipis, ujung tombak melintas kurang dari satu inci dari permukaan lehernya yang dingin.
Belum sempat dia menarik napas, serangan kedua telah datang menyusul, disusul oleh serangan ketiga, keempat, hingga serangan yang kelima.
Rentetan tusukan tombak mengalir tanpa jeda sedikit pun, seperti ombak besar yang terus menghantam karang di pinggir pantai yang sunyi.
Lin Yuan terus dipaksa mundur, pedangnya hanya digunakan untuk membelokkan arah tusukan tombak tanpa berani menangkisnya secara langsung.
Claaang!
Percikan api memenuhi seluruh jembatan batu, dan setelah puluhan jurus berlalu, mata Lin Yuan tiba-tiba berkedip dengan sangat cepat.
Dia menemukan sesuatu yang sangat aneh: setiap kali selesai melakukan sembilan tusukan, penjaga tersebut selalu berhenti selama sepersekian detik.
Jeda itu sangat singkat dan hampir mustahil untuk disadari, namun Naluri Tempur Lin Yuan berhasil menangkap kejanggalan yang sangat kecil tersebut.
"Kesadaran aslinya ternyata masih berusaha untuk melawan kekuatan kegelapan," bisiknya. Lin Yuan segera mengubah cara bertarungnya dengan sangat cepat.
Dia tidak lagi sekadar bertahan, melainkan mulai menghitung setiap tusukan yang dilancarkan oleh sang penjaga menara dengan penuh ketelitian tinggi.
Satu, dua, tiga, hingga tusukan kedelapan berlalu.
"Sekarang!" teriaknya dalam hati saat tusukan kesembilan mulai dilepaskan oleh sang lawan.
Lin Yuan justru melangkah maju dengan sangat berani, mengerahkan seluruh kekuatan kakinya untuk melesat lurus menuju ke arah tubuh penjaga.
Melihat tindakan nekat tersebut, sorot mata sang penjaga akhirnya berubah menyingkapkan adanya sedikit rasa keterkejutan yang sangat nyata sekali.
Namun tombaknya telah lebih dahulu bergerak, aura hitam pekat berkumpul di ujung mata tombak menciptakan tekanan aura yang sangat mengerikan.
Suara sistem berbunyi nyaring di kepalanya, memberikan peringatan mengenai adanya serangan tingkat tinggi yang akan segera dilancarkan oleh musuh.
[Peringatan! Terdeteksi adanya serangan tingkat tinggi dari target! Tingkat ancaman meningkat drastis, harap segera melakukan tindakan darurat!]
Tanpa ragu sedikit pun, Penjaga Menara Pertama mengayunkan tombaknya dengan seluruh kekuatan, sementara Lin Yuan tetap melesat lurus ke depan.
Pedang besinya terangkat tinggi, mengarah tepat ke arah ujung tombak yang sedang meluncur cepat ke arah dadanya yang sangat terbuka.
Jarak di antara keduanya semakin dekat: sepuluh langkah, lima langkah, hingga akhirnya hanya tersisa satu langkah kecil saja di antara mereka.
Detik berikutnya, pedang dan tombak diperkirakan akan bertabrakan secara langsung, namun benturan yang ditunggu-tunggu tersebut ternyata tidak pernah terjadi.
Tepat ketika ujung pedang dan mata tombak tinggal sejengkal saja, Lin Yuan tiba-tiba memutar pergelangan tangannya dengan gerakan sangat cepat.
SWISH!
Pedang besinya bergeser ke samping, memanfaatkan gaya tusukan lawan agar tubuhnya ikut berputar melewati sisi tubuh sang penjaga menara.
Dalam sekejap mata, Lin Yuan telah berhasil melewati posisi Penjaga Menara Pertama, membuat mata sang penjaga sedikit membelalak karena terkejut.
Gerakan itu sama sekali tidak terduga bagi sang penjaga, namun Lin Yuan ternyata masih belum selesai dengan rencana serangan balasannya.
Tangan kirinya yang menggenggam Pecahan Kenangan Jiwa langsung mengarah ke gagang tombak lawan dengan gerakan yang sangat presisi sekali.
TAP!
Kristal itu menyentuh permukaan tombak, dan seketika cahaya putih meledak dengan sangat hebat dari dalam Pecahan Kenangan Jiwa tersebut.
WUUUUNG!
Kabut hitam di sekitar tombak bergetar hebat, sementara Penjaga Menara Pertama mengeluarkan raungan kesakitan yang sangat memilukan telinga siapa pun.
"AAAAARGHHH!" teriaknya dengan nada suara yang penuh dengan penderitaan, sementara tubuhnya mendadak membeku di tempatnya sekarang berdiri.
Kesadaran Lin Yuan kembali ditarik memasuki lautan kenangan masa lalu, menyingkapkan sosok pemuda berjubah hitam di atas jembatan yang utuh.
Langit masih berwarna biru cerah, dan di belakang pemuda tersebut berdiri ribuan penduduk kota yang menatapnya dengan penuh harapan besar.
"Yue Han, mulai hari ini kau adalah Penjaga Jembatan yang agung," suara seorang tetua bergema memberikan mandat yang sangat suci.
Pemuda itu berlutut sambil menancapkan tombaknya. "Aku bersumpah, selama napasku masih ada, tak seorang pun akan melewati jembatan ini."
Pemandangan berubah cepat, kabut hitam mulai menelan langit dan mayat para kultivator memenuhi seluruh permukaan jembatan batu yang suci.
Pemuda itu masih berdiri tegak meskipun tubuhnya penuh luka, dia menolak untuk mundur demi melindungi orang-orang yang dia sayangi.
Hingga akhirnya kabut hitam menelan seluruh tubuhnya, namun sebelum kesadarannya lenyap, dia masih menggenggam erat tombaknya sebagai bukti dari sumpahnya.
Penglihatan itu hancur seketika, dan Lin Yuan kembali membuka matanya melihat sosok Penjaga Menara Pertama yang sekarang sedang bergetar hebat.
"Aku... siapa sebenarnya aku ini?" tanya pria itu dengan suara lirih yang seolah berasal dari dasar jurang yang dalam.
Lin Yuan menatapnya dengan penuh rasa hormat. "Kau adalah seorang penjaga sejati, dan kau telah menjalankan sumpahmu dengan sangat baik."
Tubuh Penjaga Menara Pertama bergetar hebat, dan benang-benang hitam yang melilit lengannya mulai retak dan hancur satu demi satu.
KRAK!
Kabut hitam yang menyelimuti jembatan perlahan menipis, sementara air mata mulai mengalir di pipi sang penjaga tanpa dia sadari.
"Berapa lama aku telah berdiri membeku di tempat terkutuk ini?" tanyanya pelan. Lin Yuan tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Dia tahu bahwa jawaban itu hanya akan menambah penderitaan sang penjaga, maka dia lebih memilih untuk memberikan kata-kata penghiburan terakhir.
"Orang-orang yang ingin kau lindungi tidak pernah melupakanmu, dan sekarang sudah saatnya bagimu untuk beristirahat dengan tenang di sana."
Begitu kata-kata itu selesai, seluruh benang hitam di tubuh penjaga hancur berkeping-keping, dan cahaya putih menyelimuti seluruh area jembatan batu.
Kabut hitam menghilang sepenuhnya, dan sebuah senyuman tulus muncul di wajah sang penjaga untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun lamanya.
"Akhirnya... aku bisa pulang kembali ke tempat yang damai," ucapnya sambil mengangkat tombaknya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Lin Yuan.
Seorang pendekar memberikan penghormatan kepada pendekar lain, lalu tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran cahaya putih yang sangat indah sekali.
..........
Bersambung...